CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Nuansa_Kehadiran_yang_Berbeda_”Kampuang_Sakato”
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Carito Minang Kini

Nuansa Kehadiran yang Berbeda Kampuang Sakato

Penulis :    

Pameran seni rupa yang diadakan Kelompok Kampuang Sakato telah berlalu dua bulan. Jika melihat ke belakang, yang terlintas dalam memori adalah wajah Galeri Taman Budaya yang disulap menjadi sebuah penampakan baru. Bagian depan gedung galeri ditutupi oleh balutan dinding berwarna hiijau beridentitas “SANDI”.
***

Pameran Tambo#2 “SANDI” adalah salah satu realisasi visi dari keberadaan kelompok seni yaitu Kelompok Kampuang Sakato dua tahun terakhir.  Even pertama yang mereka adakan adalah pameran Tambo Rupa, pada 23 – 30 Mei 2016 di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat. Kedua, pameran yang sukses diselenggarakan beberapa waktu lalu, 9-15 September  lalu, Tambo#2 “Sandi” di tempat yang sama dan sama-sama dibuka oleh Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon.

Nuansa berbeda tampak muncul pada iven yang ke dua di tahun ini. Selain terdapat karya commision work seperti dinding berwarna hijau yang tampak menyelubungi bagian depan gedung Galeri Taman Budaya, pameran kedua ini juga dihadiri pengamat seni sekaligus kolektor seni rupa yang cukup dikenal dalam kancah nasional dan internasional, Dr. Melanie W. Setiawan dan beberapa kolektor lain asal Perancis dan Amerika. Hal ini bisa dijadikan pencapaian yang signifikan dari even pameran seni sebelumnya, mengingat seni rupa Sumatera Barat gaungnya tidak sebaik seni-seni tradisional lainnya. Apalagi untuk kedatangan kolektor seni rupa dari luar daerah, yang kabarnya sudah lama tidak mampir melihat kiprah karya seniman di daerah, setelah sebelumnya sempat cukup ramai berdatangan hingga terbangunnya pasar seni rupa ketika terjadinya booming seni rupa pada pertengahan dekade 2000-an.

Tidak hanya itu, beberapa karya yang disugukan pun cukup unik dari konvensi karya seni rupa yang ada dan terpajang dari 36 karya dari 26 seniman lintas generasi. Karya yang hadir memiliki kecenderungan khas yang berbeda dari karya-karya yang kerap ditampilkan dalam even-even pameran sebelumnya. Misalnya, “Organic Land#1” dan “Organic Land#2” (2017) oleh David Armi Putra. Seniman ini dikenal sebagai seniman yang identik dengan karya-karya instalasi menggunakan berbagai media dan penggunaan teknik-teknik tertentu dalam karya. Kiprahnya telah dikenal dalam skala nasional baik pameran kelompok maupun tunggal.

Pada pameran tersebut, David menghadirkan sebuah pemajangan karya yang tidak biasa. Terdapat dua panel lukisan berukuran 200 x 150 cm dan 100 x 120 cm berobjek labu kotak bermedia kopi sebagai pengganti cat lukis pada kanvas. Di depan lukisan-lukisan tersebut terdapat sebuah meja kayu yang di atasnya disusun empat buah labu yang direkayasa berbentuk dadu berukuran sekitar 30 x 30 cm. Dua di antaranya dibatasi oleh secangkir minuman kopi dan secang. Sedangkan dua labu lainnya saling berdempet dan menempel sebuah kunci inggris yang sepertinya telah direncanakan sejak labu tersebut tumbuh. Hal ini memperlihatkan sebuah upaya presentasi seni berbasis riset. Sebuah rekayasa agrikultural yang kemudian disulap menjadi karya seni yang memiliki makna estetis dan filosofis.

Kecenderungan karya lain yang hadir yaitu “Signs” (2017) oleh Randi Pratama. Karya ini terdiri dari lukisan berukuran 200 x 200 cm yang tidak digantungkan di dinding seperti display karya pada umumnya, melainkan bersandar di atas lempengan aspal yang ditumpuk di atas lantai. Karya yang terdiri dari susunan bentuk geometris segi panjang, persegi dan lingkaran kuning yang tertata rapi. Bentuk-bentuk ini memenuhi permukaan kanvas yang sengaja membentuk kesatuan dengan keberadaan tumpukan lempengan aspal.

Lain halnya dengan “Glondongan#1” karya Romi Armon, menghadirkan karya lukisan dua dimensi yang berbeda. Karya lukisan tersebut tidak berbentuk persegi melainkan berbentuk tidak beraturan, bermedia multitriplek, spoon, rubber, dan akrilik. Sekilas bentuk yang dihadirkan seperti potongan batang pohon. Namun ketika diamati lebih detail karya tersebut terlihat seperti potongan daging berkulit reptil. Begitu juga hal yang unik terdapat pada karya “Menanti Putih Malam yang Siang, Siang yang Malam, dan Merah dan Hitam” (2017) karya Ismed Sadjo. Karya drawing abstrak yang terdiri dari 50 panel dengan berbagai ukuran. Totalitas karya-karya yang dipamerkan dan ide-ide penggubahan karya non konvensional terasa tersaji dengan segar selain sarat nilai estetik dan filosofis.

