CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Melankolia

Melankolia

Penulis :     Sejauh ini seringkali saya mendapati satu kata, melankolia, dipakai dalam percakapan remeh sebagai suatu pertanda kondisi seseorang yang mengalami kemalangan hidup, baik itu soal asmara maupun dukacita. Gejala tersebut ditegaskan dengan raut tampak murung, sayu, sedih dan muram atau sebut saja melankolis. Topik ini pun dijadikan batu pijakan bagi para penulis muda dalam berkarya dengan lebih mononjolkan persoalan individual. Kiranya, hal-hal yang bersifat melankoli memiliki kecenderungan pengungkapan yang lebih mudah. Jika membaca kembali perkembangan sejarah sastra Indonesia, Chairil Anwar sebagai salah satu tokoh termasyhur angkatan 45 perioderisasi sastra Indonesia, yang kemudian diri dan karyanya sering dirujuk dalam wacana sastra, tidak hanya mengangkat topik melankolia dalam karyanya. Ia juga dalam banyak karya bicara mengenai pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi. Lantas mengapa puisi “Aku” yang dianggap sebagai salah satu masterpiece Chairil Anwar yang sering dipublikasi dan disosialisasikan? Bahkan dalam sebuah esai yang ditulis oleh Yona Primadesi, menyebutkan buku pelajaran Bahasa Indonesia memiliki kecenderungan untuk memilih puisi “Aku”, yang sering gamblang mengungkapkan melankolia si-aku-lirik, sebagai bahan pembelajaran siswa. Apakah hal tersebut juga yang kemudian melatarbelakangi banyak insan muda di tanah air betah berlama-lama bersama melankolia yang merujuk sebatas kesedihan personal hingga lupa pada esensi dasar melankolia bahkan topik-topik lainnya? Belakangan saya membaca salah satu karya dari novelis berkebangsaan Turki, Orhan Pamuk, yang berjudul Istanbul, mengangkat tema besar penderitaan di tanah kelahirannya setelah runtuhnya kekuasan Kesultanan Usmani, yang melalui karya itu juga ia dianugerahi penghargaan Nobel Sastra. Dalam satu bagian novelnya, menurut saya sebagai sentral dari keseluruhan cerita, yang melalui pengamatannya seakan seorang sejarawan sekaligus penulis andal, memaparkan kondisi negerinya dengan sangat detil, yang disebut sebagai Huzun. Huzun memiliki akar kata dari bahasa Arab. Kata itu muncul dalam Alquran sebagai “huzn” dalam dua ayat dan “hazn” dalam tiga ayat lainnya. Nabi Muhammad menyebut tahun ketika beliau kehilangan istrinya, Khadijah, dan pamannya, Abu Thalib, sebagai “sanatul huzn” atau tahun kemurungan memiliki arti perasaan kehilangan yang amat spiritual. Lama kemudian kata huzun pun diasosiasikan oleh para Sufi hingga cendekiawan yang setara maknanya dengan melankolia atau kemurungan, yang etimologinya mengacu pada suatu dasar dalam teori cairan tubuh yang mula-mula dikemukakan di zaman Aristoteles (melan khole—air empedu hitam) yang biasanya diasosiasikan dengan perasaan ini dan segala rasa sakit yang menyertainya. Selain itu, huzun atau melankolia tidak hanya semata mengenai kehilangan atau kematian seseorang yang kita cintai, tetapi juga dengan penderitaan-penderitaan spiritual lain. Memang tidak semua penulis dan penggiat sastra terpuruk pada melankolia yang dangkal, tidak semua penulis berpaling dari sejarah masa kelam tanah airnya, tetapi yang sudah saya singgung sebelumnya, bahwa hampir menjadi suatu kecenderungan bagi penulis muda menjadikan awal-awal karier kepenulisannya dengan menekankan pergolakan batin yang sangat bersifat individual dan diungkapkan dengan cara