CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Payakumbuh_Botuang_Festival_2017_”Bermain”_Bambu_di_Panggung_Seni
Cagak Utama

Payakumbuh Botuang Festival 2017 Bermain Bambu di Panggung Seni

Penulis :    

Dalam berbagai bentuk dan fungsinya, bambu kerap hadir dalam banyak produk kebudayaan yang ada di Indonesia. Di Payakumbuh, Sumatera Barat, bambu memiliki sejarahnya sendiri.

Dalam sejarah tersebut, paling tidak, di kota yang berjarak sekitar 139 km dari Padang, ibu kota Sumatera Barat, ada lima atau enam kelurahan yang dinamakan dengan bambu. Artinya, Payakumbuh dulunya adalah penghasil bambu. Orang-orang di sana menyebut bambu dengan botuang.

Payakumbuh pun punya kampung pengrajin bambu. Yakni di Kelurahan Kapalo Koto Ampangan, Kecamatan Payakumbuh Selatan. Hanya saja kini, jumlah bambu di Payakumbuh secara persentase lebih kecil dibanding daerah lainnya di Sumbar. Secara kualitas pun kurang baik.

Kondisi tersebut semakin miris, karena produk bambu yang dihasilkan pun masih cukup terbatas. Salah satu yang cukup dikenal adalah sangkar ayam. Dan sebagian bambunya pun diimpor dari luar Payakumbuh, seperti dari daerah di Luak Agam.

Di sisi lain isu tentang budaya bambu di dunia cukup menarik hari ini. Bahwasanya bambu akan menjadi konstruksi masa depan mengganti kayu. Dan bambu ternyata filosofinya sangat luar biasa, sebagai pendingin dunia dan semuanya bisa diolah.

Hal di atas dipaparkan Direktur Payakumbuh Botuang Festival (PBF) 2017, Andra Nova, kepada Padang Ekspres Jumat (8/12). Dan hal itu juga yang memantik lahirnya PBF yag digelar 1 dan 2 Desember lalu.

Festival yang digelar di Panorama Ampangan, Kelurahan Kapalo Koto Ampangan, Kecamatan Payakumbuh Selatan ini menghadirkan berbagai bentuk kesenian dari grup-grup kesenian yang telah tampil dalam berbagai panggung nasional maupun internasional. Mulai dari musik, tari, teater dan instalasi.

Pada panggung musik, hadir di antaranya Minangapentagong, Taufik Adam, Sambasunda, Talago Buni, La Paloma dan Riau Rhythm Chamber Indonesia (RRCI). Sedangkan teater menampilkan Ranah Performing Art Company dan tari Ali Sukri.

Seiring dengan kata botuang yang melekat pada festival tersebut, hampir semua petunjukkan yang hadir, menggali pontesi bambu dalam karya-karya. Khususnya dalam bentuk-bentuk alat musik tradisi. Tidak hanya dari Sumbar atau Minangkabau saja, juga dari Sunda, Batak, dan Bali. Ini seolah mempertegas banyaknya manfaat bambu yang mesti digali lebih jauh.

Minangapentagong yang didukung Orchestra ISI Padangpanjang, misalnya. Grup musik pimpinan Nurcholis itu berkolaborasi dengan kelompok talempong sikatuntuang dari masyarakat setempat. Sikatuntuang merupakan kesenian talempong peremuan dari payakumbuh.

Lalu sebagai komposer dia juga mengolah alat tiup bambu nusantara. Karena alat tiup yang dipakai dalam festival tersebut selain saluang, bansi dan sarunai, ada juga suling Batak dan Bali. Artinya pentatonic nusantara.

Komposisi pertama yang dibawa Minangapentagong adalah Bhante. Ini lah kolaborasi dengan kelompok talempong sikatuntuang itu. Lalu hadir setelahnya Suita Malaya I yang dikolaborasikan dengan pembacaan puisi oleh Iyut Fitra, di mana beberapa penggalan puisi dinyanyikan juga dengan teknik seriosa. Kesannya musik naratif atau seperti musik film.