Sekilas tentang Kampuang Sakato
Hal yang perlu dicatat bagi keberadaan sebuah kelompok adalah perannya dalam mengukir jejak mewujudkan visi-misi tertentu di tengah masyarakat. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kegiatan sesuai dengan spesifikasi bidang yang menjadi perhatian kelompok. Dalam bidang seni rupa, selain mengadakan pameran, peran ini dapat diwujudkan berbagai kegiatan seni yang tampil dan mengajak masyarakat mengenal seni bahkan ikut berpartisipasi dalam kesenian.

Dua tahun memang sebuah perjalanan yang masih relatif baru bagi kelompok Kampuang Sakato. Terutama di antara banyaknya kelompok seni rupa yang kembali menjamur dan eksis hadir mewarnai perjalanan seni rupa di Sumatera Barat pasca awal tahun tahun 2000-an. Kehadiran kelompok-kelompok seni ini misalnya, Komunitas Seni Belanak (Padang), Kelompok Rumpuik (Padang), kelompok Pentagona (Padang), lalu beranjak pada kelompok seniman muda yang kerap dikenal beberapa tahun belakangan, seperti Kelompok Teras (Padang Panjang), Gubuak Kopi (Solok),  Ladang Rupa (Bukittinggi), PKAN (Sijunjung), Villa A (Padang), Doodle Art (Padang), RAS (Padang), serta berbagai kelompok seni rupa lainnya yang sebagian besar beranggotakan mahasiswa, praktisi seni, maupun perupa muda. Hal berbeda justru tampak dari  kehadiran kelompok Kampuang Sakato.

Kampuang Sakato merupakan salah satu kelompok seniman asal Sumatera Barat yang sebagian besar anggotanya pernah menimba ilmu seni dan berkarir di Yogyakarta. Mereka kemudian memilih kembali dan berkarir di kampung halaman. Kelompok ini resmi dibentuk pada tanggal 29 November 2015, di Padang Panjang. Berlandaskan semangat dalam kehidupan berkesenian, Kampuang Sakato berkeinginan untuk memajukan kehidupan seni rupa tanpa meninggalkan budaya dan identitas diri sebagai masyarakat Minangkabau dan membangun iklim berkesenian seperti yang mereka rasakan di wilayah basis seni di Indonesia.
Sebagai realisasi dari visi tersebut, selain mengadakan kegiatan pameran, kelompok ini ternyata juga mengadakan serangkaian kegiatan lain yang berkaitan dengan potensi-potensi yang dimiliki Sumatera Barat yaitu pariwisata. Upaya tersebut dilakukan dengan mengadakan kegiatan Art Tour untuk para tamu undangan sebagai kegiatan pendukung dalam rangkaian pameran kali ini.

 “Banyak rencana kegiatan yang ingin kami wujudkan pada tahun selanjutnya. Pada program pameran di tahun 2018, di antaranya kami berencana tetap mempertahankan kegiatan art tour  bagi para tamu undangan sebagai kegiatan tahunan, mengadakan pengembangan kegiatan seni dan keanggotaan, menggarap even seni dalam skala yang lebih luas, membentuk legalitas kelompok, dan berupaya menghadirkan tema yang lebih menarik ke depannya yang tidak hanya berkontribusi untuk masyarakat seni, tetapi juga untuk masyarakat luas” ujar Yon Indra, ketua Kelompok Kampuang Sakato yang juga memberi sedikit bocoran untuk even tahun depan, direncanakan akan diselenggarakan di luar kota Padang dan berkemungkinan untuk mempublikasikan nama baru untuk kelompok ini.

 

Nurkholis, Band Leader Minangapentagong

Penulis : Memasukkan Rasa Minangukabau dan Aroma Jazz Idiom musik tradisi di Indonesia, kh

Songsong KKN, Mahasiswa UBH Dibekali

Penulis : Demi mempersiapkan dan membekali mahasiswa Universitas Bung Hatta melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja
Kampus

Organisasi Kampus tak Ganggu Kuliah

Penulis : Redaksi

Presiden Mahasiswa (Presma) Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Andalas (BEM

Puisi

Mencari Pembeli Buku Puisi

Penulis : Muhammad Husein Heikal

Barangkali sebagian dari kita sepakat jika saya berpendapat bahwa sangat langka kini sebuah buku

Remaja

Pesan Burung

Penulis : Haida Fitri

Kecil hitam bernyali ciut
Tak jauh beda dengan kumbang kelapa
Setelah menggigit

Penulis : Tidak ada tadi, tidak ada nanti, tapi perjalanan hidup terus merupakan perulangan. Waktu hanyala

Pembersihan orang Komunis: Siaga di Solok (1927)

Penulis : Tentera marechaussee jang meronda di darah Solok telah mengetahoei seboeah perhimpoenan rahasia jan