CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Eko_Alvares,_Tunggak_Tuo_Rumah_Gadang
Cagak Utama

Eko Alvares, Tunggak Tuo Rumah Gadang

Penulis :    

Tidaklah berlebihan, seandainya sosok Dr. Eko Alvares Z disebut sebagai salah seorang yang kembali menegakkan tunggak tuo rumah gadang Minangkabau. Tunggak tuo dalam konteks rumah gadang, adalah pancang utama, dan merupakan tonggak  pertama yang harus ditegakan jika akan membangun rumah gadang. Pengibaratan ini menjadi pantas disandangkan pada Eko Alvares, jika dilihat dari apa yang dikerjakannya.

Dia dengan gigih berupaya membangun kembali sejumlah rumah gadang di Nagari Sumpu di tepian Danau Singkarak, karena telah hangus dimakan api tahun 2013. Pembangunan kembali dua rumah gadang ini, dapat dikatakan sebagai program kerja idealisme yang bersifat keilmuan dan sekaligus menggerakan kedermawan sosial dalam menyelamatkan warisan budaya bangsa.

Dengan dukungan teman-temannya di Balai Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), dan bantuan pendanaan dari masyarakat pecinta warisan budaya nusantara, terutama Yayasan Tirto, akhirnya dua rumah gadang berhasil dibangun kembali di Nagari Sumpu. Rumah gadang pertama diselesaikan tahun 2014, dan yang kedua 2016. Kedua rumah gadang tersebut kini, dapat digunakan sebagai tempat wisata sejarah dan budaya, yang terbuka bagi siapa saja.

Eko Alvares dilahirkan di Padangpanjang 10 Maret 1965. Sehari-hari beliau adalah dosen arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Bung Hatta, dan pernah menjadi wakil rektor (WR 1) bidang akademis. Mendapatkan gelar sarjana arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, Master Arsitektur di Institut Teknologi Bandung, dan gelar Doktor dari Universitas Gajah Mada, Yokyakarta, sehingga gelar lengkapnya sebagai akademisi adalah DR. Ir. Eko Alvares Z, MSA.

Prestasinya sebagai arsitek dan sekaligus ahli tata ruang cukup membanggakan. Ia pernah menjadi Koordinator Modern Asian Architecture Netwok (MAAN) Indonesia tahun 2005, serta menjadi Dewan Penasehat dan Dewan Pimpinan Balai Pelestarian Pusaka Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Eko Alvares lebih dikenal sebagai arsitek rumah gadang dan ahli tata ruang Minangkabau.

Berbicara tentang budaya Minangkabau, apalagi tentang rumah gadang, Eko Alvares selalu bersemangat, dan tentu saja dengan sejumlah kerisauan yang muncul dari pengamatan lapangan yang dia lakukan. Dia begitu peka dengan perubahan tata lingkungan yang terjadi. Apalagi perubahan  direncanakan melalui disain, yang tidak mempertimbangkan aspek sejarah, budaya dan lingkungan. Namun Eko Alvares, tetaplah seorang yang santun. Meskipun ada nada kemarahan dan nada protes, namun beliau tetaplah sesorang yang tidak memilih jalan konfrontasi secara terbuka. Ia justru mendidik anak-anak muda yang menjadi mahasiswanya untuk menjalani prinsip keilmuan dan idealisme yang beliau miliki. Dia bukanlah type orang yang ngotot untuk memaksakan gagasannya, namun dia pasti memiliki kesetiaan yang luar biasa dengan gagasan yang dia yakini.

Kandang Rumah Gadang
Awal tahun 2017 ini Eko Alvares tiba-tiba menghubungi saya, dan meminta grup musik Talago Buni untuk bermain di rumah gadang sumpu, karena akan ada sejumlah teman-teman sejawatnya sesama arsitek yang akan menginap di rumah gadang tersebut. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menerima dan kemudian mempersiapkan rencana tersebut dengan teman-teman musisi Talago Buni. Saya memilih tempat pertunjukan bukan di halaman atau di atas rumah gadang.  Saya memilih tempat pertunjukan Talago Buni di “kandang” rumah gadang.  

