CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sepasang_Kekasih_dan_Percakapan_percakapan_di_Kepala_Mereka
Cerpen

Sepasang Kekasih dan Percakapan-percakapan di Kepala Mereka

Penulis :    

Saya akan bercerita tentang sepasang kekasih yang tak saya ketahui namanya. Mereka kini sedang duduk di bangku taman sebuah kota, berangkulan. Si Lelaki yang sedang melingkarkan kedua tanggannya ke leher perempuan itu memakai topi berwarna gelap, sementara si Perempuan yang bersandar di dada lelaki itu baru saja melepas ikat rambutnya, membiarkan angin memainkan helai-helai hitam di kepalanya. Baiklah, untuk memudahkan penceritaan, si Lelaki akan kita panggil El, sedangkan si Perempuan akan kita namai dengan Pe.

Rumah kita mungil saja, satu kamar untuk kita dan satu kamar untuk kedua putri kita, Pe membuka percakapan. Ia memain-mainkan ujung rambutnya. Ada sebuah ruang tamu yang akan kupenuhi dengan foto-foto kita. Juga foto anak-anak kita. Kita bisa nonton TV di sana, sepuasnya. Kalau kau mau, di kamar kita juga bisa kita pasang satu TV lagi. Di dapur akan ada lemari-lemari tempat menyimpan bahan masakan dan bumbu-bumbu.

Apa kau ingin menamam bunga di halaman depan? El bertanya. Pe mengangguk. Tentu saja, kata Pe. Ia sengaja mengeraskan volume suara, sedikit kesal karena kekasihnya menanyakan sesuatu yang ia pikir sudah seharusnya ia ketahui sejak lama. Lelaki macam apa yang tidak mengetahui kalau kekasihnya menyukai bunga, Pe sedikit merutuk dalam hati, tapi tentu saja itu tak akan pernah ia ucapkan pada lelakinya, karena ia tahu El adalah lelaki yang baik. Kau tak boleh menghukum seseorang atas ketidaktahuannya, begitu ia buru-buru meyakinkan diri. Aku akan memenuhi halaman rumah kita dengan bunga-bunga, Pe memamerkan barisan giginya, tentu saja karena ia membayangkan bunga-bunga itu tengah bermekaran. Suara Pe terdengar lembut.

Bagaimana kalau anak-anak yang kebetulan lewat di depan rumah kita, lalu pikiran jahil mereka menggerakkan tangan-tangan mungil itu untuk memetik bunga-bunga yang kau tanam? El kembali bertanya, seolah ingin menguji keseungguhan Pe. Biarkan saja, tukas Pe santai. Aku suka anak-anak. Malah aku akan sangat senang kalau anak-anak itu merasakan kebahagiaan dengan memetik bunga-bunga di halaman rumah kita. Kau tahu, sayang, anak-anak sekarang sudah dibebani dengan berbagai macam hal oleh orangtua mereka. Kasihan sekali mereka. Makanya aku akan membiarkan mereka memetik bunga-bunga itu, Pe mengulang-ulang kalimatnya, jelas sekali ia ingin meyakinkan lelakinya.

Aku juga suka anak-anak, El menimpali. Ia membelai rambut Pe. Tapi kenapa kau ingin kedua anak kita perempuan. Bukankah lebih baik kalau satu lelaki dan satu perempuan? Terdengar nada protes dari lelaki itu, meski tentu saja ia berusaha menyampaikannya sehalus mungkin, sesopan mungkin, agar ketika Pe mendengarnya, perempuan itu tidak salah tafsir.

Anak-anak perempuan bisa aku dandani tiap kali aku mau, balas Pe. Aku akan memanjangkan rambut mereka, biar bisa kukucir atau kukepang. Akan kupetik beberapa bunga lalu kuhiasi kepala mereka dengan bunga-bunga itu. Pe kembali terkikik. Mungkin ia membayangkan ia tengah melakukan hal itu pada gadis-gadis kecilnya.

