CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Absensi_Kekinian_dalam_Sinema_Pelajar_Sumatera
Cagak Utama

Absensi Kekinian dalam Sinema Pelajar Sumatera

Penulis :    

(Sedikit Catatan Festival Pelajar se-Sumatera UKFF 2017)
Pekan lalu saya datang ke helatan Festival Film Pelajarse-Sumatera yang diadakan oleh Unit Kegiatan Fotografi dan Film (UKFF) Universitas Negeri Padang. Tepatnya pada 4 November 2017 di Teater Tertutup Fakultas Bahasa dan Seni UNP. Festival film ini memutarkan 10 film yang masuk seleksi dari sekitar 30 lebih film yang dikirim ke panitia, yang diputarkan dari pukul 14.00 WIB.

Berbicara perihal pesta film, festival bukan hanya sekedar ajang penghargaan dan pemberian hadiah dalam memicu semangat sineas dalam berkarya. Tetapi juga bisa menjadi ruang berbagi informasi antar penggiat film seperti cinephile, kritikus, programmer, kurator, dan seniman itu sendiri. Selain itu, sebuah festival bisa menjadi wajah atau merepresentasikan kondisi perfilman dalam wilayah cakupannya tersendiri. Khususnya festival ini, yang membuka kran bagi film pelajar se-Sumatra. Ke 10 film yang terseleksi ini kemudian menjadi wajah dari kondisi film pelajar di Sumatra.

Dengan menghadirkan tema festival “Nasionalisme.” Seluruh film mengungkit sekelumit problem nasionalisme, ‘pancasilais’, menjunjung tinggi kenegaraan dalam konteks hari ini.  Kemudian, bagaimana nasionalisme ini dibidik dan dibingkai dalam medium gambar bergerak oleh para pelajar Sumatra?

Mengingat kondisi ketersediaan informasi yang berlimpah, bahkan televisi sudah mulai digantikan dengan panggung dan layar online yang lebih variatif, dan bisa dibawa kemana-mana. Ditambah beberapa situs pembahasan film dengan perkembangan mutakhir berbahasa Indonesia, seperti Cinemapoetica, Jurnalfootage, dan puluhan blog pribadi lainnya, dalam genggaman kita sehari-hari. Jika sedikit berusaha, ada banyak artikel, jurnal, buku film gratis yang tersedia secara online untuk dijadikan sebagai bahan, sayangnya yang begini masih dalam berbahasa Inggris. Situasi ini membuat saya berasumsi bahwa film-film pelajar kita hari ini tentu bervariasi dan barangkali banyak bereferensi dengan gaya-gaya film terbaru.

Setelah menonton beberapa film pelajar tersebut, kening saya berkerinyut. Bukan hanya karena dugaan saya tadi agak sirna, juga karena pembawaan festival yang kurang logis. Dari teknik pemilihan film yang akan diputar dengan cabut lot di atas panggung yang dipandu oleh 2 orang pembawa acara, kemudian meminta seorang penonton ke atas panggung untuk mengambil secarik kertas dari dalam gelas plastik transparan. Sehabis film itu diputar, pembawa acara meminta sang pembuat film ke atas panggung, kemudian menanyakan “film ini sebenarnya tentang apa sih?” Membuat saya juga bertanya pada diri sendiri, apakah pembawa acara tidak menonton filmnya? Atau pembawa acara tidak percaya bahwa penonton bisa mengartikan sendiri gambar-gambar yang disuguhkan, sehingga harus disampaikan kembali secara verbal? Atau filmnya memang sangat susah dicerna?

Setelah pembuat film menyampaikan kembali cerita filmnya, pembawa acara meminta mereka untuk mencabut lot untuk film yang akan diputar selanjutnya. Begitu terus sampai 5 film habis diputar.

5 film pertama itu ada Aku dan Pancasila dari SMA N 7 Padang, Mimpi Untuk Bangsa dari SMK Darul Islam Aceh, Tak Sampai produksi Cangkeh Production, Kembali dari SMA Cendikia Payakumbuh, dan Jika Kau Mau. Untuk yang terakhir, kelewatan saya menyimak informasi asalnya, setelah saya cek kembali di media publikasi festival, ternyata tidak dicantumkan juga informasi asal, sutradara film, dan tahun produksi. Hanya judulnya saja, padahal saya berharap dari sana. Maafkan saya untuk itu.

