CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sejarah_dan_Dinamika_Perayaan_Maulid_Nabi_di_Minangkabau
Carito Minang Kini

Sejarah dan Dinamika Perayaan Maulid Nabi di Minangkabau

Penulis :    

Dalam dunia Islam, selain perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga dikenal perayaan Maulid Nabi (Arab. maulud an-nabi) yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk ekspresi. Dalam kebudayaan Aceh, misalnya, ada keharusan bagi masyarakatnya mengadakan kenduri untuk merayakan Maulid Nabi.

Keharusan ini seperti disebutkan dalam undang-undang Aceh: ”diwajibkan bagi rakyat Aceh belajar dan mengajar jual beli di dalam dan luar negeri; belajar dan mengajar mengukir; memelihara ternak yang halal dan bermanfaat; mengerjakan kenduri Maulid” (Ibrahim Alfian, 2005). Bahkan, ada yang menggelar prosesi besar-besaran dan sangat meriah, seperti tradisi ”Grebeg Maulud” di Keraton Kesultanan Surakarta, Yogyakarta dan Cirebon. Semua bentuk perayaan itu dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Nabi Muhammad.

D alam masyarakat Minangkabau, perayaan Maulid Nabi merupakan perayaan yang menjadi ingatan kolektif masyarakatnya. Layaknya hari raya, mereka juga menjadikan perayaan Maulid Nabi sebagai sarana untuk kembali menghubungkan tali silaturahmi kerabat dan masyarakat yang lebih luas.

Bagi masyarakat Padangpariaman, misalnya, perayaan Maulid Nabi sudah masuk ke dalam ”almanak” tradisional mereka. Mereka tidak hanya membilang bulan seperti Januari, Februari, Maret, dan seterusnya. Akan tetapi, mereka juga mengingat bulan dengan sebagai bulan Tabuik (Muharam), Basapa (Safar, dilaksanakan tradisi ziarah ke makam Syekh Burhanuddin di Ulakan), Muluik (Rabiulawal), Adiak Muluik (Rabiulakhir), Adiak Muluik Kaduo (Jumadilawal), Carai (Jumadilakhir), Sambareh (Rajab), Lamang (Syaban), Puaso (Ramadan), Rayo (Syawal), Adiak Rayo (Zulkaedah), dan Haji (Zulhijah). Dalam sistem almanak ini, Maulid Nabi menempati dan mengisi tiga bulan di  antara keseluruhan bulan. Hal ini dapat dimaknai peringatan Maulid Nabi menjadi prioritas dan penting bagi masyarakat.

Dengan demikian, perayaan Maulid Nabi sudah menjadi bagian dari pranata sosial—sebagian besar—masyarakat Minangkabau. Secara institusi dalam adat masyarakat Pariaman misalnya, beberapa anggota masyarakat mendapat posisi tertentu yang memiliki peran penting dalam perayaan Maulid Nabi. Beberapa orang yang mendapat posisi itu disebut sebagai urang siak, yang terdiri dari labai, tukang dikie, dan tuangku. Tanpa ketiga orang ini niscaya perayaan Maulid Nabi tidak akan terlaksana.

Menariknya, dalam setiap perayaan Maulid Nabi selalu ada lemang. Lemang dianggap sebagai makanan yang memiliki nilai tersendiri oleh masyarakat Padangpariaman. Hal ini karena, lemang memiliki sejarah yang berhubunganerat dengan perjuangan Syekh Burhanuddin Ulakan dalam pengembangan Islam di Minangkabau. Menurut cerita lisan yang masih diingat sebagian masyarakat, dikisahkan bahwa ketika masyarakat Padangpariaman belum semuanya beragama Islam, maka masih banyak orang memakan binatangyang haram.

Pada waktu itu, Syekh Burhanuddin memberi syarat sekiranya ada masyarakat mengundangnya jamuan makan, yakni agar memasak makanan yang berasal dari tumbuhan dan dimasak menggunakan bambu sebagai tempat masaknya.

Dengan demikian, makanan yang akan dimakan oleh Syekh Burhanuddin tidak bercampur dengan tempat masak mereka. Lama kelamaan, masakan yang dimasak dengan bambu itu pun menjadi masyhur, kemudian dikenal dengan sebutan lemang atau lamang. Kini, lemang inilahyang dimasak satu atau dua hari sebelum perayaan Maulid Nabi, sama ada secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri.

