CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Demi_Melamar_Bulan
Puisi

Demi Melamar Bulan

Penulis :    

Demi Melamar Bulan

aku hanya bunga kecil sepuhan hujan
terjimpit carang dan kayu secang
di kaki bukit,  beralit kuar angit
Tuhan takdirkan kesenyapan
ligih dalam kepungan angan,

anganku ingin melamar bulan
dengan kelopak tunggal
berusahalah aku bersolek diri
dengan param bebiji kasih,

karena biji kasih
yang ditanam di hati
akan tumbuh menemukan ladangnya sendiri.

berusahalah aku untuk melamar bulan
dengan seruak harum yang tetas di badan
kurayu bulan siang dan malam
hingga ia berkenan memandang
merinduku dengan telanjang.

Dik-kodik, 11.17


Laron

kutinggal kegelapan
jauh berjarak dengan badan,

kerak lumut masa laluku kulepas di bumi rayap
lantak dan karat bersekutu senyap,

hati yang selalu nafsu menggasak kayu
taring tajam yang kerap mengancam bambu,

semua kutinggal abai melepuh dalam debu
sebagai masa lalu yang tak perlu dirindu,

kini aku hijrah memburu cahaya
agar terang segala jalan yang kucita,

dan mata lampu memandangku lembut
menunda kedip sejak purba demi cinta yang sempurna,

kutuju ia dengan sayap yang kepak
menghempas puluhan keluh jam,

mengudara pada jamah cuaca yang angkara
walau kadang harus jatuh ke tanah,

tubuh dan sayap lepas terpisah
dan aku tabah merahasiakan air mata.

Gaptim, 11.17
Gerimis
suhu menuntun tanganku
membagi tetes ke rimbun rambutmu,

rambutmu adalah masa lalu hutan-hutan
yang menyimpan aroma tanah dan getah,

bolehkah aku jatuh ke selembar daun hari lalumu
yang berabad diajari pohon merawat kenangan?

sambil mengikat akar ke pangkal rambutmu
menghunjam ke dalam melawan lengang,

dengan begitu, aku bakal menumbuhkan kisah
dari catatan harian yang kau abaikan kemarau,

membuatnya berbunga dan berbuah
lalu mengembalikan bijinya ke tanah,

seperti aku membagi tetes ke rambutmu
tanpa menampakkan rasa ragu.

Gaptim, 11.17

Lukisan Tua

kisahku kering bersama cat
warna-warna yang telah hilang harumnya
membiarkan dirinya dilanun debu,

ia susui mulut waktu
dengan pemandangan buram
yang mengaburkan degup dan keindahan,

kenangannya ligih mengingat kuas hitam
yang pernah memolesnya di saat hujan
ke manakah ia kini?
sebab di pangkalnya ada sisa kecup wanita tua
yang menyepuh mulutnya dengan doa
sebelum oretan pertama dimulai
ketika pelukis minta restu kepada ibunya.

Gaptim, 11.17


Sumpah Air Bah

demi nyeri perut yang dihimpit sampah
kuciprat ludah amuk yang ruah
hingga apa yang kau anggap kenangan
kubawa pergi ke lambung lautan,

demi mulut yang kau sumpal dengan kotoran
genangan air adalah kata-kata
cara aku berbicara kepada arca-arca
tak peduli ada yang berurai air mata
karena mataku telah lebih dulu kau buat luka.

Gapura, 11.12

A. Warits Rovi, lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel dan nnaskah drama. Tulisan-tulisannya tersebar di media lokal dan nasional.

 

Remaja

Menata Hati

Penulis : Riyan Prasetio

Aku tak sanggup menahan air mata. Butiran kristal bening, tak mampu terbendung lagi. Mungkin mema

Carito Minang Kini

Ujian Iduik Labiah Barek, Nakan!

Penulis : Ilham Yusardi

“Anak kini, baraja sabana payah. Disuruh sakola elok-elok, indak amuah. Pai sakola lagak sa

Kampus

Sampaikan Aspirasi

Penulis : Redaksi

Berbagai organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Indonesia Menggugat berunjuk

Kampus

Lagi, Mahasiswa Teknik Kimia UBH Dikirim ke Jepang

Penulis : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres

Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta Dr. Diana Kartika, M.Hum bersama Dekan Fakultas Teknologi

Carito Minang Kini

Nuansa Kehadiran yang Berbeda ”Kampuang Sakato”

Penulis :

Pameran seni rupa yang diadakan Kelompok Kampuang Sakato telah berlalu dua bulan. Jika melihat ke

Ceria

Kerudung Milyana

Penulis : Amika An

Arfan melepaskan tas sekolah dan menyusunnya pada rak. Di sudut kamarnya ada rak kayu y

Puisi

Fantasi Badrul Mustafa

Penulis :

Oleh: Diwan Masnawi

Kita selalu bisa tertawa geli lalu tiba-tiba terhenti, termenung, bil