Tetapi yang terpenting, ke 5 film ini hampir memakai pola narasi yang sama. Yaitu tokoh utama yang “rusak” bertemu tokoh bijak, biasanya seorang yang lebih tua yang akan menceramahi tokoh utama, kemudian tokoh utama sadar, lalu hafal pancasila. Atau, tokoh utama yang “rusak” dihadapi dengan orang tua yang sakit atau meninggal, kemudian tokoh utama sadar dan hormat pada bendera merah putih.

Ternyata untuk 5 film selanjutnya; Indonesia Aku Kecewa, Sangsaka Dijalanan, Diujung Tiang Bendera, Titik Balik, Arti Sebuah Perjuangan juga  memakai model yang sama dengan sebelumnya (beberapa judul memang seperti itu penulisannya). Ditambah dengan beberapa film yang memakai voice over dari awal sampai akhir, sebagai aksi memverbalkan gambar, seolah gambar tidak bisa bercerita, sehingga harus didikte secara jelas dengan bahasa verbal.

Disamping narasi dan voice over. Bendera merah putih adalah yang tidak absen dalam hampir setiap film, yang menjadi simbol atas peraihan nasionalisme tersebut. Tetapi apakah nasionalisme dari dulu hingga sekarang hanya disimbolkan dengan bendera merah putih?

Sedangkan sesuatu yang menjadi keseharian dan kekinian dalam budaya Indonesia (khususnya) hari ini yaitu, telepon genggam pintar dengan kultur digitalnya, tidak hadir dalam semua film tersebut. Jika film diartikan sebagai medium representasi yang paling dekat dengan realitas, maka wajar saja asumsi saya tadi hancur berantakan. Karena sineas-sineas pelajar kita ternyata tidak ada yang menggenggam kekinian tersebut, sehingga yang terangkat dalam karyanya ya itu.

Asumsi konkrit saya begini; ada karya yang bereksperimen dengan footage-footage yang tersedia online, bisa jadi tanpa proses shoting dilapangan. Atau dengan rekayasa media sosial, dengan isu-isu kultur digital yang berpengaruh besar terhadap proses belajar di sekolah. Bereksperimen dengan wilayah fiksi dan dokumenter. Atau paling tidak, keluar dari bentuk-bentuk sinetron atau dokumenter televisi.

Setelah acara, saya beritahu pandangan ini kepada kawan yang juga seorang kurator film di sebuah festival bulan November ini. Ia pun menyarankan saya untuk memaklumi bahwa mereka baru pelajar. Lantas, kapan akan diupgrade film pelajar kita? Tunggu sineas “nasional” yang menjadi pembina ekskul mereka?

Saya juga sadar dengan hal ini yang masih terbuka untuk diperdebatkan. Ini bukan mutlak wajah dari sinema Sumatra, karena barangkali para sineas menjadi terbatas karena tema. Atau banyak sineas pelajar kita yang belum dapat informasi, atau bahkan gengsi mengirim filmnya ke sebuah acara berlevel Sumatra. Seperti festival film yang sedang saya jalankan saat ini, hanya beberapa film yang berasal dari Sumbar.

Penulis adalah mahasiswa Sastra Inggris FIB UA. Anggota Relair Cinema. Pengelola bioskop alternatif Layar Terkembang. Alumni Akademi Arkipel 2017.

 

Tanah Tanpa Pelita

Penulis : Oleh: Fitra Wahyudi Derita menelantarkan tawa Tak sudah memaksa mereka bekerja Sebelum
Puisi

Sajak Hujan

Penulis : Meifrizal

Hujan Gerimis

Dari ketidakberdayaan, lewat mata
jarum-jarum lembut berjatu

Sastra dan Literasi dan Kurator

Penulis : Untuk memperkuat argumen saya dalam sebuah tulisan, saya bertandang ke beberapa toko buku. Bukan, bu

Waspada Infeksi Virus Zika dalam Kehamilan

Penulis : Asalamualaikum Dokter Dovy. Saya sekarang lagi hamil 2 bulan. Akhir-akhir ini banyak dibicarakan
Ceria

Belajar Mewarnai

Penulis : Sri Endah

Tidak seperti hari biasanya, pagi itu Nanda sangat bahagia. Ia bersama mamanya akan per

Carito Niniek Reno

Sumbang Duduak

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Niek Reno nampak di dapua mancaliek oncu Mayang jo oncu Suri sedang mangacau randang paru jo rand

Hiburan

Momo Geisha: Resmi Lepas Masa Lajang

Penulis : JPNN

Jarang terdengar kisah asmaranya, artis cantik Momo Geisha hari ini, Sabtu (8/4) menikah dengan s