CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Defisit_Moral_Penegak_Hukum
Kampus

Defisit Moral Penegak Hukum

Penulis : Antoni Putra - Mahasiswa Universitas Andalas   

Salah satu persoalan besar yang tengah dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah moral penegak hukum. Keadilan seolah hilang ditengah peradaban yang semakin pesat, sementara ketidakadilan mengusai setiap sendi kehidupan. Penegakan hukum seolah menjadi ladang perburuan bagi para penegak hukum: Kepolisian, Kejaksaan, Hakim, dan Advokat.

Uang berkuasa, sementara keadilan selalu condong kepada ketidakadilan. Drama-drama menarik selalu tersaji dimana-mana, penegak hukum dengan bangga melakukan kecurangan.

Peradilan yang dilaksanakan adalah untuk ketidakadilan. Terlalu banyak mafia yang memanfaatkan penegakan hukum untuk memperkaya diri sendiri. Mulai dari tingkat terendah, yaitu kepolisian hingga kejantung penegak hukum, yaitu Hakim. Lantas bagaimana keadilan dapat terwujud bila penegak hukum selalu melanggar hukum?

Peradilan untuk ketidakadilan

Tujuan dari peradilan adalah untuk mencari keadilan. Namun di Indonesia saat ini, peradilan seolah menjadi tempat utama ketidakadilan terjadi.

Kecenderungan penegak hukum melakukan pelanggaran hukum seperti suap telah mengoyak-ngoyak prinsip keadilan yang tertata rapi dalam hati masyarakat. Bahkan dapat dikatakan, bahwa empat sendi penegak hukum tidak ada satu pun yang dapat dipercaya. Mulai dari kepolisian, kejaksaan, advokat, dan hakim. Mereka silih berganti melakukan pelanggaran.

Pertama, kepolisian. Bila kita bertanya kepada masyarakat perihal siapa orang paling bejat di muka bumi, maka mereka akan menjawab kepolisian. Persepsi masyarakat yang demikian bukanlah tanpa alasan. Sebagai aparat penegak hukum yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, tentu banyak kontroversi yang mereka hadapi. Dan yang paling membuat masyarakat tidak percaya kepada kepolisian adalah kebiasaan meminta dan menerima sogokan dari pelanggar hukum.

Kedua, kejaksaan. Bila kita berbicara kejaksaan, tentu yang terngiang dalam pikiran adalah aparat penegak hukum yang berfungsi melakukan tuntutan pidana, itu bagi masyarakat awam.

Namun bagi mereka pelanggar hukum, yang terngiang dalam pikiran mereka adalah berapa uang yang harus mereka keluarkan untuk menyogok jaksa agar tuntutan pidananya dikurangi. Dan tidak jarang pula, Jaksa terjebak rayuan untuk menerima sogokan dari pelaku kejahatan. Hal ini pulalah yang akan menyebabkan ketidakadilan semakin terlihat

Ketiga, advokat. Statusnya sebagai penasehat hukum seringkali melalaikan ketentuan yang berlaku. Akibat rayuannya pulalah banyak tersangka atau terdakwa melakukan praktik suap agar menang di pengadilan.

Keempat, hakim. Sebagaimana hakikatnya, hakim adalah orang yang dianggap paling tahu hukum. Mereka senantiasa dijuluki “wakil Tuhan” di muka bumi. Namun apa jadinya bila hakim-hakim ini kemudian menerima suap dari pelaku kejahatan yang kasusnya tengah mereka tangani. Jika telah demikian, maka tidak ada lagi keadilan.

Karena hakim yang merupakan jantung dari penegakan hukum telah ternodai dengan coretan hitam dari pelaku kejahatan. Hal tersebut yang banyak terjadi di Indonesia. Hakim-hakim yang ada senantiasa memanfaatkan jabatan yang mereka miliki untuk mendapat keuntungan sendiri, dengan mempertaruhkan harga diri bangsa.

Kasus suap dan korupsi telah menjelma bagai virus yang menyerang jantung peradilan yaitu Mahkamah Agung (MA), dan telah menyebar ke seluruh jajaran sistem peradilan. Terlibatnya Sekretaris MA dan sejumlah Ketua Pengadilan dalam kasus korupsi menjadi bukti tesis tersebut.

