CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Anak,_Media_Sosial,__dan_Kehidupan_Sosial
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

Anak, Media Sosial, dan Kehidupan Sosial

Penulis :    

Belakangan, Naya, putri saya sering melontarkan kalimat, kenapa ya nda teman-teman Naya sudah punya Facebook sama Instagram, padahal umurnya masih kayak Naya? Awalnya, saya anggap itu semacam bentuk protes tersirat yang ia luncurkan karena aturan yang kami sepakati bersama; hingga ia menginjak usia 13 tahun, tidak akan diperkenan menggunakan android dan sejenisnya, lengkap dengan semua aplikasinya.

Saya pun mengajak ia berbincang ringan tapi sedikit serius, perkara teman-temannya yang memiliki dan menggunakan telepon pintar, entah di sekolah atau di tempat kursus. Ia dengan lancar bercerita tentang teman-temannya yang asik sendiri, sibuk sendiri, marah-marah sendiri, bicara sendiri, senyum-senyum sendiri, hingga terjedut pintu karena asik dengan telepon pintar masing-masing. Saya mengulum senyum; paling tidak, ia paham bahwa ada efek yang ia pahami dari penggunaan telepon pintar.

Lain cerita tentang seorang sahabat di Yogya, Cipto. Bukan karena novelnya yang baru diluncurkan dan sudah terjual 400 kopi dalam waktu satu bulan, yang menarik minat. Tapi konsistensinya antara apa yang sedang ia perjuangkan dengan kesehariannya. Beberapa teman (termasuk saya sendiri), sering mengeluh. Betapa susah ia untuk dihubungi. Ia tidak memiliki setidaknya pesawat telepon sederhana agar akses lebih mudah. Alasannya, jika aku pakai handphone, aku akan terikat dan diatur oleh alat itu. Terus kapan aku kerjanya? Dan ia baru menggunakan telepon pintar, ketika novelnya, Darah Muda, rampung dan ia sibuk dengan urusan pemasaran buku pertamanya tersebut.

Lalu saya coba kembali berkaca pada diri saya. Saya menggunakan telepon pintar sudah lumayan lama. Tidak ada alasan krusial, awalnya. Hanya perkara, saya tidak mau terlihat kuno dan tidak apdet. Beberapa merek pernah saya gunakan. Bermacam aplikasi pun sudah saya pasang. Belakangan, yang paling sering saya otak-atik di telepon pintar saya tak lebih: facebook, Instagram, dan Whatsapp. Saya mencoba ingat-ingat kembali, rasanya begitu sulit bagi saya untuk lepas dari ketiga aplikasi tersebut. Tiap sebentar saya buka, saya geser ke atas dan kebawah, saya baca, yang kenyataan, informasi yang tertera di situ, kalau istilah Minangnya, indak baranjak dari itu ka itu sae! Tapi entah mengapa, saya kecanduan. Saya merasa butuh dan perlu untuk memeriksa notifikasi dari ketiga media sosial tersebut.

Putri saya, Naya, sudah teramat sering protes. Bunda, apa sih yang bunda lihat di handphone bunda? Kok ga pernah berhenti? Seenaknya saya jawab, mungkin ada pesan penting dari teman-teman Bunda- hingga alasan-alasan lain yang sering kali terlalu mengada-ada. Saya mulai kecanduan. Tapi saya juga bimbang, apakah saya harus menghentikannya, atau saya masih membutuhkannya?

Saya lantas mencoba mencari referensi yang barangkali bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dan ketika saya memutuskan menuliskan ini, ada semacam kegalauan dalam hati. Bagaimana tidak, saya semacam memiliki tanggungjawab moral untuk mempertanggungjawabkannya dalam keseharian, bukan semata teks yang kurang bernilai, karena menuliskannya untuk melepas tuntutan tugas belaka.

Menurut beberapa jurnal psikologi dan kesehatan mental yang saya baca, ada beberapa alasan penyebab individu merasa perlu untuk melakukan aktivitas di media sosial, terutama mengunggah status, foto, atau sejenisnya. Dimulai dari keinginan untuk mengidentifikasi diri (self presentation), tetap menjaga koneksi dengan apa yang menjadi tujuan identifikasi diri, kecenderungan manusia untuk berbicara mengenai dirinya hingga 80% dari total keseluruhan yang dibicarakan sehari-hari, hingga self  positioning agar menunjukkan kedudukan dan siapa individu tersebut sesungguhnya. Ya, semacam self fullfilment sebagai sebuah digital marketing enthusianst.

Ketika saya seorang ibu rumah tangga, maka saya akan melakukan branding dengan postingan-postingan perkara kegiatan sehari-hari saya sebagai ibu rumah tangga. Ketika saya seorang koki, tentu status saya lebih dominan perkara hal yang berhubungan dengan dunia masak-memasak. Jadi, status seorang ibu rumahtangga seputaran menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak sekolah, memasak untuk keluarga, pengajian dan majlis ta’lim yang saya ikut, hingga betapa pasangan saya seorang suami yang penyabar dan penyayang terhadap keluarga.

