CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Pagar
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Puisi

Pagar

Penulis :    


   
Larva lalat. Telur ikan sepat. Kondisi matang
umbi kentang. Pagar yang roboh mengingatkanmu
pada seloroh: neraka ada dalam pikiran tentang
surga. Tapi kau tak melihat hubungan, antara
spektrum pada sayap capung jarum, noktah
di kaki lebah dan noda darah di kain merah.

Barangkali delusi. Barangkali kau sudah mati.
Benang mimpi terjahit di mantel pagi. Bisa kauraba
otot udara tersedot ke dalam suara. Suara sel.
Suara protein. Suara bel di tangan serafim.
Tapi kau tak memiliki pantulan. Cahaya menguraimu
jadi unsur dasar. Terbentuk lagi jadi serabut kasar.

Larva itu. Telur itu. Umbi itu...     
 
(Bakarti, 2017)

Situasi Politik, 1987

bapak bekerja. di sampingnya ada dinding.
dari jalanan terdengar lagu mars. pikiran berbentuk
poster film dan siaran radio yang mengulang bunyi sepatu.
sepanjang garis isobar capung menyiapkan pengungsian.
tetangga melihat langit. tak ada bentuk apa-apa.
harga bahan pangan memuai dari kejauhan.
tangan kiri disembunyikan. tangan kanan jadi lebih ringan.

dalam kemustahilan semuanya berwarna kuning.

(Kekalik, 2017)

Di Hadapan Kertas Kosong

bunyi kata membuat bercak di permukaannya.
terbaca: sebentang pantai dengan tandatangan
dalam pasir. tanganmu malu sebab putih melulu
gugur di atas garam waktu.   puisi jadi tuli.
sementara kau bertambah tua, bertambah semena-mena.
kalau mata-kata tiba-tiba buta, hanya asinnya yang tersisa
bagi lidah dunia, kau kira: itulah padanan sempurna
untuk mengalami semua yang tak pernah terjadi.
(Kekalik, 2018)

Tumbak Datu Rompak

barangkali kau dibuat oleh pande besi alim
ketika menempa pedang untuk raja lalim, menjelang
perang tak seimbang antara sekelompok nelayan dan
siluman berseragam. pemerintah mengambil
semua sampan, juga berkas-berkas dan tanda tangan.
dalam bengkelnya pande besi bermimpi melihat seekor
paus terdampar. kulitnya kemilau mata bayi, terpukau
pancaran bumi. laut memang rendah hati, dikecupnya
langit ketika ia turun rendah sekali. tapi orang mati tetap
orang mati, meski di lain buana kelahiran beribu kali.

barangkali setelah sekian lama, kau dilebur sedemikian rupa.
hingga asin lesap dari garam, duri lenyap dari mawar. daging
paus senyap di sela geraham dan nelayan penghabisan memandang
laut seperti memandang jurang sembari berharap turis asing
datang agar sempurna peraturan baru di atas meja tamu
dan plakat pembasmian itu.

(Bakarti, 2017)
Kucing Kitti

kucing kitti di sandal ibu tiri, meongnya brutal
waktu banjir masuk lubang pengungsian.
dibutuhkan dataran tinggi untuk mengeringkan
bulu-bulunya. bulu merah jambu, mengingatkan
kita pada spidol masa kecil atau kerlip lampu
di rumah bordil. tapi banjir cepat dewasa, dibawanya
gema meong ke kantong-kantong mayat. helikopter
berputar seperti capung tersesat. ada amplop turut
hanyut berisi surat cerai. foto ibu-bapak dan paraf
pucat di atas kertas mengingatkan kita pada bekas kadas
di kaki lumpuh seorang buruh. tulangnya lemah sejak
jalanan dibuat lebih tinggi dari rumah-rumah.
air beringsut, kucing kitti keluar dari sandal sebelah kiri.
mayat ibu tiri tersangkut di papan nama toko cinderamata.
di bibirnya lipstik merah jambu luntur, mengingatkan kita
pada pidato pertama tuan gubernur.

(Bakarti, 2017)

Gang Menuju Tempat Pengajian

ada relief malin kundang di dinding
depan rumah pedagang; malin dan
pengantinnya. sebelum ia berlayar pulang
dan hidup abadi sebagai batu perumpamaan.

setiap sore sinar matahari menerangi mata
relief. seakan bersit ruh yang telah menempuh
penerbangan jauh ke lain tubuh.

tepat di seberangnya; areal penggilingan padi.
perempuan-perempuan lesu dengan garu
seperti terganggu oleh langit di atas itu.

sedang antara keduanya:
seorang kanak tak beranjak
ia bayangkan laut dan ladang bertemu di atas
piring makan malam.
 
(Kekalik, 2018)

Disleksia

Dalam cerita anakku tidak ada buaya. Tidak ada tanda bahaya.
Anakku menangis ketika cerita yang lain datang berbaris.
Cerita perihal dua ekor kancil kasmaran
berkejaran di lambung hutan. Seorang pemburu melepaskan
peluru berbulu terang menyebabkan asam berlebihan
hingga lambung hutan terus-terusan mengeluarkan gas
dan hewan-hewan menyangka hujan meteor akan sampai di hutan itu.
     
Hewan-hewan pindah ke dalam kepala anakku.
Jadi liar dan gemar mengancam.
Mereka merekam cerita anakku. Mereka menerkam cerita anakku.
Cerita itu rebah. Darahnya istimewa hingga anakku keluar dari sana.
Tergelincir dan berputar di permukaan lidahnya sendiri.
Lidah yang membaca tanda bahaya berupa bahasa
yang serupa buaya membuka lebar-lebar moncongnya.

(Bakarti, 2017)

 

Mendengar Reggae

Penulis : sehabis kanabis serdadu kerbau berangkat dari Afrika untuk kemerdekaan bangsa lain yang kelak gemar
Konsultasi

Langkah Pemilik Saham yang Dirugikan atas Kebijakan Dirut

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Saat ini, saya memiliki 30 % (tiga puluh persen) sah

Cagak Utama

Apa Kabar Sineas Sumbar?

Penulis : Muhaimin Nurrizqy

Catatan Pendek Mengenai Film Week

“Saya tidak mempertimbangkan seg

Hiburan

Ryan Gosling: Jelaskan Arti Senyum

Penulis : JPNN

Siapa yang bisa melupakan senyum ikonik Ryan Gosling saat Oscars 26 Februari lalu? Ekspresi itu m

Kampus

Serdadu Jentik

Penulis : Redaksi

Para dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sedang bertugas di siklus Kesehatan Masy

Paco - Paco

Komunis Minang Sutan Said Ali ditangkap di Medan (1926)

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

Medan, 28 Mei (Aneta). Polisi telah menangkap t. Soetan Said Ali, propagandist pergerakan kominis

Anggun

Ria Miranda: Tonjolkan Songket Khas Minang

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Ria Miranda, melirik kerajinan tangan khas Minangkabau dalam karyanya. Salah satunya songket. Son