Sesederhana itu? El seakan tak bisa menerima. Iya, jawab Pe. Sesederhana itu. Pe tentu tak menyebutkan alasannya yang lain, misalnya tentang ketakutan-ketakutannya jika memiliki anak laki-laki yang menurut Pe susah diatur seperti abangnya, seperti bapaknya. Pe takut anak laki-laki tak akan menghiraukan Pe yang melarang mereka bermain di pinggir rel, atau agar mereka tidak bermain layang-layang di jalanan. Apalagi kalau Pe melarang mereka main bola. Di telinga anak laki-laki kata-kata yang kau anggap nasihat hanya akan terdengar sebagai ocehan tak bermakna dan kau akan dipandang sebagai seorang ibu yang cerewet.Pe tak ingin menjadi Ibu yang cerewet.

Lalu kenapa kau ingin anak laki-laki? Pe juga penasaran dengan kemungkin alasan yang bertengger di benak kekasihnya. Akan kuajak ia memancing tiap hari ke sungai di belakang rumah kita, jawab El, terdengar sama santainya dengan jawaban perempuan itu pada pertanyaan sebelumnya. Anak perempuan juga bisa diajak memancing, protes Pe.  Tapi anak perempuan takut cacing, bantah El. Pe terdiam, karena ia sendiri memang tak pernah mempunyai nyali untuk memegang binatang bertubuh lunak-licin yang hidup di kegelapan tanah itu.

Kau bisa ajarkan putri kita agar mereka tak takut pada cacing, kata si Pe kemudian, meski ia masih ragu apakah nanti ia akan memperbolehkan anak-anaknya mengotori tangan mereka dengan tanah, apalagi sampai memegang mahkluk berlendir itu. Perempuan cantik, menurut keyakinan Pe, harus bisa merawat kuku mereka dengan baik. Kuku-kuku yang panjang dan bersih. Sesekali tentu ia bisa mengecat kuku-kuku anak-anaknya nanti, pikirnya sambil memperhatikan kuku-kuku di kedua tangannya.

Anak laki-laki tak perlu diajari untuk berani memegang cacing, El masih keukeh, dan Peyakin bahwa mereka akan terus memperdebatkan tentang anak laki-laki dan anak perempuan ini sepanjang hari, maka ia pun mengajukan ususlan bahwa mereka akan membahas lebih lanjut mengenai masalah ini di kemudian hari. Lalu ia teringat abangnya yang suka berantem, juga bapaknya yang sangat suka marah-marah.

Mengusir wajah kedua laki-laki itu dari pikirannya,Pe berkata kalau ia ingin membelikan boneka yang banyak untuk kedua putri mereka kelak. Akan ia jejali kamar putrinya dengan boneka-boneka lucu.

Bagaimana kalau mereka tak suka boneka, El bertanya. Anak perempuan mana yang tidak suka boneka, suara Pe sedikit ketus.

Ada, ujar El tak mau kalah. Kakak perempuanku tak suka main boneka. Ia suka memanjat pohon dan bermain bola sepak seperti anak laki-laki, katanya. Pe menarik garis bibirnya sejauh mungkin ke bawah, memberikan kesan bahwa ia sangat tidak suka alasan seperti itu.

El melihat wajah murung Pe. Kau ingin aku membelikan boneka apa untuk kedua putri kita nanti? Ia bertanya, menekankan pada kata ‘kedua putri kita’, yang tentu saja untuk memperbaiki keadaan, meski sebenarnya Pe tak sepenuhnya terusik oleh cerita tentang kakak perempuannya itu. Boneka apa saja, sambar Pe. Tapi aku lebih suka boneka gajah. Boneka gajah yang gemuk dengan telinga yang bisa kujadikan selimut, jawabnya. Barisan giginya kembali terihat.

El tertawa. Mungkin baginya selimut dari telinga gajah gemuk itu terdengar sangat lucu. Entahlah, kadang laki-laki suka tertawa pada saat yang tidak seharusnya, gerutu Pedalam hati. Dan di saat bersamaan ia berpikiran bahwa pada hari ketika mereka kembali membicarakan tentang anak-anak  nanti, hal ini bisa ia jadikan alasan untuk tidak memiliki anak laki-laki. Makanya ia membiarkan saja laki-laki itu tertawa.