Saya melakukan self presentation bahwa sebagai perempuan, bahkan perempuan yang tidak bekerja sekalipun, saya memiliki kondisi ideal. Postingan-postingan lain dari sebuah media sosial yang kemudian saya bagikan, merupakan sebuah bentuk marketing diri lanjutan. Tanda like hingga awesome dari penikmat media sosial saya, menjadi semacam penentu pososi saya (self positioning) dalam bermasyarakat, itu penting. Hingga tanpa sadar, saya akan seharian memantau perkembangan like atau komentar atas apa yang sudah saya unggah di media sosial. Itu menjadi semacam kebahagian atau rasa sedih yang tiba-tiba, ketika sedikit atau bahkan tidak ada respon dari siapa pun.

Ketika hal itu terjadi, rasa bahagia yang muncul karena status saya disukai dan dikomentari oleh banyak orang, otak akan menghasilkan hormon dophamine dan hormon axytocin. Kedua hormon tersebut bisa dikatakan semacam hormon kesenangan yang menyebabkan saya termotivasi untuk mencapai target dan kepuasan. Kedua hormon ini berperan dalam meningkatkan perasaan cinta, sayang, dan percaya. Hormon ini akan membuat rasa nyaman dan bahagia.
Ketika saya menerima pesan, saya akan merasa enak, asik, atau bahagia. Sehingga ketika merasa kesepian, saya akan berkirim pesan atau memperbaharui status sambil menunggu komentar atau like dari teman. Resepon-respon yang saya peroleh bisa membuat saya bahagia.

 Hal itu lumrah, karena memang manusia merasa bahagia ketika mendapatkan respon atas pesan yang sedan ia sampaikan. Lantas saya mulai menghitung dan menunggu sudah berapa jempol atau tanda hati yang diperoleh, sudah berapa komentar yang masuk, atau bagaimana respon dari status tersebut.
Sebaliknya, ketika status di facebook, Instagram, kurang mendapat respon atau tidak mendapat respon sama sekali, saya sering merasa ada yang salah dengan diri saya atau status saya. Kadang saya mulai berpikir bahwa orang-orang mulai tidak menyukai saya. Mengapa tidak ada respon dari siapa pun? Apa yang salah? Bahkan seringkali muncul semacam trauma karena merasa tidak dinginkan lagi atau tidak diacuhkan.

Tetapi celakanya, hormon dophamine yang dihasilkan otak, yang membuat saya merasa bahagia ketika status saya diakui, merupakan cairan yang sama yang muncul ketika orang-orang merokok, minum alkohol, atau berjudi. Hormon yang menyebabkan rasa puas dan senang dan sangat membuat kecanduan.
Saya sedikit terkejut menghadapi fakta ini. Apakah artinya, ketika saya kecanduan memperbaharui status, lantas penuh deg-degan menunggu setiap komentar dan like yang masuk, sama kondisinya dengan orang-orang yang kecanduan rokok, kecanduan alkohol, kecanduan narkoba, kecanduan judi? Lalu mengapa saya selalu mencoba untuk ‘mengasingkan’ dir dari hal-hal demikian, tetapi tidak pada kecanduan yang saya idap? Pertanyaan tersebut menghantui saya beberapa hari terakhir.

Lantas saya teringat pada komentar Naya mengenai anak-anak yang begitu ‘tekun’ dengan telepon pintar, permainan online, hingga media sosial yang mereka miliki. Anak-anak mulai bebas mengakses hal-hal yang bisa membuat kecanduan, yaitu semacam stimulus untuk menghasilkan cairan dophamine melalui media sosial atau telepon pintar. Orang tua tidak menyadari hal tersebut, bahwa yang mereka lakukan hampir sama efeknya dengan memberikan alkohol, narkoba atau membiarkan anak bermain judi. Anak-anak menjadi lebih sukar dibentuk dalam masa pertum buhan mereka.

Hal yang paling mengerikan dari efek hormon dophamine melalui media sosial dan telepon pintar adalah, anak-anak tidak tahu bagaimana membangun sebuah hubungan dengan sesama. Bukan hanya hubungan di permukaan, sekadar sapaan ketika berpapasan. Tetapi hubungan yang lebih dalam dan itens. Anak-anak beranjak memiliki nilai persahabatan yang dangkal. Mereka tidak memiliki keterikatan secara emosional yang lebih jauh dengan teman-teman, sehingga kemudian teman-teman tersebut menjadi tidak bisa diandalkan.

