CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Generasi_Milenial_dan_Pencitraan_yang_Dibangun_di_Instagram
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cerpen

Generasi Milenial dan Pencitraan yang Dibangun di Instagram

Penulis :    

Anak muda yang tumbuh di era saat ini lazim dikenal dengan sebutan generasi millenial. Mereka adalah orang-orang yang banyak tersita waktunya untuk memainkan gawai yang ada di genggaman. Entah untuk berkomunikasi atau hanya sekadar menggulirkan lini massa media sosial yang dipunyai. Tidak jarang, anak muda terlihat lebih sering menundukkan kepala menatap layar telepon pintar mereka daripada bercakap-cakap dengan orang sekitarnya. Kesibukan yang menguras waktu dan mengalihkan perhatian dari kehidupan nyata.

Instagram menjadi salah satu media sosial yang tengah digandrungi generasi millennial untuk mengisi waktu. Ketersediaan fitur yang lengkap menjadikan Instagram begitu memikat bagi kalangan anak muda. Instagram memfasilitasi penggunanya untuk membagikan gambar, tulisan, audio, maupun video dalam pos yang diunggah. Instagram juga dibekali menu yang mewakili penggunanya untuk tampil narsis. Sebelum akhirnya dikirim ke lini massa, pengguna instagram bisa memilih filter untuk mempercantik foto. Beragam filter terpampang, tinggal tentukan mana yang cocok bagi si pemegang akun. Dalam sekejap, foto akan makin indah.

Fitur instastory juga kian menyemarakkan kehidupan manusia di Instagram. Orang-orang dapat menyebarkan kehidupan sehari-hari mereka lewat fitur yang diadopsi dari aplikasi Snapchat ini. Pengguna bisa merekam cerita pendek yang mereka alami atau lihat dalam durasi 15 detik, bisa pula dalam bentuk gambar. Instastory juga didukung dengan alat untuk membubuhkan emoji dan teks berwarna-warni. Instagram benar-benar paham caranya menarik perhatian dari pengguna.

Jika ditelisik lebih mendalam, ada bahaya yang tengah mengancam di balik keseruan generasi milenial saat memainkan instagram. Rasa iri didorong lebih kuat tumbuh. Pasalnya, generasi milenial terus-menerus terpapar kehidupan orang lain saat memutar instastory. Instastory lazim dipenuhi dengan cerita-cerita bahagia dan kisah inspiratif sarat prestasi. Semua orang lantas berlomba-lomba menyuguhkan sisi terbaik dari mereka di instagram. Bahkan, ada yang berani memanipulasi unggahan itu demi mendapatkan label bahagia dan sederet pujian positif lainnya dari warganet Instagram. Inilah yang menyebabkan orang cenderung menjadi sosok yang mudah iri ketika kecanduan Instagram. Ia harus bisa mengejar taraf kebahagiaan sesuai standar dari Instagram.

Generasi milenial makin menyesaki kafe-kafe yang diklaim instagramable demi sebuah instastory atau postingan yang dibanjiri komentar  hits. Generasi millenial rela kelaparan seminggu untuk memenuhi feeds Instagram. Mereka rutin mendatangi kafe tiap minggu. Hobi mengupload foto dengan outfit kekinian juga tengah diikuti para generasi millenial. Semua ini tidak lepas dari konten yang disebarkan oleh para selebgram.

Generasi milenial harus mulai belajar bahwa semua yang disajikan dalam Instagram milik para selebgram memang sudah diatur sedemikian rupa. Jangan mudah terbujuk tren hingga rela menyakiti diri sendiri hanya untuk mendapat label tenar. Lagipula, selebgram tidak pernah menampilkan realita perjuangan yang mesti mereka lakukan, ini yang perlu generasi millenial tahu. Bahwa ada yang dikorbankan para selebgram itu untuk sebuah gambar yang memuaskan mata para warganet.

Pencitraan di Instagram turut menggeser kebiasaan para generasi milenial. Generasi milennial rela berburu makanan yang dianggap unik secara penyajian dan harus ditebus dengan harga mahal. Padahal harga tersebut tidak sepadan dengan rasa yang dihasilkan. Generasi milenial pun kini lebih sibuk menata dan mengambil foto makanan tersebut dari berbagai sudut sebelum dimakan. Lalu didistribusikan lewat instastory. Aktivitas berdoa sebelum makan pelan-pelan luntur. Orang satu meja pun diacuhkan, tidak diajak bicara karena generasi millenial hanyut dalam kepopuleran instastory.

Boleh-boleh saja memamerkan kegemaran, kehidupan,  kesenangan, dan luapan kegembiraan lewat instastory, selama diri sendiri tidak membohongi kemampuan yang sebenarnya. Ingatlah bahwa media sosial memberi jebakan kenyamanan semu. Semua orang seolah robot yang dipekerjakan untuk memeroleh tanda like dan comment yang tinggi.

Media sosial pada hakikatnya mengkonstruksi masyarakat untuk memakai topeng, menutupi pergulatan yang sebenarnya tengah mereka hadapi. Jangan mudah panas dengan foto liburan yang ditaruh kawan di Instagram. Bisa saja itu stok lawas lalu diunggah ulang demi dianggap selalu berpergian sana-sini. Anggap saja tujuan teman itu untuk memanjakan visual kita.  Instagram terlalu banyak diramaikan dengan pengeditan. Penulis Alumnus Ilmu Komunikasi Undip, Bergelut dalam dunia tulis.

 

Hiburan

Luna Maya: Ayu yang Ini, Bukan Itu

Penulis : JPNN

Luna Maya, 33, punya penga laman pahit dalam berbisnis. Kolaborasi dengan Ayu Ting Ting untuk clo

Remaja

Bayangan

Penulis : Amir Hamiedista

Jahat sekali waktu ini
Hingga ia telah mengambarkan rasa
Amat lekas waktu tenggelamka

Remaja

Bersama Takdir

Penulis :

Bersama Takdir
Oleh Hamiruddin

Kasih, adakah rindu masih menemuimu
S

Carito Minang Kini

Musajik Wisata?

Penulis : Ilham Yusardi

Jimbrehe lah taheran heran sajo baa kok rami bana urang di simpang antaro Katibsleman ka Densaleh

Remaja

Rindu

Penulis : Nadia Johana

Bila akhirnya kita tak berujung pada cinta
Kan kutitipkan sebuah rasa yang berujung pada as

Carito Niniek Reno

Sumbang Jawek

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Niek Reno jo cucu-cucunyo masih juo babincang tantangan Sumbang Duobaleh, Nampaknyo alun abih tab

Hiburan

Ashton Kutcher: Lacak Human Trafficking

Penulis : JPNN

Orang lebih mengenal Ashton Kutcher, 39, sebagai pemain serial televisi dan bintang film. Menghad