CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Manifesto_Generasi_Milenial
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

Manifesto Generasi Milenial

Penulis :    

Salah satu buku terpenting abad ini telah terpajang di rak buku psikologi populer, di toko-toko buku seluruh Indonesia. Buku itu berjudul Generasi Langgas: Millennials Indonesia (2016), yang digarap Yoris Sebastian, Dilla Amran, dan Youth Lab. Buku itu bersampul biru dengan ilustrasi utamanya sewajah polos bayi dikepung gawai, lampu, kertas, gembok, lup, pengeras suara, dan dua bidak mengapit simbol cinta.

Wajah bayi tak butuh hitungan usia untuk menjelma dewasa. Sepaket stiker terselip bersama buku, pemilik buku lalu bebas memilih model rambut, kacamata, baju, dan pernak-pernik lain untuk ditempelkan pada sampul itu. Wajah dalam sampul bakal berubah sesuai kreasi. Pemilik buku memodifikasi sampul sebagai upaya mendefinisikan diri.

Sebelum berjumpa istilah generasi langgas, kita lebih dahulu mengenal generasi Y atau generasi milenial. Barangkali penulis ingin menggunakan istilah yang lebih terasa keindonesiaannya daripada dua sebutan terdahulu. Namun, kita akan lekas kecewa saat menjumpai sekujur buku melimpah bahasa Inggris.

Penulis mengambil istilah langgas dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang bermakna “tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas.” Langgas adalah istilah mutakhir. Langgas belum hadir dalam kamus-kamus terbitan lawas, semisal: Kamus Umum Bahasa Indonesia (1953) garapan W.J.S. Poerwadarminta; Kamus Indonesia Ketjik (1950) garapan E. St. Harahap; dan Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1974) garapan Harimurti Kridalaksana. Bahkan, di Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (2008), lema langgas belum ada.

Buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia menyiratkan sebentuk manifesto, dan manifesto pertama generasi langgas adalah kebebasan, itu sesuai dengan pengertian langgas dalam kamus. Penulis mendefisinikan generasi langgas sebagai “generasi yang begitu bebas karena besarnya peluang yang ada dan berubahnya sifat orangtua yang lebih suportif dibanding orangtua generasi sebelumnya. Generasi yang bebas terhubung (dan tidak terhubung) dengan siapa pun yang mereka mau.” Generasi langgas bebas memilih hal-hal yang ingin dipelajari (termasuk memilih jurusan kuliah), bebas memilih pekerjaan, dan bebas untuk memulai bisnisnya sendiri. Generasi langgas sudah tak lagi mengidolakan jurusan kuliah tertentu seperti kedokteran, akuntansi, manajemen, teknik sipil, ilmu komunikasi, dan lain-lain. Mereka juga tidak melulu mendambakan bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Penulis mengusulkan bahwa kebebasan generasi langgas hendaknya didasari pada ikigai. Penulis mendefinisikan konsep Jepang itu dalam bahasa Inggris sebagai a reason to wake up each morning, dan kita dipaksa menerjemahkan sendiri ke bahasa Indonesia. Komposisi ikigai terdiri dari passion, mission, profession, serta vocation. Keempatnya bisa dirangsang dengan pertanyaan: apa yang kamu suka? Apa yang kamu kuasai? Apa dunia membutuhkannya? Apa kamu juga bisa menghasilkan uang dengan itu? Penulis menegaskan ikigai adalah “sesuatu yang sangat penting, sebuah alasan untuk menikmati hidup.” Di Jepang sendiri, dalam kasus Okinawa, ikigai adalah rahasia panjang umur penduduk setempat. Namun, mereka punya pengertian lebih sederhana: ikigai adalah tanggung jawab (Buettner, 2010: 82).

Manifesto kedua generasi langgas adalah kecepatan. Penulis memaklumi generasi langgas “ingin sesuatu yang lebih cepat, dan ketika ngomongin cepat konotasinya jadi instan. Namun, hal itu tidak bisa disalahkan karena adanya perkembangan teknologi. Kalau dulu kita mau cari sesuatu harus ke perpustakaan, baca buku satu per satu, sekarang mereka tinggal tanya ke Goggle.” Di zaman ini, kecepatan berdalih efisiensi. Generasi langgas menjunjung efisiensi, ogah membuang-buang waktu. Setiap dilimpahi tugas atau pekerjaan, mereka akan menuntut contoh dan format. Mereka ogah disuruh asal mengerjakan, namun tahu-tahu setelah sekian hari pekerjaan selesai, atasan bilang, “harusnya ini begini, bukan seperti itu.” Maka, dalam memperlakukan generasi langgas, atasan tak bisa meniru pola kerja dosen pembimbing skripsi mahasiswa: tidak efisien!

