CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Potret
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Puisi

Potret

Penulis :    

Dia lukis laki-laki
dengan senja yang pucat
pada rambutnya.
Garis-garis abstrak
berwarna kelam
adalah lipatan usia
di sekujur tubuh
seperti kertas putih
yang terlalu penuh
dengan coretan
hingga berganti warna.
Kekelaman bergeming
sepanjang waktu
bernama  usia.

Kerak katarak
melingkar putih
pada bola mata.
Mata adalah gerbang
menuju ruang gelap
di dalam dada.
Rahasia dari segala rahasia
adalah lelehen waktu
yang sepenuhnya kepedihan
dari tahun yang telah lalu,
tahun yang kelabu
pada warna bingkai
lukisan itu.

2017

Berkas  Lama
Tentang   Ayah

Ayah berjalan kaki ke halaman,
bergerak ke rumah-rumah tetangga,
mendatangi semua tetangga,
ketika seluruh kampung membicarakannya
sambil mencibir dan meludah.

Setelah itu ayah kami kuburkan.
Bersamaan dengan itu jejak-jejak kakinya
lesap ke tanah, dan dari bekasnya
tumbuh bunga-bunga dengan serbuk sari
mengharumkan seluruh kampung.

Semua orang di kampung membicarakan ayah
sambil menghirup aroma harum di udara.
Tapi kami sudah kehilangan ayah.

2017

Ibu Mengepel
Lantai Setiap Hari

Ibu mengepel lantai setiap hari
dan mewajibkan kami selalu mencuci
tangan, sebelum dan sesudah
melakukan apa saja.

“Kita harus bersih,” katanya,
“sebab kuman selalu tidak terduga.”

Memang,  kuman selalu tak terduga,  
maka menjadi bersih adalah niscaya.

Kata ibu, udara berserbuk
di sekitar kami
—mengandung debu, pasir, dan karbon.
Juga suara-suara bising
serta fitnah
selalu ingin masuk ke hati kami
lewat telinga. Juga, gambar-gambar biru,
hitam, abu-abu, dan jingga
selalu menuntut mata merekamnya
agar tertanam menjadi ingatan
di kepala kami.

Ingatan yang abadi

Ibu mengepel lantai setiap hari.
Belakangan kami tahu kalau ibu
hanya ingin menghapus jejak ayah
dari rumah, dari kenangan,
yang seluruhnya kesedihan.

Ibu hanya ingin tak sedih
membayangkan ayah,
sebelum laki-laki itu  menjelma jadi burung,  
sebelum terbang meninggalkan sarang.

“Sebelum dia terkontaminasi,”  
igaunya dalam mimpi.

Memang, ayah telah terkontaminasi,
sejak kuman-kuman menggerogoti hatinya,
hingga sering pulang tanpa membawa hati.

Tapi Ibu sebetulnya terkontaminasi,
kuman-kuman lain menggerogoti hatinya,
seperti sekawanan rayap
menggerogoti kaki-kaki meja.

Sebelum rubuh,
Ibu mengaduk karbol
ke dalam gelas susu:

“Minumlah!” katanya,
“Sebab bersih adalah niscaya!”

2018

Batang Ayumi, 2017

Kota Padangsidempuan sebagian hancur
dihantam pukul banjir sepanjang Batang Ayumi,
rumah-rumah di bantaran hitam oleh lumpur,
anyir oleh air mata dan ludah basi.

Hujan tak lagi berjejak, tapi lumpur,
dan bangkai binatang, melumur
pagi. Udara bau harapan yang telah mati,
di rumah-rumah tanpa tempat mengungsi.

Amarah serupa ditanak gegara intermie
lancung dibagi, sebelum tegur-sapa, semacam
rasa simpati yang disampaikan dengan sedih.
Seseorang berteriak, marah, mengancam:

“Memang, kami lapar, Tuan Wali Kota,
tapi kami hancur juga, maka satukan tondi
yang terberai,  terpisah dimana-mana
kembalikan ke dalam diri.”

Di sekitarnya bilah-bilah papan rumah yang tumbang,
seluruh permukaan tampak begitu rumpang,
dengan batang-batang kayu dengan akar-akar melintang.
Bangkai kambing dan ayam masih mengambang.

Banjir tak lagi ganas, tapi langit tak panas
dan di ulu sungai itu hutan telah habis dirambah
untuk vila Wali Kota. Hujan masih akan deras,
masih akan memah serupa naga raksasa.

2017


Sayur Daun
Singkong Tumbuk

Mari,  kita kenangkan kampung di bibir gunung,
juga semua penghuninya, kerabat semarga sedarah,
yang tak mungkin ikut merantau ke kota.

Kenang dengan sayur daun singkong yang ditumbuk
jadi bubur,  lalu tanak dengan santan kelapa dan jaga
hijaunya tak berubah.

Warna hijau cocok untuk mata perantau
agar tak gelap memandang gemerlap etalase
dan lampu-lampu kota. Mata yang gelap serupa khianat

mata dari siapa saja yang layak dihujat dan dilaknat.
Kemudian taburkan bubuk garam agar lidah tak tawar
sebab petaka selalu bermula dari  lidah yang tak cakap

mencecap. Lidah yang terkilir hingga selalu pincang
menafsir isyarat kuliner kota: junk food, asupan kalori
yang tinggi, kolesterol, dan multivitamin

yang seluruhnya adalah kutukan industri. Mari,
hidangkan sayur daun singkong dan biarkan rasanya
mengembalikan kampung ke dalam dada.

2017-2018

 

Ceria

Gori dan Berry Si Beruang Hutan

Penulis : Ian

Di desa Paki-paki sedang dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Ladang, kebun dan s

Mumthaz Aulia: Jelajahi Dunia Lewat Menari

Penulis : Kali ini, halaman Remaja Padang Ekspres memperkenalkan Mumthaz Aulia, salah seorang siswi Sekolah Me
Kampus

Galakkan Subuh Mubarakah

Penulis : Arrasyd - Ganto

Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan Subuh Mubarakah yang kelima di Masjid Al-Azhar UNP, Ju

Cerpen

Pelajaran di Dalam Penjara

Penulis :

Menjelang sore Kasno terkulai. Tubuhnya dipenuhi luka sekujurnya. Ia mengerang kesakitan memohon

Remaja

Angan dalam Cahaya Petromax

Penulis : R Sophia Lestari

”Apa kabar?” Suara seseorang yang sangat familiar terasa sangat dekat di telingaku. &

Konsultasi

Resign tanpa Pemberitahuan Pada Perusahaan

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Assalamualaikum Wr. Wb. Bapak/Ibu pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati. Na

Bahasa Ekspresif

Penulis : Gubernur DKI Jakarta sekarang, Basuki Tjahaya Purnama, atau akrab disapa Ahok, bagaimanapun, telah