Acara puncak dari perayaan Maulid Nabiadalah badikie, yakni melagukan kitab Saraf al-Anam dengan nada yang khas. Badikie dimulai pada pukul sebelas malam hingga pukul empat sore esok harinya. Akan tetapi, ada jeda yang cukup panjang antara sesudah shalat subuh (sekitar pukul lima pagi) hingga pukul sebelas siang. Jeda ini menunggu kaum perempuan mengantar makanan untuk sarapan.

Adapun ibu-ibu yang mengantarkan makanan untuk sarapan, berarti mereka tidak mengantar makanan pada hari sebelumnya. Artinya, masing-masing keluarga hanya dibebani satu kali saja menghantar makanan untuk perayaan Maulid Nabi. Biasanya kaum ibu yang menghantar makanan untuk makan pagi hari ialah mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Sekiranya makanan sudah sampai di surau, maka tokoh adat, urang siak, pemuda-pemudi, dan masyarakat lainnya makan bersama. Setelah itu, pembacaan dikie dilanjutkan kembali sampai sebelum shalat Asar. Itu pun dengan waktu jeda pada siang untuk shalat Zuhur dan makan siang.

Badikie ini pada intinya pembacaandikie (kisah Nabi Muhammad di kandungan dan salawat puji-pujian bagi Nabi) dan rawi (kisah kelahiran Nabi Muhammad, mukjizat, dan perjuangan Beliau). Bacaan dikie dan rawi terdiri dari 12 fasal yang isinya syair-syair pujian terhadap Nabi Muhammad dan mukjizat serta kisah kehidupan Beliau. Adapun pembacaannya dibagi menjadi dua tahapan, masing-masingnya enam pasal pada waktu malam hari dan sisanya dibacakan pada siang hari.

Seluruh bacaan dikie dan rawi itu harus dihafal oleh tukang dikie, tidak hanya bacaannya saja, tetapi juga cara mendendangkan. Mereka menamakan jenis irama dendang dengan sebutan irama taranum.

Dalam konteks sejarah Islam lokal Minangkabau, perayaan Maulid Nabi merupakan salah satu tema yang menarik dan penting. Perayaan yang meriah dan berbagai praktik tradisi dalam peringatan Maulid Nabi pernah memicu polemik antara ulama kaum tua dengan kaum muda pada awal abad ke-20. Seorang ulama kaum muda, Abdullah Ahmad (1878-1933), memfatwakan bahwa ”berdiri maulid” bukanlah sunah, tetapi hukumnya bidah (Kaptein, 1993). Berdiri maulid merupakan keharusan jamaah majelis berdiri pada saat cerita yang dibacakan sampai pada kisah kelahiran Nabi Muhammad. Keharusan berdiri tersebut dilakukan untuk menghormati Nabi Muhammad. Hal ini kerana ada kepercayaan ketika dibacakan ”kisah kelahiran Nabi” pada saat itu Nabi Muhammad datang di  tengah-tengah majelis.

Pada awalnya, polemik tersebut agaknya belum mempunyai dampak yang begitu nyata di tengah masyarakat Minangkabau pada masa itu. Memang perkara ”berdiri maulid” sedang menjadi isu yang diperdebatkan di kalangan elite ulama sudah tersebar dan diketahui oleh khalayak ramai, tetapi wacana tersebut masih belum menyentuh pada persoalan ideologi masyarakat. Gambaran kondisi ini setidaknya dapat dibaca dalam catatan semasa kecil Muhammad Radjab (1950): Malam ketudjuh, oleh orang di rumah itu dipotong kambing dan ajam.

Biasanja pada hari ketudjuh ini diadakan selamatan oleh orang kampung saja: ”Menudjuh Hari” namanja.  Mereka jang kaja memotong kerbau, jang tidak kaja membeli daging di pasar, agak banjak. Pada malam itu banjak santeri diundang-dan tamu-tamu lain. Ajah dan paman saja hadir. Malam itu bukan membatja Surah Jasin sadja, tetapi djuga salawat, jang isinja kami tidak tahu. Kata orang isinjya penuh pudjian atas ketjantikan nabi Muhammad. Dan kemudian riwajat kehidupan beliau sedikit. Sewaktu dibatjakan bagian nabi keluar dari rahim ibunja, hadirin berdiri dan membatja ”Marhaban”, mengutjapkan selamat datang. Ketjuali kaum muda; mereka tetap duduk. Mereka tidak pertjaja, bahwa nabi ada dirumah itu pada saat tersebut. Sebaliknja kaum kuna pertjaja.