Lalu apa yang akan kau tanam di halaman belakang rumah kita? Bunga-bunga? Tanya El, memecah hening yang sempat hadir di tengah mereka.Pe menggeleng. Bunga-bunga cukup di depan saja. Di halaman belakang kita tanami pohon buah-buahan. Aku suka makan buah. Kalau beli tiap hari di supermarket, harganya mahal. Lebih baik kita tanam sendiri pohonnya. Pohon mangga, pohon rambutan, pohon durian, pohon sawo, pohon duku, dan pohon-pohon lain yang aku tidak tahu namanya. Kulihat di ujung jalan sana banyak sekali orang menjual bibit pohon. Kita tentu bisa membelinya di sana nanti.

Pohon-pohon itu semuanya berbuah lebat, sepanjang musim mereka bergantian mengeluarkan buah-buah yang ranum, Pe melanjutkan. Kau tahu, pohon-pohon itu cabangnya rendah saja, jadi kita bisa menjangkau buahnya dari tanah. Anak-anak kita juga bisa memetik buah-buahan di halaman belakang. Bersama-sama kita bisa memetik mangga, rambutan, durian...

Aku tak suka durian, potong El. Baunya membuat perutku menggelegak. Bisakah pohon durian kita ganti pohon salak saja? Aku suka salak, sambar Pe.
Kau ini bagaimana sih, ujar Pesebal. Pohon salak banyak durinya. Bagaimana kalau anak-anak kita bermain di kebun belakang lalu duri-duri salak menusuk kaki mereka? Apa kau mau punya anak-anak pincang? Pe tahu bahwa pernyataannya agak dilebih-lebihkan, namun ia juga tahu bahwa itulah jalan satu-satu agar lelakinya mau mendengarkan usulannya tentang pohon-pohon buah yang bakal mereka tanam di halaman belakang.

Halaman belakang kita luas sekali, Pe ternyata belum selesai. Di sana juga ada kolam ikan. Selain di sungai, kau bisa memancing di kolam itu. Banyak ikan besar-besar di kolam kita. Ikan gurame, mujaer, ikan mas. Tapi aku tak ingin memelihara ikan lele di sana, Pe menegaskan. Bentuknya menyeramkan. Kumisnya terlihat menggelikan. Tapi, apa kau yakin ingin memancing di sungai? Ia tiba-tiba ingat tentang lelakinya yang ingin pergi mengajak anak mereka memancing di sungai.

Tentu saja, El terdengar bersemangat. Ikan-ikan yang hidup di sungai dagingnya lebih gurih daripada ikan di kolam. Tentu saja sungai di belakang rumah kita tidak sekotor sungai di kota ini. Jangankan ikan, sampah saja malas berada di sana.

El membayangkan sungai-sungai yang jauh, yang entah dimana, yang pernah ia lihat di TV. Sungai di belakang rumah kita airnya bening. Kau bahkan bisa melihat bebatuan dan ikan-ikan bertelur di dasarnya. Airnya dari gunung. Dan tak ada orang yang membuang sampah atau kotoran tubuh mereka ke sana.

Wah aku belum pernah melihat sungai seperti itu, seru Pe, tak bisa menyembunyikan rasa takjub. Kau bisa berenang? Tanyanya kemudian. Laki-laki itu mengangguk. Tolong ajari aku berenang, pinta Pe, sungguh-sungguh. Biar nanti kita bisa berenang bersama-sama di sungai itu. Kita bisa membeli perahu karet kalau kau tak bisa berenang, usul El. Tidak, ujar Pe. Aku hanya ingin berenang di sungai itu. Bersama kau dan anak-anak kita. Bersama ikan-ikan yang ada di sana, tentu saja.

Lama keduanya terdiam, membiarkan pikiran mereka hanyut bersama aliran sungai yang bening di belakang rumah mereka nanti.  
Apa kau akan mandi di sungai itu juga kalau mau kerja? Pe tiba-tiba bertanya. Tentu saja tidak, ujar El. Di kamar kita ada tempat mandi dengan air yang juga bening. Ada air panas juga di sana. Kau tak perlu memasak air panas untukku. Tinggal menekan tombol, air panas akan mengalir dari dinding di kamar mandi kita. Pe lagi-lagi tak bisa menyembunyikan kekagumannya pada rencana-rencana El.  

