CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Kopiah_Marbot_Marbun
Cerpen

Kopiah Marbot Marbun

Penulis :    

Kopiah itu sudah butut, warna hitamnya mencoklat, tapi Marbot Marbun selalu memakainya penuh kebanggaan, agak miring. Kalau ada yang bertanya, selalu dijawab, “Biar mirip Bung Karno.” Bila Lebaran tiba, bila peringatan kelahiran nabi besar Muhammad SAW menjelang, bila peringatan Isra’ Mi’raj datang, bukan satu dua orang saja yang menghadiahi kopiah baru, tapi selalu kopiah yang tak sedap dipandang mata itu yang bertengger di kepalanya.

Selaku ketua masjid, Iskandar gelisah setiap kali memikirkan kopiah Marbot Marbun yang dipakai penuh kebanggaan. Bolehlah sekali atau dua kali saja dipakai, selebihnya alangkah baiknya bisa sudah harus dipensiunkan.

“Memangnya kenapa, Pak?” tanya Marbot Marbun yang sudah 15 tahun menjadi marbot masjid Al Falah. Usianya kurang lebih 53 tahun dan senyum tak pernah lepas dari bibir tuanya yang agak menghitam karena nikotin yang kini sudah dienyahkan.
“Tidak apa-apa sebenarnya, tapi alangkah baiknya bila Pak Marbun sesekali memakai kopiah yang baru. Seingat saya, banyak yang memberi kopiah pada Pak Marbun, bukan?”
“Seingat saya, ada tiga puluh kopiah, Pak.”
“Nah, pakailah salah satu.”
“Maaf, Pak… kopiah itu sudah tidak ada lagi.”
“Oh, Pak Marbun menjualnya?”
“Saya memberinya pada orang yang lebih membutuhkan.”

Iskandar mengeluh. Catatan hari tinggal tiga hari lagi peringatan kelahiran Rasullah akan dilakukan. Ajudan Pak Bupati seminggu yang lalu datang ke rumah, memberitahu Pak Bupati akan hadir pada perhelatan itu. Digadangkan pula, kalau ini bupati baru yang menggantikan bupati lama.  
“Pak Marbun jelas membutuhkannya bukan?”

“Saya sudah cukup puas dengan kopiah ini, Pak,” senyum Pak Marbun. “Maaf Pak, sebentar lagi ashar, saya harus adzan dulu.”
Iskandar mengeluh, masih banyak yang ingin dicurahkan. Intinya, lepas kopiah itu, ganti yang baru, dan saat Pak Bupati datang semua warga sudah siap dengan atribut yang manis dan layak dipandang mata. Iskandar tidak menyerah, dia tetap mencoba membujuk Marbun menurunkan tahta dari kepalanya.
“Memang salah bila Pak Bupati datang saya memakai kopiah ini, Pak?” tanya Marbot Marbun sambil menikmati nasi bungkus yang dibelinya di warung sudut jalan di bawah pohon besar.

Iskandar tersengat beberapa jenak, harus lebih bisa mencari kata terbaik agar dapat dimengerti Pak Marbun. Terlebih agar Pak Marbun tidak tersinggung. “Tak masalah memang. Namun ada baiknya bila kita semua berpakaian lebih rapih.”
“Berarti menurut Pak Is selama saya pergi dan berada di masjid saya tidak rapih?”
Iskandar lagi tersengat, buru-buru umbar senyum dan nada lebih cepat, “Oh, rapi, rapi sekali.”
“Berarti tak ada masalah, bukan?”

Iskandar tak berkutik lagi, juga tergigit kesal. Catatan telepon hari ini, yang kali kelima ajudan Bupati mengingatkan, “Semua harus tertib. Jangan ada keributan. Terlebih lagi lahan atau jalan kotor. Ini sekaligus buat penilaian. Bila dikaji baik, Pak Bupati akan membuat jalan tembus hingga tak perlu berputar. Ingat, ini bupati baru Pak, barangkali punya tabiat berbeda dengan bupati lama. Cuma jaga-jaga.”

