CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Semalam_di_Padangpanjang
Puisi

Semalam di Padangpanjang

Penulis :    

Semalam di Padangpanjang

kumasuki ranahmu ketika senja lindap
dan pintu malam terbuka bagi awal cerita
dalam dingin yang menikam
serta tahun mundur beberapa silam
seperti ada bisikan:
engkau tak sendirian

lampu lampu jalanan tekun menyibak remang
di kelok dan tanjakan yang memanggil langkah
memberi arah bagi pejalan yang hendak letakkan
kesibukan yang tekun menyusun kota kota
di dalam tubuhnya yang berpeluh
meski tahu riwayat tak akan mencatat tetesan keluh

gunung marapi dan singgalang
berdiam dalam kesederhanaan di kejauhan
seperti masa kecil dengan mata batin yang menatap
dan tak pernah sungguh sungguh lenyap
bahwa ada sekelumit kisah yang tertanam menyala
lewat deret percakapan cuaca
di beberapa jeda menerbitkan sekumpulan letupan
memijarkan jejak dalam ingatan

aku bersamamu hanya semalam
ya cuma semalam
dalam basah udara oleh gerimis yang mengiris
sepoi sepi dan menggariskan risalah diri
mengingatkan pada lengkung lampau
ayat ayat yang mekarkan surau
di masa kanak yang tak pernah tanak  
dan terngiang berulang berkali
seperti mengatakan dengan larik lirih:
kau akan kembali ke sini

pun ketika azan subuh mengetuk lembar fajar
ada yang menguarkan getar
otot dan pembuluh waktu bangun tersadar
renik pandang menafsir terang
jemari ruh meraba ruang
ada yang mencetus, terkejut dalam denyut:
betapa gegas sehampar pertemuan

bukankah semalam aku tak bermimpi
bahwa kita baru menyimak sajak sajak sunyi di sini
sembari menakwilkan sehimpunan keramaian
di sepanjang penampang hari hari

Padangpanjang, 2017

Ucapan yang Dingin

1/
apakah kau tahu mengapa jarak
tak memenggal kalimat yang kauucapkan
menyeberangi selat menempuh pulau pulau
dan sampai di ruang kamarku masih menyebar pukau
hingga menegak bulu kuduk musim
meski kerap tak kukenali lagi catatan iklim

2/
kata kata barangkali masih bertenaga
tetapi sampai kilometer berapa
sanggup menyimpan segarnya
sementara ada musik yang terus terputar
dan tak sabar menunggu datangnya lirik yang kekar
namun tak tahu siapa yang akan menyanyikan
karena keriaan terengah engah dalam ingatan

3/
aku masih menyimpan ucapanmu yang dulu
dalam kulkas satu pintu yang telah miring
di tepian ruang teknologi
ia menjadi seperti salju pegunungan alpen
yang kupandang dari pinggir danau jenewa
kubayangkan sebagai es krim rasa vanila
yang akan leleh dan lumer di bibirmu
bukan oleh terik siang musim yang asing

Jakarta, 2017

Teringat Kota Lama

untuk kesekian kali aku bertanya padamu
karena nyala ingatan tak pernah padam
masihkah tersimpan percakapan tentang sejarah dan cerita
orang orang berkulit terang
yang datang membawa roti dan keju
serta tatapan yang memendam gebu

ada dinding yang memudar warnanya
juga terkelupas di sebagian sisinya
terengah engah melawan gempuran cuaca
dan usia yang dikerubut abai zaman
karena laju sekitar yang kerap melesat
mengejar bayang bayang di tingkap ketinggian
meski kadang terlupa pada kaki yang terkilir dan cedera
hingga terseok di jalanan berkabut yang menerpa

adakah banjir dari luap air laut
menjadikan kenangan larut
atau malah telah menjadi bagian tak terpisahkan
dari gumul liat kisah kerinduan
yang membasah melembapi tepian waktu
sementara aku disekat jarak berlumur deru
tak bisa menahan keakraban yang beringsut ke ruang kelu
mengelam dan buram satu per satu

    Bekasi, 2017

Kopi Tanpa Gula

tak ada pahit yang tercecap
hanya rasa berbeda yang unjuk keberadaan
karena pertemuan pertemuan yang melingkar
di kedai kedai itu, menawarkan ketakterdugaan
seperti mimpi yang menyusupkan kerlip sajak jauh
atau bait dekat yang tak tersentuh

lidah mengusapi langit langit mulut
hendak mengisahkan kebaruan yang seru
inikah awal mengenal dunia
atau semacam mengeja dari ingatan
yang disimpan di dalam bubuk insomnia

seperti ada getar yang merambat di dalam nadi
yang kadang terasa cepat menghampiri
lalu membisikkan ke ruang renung:
percakapan ini menghangatkan waktu
dan akan makin pekat adukan rindu

    Bekasi, 2017

Hujan di Jalan Pantai Ulee Lheue

kita hanya berkabar lewat telepon seluler yang dahaga
dan belum sempat mempertemukan tatap
tetapi hujan terburu menjatuhkan peluknya
kepada senja yang tengah melamun sendiri

semacam andai terus menderas
mencipta suasana suasana, pantai yang sepoi
hingga makin membasah ingatan
tentang syair syair yang terus dilagukan

di Ulee Lheue seperti menguar salam dari silam
bahwa kita mesti belajar dari keadaan
dan hujan akan sampai pada hangatnya
penantian yang ditemani doa doa

    Bekasi, 2017

 

Ceria

Kerudung Milyana

Penulis : Amika An

Arfan melepaskan tas sekolah dan menyusunnya pada rak. Di sudut kamarnya ada rak kayu y

Kampus

Axvel Gion Revo Pimpin Aspem Sumbar

Penulis : Wawasan Proklamator

Axvel Gion Revo dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang dipercaya

Laga-Laga

Balai Adat

Penulis :

Sasudah Sumbayang Isya, di barando rumah Gadang Niek Reno, rami urang ado Datuak Simarajo jo Datu

Laga-Laga

Sawah Alah Tandeh

Penulis :

Dikarang dek: (ilham yusardi)

Tan Kereang sadang duduak dalam dangau-dangau tampek batadu

Anggun

Tampil Cantik dengan Gaya Casual

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Namanya remaja, tentu memiliki banyak aktivitas. Hal ini berpengaruh pada kesukaan dalam berbusan

Kampus

Jurnalis Harus Ngotot

Penulis : Wawasan Proklamator

Cawan WP Belajar Jurnalistik ke Padek

Unit Kegiatan Mahas

Ceria

Memecahkan Misteri Bau Bangkai

Penulis : Irfan Hawary

Awalnya Aku biasa saja, tidak menyadari bau apapun. Bahkan merasa tidak terganggu. Tetapi saat Ba