CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - (Belum)_Jodoh
Cerpen

(Belum) Jodoh

Penulis :    

Seperti kata Navis, bila anak gadis yang telah patut umurnya, tapi belum bersuami juga, maka masyarakat masih memandang mereka sebagai oknum yang menggelisahkan keluarga.

“Kalau tidak sekarang kapan lagi. Apa juga yang ditunggu lagi,”kira-kira demikianlah kalimat yang diujarkan orangtua kepada anak gadisnya masing-masing.
Maka demikian pula agaknya bagi Rosni. Kau tentu masih ingat dengan orang ini. Dan kini, ia dianggap sebagai oknum yang menggelisahkan keluarga. Tak hanya keluarga, bahkan juga bagi orang sekitarnya. Bukan karena ia belum menikah. Bukan. Tapi karena soal lain, yang mungkin di antara kalian juga pernah mengalaminya.
***
Masuk tahun ketiga di usia pernikahannya dengan lelaki pilihan orangtuanya, Rosni belum juga dikaruniai seorang anak. Sudah dicoba pergi berobat kemana-kemana. Mulai dari obat kampung sampai ke dokter. Hasilnya masih saja belum.
“Mungkin Tuhan masih ingin melihat sejauh mana kesabaran kita,”kata suami Rosni memahami istrinya.
***
Sejak menjadi penyebab keretakan hubungan antara Lena dengan Badri waktu lalu, ia habis disumpahi Lena, supaya tidak bersuami sampai mati. Atau kalaupun dia bersuami, tidak beranak, dan perempuan itu diceraikan. Dan  ia akan disebut sebagai janda gata karena perangainya itu. Begitu benar sakit hati Lena pada Rosni, perempuan yang dulu sempat tersangkut di hati Badri.

Dan kini, kau tahu, Rosni tengah menanggungkan segala sumpah itu. Ia diceraikan lelaki pilihan orangtuanya. Lantaran Rosni juga sebabnya. Bagaimana tidak, ke mana hinggap selalu berbuat tidak wajar. Sikapnya berlebihan. Menjangak. Di kantor, sering dikatakan bertingkah kurang sopan dengan suami orang. Dasar lelaki, tentu, kucing mana yang menolak bila diberi ikan asin.

Atas dasar laporan dari orang kantor yang tak senang dengannya, Rosni jadi bulan-bulanan istri pejabat di kantornya itu. Ia dicaci. Dan sampai suatu kali, habis Rosni disemprot oleh serangan istri pejabat di kantornya itu. Tak sedikit kata istri pejabat itu kepadanya. Sampai membuatnya tak bisa tidur.

“Perempuan sundal kamu! Perebut suami orang. Lonte! Kubakar kau hidup-hidup, ya!”bentak Istri Seorang Kasubag di kantor itu, yang akhir-akhir ini sering melihat tingkah aneh pada suaminya (sering pulang malam, selalu bilang rapat, bahkan sering tak makan malam di rumah, dan seterusnya).
Rosni takut sekali. Ia berlari menyelamatkan diri sambil menutup telinganya.

Untung Rosni tak sempat ditangani Istri Seorang Kasubag itu. Kalau sempat Rosni ditanganinya, bagawa. Rumit urusan. Dan untung keributan cepat dilerai orang kantor yang kebetulan sedang ramai-ramainya. Sementara, Seorang Kasubag yang terlanjur malu itu menyeret istrinya pulang.

“Kau membuat malu aku,”kata Seorang Kasubag itu sambil menyeret istrinya ke luar ruangan.
“Biar. Biar orang sekantor tahu, bahwa dia biang kerok di kantor ini,”kata istrinya meronta-ronta.
Esoknya, kabar itu tersiar sampai ke telinga Da Men, suami Rosni. Karena tak terbilang lagi sakit hati Da Men, Rosni diceraikannya.
“Mungkin dengan begini kau akan betul-betul bebas, Ros. Biarlah. Segala yang sudah kita bangun, kita habiskan saja sampai di sini. Aku ceraikan engkau dengan keikhlasan hatiku,”kata Da Men dengan mata berkaca-kaca.

Bukannya galau, Rosni justru lega. Setidaknya, beban yang bertengger di hatinya akhirnya terlepas juga. Dia menikah dengan Da Men bukan karena kehendak hatinya sendiri. Melainkan karena orangtuanya. Dulu, orangtuanya banyak berhutang budi kepada orangtua Da Men. Kalau tidak karena orangtua Da Men, mungkin hidup Rosni sekeluarga sudah tinggal di kolong jembatan Minang Plaza. Persislah seperti kisah cinta Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih.