Iskandar pulang. Tria, istrinya yang telah memberinya dua anak, tahu apa yang dipikirkannya. Bila datang dengan wajah menekuk layu, berarti masalah menggayut di hati suaminya. Setelah dituangkan teh manis, hati-hati perempuan berhati lembut itu berujar, “Masih soal Pak Marbun?”

Iskandar menoleh setipis ari, lalu mengambil gelas tersaji, terasa hangat, disodorkan ke mulutnya, perutnya mulai dibuai kehangatan, namun gelisah masih menjalar. Sekilas dianggukkan kepala. “Susah bagiku menjelaskan pada Pak Marbun.”

“Pasti abang berputar, bukan?”
“Tak mau aku melukai hati dia, Dik. Bagi abang, dia pengganti almarhum bapak.”
“Bila memang abang masih menginginkan soal itu, tak mau Pak Bupati memandangn sebelah mata, lakukan lagi penjelasan yang terbaik.”
“Letih aku melakukannya. Dia tetap tak mau mengerti. Yang bikin abang gerah, bila melihat kopiahnya masih miring bertengger di pucuk kepalanya.”
Tria tersenyum. “Makanlah dulu, sejak lepas Zuhur tadi abang belum makan.”
***
Sehari sebelum kedatangan bupati baru, Iskandar mengadakan pertemuan. Kebetulan Marbot Marbun lagi diutus untuk mencek pinjaman permadani di masjid desa seberang. Membuncah gembira hati Iskandar, karena ternyata bukan hanya dirinya yang gelisah tentang kopiah Marbot Marbun, sebagian besar yang hadir pun berkehendak yang sama.

“Ingat tidak waktu pejabat dari Jakarta bertandang ke desa kita?” kata salah seorang. “Malu kita ketika pejabat itu bertanya pada Pak Marbun soal usangnya kopiah yang dipakai. Saya khawatir, sang pejabat menduga kita tak mumpuni menghidupi Pak Marbun sebagai marbot masjid.”
“Jadi solusi apa yang kita terapkan?”

Hening menggelintir. Dinding masjid bertafakur memandang hampa dalam jilatan gelisah. Tiba-tiba ada yang bersuara, “Bila Pak Bupati tiba di sini, beri tugas pada Pak Marbun untuk menghadiri peringatan yang sama di masjid lain.”

Usul itu menyentak dan membuat terperanyak. Usulan lain bertubi-tubi bermunculan, tapi dari kebanyakan usulan, usulan pertama yang disetujui.
“Bagaimana cara mengutusnya?” Iskandar merasa pelita menyala lagi.
“Pak Is yang mengutusnya selaku ketua masjid.”
“Adakah dia curiga?”
“Tak mungkin terjadi, karena kita tahu, perkara akhirat Pak Marbun tak pernah menolak. Gaji yang kita berikan yang jelas hanya bisa buat makan saja diterima lapang dada.”

Pertemuan ditutup setelah ada yang memberitahu Pak Marbun sudah tiba. Persiapan perhelatan pun dilaksanakan. Dari mulai speaker yang biasanya hanya dua buah, ditambah jadi empat. Tikar yang anyamannya sudah berpecah berai yang biasanya dipasangkan di sudut ruangan masjid sudah terganti dengan yang baru. Permadani pinjaman dari masjid desa seberang digelar di lima shaft terdepan. Khusus buat Pak Bupati dihamparkan pula sajadah milik Haji Gofar yang setelah pulang haji sajadah itu terpisan di almari.

Marbot Marbun selalu bersemangat, pun ketika akhirnya Iskandar berhasil meyakinkan dirinya—tepatnya tak perlu diyakinkan karena Pak Marbun selalu menerima—guna menghadiri acara yang sama di masjid desa lain.

Lega tak terkira Iskandar sekarang. Besok pagi rombongan Pak Bupati akan datang. Semua warga disarankan memakai pakaian terbaik mereka, bila tak punya sangat disarankan pula agar tidak datang ke masjid. Ini demi nama baik desa ini, begitu Iskandar mewanti-wanti dalam surat edarannya. Tak ada yang membantah, bahkan berlomba mengeluarkan uang dengan menjual hasil panen untuk mendapatkan baju, sarung atau kopiah baru.

