CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Kita_Mesti_Merespons_Zaman_Kita
Cagak Utama

Kita Mesti Merespons Zaman Kita

Penulis :    

Dari malam puisi ke malam puisi, Semesta Literasi terus hidup dan berlipat ganda. Entah bagaimana caranya, Semesta Literasi selalu dikelilingi orang baik. Buktinya, perayaan ulang tahun mereka, Minggu 26 November 2017, di Gastronom Cafe and Resto, Karawang, diisi oleh nama-nama mentereng di dunia sastra.

Post, yang mewadahi toko buku Post di Pasar  Santa, dan penerbitan Post Press; Mikael Johani, penulis yang dikenal karena kritik sastra yang pedas; Anya Rompas, penyair yang baru menerbitkan buku puisi kedua Non Spesifik; Abinaya Ghina Jamela, penyair paling muda dalam sejarah sastra Indonesia; dan duo musikalisasi puisi AriReda. Semua tumpah di acara perayaan ulang tahun yang diberi tajuk Menghidupkan Semesta Melalui Puisi bersama 120 orang hadirin dari berbagai tempat.

Untuk diketahui, Semesta Literasi adalah komunitas yang lahir dan tumbuh di Kabupaten Karawang. Digawangi oleh Neng Mayang, Dwi, F. Yuhri, Adis Pudji Astuti, Fanny Nadya, Dita Hanipah, Gus Muh, dan Lita Lestari. Komunitas ini unik, sebab pengurusnya hanya delapan orang, namun anggotanya tersebar di seluruh Indonesia. Mereka terdaftar dan bertemu secara daring di jaringan grup WhatsApp.

Semesta Literasi memang lahir untuk merespon zaman. Para pembaca buku kesepian yang tidak tahu harus berbuat apa setelah menamatkan satu buku, yang tidak punya kawan diskusi. Mereka berkumpul, berdebat, berkelahi, dan bersenang-senang. Dan untuk merespon zaman internet, Semesta tidak keberatan menerima anggota dari mana-mana. Meski tidak bisa bertatap muka, asalkan ia kesepian setelah menamatkan satu buku, ia bisa jadi anggota Semesta.

Di luar malam puisi, Semesta juga intens membuat kegiatan Aku Kembali ke Sekolah. Semacam roadshow ke sekolah-sekolah yang tidak terjangkau pemerataan pembangunan. Saat ini, roadshow hanya dilakukan di seputar Karawang. Meski menyandang status sebagai kota industri, masih banyak sekali sekolah di Karawang yang kondisinya buruk. Kekurangan guru, ruangan rusak, kekurangan ruang kelas, dan sebagainya. Dalam Aku Kembali ke Sekolah, Semesta Literasi membagi pengetahuan yang tidak bisa murid dapatkan di dalam kelas karena persoalan sarana dan prasarana. Siswa diajak melihat matahari, mengenal cita-cita, mencoba percobaan ilmiah, menulis surat untuk presiden.

Semesta juga gemar menggelar diskusi di kafe-kafe. Tujuannya sama, untuk merespon zaman. Milenial dan Generasi Z sulit ditemukan di ruangan akademis yang kaku. Mereka justru mudah ditemukan di kafe-kafe dan titik-titik yang melambangkan kekebasan belenggu.

Di ulang tahun kedua, Semesta sengaja membawa kembali tema puisi. Karena selain sisi historis—kegiatan Semesta Literasi pertama adalah malam puisi bertajuk Asap untuk Riau—puisi adalah seni yang paling mudah dicintai. “Puisi selalu menjadi milik semua orang. Semua orang tidak bisa membuat musik. Tapi, semua orang bisa membuat puisi. Puisi dibicarakan dan dicintai sejak ia dilahirkan sampai sekarang,” kata Ketua Semesta Literasi Neng Mayang.
Lalu, puisi yang seperti apa? Bagaimana pandangan Semesta terhadap puisi yang lahir di instagram dan media sosial lain, yang selalu membahas soal hujan dan senja?

“Kami pikir, kalau kita terus membicarakan Chairil, Sapardi, Tardji, Rendra. Dunia puisi kita tak akan bergerak ke mana-mana. Tema puisi masih akan berputar seputar hujan, senja, dan hal-hal nonsens lainnya.

Toh, kita saat ini—secara pengalaman puitik—lebih dekat dengan internet ketimbang fenomena alam. Orang bisa patah hati dan cemburu di internet, siapa yang bisa menyangkal? Justru, pendekatan puisi dengan tema seputar itu perlu kita lakukan agar dunia kepenyairan kita bergerak. Pemandangan di kamar berukuran kecil dengan monitor yang menyala, saya pikir, bisa menjadi tawaran seting ketimbang pemandangan langit dengan hujan bintang.