Itulah bodohnya Da Men. Lelaki yang berkedai bangunan di Jakarta Selatan itu bukanlah lelaki idaman di hati Rosni. Tapi Da Men tak sadar-sadar juga. Jelas-jelas Rosni orangnya begitu, dia mau juga.

Rosni maunya dengan lelaki kantoran, seperti Badri. Dan itulah sayangnya. Badri dan Rosni beda keyakinan. Rosni yakin ke “ya”. Badri yakin ke “tidak”. Badri lebih yakin ke Lena. Bukan ke dirinya.

Badri. Ya, sampai hari ini, diam-diam pikiran Rosni masih terpaut pada lelaki itu. Lelaki  yang sebentar lagi akan beranak tiga itu. Lena kini tengah mengandung anak ketiga mereka. Sebuah berita bahagia. Bahwa menurut hasil USG, bayi yang sekarang bersarang di rahim Lena berjenis kelamin laki-laki. Sampai juga cita-cita mereka ingin anak laki-laki. Penantian ini cukup lama, setelah cukup lama Lena dan Badri menunggu kehadiran anak laki-laki di tengah-tengah kakak-kakak perempuannya.

Maka melalui saran seorang kawan, Badri dan Lena mengikuti strategi untuk mendapatkan anak laki-laki dari kawannya yang bekerja sebagai bidan desa.
***
Sejak tahu Badri menikah dengan Lena, Rosni kecewa. Jika dipatut-patut rumah tangganya dengan rumah tangga Badri, Lena jauh lebih beruntung.  Perempuan itu dapat menikah dengan orang yang berkenan di hatinya. Sementara ia sendiri, tidak. Ia dapat lelaki pilihan orangtuanya. Dan sama sekali tak dicintainya.

Dan sejak bercerai dengan lelaki pilihan orangtuanya itu, Rosni ingin kembali ke Padang untuk sementara waktu. Di tempatnya bekerja, ia minta cuti. Untuk menenang-nenangkan pikiran yang sedang suntuk. Kalau harus berhenti, rasanya tidak mungkin. Sebab di perusahaan itu, ia punya kedudukan yang bagus. Ia “dipertahankan” oleh bos.

Dan kini, Lena telah di Padang.  Kakinya mencecah di Bandara Internasional Minangkabau. Ia mengucap “Wahai”. Entah kepada siapa.
Suatu kali, pada saat yang sama sekali tak direncanakan, Badri dan Rosni bertemu muka di Sari Anggrek. Terpana Badri melihatnya. Rosni pun demikian. Dan pertemuan itu selanjutnya berpindah ke sebuah café kopi di dekat Junggurun.

Dari pertemuan itu, Badri berkesimpulan: Rosni kini tampak ideal baginya. Wajahnya cantik dengan kulitnya yang makin mulus seperti umbut karena usianya yang masih terlihat muda. Rosni tak lagi lebih pendek dari persyaratan idealnya. Lagi pula, sekarang ia tak terlalu berisi.  Antara tinggi dan berat badan seimbang. Dan yang makin membuat Badri terperangah, Rosni punya pekerjaan yang menghasilkan nafkah lebih banyak. Benar juga kata orang, mantan pacar akan terlihat makin cantik kalau kita sudah tidak miliknya lagi. Ahai!

Dan ini pula masalahnya sekarang. Di “zaman now”, orang tak bisa berkata tidak untuk bekerja. Segala serba mahal. Biaya hidup makin menjepit. Tensi ekonomi makin tinggi. Kalkulasi biaya hidup yang mencemaskan dulu, ternyata kini menjadi duri dalam daging.

Maka, jika suatu kali dulu Badri pernah menyuruh istrinya untuk berhenti bekerja sebagai guru, kini ia menyesal. Hanya suami-suami yang tak ingin cokinya terbuka karena perangainya di luar sana begitu liar, atau suami yang tak ingin disaingi oleh penghasilan istrinyalah, yang menyuruh istrinya berhenti bekerja.
Di saat mereka sedang puas-puasnya saling berpandangan, diiringi musik Margie Segers, Rosni membuka pembicaraan.