Ketiga, masih dalam judul yang Suita Malaya tapi dengan sub judul Elo Pukek. Kompisisi ini berangkat dari konsep orang perahu dan tradisi-tradisi mencarai ikan baik di laut maupun di darat.

Dengan karya-karyanya itu, Nurcholis ingin menyampaikan, kekayaan yang dimiliki Indonesia atau nusantara. “Selama ini kita kan selalu dininabobokan oleh diatonis mayor, oleh kolonialisasi musik. Sebenarnya musik-musik kita ini memiliki nilai yang luar biasa. Sementara kebanyakan dari kita masih sibuk dengan musik-musik pop yang merupakan tangga nada diatonis mayor,” sebutnya. Selain itu, dia ingin menunjukkan alat-alat musik tradisi juga bisa masuk, berinteraksi, dan berkelindan dengan orkestra.

Penampil lain, Sambasunda dari Jawa Barat yang mengusuk konsep world music juga menampilkan karya yang tak kalah menarik. Sambasunda yang tampil pada malam kedua, memainkan lima komposisi musik, yakni Munding, Hariring Kuring, Mandeh La Ondeh, Taramurat, dan Bulan di Priangan.

Angklung, yang merupakan salah satu alat musik tradisi Sunda, dalam karya-karya Sambasunda tidak dimainkan dengan cara konvensional. Menyebutnya dengan angklung toel, alat musik tersebut dimainkan secara atraktif. Seperti seorang keyboardis music rock.

Hal ini, sebut komposer Sambasunda, Ismet Ruchimat, untuk kebutuhan melodi. Kalau permainan konvensional harus dengan banyak orang. “Karena kebutuhan kecepatan melodi dan lain sebagainya kita coba modifikasi dengan seperti itu. Akhirnya, tidak hanya keuntungan melodinya saja yang kita dapat, tapi juga dari sisi permainannya yang atraktif,” sebutnya.

Lewat Mandeh La Ondeh, yang berbau Minang, Sambasunda juga ingin mengapresiasi kekuatan musikal di Sumbar yang mempotensikan inspirasi mereka. “Karya itu, ternyata dengan mempotensikan bambu juga memiliki ruang dan peluang yang sama untuk meningkatkan kreativitas, yang ternyata bisa dimuat dengan cara atau situasi bagaimana pun. Makanya, karya yang kami tampilkan, tidak terlalu avant garde,” tuturnya.

Selain itu, juga ada bintang tamu Citra Scholastika, IPe Band, dan pembacaan puisi dari penyair-penyair Indonesia dan juga penampilan seni tradisi dari masyarakat setempat. Sebelumnya, ada juga beberapa pra-event yang digelar. Seperti Forum group diskusi tentang bambu, Festival Kuliner Payakumbuh, Payakumbuh Night Festival dan Payakumbuh Street Festival yang salah satunya dengan menampilkan karya-karya fashion yang juga menggunakan bahan baku dari bambu.

Menurut Yusril, kurator PBF 2017, pentas seni dalam event tersebut, berusaha menangkap isu tentang local contant. Karena pada zaman global saat ini, orang mulai mencari sesuatu yang sifatnya lokal, lebih spesifik dan unik. Tapi bisa memiliki nilai universal.

“Jadi bagaimana nilai-nilai lokal ini diangkat menjadi sesuatu yang bernuansa global. Misalnya, Sambasunda yang konsiten mengangkat budaya Sunda, RRCI dengan Melayu-nya, serta ada juga Taufik Adam yang walaupun menggunakan musik-musik elektronik tapi juga menggali unsur-unsur lokal di dalamnya,” terangnya.

Pada awalnya, festival tersebut diharapkan bisa membudayakan kembali budaya bambu itu. Serta, menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat yang di destinasi.

“Kami berharap, masyarakat mulai menanam bambu. Ada beberapa bidang tanah yang telah kami survei dan mereka sudah mulai tertarik untuk menanam bambu. Dengan ini diharapkan ke depan, masyarakat tidak lagi memasok bambu dari luar, tapi mengekspornya lagi,” tutur Andra Nova, yang akrab disapa Ijot Goblin tersebut.

