CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Arloji
Cerpen

Arloji

Penulis :    

Oleh: Tjak S. Parlan
Ia membatin tak keruan dan mulai mengumpat dengan suara yang berusaha ditahannya sedemikian rupa.
“Anjing!”
Seorang laki-laki yang sendirian di meja sebelahnya, menoleh dengan mimik keheranan.
“Oh, maaf. Saya baik-baik saja. Ini hanya bir.”

Laki-laki itu tersenyum dan mengangkat gelasnya. Ia merasa lega dan menyambut salam itu dengan mengangkat gelasnya sebelum mengeloyor ke toilet.
Di toilet ia menguras semuanya. Bir itu telah membuat perutnya terasa begah dan tubuhnya limbung. Ia tak pernah duduk sendirian dan minum begitu banyak. Ia tak pernah tahu rasanya sampai ia menuang gelas pertamanya, lalu gelas berikutnya, gelas berikutnya lagi, dan lagi.

Malam itu ia telah dipanggil pemimpin perusahaan di kantornya. “Perusahaan memutuskan untuk memangkas biaya produksi. Maka pilihannya adalah media online. Ini sebuah kecenderungan masa kini.”

Ia mengingat dengan jelas apa yang disampaikan berikutnya. “Ini bukan pesangon. Hanya semacam rasa terima kasih karena sudah bergabung dengan kami sejauh ini.”

Begitulah yang terjadi,  malam itu ia kehilangan pekerjaannya. Ia telah bergabung sejak surat kabar itu dicetak dalam halaman-halaman hitam putih yang menampilkan foto-foto agak kabur. Namun teknologi cepat berubah, perusahaan mendatangkan mesin baru yang bisa membuat semua halaman koran menjadi berwarna dan menyulap foto-foto mendekati warna aslinya. Ia begitu bersemangat, dan semakin yakin bahwa menjadi layouter bukanlah pilihan hidup yang terlalu buruk. Tapi begitulah, teknologi cepat berubah, orang-orang terlalu malas untuk memegang kertas sehingga memilih membaca berita-berita seadanya melalui gadget.

“On-len,” gerutunya. “Hah, yang namanya koran itu dicetak pakai kertas. Terus kertasnya dipegang. Dibaca, Bung!”
Tiba-tiba ia tertawa sendiri dan berhenti ketika bahunya ditepuk seseorang. “Menghayalnya di depan, Bung. Ini tempat orang kebelet.”
Ia paling tak suka jika bahunya ditepuk-tepuk, karena baginya itu hanya muslihat seseorang untuk memberi penglipuran padanya saja.
“Sabar, Bung,” ujarnya seraya menatap tajam kepada penepuk bahu itu.
Masih dengan tubuh yang limbung ia berjalan meninggalkan toilet itu dan menemukan seorang wanita di mejanya.   
“Apa saya salah meja?”
Wanita itu mendongak sebentar kepadanya.
 “Oh, maaf. Saya menunggu teman.”
Tak berapa lama, seorang laki-laki bergabung di mejanya— jika tak salah ingat, laki-laki itu adalah laki-laki yang mengangkat gelas untuknya tadi. Ia tak bisa menolak ketika laki-laki itu menuangkan sesuatu ke dalam gelas.
“Kali ini jekdi saja, ya?”
Ia masih bisa melihat huruf-huruf pada botol minuman yang diletakkan di depan laki-laki itu: Jack Daniels!
“Angkat lagi, Bung!”

Tanpa ragu-ragu ia pun mengangkat gelas itu. Disusul dengan gelas-gelas berikutnya, mereka bertiga semakin akrab. Sesekali ia berusaha mencari-cari alasan apa yang menyebabkan kedua orang itu berada di mejanya. Ia tahu, beberapa orang tak butuh alasan untuk pergi ke sebuah bar dan bergabung dengan siapa saja. Untuk dirinya sendiri, sangat jelas: 1) ia sangat mencintai pekerjaannya dan malam itu ia telah kehilangan begitu saja, 2) hubungan dengan istrinya baru saja membaik dan ia ingin mengukuhkannya dalam sebuah kesempatan yang tepat, 3) itu beberapa jam menjelang ulang tahun istrinya yang ke-35 dan ia ingin memberinya sebuah kejutan.

Tapi di kesempatan berikutnya ia berhenti mencari tahu alasannya. Sejauh ini—di tempatnya duduk—semua berjalan dengan baik. Ia bisa tertawa lepas ketika laki-laki itu menceritakan sebuah lelucon. Sementara, wanita itu lebih sering tersenyum dan tak putus-putusnya merokok. Beberapa kali wanita itu menawarkan rokok kepadanya namun ia menolaknya. Sudah lama ia berhenti merokok dan berjanji tak akan merokok lagi selamanya.
“Takut gangguan impotensi, ya?”