Aku akan memasak setiap hari untukmu, begitu ujar  Pe sambil memandang lekat-lekat ke dalam mata lelakinya. Mungkin dengan demikian ia berharap bisa melihat dengan langsung roman bahagia lelakinya. Dan ia memang melihat mata lelaki itu berbinar.
Apa yang akan kaumasak untukku? Desak El. Jangan bilang kalau kau akan menjejali lambungku dengan mi instan setiap hari.
Pe agak kurang terima dengan tuduhan semacam itu, meski untuk saat itu ia belum bisa membuktikan apa-apa agar lelakinya menarik kata-katanya kembali. Memasak makanan kesukaanmu, jawabnya mantap. Kau suka udang goreng dan ikan bakar, kan? Ibumu yang memberitahuku. Jujur, seperti yang juga telah kuakai pada ibumu, saat ini aku belum bisa memasak kedua masakan itu. Jangan khawatir, kata ibumu. Aku akan mengajarimu jika nanti kamu menjadi menantuku.
Ibumu orang baik, aku melihat itu dari cara ia menatapku. Kau tahu, hati seseorang bisa kita lihat dari pancaran matanya. Kau tak akan menemukan telaga yang teduh jika hati sang pemilik mata itu adalah danau keruh yang di dasarnya berdiam segala demit jahanam. Mata ibumu penuh dedaunan hijau, juga bunga-bunga. Aku betah berlama-lama di sana.

Hidung El kembang-kempis, senang sekali ia mendengar Pe bercerita tentang ibunya.
Aku akan membelikan sepatu untukmu, kali ini El yang bersuara. Sepatu dengan hak yang tinggi. Kau tentu akan terlihat tambah cantik jika memakai sepatu itu.

Sepatu warna merah? Pe bertanya, bintang-gemintang bersinar di matanya.
Iya, sepatu warna merah, jawab El.

SORE ITU, dengan percakapan yang bergulir di kepala mereka masing-masing, sepasang kekasih itu, entah kenapa merasa bahwa mereka tak pernah sebahagia itu sebelumnya. Senyum paling manis merekah di wajah dekil mereka saat keduanya beranjak dari bangku taman, mengambil pengait besi dan karung goni masing-masing yang isinya sudah mereka timbang di tempat seorang pengepul tak jauh dari taman, lalu berjalan ke dua arah yang berbeda, bertelanjang kaki. Si Lelaki menuju kolong jembatan di barat kota,  tempat ibunya yang lumpuh tengah menunggu, sementara si Perempuan menyeret goninya ke sebuah gubuk kardus di bantaran sungai berair busuk.

Besok, sehabis memulung, sepasang kekasih bisu itu akan kembali lagi ke sini. Duduk di bangku taman, setelah seharian berkeliling dengan karung goni dan besi pengait, mencari barang-barang apasaja yang bisa mereka pungut untuk kemudian dijual ke pengepul. Dan saya akan kembali menceritakan padamu tentang percakapan-percakapan di kepala mereka. Tunggu saja!
Jakarta, Agustus 2017

 

Kampus

Kompak

Penulis : Redaksi

Mahasiswa UNP asal Kabupaten Tanahdatar dan Padangpanjang yang tergabung dalam Imatar UNP berfoto

Langkan

Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Adat Diisi Limbago Dituang. Dalam Ranji Limbago Adat Alam Minangkabau, kita dapat melihat, mempel

Cagak Utama

Ali Sukri Kokohkan Panggung dengan Akar Tradisi

Penulis : Ganda Cipta - Padang Ekspres

Tahun ini akan Tur Eropa Timur dan Mengajar di Hawai 

Sebagaimana s

Anggun

Untaian Kesucian

Penulis : Redaksi

Dalam parade Ramadhan Fashion Delight tahun ini, sebagai rangkaian dari acara Jakarta Fashion Wee

Sibuk, Anak-anak Tetap Diperhatikan

Penulis : Akibat terlalu sibuk bekerja, anak-anak sering terabaikan oleh orangtua. Padahal yang namanya anak-a

Tanggung Jawab Pengelola Parkir Terhadap Kendaraan yang Hilang

Penulis : Bapak/Ibuk pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Saya Bobby berdomisili di Kota Padang. Pada mala
Remaja

Pesona Taj Mahal

Penulis : Elfi Wahyu Lianti

Taj Mahal
Engkau yang berdiri kokoh di Agra
Dengan warna putihmu yang mempesona