CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Anak_Rantau
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Remaja

Anak Rantau

Penulis : Ade Nidya Zodittia   

“Allahuakbar Allahuakbar”

Aku tersentak kaget dari tidurku, cepat kusambar ponsel yang tergeletak di sebelah kepalaku. Pukul 5 kurang, azan Subuh sudah berkumandang. Aku mendesis kesal, memeriksa alarm ponsel yang sudah kustel kemarin. Ternyata aku salah menyetel alarm, lebih lambat. Sial! Hari ini aku harus berpuasa tanpa sahur. Aku merebahkan tubuhku ke atas kasur sambil memijit kepala. Masih dengan hati yang kesal.

”Sabar nak, sabar,” suara ibu tiba-tiba terngiang di telingku.

Aku menghela nafas panjang lalu kembali duduk, kembali menghela nafas dan berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi kost. Sholat akan membuatku menjadi lebih tenang. Begitu yang selalu ibu ucapkan kepadaku.

***

Suara gemuruh terdengar dari dalam perut. Sudah pukul 1 Wib, aku baru menyelesaikan sholat Zuhur berjamaah dan duduk mendinginkan diri di masjid fakultas.

Kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Ujian ketika bulan puasa membuat para mahasiswa di kampus memilih untuk segera pulang ketimbang harus nongkrong ketika matahari sedang terik-teriknya seperti ini.

Kulirik ke sekeliling masjid, sepi. Hanya tampak lingkaran kecil para anggota forum Islam yang sedang berdiskusi. Lagi-lagi aku mengelus perutku yang kembali terdengar memberontak.

”Sabar, tinggal 5 setengah jam lagi,” desisku pelan.

Aku menengadahkan kepala ke langit, melihat matahari yang bersinar terik. Aku menyipitkan mata, matahari tampak sama dengan matahari yang bersinar di kampung halaman, tetapi aku rindu dengan terik matahari di kampung halamanku.

***

Aku berjalan menuju kos-kosanku, menyeka keringat. Aku menenteng sebuah kantong plastik hitam berisi pabukoan. Hari ini aku cukup royal memberi beberapa pabukoan yang enak, setidaknya menjadi pengobat untuk tidak sahurku tadi. 

Aku meletakkan pabukoan di atas meja belajarku, ada ayam panggang, cendol, dan onde-onde. Semuanya terlihat enak, tetapi aku merindukan masakan ibu sendiri. Seenak apa pun makanan yang kubeli di sini, masih jauh lebih enak masakan yang dibuat oleh ibuku.

***

”Besok aku mau balik ke kampung, kamu kapan baliknya Jid?” aku menoleh ke samping ketika Ilham, teman satu kos bertanya. Aku beripikir sejenak, sejauh ini belum bisa memastikan kapan akan balik ke kampung halaman yang terletak sangat jauh dari kota tempat aku berkuliah.

”Belum tau, aku masih ada urusan di kampus. Mau ketemu dosen PA dulu,” aku menjawab sambil mengetuk-ngetuk pena di atas meja belajarku.

”Majid, Majid. Betah kali kamu di kampus. Mau kamu kaya tahun kemarin? Lebaran di kosan? Udah lah Jid, balik secepatnya aja. Gak rindu kampung kamu?” Aku hanya diam mendengar ucapan Ilham. Rindu? Ya aku sangat rindu. Tetapi urusan di kampus juga harus dengan cepat aku selesaikan.

***

Dalam satu minggu, sudah 4 kali aku tidak sahur karna terlambat bangun. Kalau aku mau, aku bisa saja meminta pada ibu untuk membangunkanku. Tetapi rasanya tidak enak, karna aku tau, di rumah ibu sudah pasti sibuk menyiapkan makanan untuk sahur. Bangun jam 3, berkutat di dapur sendiri untuk memasak.

Aku tidak ingin menambah beban ibu hanya untuk membangunkanku sahur. 

”Assalamualaikum, Nak,” sungguh damai rasanya mendengar suara ibu walaupun lewat ponsel. Ibu meneleponku saat berpuka puasa, dan sudah pasti setelah sholat Magrib.

”Waalaikumsalam, Bu,” aku menjawab lirih, rindu sekali pada ibu.

”Gimana puasa kamu nak? Kamu rajin sahur kan? Gak telat bangun kan?” ibu bertanya.

Suara ibu yang kurindukan terobati dengan perbincangan singkat lewat telepon. Ibu masih seperti biasa, bertanya apa aku baik-baik saja dan bertanya kapan aku pulang ke rumah karna ia sudah rindu. Aku hanya bisa menjawab secepatnya setelah urusanku di kampus selesai.

Masih teringat jelas olehku ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di kota besar ini, melintas antar pulau. Seorang anak desa yang mengejar cita-cita di kota besar.

Masih teringat juga ketika aku melewati puasa pertama di kota ini, jauh dari ibu. Rasanya sangat iba, makan sahur sendiri dengan lauk seadanya. Hanya bisa mendengar ucapan selamat berpuasa dari ibu lewat telepon.

Masih teringat ketika aku melewati lebaranku di kota ini, terlambat pulang karna kehabisan tiket. Tidak bisa menahan air mata karna moment setahun sekali aku lewatkan.

Tetapi ibu selalu menguatkanku, mengatakan bahwa itu adalah hal biasa untuk orang yang tengah belajar di tempat yang jauh dari kampung sepertiku. Ibu bilang bahwa hal itu membuatku menjadi lebih dewasa dan tangguh. Menjadi lebih mandiri dan lebih kuat.

Ibu mengatakan bahwa aku adalah anak rantau yang tengah berjuang untuk masa depan, tidak boleh kalah dengan rindu. Aku adalah anak rantau yang sering menahan rindu. Anak rantau yang selalu menghargai setiap waktu untuk ibu dan juga keluarga di kampung halaman. Menjadi anak rantau membuatku menjadi seseorang yang menikmati waktu pentingku untuk keluarga. (*)

Cagak Utama

Warna Lokal Minangkabau dan Kesosialan Pengarang

Penulis : Rio Rinaldi - Dosen FKIP Universitas Bung Hatta

Sebuah karya sastra mengenai warna lokal Minangkabau akan memperlihatkan setiap atau sebagian dar

Cagak Utama

Menyoal Lokus Nilai-nilai Estetis Dalam Teks Sastra

Penulis : Rio Rinadi - Penulis, Dosen FKIP Universitas Bung Hatta

Untuk mengetahui keberadaan fakta-fakta estetis, diperlukan pemahanan, sudut pandang, para

Puisi

Menuju Timur

Penulis :

Oleh Muhaimin Nurrizqy

Menuju Timur

Sudah kubangun kapal dari kayu hutan Bassein<

Ceria

Aku yang tak Dianggap

Penulis : Zhilan Zhalila P.F

Semua yang berada di koridor diam seribu bahasa, menatapku berjalan sendirian. Diam. Semuany

Konsultasi

Mengatasi Kesemutan pada Ibu Hamil

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum Dokter Dovy. Salam kenal dok. Nama saya Yuli, 28, saat ini hamil saya 7 bulan

Cagak Utama

Mengamati Jaman Now, viral dan tercyduk dari Ranah Linguistik

Penulis :

Belakangan, istilah jaman now, viral dan tercyduk populer di media sosial. Sepertinya masa-masa p

Kampus

Ucup, Mahasiswa yang Ikut Student Exchange Teknik Kimia ke Jepang

Penulis : Doni WP

Gemuruh mesin berkekuatan besar menjajaki landasan pacu Bandara Internasional Minangkabau, dua sa