Salah seorang ajudan Pak Bupati sejak pukul tujuh pagi telah tiba. Beralat handy talky dia selalu memantau perjalanan Pak Bupati.  Semua berjajar menunggu di muka masjid, saling berhadapan dengan senyum tak lepas dari bibir. Matahari yang bersorot garang tak membuat warga ingin mundur dari sana. Tata cara bersalaman pun telah diajarkan semalam. Semua dikehendaki untuk mencium tangan Pak Bupati.

Lepas satu jam, kegelisahan mulai tampak. Rombongan Pak Bupati belum pula tertangkap mata. Dari handy talky yang dipegang, sang ajudan memberitahu, kalau rombongan Pak Bupati terhalang jembatan yang agak rapuh bila dilewati kendaraan roda empat. Pak Bupati memutuskan untuk melanjutkan kaki saja menuju masjid Al Falah.

Iskandar tercekat, semua tergugu. Mengapa tak teringat soal jembatan itu? Dan hampir semua menyalahkan Marbot Marbun, bila tak ada urusan dengannya, tentunya masih teringat soal jembatan. Mereka kembali harus menahan sabar menunggu rombongan meski terbunga rasa malu.

Rombongan Pak Bupati pun tiba. Iskandar mengisyaratkan yang lain kembali tegap berdiri. Pak Bupati baru begitu bersahaja, begitu muda dan simpatik diiring seorang lelaki tua yang selalu tersenyum. Senyum yang menghiasi bibir Iskandar dan warga putus serentak ketika menyadari lelaki itu Marbot Marbun! Anehnya, dia tidak berkopiah! Syukur, nila itu tak menghancurkan susu sebelanga.

Pak Bupati kian mendekat, mengucapkan salam yang serentak disahuti dan serentak pula menggigil melihat kopiah yang bermanja di kepala Pak Bupati. Kopiah usang yang sudah mencoklat yang posisinya miring pula.

“Ini kopiah milik Pak Marbun… kopiah saya jatuh ke sungai kala melewati jembatan,” senyum Pak Bupati. “Kopiah yang menarik, diletakkan pula dalam posisi miring. Pak Is tahu mirip siapa?”
Iskandar menelan ludah, sarat beban dia hendak berucap, tapi satu suara membentur keras, “Bung Karno!”
Dan semua memandang Pak Marbun yang sedang tersenyum…

Mutiara Duta, 2017

Fahri Asiza, tulisannya dimuat di berbagai media massa, baik nasional maupun lokal.

 

Kampus

Motivasi Mahasiswa Baru

Penulis : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres

Rektor Universitas Baiturrahmah, Prof Musliar Kasim memberikan motivasi pada mahasiswa baru Unive

Paco - Paco

Ir. Karsten ke Padang: Rencana Pembangunan Kantor Gubernur (1932)

Penulis : Suryadi – Leiden, Belanda

Maksoed memperloeaskan kota Padang. Ir. Karsten telah mengoendjoengi kota Padang oentoek memberi

Kampus

Nasib Guru

Penulis : Maisix Dela Desmita - Mahasiswi Ilmu Komunikasi Unand

Indonesia adalah negeri yang kaya akan keberagaman. Negeri yang mempunyai berbagai macam pulau, b

Anggun

Gaun Pesta Modern

Penulis : Redaksi

Untuk menghadiri sebuah pesta, pastinya Anda harus menyediakan pakaian khususkan? Karena di tempa

Langkan

Yang Dipertuan Gadih Pagaruyuang (1)

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Gelar Yang Dipertuan Gadih (Tuwan Gadih) adalah gelar yang diberikan kepada perempuan k

Paco - Paco

‘Bandit’ Pauh Si Ganjia Tertangkap (1927)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

Djoedin jang serta memboenoeh kepala kampoeng Rantjak di Goenoeng Sarik (Padang) telah tertangkap

Kampus

UKM Bentuk Kepribadian Mahasiswa

Penulis : Ganto

Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Ganefri melantik 17 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) masa ba