“Kau sudah senang sekarang,”kata Rosni memandangi Badri disepuh cahaya lampu ruangan berkaca itu.
Badri tersenyum getir. “Ah tidak juga,”katanya.
“Berapa anakmu sekarang?”tanya Rosni.
“Alhamdulillah, akan tiga. Kau sendiri bagaimana, Ros? Sejak kau menikah, aku sempat berpikir kau tidak akan kembali lagi ke Padang.”
Rosni tersenyum. “Mengapa kau sempat berpikir demikian?”
Badri terperanjat. Diminumnya air sereguk. Merasa belum cukup, air itu direguknya lagi.
 “Tak apa. Bukankah kau juga bahagia dengan pernikahanmu, tentu?”
Rosni merunduk. Dan menitikkan air mata.
“Rupaya aku salah bertanya,”kata Badri dengan nada amat menyesal.
“Tidak. Kau tidak salah. Aku yang salah. Selalu salah.”
“Ceritakan kepadaku. Apa sebenarnya masalahmu?”
Rosni memandangi Badri dalam sekali. Ada segumpal harapan yang ingin dititipkannya pada Badri. Tapi tentu itu tak mungkin.
“Aku telah bercerai dengan suamiku.”

Badri terperanjat. Terbulalak matanya mendengar kata-kata yang termuntah dari mulut Rosni sebentar ini.
Rosni menangis deras sekali.

Jantung Badri bertambah kencang detaknya manakala Rosni merebahkan kepala ke bahu kanannya. Badri mengusap kepala yang beraroma vanilla itu. Ondeh Mak oi, matilah den! Umpatnya dalam hati.

Setelah ditenang-tenangkannya, akhirnya Rosni mau juga mendengarkan ucapannya. Perempuan itu berhenti menangis. Sementara, orang-orang di sekitar melihat-lihat saja ke mereka. Tapi Badri tak peduli. Baginya, menenangkan hati perempuan yang sedang tergoncang adalah tugas mulia.
***
Diperjalanan, sambil menyetir, terbayang-bayang olehnya ketika Rosni menempelkan kepalanya ke bahunya tadi. Dan dapat dipastikan juga, sebagian tubuh Rosni juga menempel ke tubuhnya. O, betapa nikmatnya malam ini, katanya dalam hati. Ingin diulangnya sekali lagi, setelah sekian tahun tak bersua. Tapi tentu tak mungkin.

Sesampainya di rumah, dilihatnya Lena menunggu sambil terkantuk-kantuk di ruang tengah. Begitu Badri masuk, Lena pergi ke belakang, lantas kembali menyuguhkan secangkir teh hangat di meja. “Air hangat sudah kusiapkan, Mas,”kata Lena sambil menguap berkali-kali. “Ya, Sayang. Kamu tidur sajalah dulu. Nanti aku menyusul.”

Badri melarikan dirinya cepat-cepat ke kamar mandi. Bukan karena terdesak menahan buang air kecil atau air besar atau gerah. Tapi karena ia baru menyadari, ada bekas lipstick tertempel di bahu kanan bajunya. Cepat-cepat baju itu dibenamkannya ke ember yang sudah berisi air dan deterjen.

Padang, 11 Desember 2017

 

Cerpen

Sebuah Nama untuk Cameroon

Penulis : Elly Delfia

Namanya Cameroon. Ia suka namanya, tapi ia tak suka orang kampung memanggil namanya. Pa

Cerpen

Membunuh Masa Depan

Penulis : Ken Hanggara

Seorang wanita dari masa lalu, mengetuk pintu rumah saya malam-malam. Ia ingin tahu di mana ia bi

Langkan

Mendidik Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus

Penulis : Debi Virnando - Padang Ekspres

Kemandirian buah hati merupakan mimpi terbesar bagi orangtua yang dianugerahi titipan seorang ana

Kampus

Abdi Putra Pimpin Imakopa IAIN IB

Penulis : Suara Kampus

Ikatan Mahasiswa Kota Padang (Imakopa) IAIN Imam Bonjol (IB) Padang laksanakan pembentukan kepeng

Remaja

Kunang-kunang

Penulis : Riki Fernando

Selalu tentang malam dan tenangnya malam 
Yang bangkitkan riuh memori-memori penuh ima

Cagak Utama

Kaligrafi Islam dalam Seni Rupa Modern

Penulis : Muharyadi - Pengamat Seni Rupa dan Korator

Di tengah tumbuh subur dan berkembangnya seni lukis moderen hingga derasnya kondisi seni lukis ko

Kampus

Mahasiswa UNP Juara News Presenter

Penulis : Dyra

Bertempat di ruang seminar lantai satu Pusat Kegiatan Mahasiswa, Genta Andalas mengadakan lomba n