Anak-anak mungkin bisa bersenang-senang dengan teman-teman mereka. Tapi mereka tidak akan mendapatkan semacam sebuah ‘pengorbanan-pengorbanan’ kecil ketika teman-teman tersebut menemukan sesuatu yang lebih mengasyikan lewat pesawat telepon dan media sosial. Anak-anak jadi semacam memiliki kegamangan dalam menjalin relasi sosial. Lebih buruk, mereka tidak mempunyai mekanisme untuk beradaptasi terhadapat tekanan, sehingga ketika mereka mengalami tekanan atau stress, mereka akan kesulitan menemukan seseorang untuk bercerita. Padahal salah satu cara untuk mengurangi stress dengan menghasilkan hormon endhorpin, semacam bergosip dengan orang terdekat.

Anak-anak lantas lari pada media sosial, mulai bercerita tentang persoalan mereka, yang tanpa disadari sesungguhnya bersifat pribadi. Mereka kemudian merasa lega ketika mendapat respon dari teman-teman di media sosial, padahal respon-respon tersebut sifatnya sementara. Pertemanan melalui media sosial sifatnya sangat dangkal.

Saya kembali teringat sebuah berita beberapa waktu lalu. Dua orang siswa sekolah menengah lanjutan tingkat pertama terpaksa mendapatkan terapi khusus dari ahli jiwa. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami semacam gangguan psikologis akibat kecanduan menggunakan telepon pintar. Apakah efek ini sama dengan orang yang kecanduan narkotika? Saya sungguh ngeri membayangkannya.

Tidak ada yang salah dengan hanphone dan media sosial, selama penggunaan dan pemanfaatannya seimbang. Tetapi kenyataan, justru sebaliknya. Faktanya, kita mulai benar-benar tidak bisa melepaskan perangkat kita. Bahkan, lebih mengerikan ketinggalan telepon pintar dibandingkan ketinggalan dompet. Kita sudah benar-benar kecanduan, dan seperti kecanduan terhadap apapun, hal tersebut bisa menyebabkan rusaknya hubungan, membuang waktu, membuang uang, dan menjadikan hidup semakin lebih buruk. Seperti halnya perlakuan terhadap pecandu lainnya, maka kita juga harus menjauhkan pesawat telepon dari jangkauan.

Dan hal penting yang harus dipelajari anak-anak jaman sekarang adalah mengenai kesabaran bahwa hal-hal yang sangat berarti seperti cinta, atau pencapaian kerja, kebahagiaan, kasih dalam hidup, kepercayaan diri, keterampilan, membutuhkan waktu yang panjang, tidak mncul begitu saja.
 Jika larangan terhadap rokok, judi, alkohol, sudah jelas, bahkan diatur dalam peraturan perundangan, tetapi tidak demikian halnya dengan handphone dan media sosial. Tanggungjawab kita untuk mengajarkan anak-anak membangun kepercayaan diri, belajar untuk bersabar, belajar keterampilan untuk bersosialisasi, dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan dan teknologi, bukan sebaliknya. (*)
(Footnotes)
1 Yona Primadesi, menulis puisi, cerpen dan esei. Saat ini selain sibuk merampungkan pendidikan doktoralnya, juga aktif dalam gerakan literasi untuk anak. Mengelola Rumah Kreatif Naya, www.kedaimare.com dan sebuah penerbitan indie di Yogyakarta. Bisa dihubungi melalui www.inceklado.com

 

Cagak Utama

Padangpanjang Dimata Hamka

Penulis : Muchlis Awwali

Pembicaraan terhadap Roman TKVW

Kapal Van der Wijck adalah nama sebuah k

Carito Niniek Reno

Niek Reno Pai Ka Kota Maanta Cucunyo

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Bundo Aisyah sajak kapatang lah basiap-siap manunggu kadatangan anak gadihnyo nan lah hampia duo

Bedil Minangkabau dalam Naskah Ilmu Bedil Melayu

Penulis : Satu dari Dua Tulisan Perkenalan saya dengan naskah “Ilmu Bedil” berawal dari di
Carito Minang Kini

Nan Kayo Jadi Pangarang Espeje

Penulis : Ilham Yusardi

Tan Kereang samo Jimbrehe sadang bajalan-jalan sore bakaliliang kota. Indak taraso, urang baduo t

Cagak Utama

Indonesia dan Nobel

Penulis : Beni Setia - Pengarang

Kemenangan Bob Dylan sebagai pemenang dari Nobel Kesusastraan 2016—meski bukan murni sebaga

Cagak Utama

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Penulis : Romi Isnanda - Dosen FKIP Universitas Bung Hatta

Simbol Pengukuhan Solidaritas Masyarakat Nagari Balimbiang

Berbagai vari

Kampus

Luncurkan 50 Buku Karya Dosen

Penulis : Fitri - Ganto

Universitas Negeri Padang (UNP) bekerja sama dengan PT Prenada Media Group Jakarta luncurkan 50 b