berlebihan. Kita bisa menelusur fenomena ini melalui beberapa media cetak yang dikatakan sebagai barometer perkembangan sastra. Tidak banyak penulis dengan topik melankolia beranjak dari isu yang sifatnya personal dan mengembangkan sayap pada penderitaan yang lebih luas. Kita sudah sangat jauh tertinggal, itulah suara batin saya untuk membedakan suatu harapan dengan impian besar. Sama halnya merasakan lirik lagu melankolia yang dibawakan pengamen dengan penderitaan hidup yang berkecukupan dengan nyanyian musisi panggung ternama. Belum lagi jika dilihat melalui media sosial Facebook yang dipenuhi curahan hati, kemarahan imajiner yang berbau politik, hingga perasaan kehilangan yang spiritual. Jika merunut pada sudut pandang Orhan Pamuk mengenai melankolia, dalam banyak produk budaya, terutama seni di tanah air, melankolia seperti kehilangan esensinya. Melankolia hanya terbatas sebagai sebuah kondisi yang murung dan sedih, tidak lebih. Lagi-lagi saya mencoba menjernihkan pikiran saya yang dibayang-bayangi (aku binatang/ dari kumpulannya terbuang—Chairil Anwar) yang bertumpuk tanya dan tanya hingga terkucil diri ke dalam lorong perasaan melankolia itu. Apakah di negeri ini semua telah digiring oleh fantasi-fantasi masa depan dengan hal-hal praktis dan canggih sebagaimana sekawanan domba tengah mengantri dalam barisan ketakjuban saja sehingga inti makna kata melankolia hanya sebatas embikan ternak terhadap keduniawian semata. Sementara dunia yang kita pijak ini kita masih bersantai (menghisap sebatang lisong/ melihat Indonesia Raya/ mendengar 130 juta rakyat/ dan di langit/ dua tiga cukong mengangkang/ berak di atas kepala mereka—WS. Rendra) tanpa sedikit tak tahu menyinggungnya dalam lirik-lirik puisi yang kritis selain kalimat-kalimat puitis dan mengiris-iris perasaan kehilangan akan cinta dan dukacitanya. Lantas apakah melankolia telah berubah fungsi menjadi komoditas untuk meraih popularitas, keuntungan, eksistensi diri sebagaimana banyak dilakoni? Akhirnya, saya mengambil cara menyelidiki kata melankolia ini sebagaimana yang dilakukan oleh Orhan Pamuk dalam mahakaryanya semacam ambiguitas kata yang mesti kembali pada para cendekiawan yang memandang huzun bukan sebagai sebuah konsep yang puitis atau pernyataan tentang keanggunan melainkan sebagai suatu penyakit, sebagaimana yang juga terinventaris dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). *Nermi Arya Silaban
Carito Minang Kini

Sipaklah Bola Tu!

Penulis :

Suhel Gadis Pemalu

Penulis : Pagi hari yang cerah. Murid-murid telah siap melakukan kegiatan rutinnya. Seminggu sekali. Upacara b
Cagak Utama

Vespa Pustaka Tanah Ombak

Penulis : Ganda Cipta - Padang Ekspres

Menemui Anak-anak Sampai Membaca

Vespa Pustaka Tanah Ombak sejak diluncu

Remaja

Kupilih Kamu

Penulis : Sri Endah

Hatiku terpikat hanya kamu
Tetes darah mengalir namamu
Di puncak waktu kuingat kamu

Laga-Laga

Baraja Adat Manjapuik Nan Tatingga

Penulis :

Sasudah minum kowa pagi Niek Reno duduak jo adiaknyo Tuanku Sutan basamo jo cucu-cucunyo di langk

Konsultasi

Ketentuan Penghitungan Besaran THR

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Bapak/ibu pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Saya Mila bekerja di sebuah perusahaan swa

Langkan

Pakaian Perempuan Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Adat Minangkabau dan ajaran Islam sampai saat ini sudah menyatu. Artinya, bicara tentang adat dan