Kasus korupsi yang terjadi di MA dan Pengadilan Negeri atau Tinggi jelas tidak hanya dilakukan para hakim dan unsur lain di lembaga itu semata. Namun sudah pasti terjadi karena bujukan ataupun melibatkan unsur penegak hukum lainnya. Baik Jaksa, Pengacara maupun Kepolisian.

Dalam pedoman kode etik, menerima suap dari pihak beperkara merupakan larangan keras bagi seluruh aparat peradilan. Sebab, dengan menerima suap berarti telah menggadaikan harga diri, kesucian hukum dan keadilan. Praktik suap menjadi pantangan karena melemahkan legitimasi hukum. Putusan-putusan hakim tidak akan dihormati dan hukum tak lebih sekadar gelanggang untuk tawar-menawar kepentingan.

Sedangkan putusan hakim mengandung prinsip “Res Judicata Pro Veritate Habetur” atau  harus dianggap benar. Putusan hakim yang bersifat mutlak dan kewenangan  begitu besar tersebut tak dimungkiri sering disalahgunakan.

Jual beli perkara menjadi persoalan besar  dan menghambat reformasi lembaga peradilan. Bukannya berhasil ditumpas, judicial corruption justru menjadi segumpal kenyataan yang terus memengaruhi cara pandang publik terhadap lembaga peradilan. Dan praktik suap telah mengubah fungsi peradilan sebagai instrumen penegakan keadilan, tapi sekaligus sumber kejahatan peradilan.

Revolusi Mental

Apa yang salah dari penegakan hukum di bangsa ini? Sehingga aparat penegak hukum dengan mudahnya korupsi dan menerima suap. Hal ini tidak lain dikarenakan ada penyakit serius yang terdapat dalam mental aparat penegak hukum. Penyakit itulah yang kemudian membuat mereka selama ini bekerja jauh dari harapan. Bahkan sebagian besar senantiasa mengabaikan kebenaran yang seharusnyua dibela.

Penyakit mental yang diderita ini kemudian senantiasa mendorong untuk berbuat kebatilan. Mereka melupakan, melalaikan dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dipenuhi. Bahkan pula, tidak malu memanfaatkan jabatan yang dimiliki untuk menjadikan hukum tak lebih sekadar gelanggang untuk tawar-menawar kepentingan.

Kita tidak dapat menerima bila hukum di bangsa ini selalu saja digerogoti oleh para mafia. Oleh sebab itu pula, dalam upaya menciptakan penegakan hukum yang baik harus ada terobosan besar dalam upaya memperbaiki dan mengobati mental penegak hukum ini.

Revolusi mental yang dicanangkan Presiden Joko Widodo dalam nawacitanya wajib kita sukseskan bersama, demi terciptanya negara hukum sebagaimana yang diamanatkan konstitusi 1945. Karena hukum harus berkeadilan, dan peradilah harus untuk mencari keadilan. (*)

Kampus

Tiga Jurusan Terakreditasi B

Penulis : Hijrah Adi Sukrial

30 Tahun STKIP YDB Gelar Reuni Akbar

Kabar gembira bagi warga Sumba

Puisi

Melempar Takdir

Penulis : Rasyidi Denra

Kulempar takdir pada hening malam

Ada Tuhan di sana

Kulempar gelas pada lantai ka

Cerpen

Burung Prenjak

Penulis : Tjak S. Parlan

Latifa sedang berjalan menuju tempat jemuran di samping rumah, ketika kicauan burung prenjak terd

Remaja

(Lebih dari) Sekadar Penantian

Penulis : R. Sophia Lestari

”Setidaknya tunggulah sampai aku mampu menamatkan studiku. Bukankah kita telah menjalani in

Remaja

Irfan Makarim Rivani, Pelajar Berprestasi SMPN 12 Padang

Penulis : Khairian Hafid - Padang Ekspres

Pantang Mundur, Giat Berlatih

Cuaca cerah dan terik begitu menantan

Hiburan

Justice League United

Penulis : JPNN

Rilis Poster dan Teaser sebelum Trailer

Datangnya November ter

Ceria

Dompet Kecil dari India untuk Mentari

Penulis : Asra Hayati Syahrul Nova

Mentari sangat bahagia. Bahagia yang tiada terkira. Karena ibunya baru saja mengatakan, kalau kak