Pada event lalu itu, diakui Ijot, masyakarat sendiri sudah mulai merasakan efek positifnya. Misalnya dari orang yang berjualan dan juga karcis masuk. Sebelum ada festival mereka paling tinggi hanya dapat uang RP 100 ribu dari objek wisata Panoram Ampangan sendiri. Kini mencapai Rp 700 ribu hingga Rp 1 juta.
Dan efek yang paling positif itu, sebenarnya dari pemerintah yang kini mulai memperhatikan lokasi itu sendiri. Misalnya dinas pariwisata yang sudah akan mulai membangun infrastruktur di sana, dengan memasukkan listrik, membuat toilet. “Ada dua mata anggarannya yang akan dibawa ke sana untuk tahun 2018,” tuturnya.

Namun, lebih jauh dia menyebut, berbagai bentuk kesenian seperti, musik, tari, teater, hingga fashion yang ada di festival itu, sebenarnya hanya untuk meramaikan saja. Intinya pada tahap awal ini, konsepnya adalah penanaman bambu. Sebab, kalau hanya disuruh-suruh saja menanam bambu tanpa ada kegiatan lainnya, tentu tidak akan mudah juga.

“Makanya, kita coba membeli 2000 bambu, mereka mulai bertanya. Kami kasih proyek, ada ndak 2000 bambu di sini. Mereka mulai tersentak kalau mereka tidak punya bambu yang cukup. Dan akhirnya kami mengorder ke luar. Nah dengan demikian, kami pun mengajak mereka untuk menanam bambu di sini lagi. Mana lahan-lahan yang tidak produktif, kita jadikan lahan yang produktif dengan penanaman bambu,” ucapnya.

Ke depan, sebut Ijot, event ini akan tetap lanjut. Tapi, mungkin konsepnya akan sedikit bergeser. Karena akan mengundang negara-negara yang ada pengrajin bambunya juga, seperti Thailand, Cina, Jepang. Mereka akan diundang untuk berkolaborasi dan saling belajar tentang bambu ini.

“Dan rencananya kami akan mengirim kawan-kawan dari komunitas yang sudah dibentuk, untuk magang ke tempat-tempat pengrajin bambu atau tempat-tempat yang memproduksi bambu. Ke Bandung atau ke Pekanbaru yang ada ahlinya untuk arsitektur atau komunitas yang telah berpengalaman menggali potensi bambu. Targetnya, Ampangan betul-betul menjadi pusat bambu,” tukasnya sembari menyebut, berkemungkinan PBF 2018 akan digelar Agustus. (***)

 

Anggun

Lestarikan Baju Kurung Basiba

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Wanita Minangkabau dulunya dalam keseharian menggunakan baju kurung basiba. Tua maupun muda, para

Cagak Utama

Sastra, Curah Pikir dan Cuci Otak

Penulis : Donny Syofyan - Dosen Sastra Inggris FIB Unand

Mengajar bahasa Inggris di Indonesia, khususnya bagi para siswa, menjadi tantangan besar karena b

Cerpen

Bulan Tercangkul Sebelah

Penulis : Zainul Muttaqin

Walau ia tahu tak ada angin yang mau menggesek rambutnya di pinggir jendela. Perempuan itu tetap

Cerpen

Telur Burung Utusan

Penulis : Seto Permada

Datang bersama angin, sekawanan burung asing melintasi suatu d

Kampus

Luncurkan 50 Buku Karya Dosen

Penulis : Fitri - Ganto

Universitas Negeri Padang (UNP) bekerja sama dengan PT Prenada Media Group Jakarta luncurkan 50 b

Remaja

Wanita Berjilbab Biru

Penulis : Khairatunnisa

Aku duduk paling depan sambil tersenyum mendengarkan suara merdu wanita berjilbab biru itu. Tak h

Konsultasi

Beda Perpanjangan dan Perbaharui PKWT

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Bapak/Ibu pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati. Saya Putri. Saya ingin bertanya