Menurut M. Sanusi Latief (1988), polemik ”berdiri maulid” pertama kali muncul pada perayaan Maulid Nabi di Padang pada 1899. Adapun yang hadir pada perayaan tersebut adalah ulama-ulama penting di Padang, salah seorang di antaranya adalah Syekh Abdul Qadir Mandahiling.

Dalam perayaannya, dibacakan kisah riwayat Nabi Muhammad. Saat cerita memasuki Nabi Muhammad lahir, jamaah majleis pun berdiri. Akan tetapi, Syekh Abdul Qadir Mandahiling kelihatan bingung dan dengan lambat terpaksa berdiri mengikuti majelis lainnya. Keadaan yang demikian menarik perhatian Abdullah Ahmad yang juga hadir pada perayaan Maulid Nabi tersebut.

Setelah perayaan usai, maka dalam perjalanan pulang Abdullah Ahmad menanyakan perihal apa yang dilihat tadi. Syekh Abdul Qadir Mandahiling pun menjelaskan bahwa berdiri pada waktu dibacakan kisah kelahiran Nabi Muhammad adalah bidah, meskipun tujuannya bagi menghormati Nabi; ketika caranya salah, maka itu terlarang kerana sifatnya mengada-ada.

Setelah kejadian itu, beberapa waktu kemudian Abdullah Ahmad menanyakan perkara ”berdiri maulidkepada Syekh Taher Jalaluddin. Pertanyaan tersebut dikirimkan ke Majalah al-Imam di Singapura. Syekh Taher Jalaluddin memberikan jawaban tegas terhadap pertanyaan tersebut: bidah. Hal inilah yang membuka gerbang polemik berkenaan Maulid di Minangkabau terbuka lebar dan selanjutnya menjadi bagian dinamika wacana keislaman di Minangkabau.
Akan tetapi, dalam perkembangannya, wacana polemik tersebut semakin meluas dan perdebatannya tidak hanya dalam bentuk tulisan saja, tapi juga debat terbuka. Salah satunya seperti debat terbuka pada 15 Juli 1919 di Padang.

Debat terbuka ini pun tidak menghasilkan apa-apa karena masing-masing golongan bertahan pada sumber dan dasarnya masing-masing. Kondisi seperti ini selanjutnya berdampak positif terhadap munculnya motivasi bagi masing-masing ulama untuk mempersiapkan ilmu pengetahuannya untuk debat-debat yang lain. Dan, hal itu sungguh terjadi dan dapat dilihat dari berbagai karya ulama-ulama Minangkabau awal abad ke-20 yang isinya penuh dengan polemik.
Perang wacana dan gagasan—baik melalui tulisan dan debat terbuka—pada era transmisi pembaharuan Islam di Minangkabau tersebut telah memberi kesan positif terhadap tradisi intelektual di kalangan ulama-ulama Minangkabau. (*)

 

Distorsi Kebudayaan pada Beberapa Daerah Kebudayaan

Penulis : Sebagai sebuah kasus dalam konteks distorsi kebudayaan tersebut, sepatutnya kita menoleh sebentar pa
Kampus

Harus Jeli Melihat Peluang

Penulis : Devita - Genta Andalas

Mahasiswa Unand Belajar dari Bos NPE Group 

Sebagai upaya memberika

Kampus

Unand Tingkatkan Kualitas Satpam

Penulis : Tim Genta Andalas

Wakil Rektor (WR) II Unand, Asdi Agustar menyatakan, pihak rektorat akan meningkatkan fasilitas k

Puisi

Buku Puisi dari Buih Laut

Penulis : Ivan Adilla

Adakah yang bisa dilakukan lelaki saat sendiri di malam sepi pada sebuah pulau karang di tengah l

Ceria

Tragis Riana

Penulis : Asmawati

Pagi yang cerah. Cahaya matahari menyiram seluruh jagat raya dengan indahnya. Suasana p

Hiburan

Shinta Bachir: Lepas Hijab sejak Syuting

Penulis : JPNN

Teka-teki alasan mengapa artis seksi Shinta Bachir melepas hijab akhirnya terungkap. Kepada warta

Remaja

Rindu yang Menguap

Penulis : Frira Tika Yolanda

Tetes air yang melagukan kidung
Menjamah bekas coretan semalam
Barangkali, jejak lang