Kandang rumah gadang tersebut, ternyata memang disiapkan sebagai sebuah ruang budaya baru di lingkungan rumah gadang. Dengan tinggi kandang sekitar dua meter, Eko Alvares telah mempersiapkan ruangan tersebut sebagai perpustakaan dan ruang pameran, dan kemudian menjadi ruang pertunjukan yang sangat sesuai dengan semangat seni pertunjukan Minangkabau. Pertunjukan musik Talago Buni berjalan dengan sangat baik, dengan kualitas akustik yang sanat bagus. Pertunjukan yang dilaksanakan sambil lesehan (duduak barapak), membuktikan bahwa rumah gadang cukup pantas menjadi ruang pertunjukan budaya.

Saya memang tidak sempat bertanya, apa latar belakang pemikiran Eko Alvares membuat “kandang” rumah gadang sebagai ruang untuk menampung aktivitas budaya? Namun dari apa yang saya amati dari jalan pemikiran Eko Alvares, bahwa sebuah warisan budaya yang bersifat benda, seyogianya dihidupkan kembali dengan “roh” kehidupan budaya yang melekat dengan sejarah warisan tersebut. Dari pemikiran inilah kemudian, kami sepakat bahwa salah satu yang perlu dilakukan dalam merevitalisasi warisan budaya seperti rumah gadang, seyogianya juga menghidupkannya secara bersamaan dengan berbagai aktivitas budaya masyarakat. Dengan demikian  rumah gadang sebagai simbol penting dalam kebudayaan Minangkabau diharapkan dapat berfungsi kembali sebagai pusat kebudayaan masyarakat Minangkabau.

Apa yang dipikirkan, dikerjakan dan diperjuangkan Eko Alvares sebagai seorang arsitek dan ahli tata ruang yang memiliki idealisme, bagi Minangkabau adalah sesuatu yang sangat penting. Eko telah menemukan kembali sebuah pengetahuan lokal (local wisdom), yang nyaris terbenam, bersamaan dengan reruntuhan rumah gadang yang sebagian besar telah roboh. Tidak banyak lagi orang mau menengakkannya kembali, apa lagi mengkaji dan mencatat pengetahuan lokal (kearifan lokal) dan mempraktikannya kembali menjadi sesuatu yang nyata.

Bersama puluhan mahasiswanya, beliau belajar bersama dan keping demi keping pengetahuan lokal Minangkabau tersebut dapat dicatat dengan baik. Saya yakin, proses pencatatan dan pengerjaan pengetahuan tersebut belumlah selesai.

Namun apa yang dapat dikata, Kamis sore tanggal 28 Desember 2017, dalam umur menjelang 53 tahun, beliau berpulang keharibaan Ilahi. Kita berharap, apa yang ditinggalkan Eko Alvares, masih dapat diteruskan secara bekelanjutan. Ada yang meneruskan meneggakan kembali tunggak tuo rumah gadang Minangkabau. Insya Allah. (*)

Carito Niniek Reno

Acuan Nan Baik Budi Nan Endah Baso

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Makan siang di pondok mak Katik jo ikan Puyu nan di cakau mak Katik di sawah dilakuak nan digoren

Seleksi 2.000 Aktor untuk Karakter Mowgli

Penulis : Tidak sekadar memanfaatkan teknologi CGI, Jon Favreau tetap menjadikan aktor sebagai poin penting.
Remaja

Angela Dios: Ilustrator Muda Kota Padang

Penulis : Ardina Elza Putri

Inspirasi ditangkap setiap hari oleh ilustrator asal Padang, Angela Dios. Gadis kelahir

Konsultasi

Hak Waris terhadap Warga Negara Asing

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Bapak/Ibu pengasuh Rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati. Saya warga negara Australia (WN

Remaja

Tak Sehangat Mentari Atjeh

Penulis : Mega Okta Engglani

Persahabatan ini bermula ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di bumi Tanah Rencon

Nasi Padeh

Penulis : Pagiko sasudah sumbayang Subuah cucu-cucu Niek Reno duduak di langkan dapua jo Oncu Mayang sarato ma
Cagak Utama

Seni Celtic di Kanada

Penulis : Donny Syofyan - Dosen Sastra Inggris FIB Unand

Beberapa waktu lalu saya membaca karya Ken McGoogan berjudulCeltic Lightning (2015), sebuah kolek