CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - The_Margin_of_Our_Land
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

The Margin of Our Land

Penulis :    

Perlawanan terhadap Penguasaan Tanah Ulayat

Jua indak dimakan bali, gadai indak dimakan sando. Begitu petuah ninik orang Minang terhadap harta pusaka, dalam hal ini mengacu pada tanah ulayat yang tabu untuk dijual. Namun, perubahan zaman membawa petuah itu hanya sebagai pengingat keagungan budaya masa lalu saja. Saat ini, tanah ulayat seakan menjadi komoditas yang bisa diperdagangkan, digadai atau dijadikan agunan, bahkan disengketakan agar memiliki hak menguasainya.

Koreografer Ali Sukri mendedahkan persoalan tanah ulayat ini dalam bentuk teater tari (dance theatre) berjudul The Margin of Our Land—dalam bahasa Minangkabau disebut supadan atau pasupadan. Eksplorasi tubuh yang menggambarkan perlawan terhadap persoalan-persoalan kekinian tanah ulayat ini dipertontonkan di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat selama dua malam, Jumat dan Sabtu (9-10 Februari 2018). Ali Sukri membuka pertunjukan dengan tubuh yang gemetar memandang ke arah patok supadan atau tapal batas di kejauhan. Tanah ulayat yang sebentar lagi akan dikuasai oleh pihak lain dengan ber bagai maksud dan tujuan.

Konflik ulayat sering berlangsung di supadan atau batas tanah. Untuk itu supadan adalah kehormatan yang harus dijaga. Seperti pesan Bundo Kanduang kepada Cindua Mato dalam kaba klasik Minangkabau, “kok diasak urang pasupadan, busuangkan dado ang, buyuang.” Konflik The Margin of Our Land ini pun dibangun Ali Sukri di supadan. Beberapa penari bermain-main dengan pancang atau patok besi batas tanah. Gerakan-gerakan silat pun diperlihatkan, menunjukan seakan sudah sehabis-habis main mempertahankan tanah ulayat ini.

Sebab, pantang bagi orang Minang membuka langkah, jika masih bisa bersilat dengan lidah. Artinya, persoalan tanah ulayat ini sudah sampai pada puncak emosi, yang nyawa pun akan dipertaruhkan untuk mempertahankannya.

Menariknya, penari dan aktor pertunjukan teater tari ini hanya dua orang perempuan (Hasma Nora dan Sonia Ayu Utami). Sementara, delapan orang lainnya laki-laki, yaitu, Erwin Mardiansyah, Reri Rinaldi, Mahmud Junanda, Egi Okriadi, M Ikbal Kurniawan, Deni Saputra, Erik dan Bayu Mahendra. Dominasi laki-laki dalam persoalan tanah ulayat ini menunjukan, bahwa, meskipun perempuan sebagai pemilik dalam pewarisan harta pusaka, namun untuk menjaganya tetap laki-laki yang ke depan. Walaupun demikian, tak jarang, persoalan juga terjadi antara perempuan si pemilik dengan laki-laki si penjaga ulayat dalam satu kaum.

Perlawanan terhadap penguasaan tanah ulayat ini berakhir tragis dan sia-sia. Papan-papan peringatan dan tanda kepemilikan tanah pun dipasang. Diikuti dengan pemasangan garis tanda pekerjaan konstruksi, sebagai petunjuk sedang dibangun berbagai fasilitas di tanah ulayat tersebut. Kesia-siaan perlawanan ini ditunjukkan saat perempuan yang sejatinya pemilik ulayat menanggalkan satu persatu atributnya sebagai perempuan Minangkabau, lalu menjelma perempuan kekinian yang melenggak-lenggok di atas tanah ulayat yang dikuasai orang luar.  

Di sisi lain, karya ini juga menunjukkan pertahanan terhadap pemilikan tanah ulayat, akan berdampak pada terjaganya keseimbangan alam. Ketika tanah ulayat dikuasai oleh pemodal untuk kepentingan pribadi, yang muncul kemudian gedung-gedung atau perkebunan skala besar, yang mempersempit lahan hidup bagi makhluk lain. Saat itu terjadi, keseimbangan alam menjadi goyah, dan malapetaka pun muncul dengan berbagai bentuk. Kolaborasi antar komunitas

Pertunjukan The Margin of Our Land ini diselenggarakan dengan kolaborasi antar komunitas, yaitu, Komunitas Seni Hitam-Putih, Sukri Dance Theatre, Komunitas Seni Nan Tumpah dan Aliansi Komunitas Seni Indonesia (AKSI). Kerja kreatifnya memadukan berbagai disiplin seni, koreografi (Ali Sukri), penyutradaraan (Kurniasih Zaitun), dramaturg (Sahrul N), komposisi musik (Elizar Koto) dan skenografer (Yusril Katil).

Menurut Penanggung Jawab Produksi, Nasrul Azwar, kolaborasi antar komunitas ini dilakukan karena masing-masing komunitas dan individu tersebut memiliki kekuatan dan potensi yang besar dan punya pendukung dengan fanatisme positif. Kemudian, lima kreator yang terlibat dalam proses hadirnya The Margin of Our Land, yang merupakan seniman sekaligus akademisi, berangkat dari sebuah penelitian lapangan sehingga tercipta sebuah karya seni yang berbasis riset dengan metodologi tersendiri sesuai disiplin ilmunya.

“Kedua alasan itu menjadi pijakan penting bagi kami bekerja bersama, dan menggerakkan potensi masing-masing. Cara seperti ini akan kami lanjutkan dan kembangkan terus menerus sembari dievaluasi,” kata pria yang akrab disapa Mak Naih ini.

Buah dari kolaborasi riset para kreator sekaligus akademisi ini berdampak pada pertunjukan yang terstruktur dengan baik dan tidak membosankan, meski menontonnya dalam gedung dengan suhu di atas 30 derajat celsius. Karya yang berpeluh, menontonnya pun berkeringat. (*)

 

Cagak Utama

Imajinasi Bahasa dan Kompleksitas Karya (Sastra)

Penulis : Junaidi Khab

Eksistensi kesusastraan merupakan dunia yang sarat dengan imaji-imaji yang menyedot konteks sosia

Laga-Laga

Malayu Kuna di Ranah Minang

Penulis :

Malayu Kuna di Ranah Minang

Di antara sungai-sungai besar yang mengalir di Sumatera, Bata

Kampus

Pengurus Baru Genta Andalas Dilantik

Penulis : Tim Genta Andalas

Kamis, (18/8) sebanyak 18 orang Pengurus Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) Genta Andalas Period

Paco - Paco

Misi Zending Jerman di Pariaman, 1932

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

“Bij Gouvernements besluit: is aan Heloemano, pandita van het Rijnsche Zendingsgenoots

Konsultasi

Nyeri Haid Bisa Ganggu Program Hamil

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum Dokter Dovy. Umur saya 27 tahun. Saya mau konsultasi Dok, sudah sembilan bula

Carito Niniek Reno

Bulan Puaso Bulan Panuah Barkah

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Sasudah sumbayang Subuah Niek Reno jo anak-anak sarato cucu-cucunyo barangkek ka kampuang dek kar

Hiburan

Sheila Marcia Kecelakaan

Penulis : JPNN

Dilarikan ke RS Bersama Rekan

Nahas menimpa Sheila Marcia. Aktris i