Dia tergelak oleh pertanyaan wanita itu. Ketika ia memutuskan berhenti merokok, yang dipikirkannya bukan masalah impotensi. Ia hanya merasa tak enak jika setiap pulang dari kantor, istrinya meyarankannya agar ke kamar mandi untuk mencuci tangan, mulut, dan mengganti pakaiannya yang beraroma rokok terlebih dulu sebelum memasuki kamar.

“Atau serangan jantung?”
Wanita itu meniupkan asap lembut ke wajahnya, lalu menyentuh dada kirinya dan mencengkeramnya, mengajaknya turun bersama beberapa pengunjung lainnya yang mulai terpengaruh oleh musik yang menghentak.
Tapi ia menolak ajakan itu. Ia mengatakan pada wanita itu bahwa dirinya belum cukup mabuk dan itu membuatnya tak cukup percaya diri. Musik semakin menghentak. Wanita itu memilih lesap dalam kerumunan remang orang-orang. Sementara itu, laki-laki di sampingnya telah menuang kembali gelas berikutnya.

“Ia bersama saya, Bung. Kalau menginginkannya, ikutlah bersama kami,” bisik laki-laki itu.
Ia berusaha menepis bahwa ada sebuah gelombang dahsyat dalam dirinya: bahwa ia sama sekali tak menginginkan –katakanlah—sebuah petualangan di ranjang pada malam keparat seperti itu?

“Jekdi keparat!”
“Bagaimana, Bung?”
“Oke!”
“Apanya yang oke?”
“Keparat ini yang oke!” ujarnya seraya mengangkat gelas itu lagi.
Lalu mereka berdua pun tertawa.
“Berapa?”
Laki-laki itu membisikkan sebuah angka yang membuatnya tertawa. Betapapun begitu, ia sempat mengingat-ingat jumlah uang yang ada di dompetnya. Ia menerka jumlah pesangon dari kantornya yang belum sempat dihitung: amlop itu tipis! Namun ia berharap itu bisa cukup untuk membelikan sebuah hadiah istimewa untuk istrinya.
“Kita cabut! Lanjut di hotel.”
Tiba-tiba, wanita itu sudah berada di depannya dan tampak lebih seksi.
“Bagaimana, Bung?” ujar laki-laki itu .
“Boleh,” jawabnya tanpa pikir panjang.
***
Setibanya di hotel,  laki-laki itu segera meninggalkan kamar. Ia merasa memang seharusnya laki-laki itu pergi saja. Ia hanya menginginkan wanita itu.
“Masih butuh yang dingin?” ujar wanita itu seraya mengulurkan sekaleng bir yang baru saja diambilnya dari kulkas. “Sekaleng dulu, sebelum tidur...”
Saat wanita itu membuka kaleng bir dengan tangan kirinya, ia memerhatikan sebuah arloji yang melingkar pantas di tangannya. Tiba-tiba ia merasa telah mendapatkan ilham.

 “Arloji itu terlihat pantas di tanganmu. Cantik.”
“Oh, ini,  saya cukup menyukainya. Hadiah darinya.”
“Oh, kalian pasti sepasang …”
“Kalau kamu berpikir kami memiliki sebuah hubungan, itu sudah berakhir. Kami memang pernah saling membutuhkan. Itu saja.”
Ia tak bisa mencerna penjelasan wanita itu. Mungkin karena alkohol. Mungkin memang ada jenis-jenis hubungan di dunia ini yang tak perlu dimengerti olehnya.

Terdorong oleh hasrat yang nyaris tak terkontrol, ia segera menyesap bir dingin itu.
“Saya ke kamar mandi dulu,” ujar wanita itu.

Selama wanita itu di kamar mandi, pikirannya benar-benar kacau. Ia membayangkan bagaimana kalau melakukannya di kamar mandi saja. Wanita itu pasti tak akan menolak. Jangan-jangan ‘ke-kamar-mandi’ itu adalah sebuah kode. “Jadi, kenapa tak menyusulnya saja?” gumamnya.

Ia berdiri dan berusaha berjalan. Namun tubuhnya benar-benar tak seimbang. Kamar mandi itu terasa begitu jauh dari jangkauannya. Semakin ia berusaha sampai ke sana, tubuhnya semakin limbung. Lalu ia merasa ada sesuatu yang salah dengan pandangan matanya— gelap dan segala yang di sekitarnya berputar-putar. Pada detik terakhir sebelum ia tersungkur,  ia sempat melihat sosok wanita itu muncul dari pintu kamar mandi.