Pemandangan kedua sudah banyak ditulis penyair sebelum kita. Adalah tugas kita menulis menggunakan pemandangan pertama,” kata Mayang, penuh semangat.

Dunia puisi Indonesia, tambah Mayang, sudah terlalu banyak dipengaruhi Sapardi. Hingga tidak berkembang ke mana-mana. Di mana-mana puisi liris. Tidak ada puisi yang merespon dinamika sosial di era digital. Puisi-puisi selalu bertema hujan, senja, kesepian, kekasih, mantan kekasih, penyesalan, dan sebagainya. Sangat liris. Sangat Sapardi sekali.

Tidak ada—atau belum ditemukan—puisi yang bertema berita hoaks, twitter, senjakala jurnalisme, dan sebagainya. Atau kalaupun ada, puisi-puisi di luar gaya Sapardi, selalu membicarakan masa lalu dan tempat-tempat jauh: Roma, Vatikan, dan sebagainya.

“Kami pikir, ini waktu bagi generasi kita untuk memalingkan muka dari Sapardi. Kita mesti merespon zaman kita. Zaman di mana—saya sependapat dengan Dea Anugrah—kita tak lagi memilah benar di antara segala hal yang tidak benar. Zaman ini adalah zaman internet. Zaman di mana kita perlu memisahkan yang paling penting, di antara yang penting di jagad internet. Ini tugas kita.

 Tugas generasi kita. Generasi kita perlu menawarkan sesuatu yang baru. Bentuk baru. Diterima atau tidak oleh publik, bukan urusan kita. Urusan kita adalah mencatatkan nama dalam sejarah. Dan cara kerja sejarah selalu sama: menulis nama para pembaharu. Puisi Sapardi terlalu tenang di zaman yang serba cepat dan berisik ini. Kita tak lagi bisa tenang. Tak lagi bisa diam. Tak lagi bisa reflektif, seperti puisi liris Sapardi. Kita adalah badai ombak di tengah samudera tsunami. Kita bukan lagi riak dalam danau tenang di permukaan, penuh darah dan mayat di kedalaman. Kita adalah monster. Adalah Ultraman. Adalah cahaya raksasa di langit. Adalah bintang terang yang meledak. Melesak. Memporak-porandakan atmosfer.”

Atas alasan itu, Semesta menggarap parade puisi dengan menghadirkan tokoh-tokoh sastra masa kini. Anya Rompas dan Mikael Johani, misalnya, adalah penulis puisi yang boleh dibilang masuk dalam Angkatan 2000-an (kalau memang Angkatan 2000 itu ada seperti Angkatan ’45 pernah ada). Lalu Abinaya, semua orang tahu, adalah masa depan dunia sastra Indonesia. Menulis dan menerbitkan puisi di usia enam tahun, sedang menggarap kumpulan cerita pendek di usia delapan tahun. Masa depannya di dunia sastra amat menjanjikan. Post Press dan toko buku Post Santa adalah representasi penerbitan dan toko buku yang melawan mainstream industri buku yang dikuasai Gramedia. Sedangkan AriReda, disimbolkan sebagai kebaruan. Bahwa puisi tidak hanya bisa dinikmati sebatas teks. Puisi juga bisa didengar. AriReda melakukan itu. (*)

 

Anggun

Henna jadi Tren Pengganti Inai

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Teknik mengukir tangan (mehndi) dewasa ini mulai digemari oleh masyarakat Sumbar. Hasil dari tekn

Cagak Utama

Perempuan dan Sastra

Penulis : Dessy Wahyuni - Peneliti pada Balai Bahasa Provinsi Riau

Pembahsan mengenai perempuan sebagai makhluk sosial tidak kunjung surut. Berbagai hal tentang per

Anggun

Tularkan Semangat dengan Pilihan Busana Tepat

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Sebagai pengajar (dosen) tentunya harus tampil percaya diri di hadapan peserta didik. Pilihan bus

Remaja

Mata Waktu

Penulis : Bayu Andama Putra

Burung-burung itu memilih kita
sebagai saksi perihal langit yang dibelahnya
(menuju a

Remaja

Angan dalam Cahaya Petromax

Penulis : R Sophia Lestari

”Apa kabar?” Suara seseorang yang sangat familiar terasa sangat dekat di telingaku. &

Mumthaz Aulia: Jelajahi Dunia Lewat Menari

Penulis : Kali ini, halaman Remaja Padang Ekspres memperkenalkan Mumthaz Aulia, salah seorang siswi Sekolah Me
Cagak Utama

Rumah Gadang Kampai Nan Panjang

Penulis : Romi Isnanda - Dosen FKIP Universitas Bung Hatta

Simbol Pengukuhan Solidaritas Masyarakat Nagari Balimbiang

Berbagai vari