Penulis terasa getol membantah penyematan label “instan” pada generasi langgas. “Millenials adalah generasi yang sangat cepat tapi sebenarnya bukan generasi instan. Terlalu banyak kisah sukses dari generasi ini yang juga memperlihatkan adanya proses dalam meraih kesuksesan.” Penulis mengabaikan kenyataan bahwa generasi langgas berproses dengan “barang jadi”. Mereka belajar, bekerja, dan berbisnis dengan anugerah teknologis yang terpancar dari langit: koneksi internet. Generasi langgas abai pada asal pengetahuan yang kini mereka simpan di genggaman. Abai itu terbukti pada pengutipan di halaman 161 buku Generasi Langgas: Millennials Indonesia: “what  doesn’t kill you, makes you stronger.” Bagi generasi pendahulu, kutipan itu jelas berasal dari Friedrich Wilhelm Nietzsche. Namun, bagi generasi langgas, kutipan hanya diketahui dari Kelly Clarkson!

Manifesto ketiga generasi langgas adalah keterbukaan. Generasi langgas hendak mendobrak klaim bahwa bekerja itu harus duduk di kantor dengan ruang kerja bersekat-sekat. Mereka bebas bekerja di luar kantor: di rumah, taman, kafe, atau ruang tertentu yang mereka sebut coworking space. Kantor mereka menjelma virtual office, sebab komunikasi dilakukan cukup via internet: surel, medsos, dan ruang penyimpanan virtual seperti Googledoc atau Dropbox. Beberapa perusahaan belum bisa membiarkan para pegawai langgasnya keluyuran keluar kantor membawa serta pekerjaan mereka. Maka, perusahaan menjaga kedekatan spasial dengan mereka, sekaligus tetap mengakomodasi cara kerja langgas, melalui penciptaan lingkungan kerja di ruang terbuka (Kompas, 12 Februari 2017).

Lingkungan kerja ruang terbuka generasi langgas mematahkan ramalan di majalah Matra edisi Mei 1995, yang terbit pada tahun-tahun kelahiran The Student Millenials (1993-2000). Ramalan hadir sebagai esai berjudul Manusia Abad ke-21: Hidup dalam Benteng Kepompong? Esai itu meramalkan manusia abad 21 akan hidup dalam benteng kepompong: “teknologilah yang memungkinkan hal itu. Telepon telah membawa semua sarana bantu kehidupan ke pintu rumah kita... Kini suatu teknologi baru, realitas virtual, dapat membawa hidup kian tenggelam dalam kepompong.”

Teknologi memungkinkan segalanya didapat atau dikerjakan cukup di rumah. Namun, generasi langgas tetap butuh pergerakan dan perpindahan, tak sanggup melulu di rumah. Semesta generasi langgas membentang seluas koneksi internet, sementara raga mengada di ruang-ruang terbuka. []


Udji Kayang Aditya Supriyanto
Peminat kajian budaya populer dan perkotaan. Penulis buku Rerasan
Urban (2016)

 

Remaja

Rindu

Penulis : Ega Setia Nanda

Redup cahaya lampu kota 
Membuatku terbungkam dengan kesendirian
Nyanyian indah

Cagak Utama

Labirin Puisi

Penulis :

Aku tersesat di labirin puisi
Kata-kata berkabut bayangmu
Cuaca hatiku kian ruwet

Hiburan

Lisda Rawda Ansori: Promosikan Pariwisata lewat Album Ragam Pasisia

Penulis : Yoni Syafrizal - Padang Ekspres

Album Ragam Pasisia segera diluncurkan. Album yang memiliki sepuluh judul lagu yang di antaranya

Carito Niniek Reno

Baju Kuruang Basiba

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Niek Reno bacarito jo Aisyah cucunyo di langkan belakang rumah anaknyo di kota. Asyik bana nampak

Remaja

Afdal Lul Fikri, Aktivis dari SMAN 11 Padang

Penulis : Oktaria Tirta - Padang Ekspres

Terlibat Aktif Suarakan Hak Anak

Afdal Lul Fikri, 17, salah seorang

Remaja

Lenyap

Penulis : Roza Permata S

Ketika semua membisu tanpa suara
Suara yang biasa kau dengar
Ketika sebuah wajah tela

Puisi

Pakhuis

Penulis :

1
Sejak 2013, gudang itu menjelma restoran
Ruang dengan lampu temaram
atau tera