Keesokan harinya, ia menemukan dirinya meringkuk di ranjang dalam kondisi telanjang bulat. Ia begitu panik dan segera memeriksa jaket dan celananya yang teronggok di lantai. Sebuah amplop yang ia selipkan di saku jaketnya masih berada di tempatnya dan utuh. Ia juga memeriksa dompetnya dan tidak ada satu pun yang hilang. Hal itu membuatnya sedikit tenang. Namun setelah ia berhasil mengumpulkan seluruh ingatannya, ia begitu menyesal. Saat ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, ia menemukan sesuatu tergeletak di pinggir wastafel. Ia berusaha untuk tak percaya pada ingatannya.

“Ini sepertinya arloji wanita itu. Tapi ke mana dia?” pikirnya.

Menyadari bahwa benar-benar tak ada seorang pun di kamar itu selain dirinya, ia segera berkemas. Saat ia menyerahkan kunci dan akan membereskan urusan sewa kamar, seorang resepsionis mengatakan padanya bahwa semuanya sudah diselesaikan.

“Sudah semuanya, Pak. Dia minta maaf tidak membangunkan Anda, karena terburu-buru mengejar penerbangan pertama pagi tadi.”
Ia hanya bengong mendengar apa yang dikatakan resepsionis itu. Ia sempat berusaha mencari tahu identitas wanita itu, tapi resepsionis itu menolaknya dengan halus.

“Maaf, Pak. Kami sudah berjanji untuk tidak mengatakannya.”
Lalu dengan kepala yang masih terasa berat dan dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan, ia meninggalkan hotel itu.
***
Sebelum tiba di rumahnya siang itu, ia sempat berkeliling ke beberapa tempat untuk mencari arloji yang sejenis dengan milik wanita itu. Namun di semua toko arloji memberi penjelasan bahwa jenis yang diinginkannya itu tergolong langka. Maka ia memutuskan untuk mengajak istrinya saja agar bisa memilih sendiri hadiah ulang tahunnya. Ketika ia hendak menyampaikan maksudnya, istrinya tiba-tiba menghambur ke arahnya seraya memamerkan sesuatu.

“Sayang, terima kasih banyak hadiahnya. Saya suka sekali arloji cantik ini. Kamu ternyata pandai membuat kejutan.”

Tingkah istrinya itu membuatnya tersadar bahwa ia telah menaruh arloji itu di atas meja rias istrinya sebelum dirinya ke kamar mandi. Ia takjub menatap arloji cantik itu melingkar pantas di pergelangan tangan istrinya. Tapi sebentar kemudian ia merasa bimbang. Ia tak bermaksud memberikan barang temuan itu kepada istrinya. Ia akan terus merasa bersalah jika melakukan hal semacam itu.

“Tapi ini pasti mahal,” ujar istrinya, “apa saya meminta terlalu banyak?”
Ia tersenyum mendapati wajah bahagia istrinya. Saat istrinya memeluknya, ia membalasnya dengan erat. Lalu begitu saja, kepalanya terkulai di bahu istrinya.(*)


 

Konsultasi

Tanggung Jawab Pengelola Parkir atas Kendaraan yang Hilang di Parkiran

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Bapak/Ibu pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Saya Bobby berdomisili di Kota Padang. Kel

Langkan

Ajari Anak Berani Ditinggal di Sekolah

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Suasana riang terlihat di wajah sejumlah anak-anak. Mereka asyik mengikuti lantunan musik yang di

Hiburan

Terimakasih Rivew Buruk

Penulis : JPNN

Joel Kinnaman, Pemeran Kolonel Rick Flag

Di antara cast Su

Hiburan

Celine Dion: Isi Soundtrack Film

Penulis : JPNN

Celine Dion akan menyanyikan salah satu lagu yang menjadi soundtrack film Beauty and The Beast. P

Langkan

Pakaian Adat Perempuan

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Pakaian adat perempuan beragam dan variatif. Pada setiap nagari mempunyai keunikan dan corak ters

Remaja

Yang Melintas Dalam Kerinduan

Penulis : Violin Amara Syaherna

Terkadang, kita berjalan beriringan bagai seutas tali
Berpacu menyapu pedih
Aku ingin

Khasanah

Pentingnya Sinergisme dalam Pengelolaan Cagar Budaya

Penulis : Hasan Basri, SS

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Cagar Budaya did