CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Retorik_dan_Majas,_Lokalitas_Minangkabau
Cerpen

Retorik dan Majas, Lokalitas Minangkabau

Penulis :    

Pada tahun 1928, “Perkumpulan Kaum Ibu” di Padang telah memainkan kaba (cerita) Sabai Nan Aluih ini, tetapi belum diatur dengan baik menurut teknik tonil cara barat. Begitupun pada tahun 1929, “Perkumpulan Pemuda Sumatra” di Jakarta telah berhasil mempertontonkan tonil Sabai Nan Aluih dengan cara permainan dan bahasa yang diatur sedemikian rupa. Permainan yang sebelumnya menggunakan bahasa Minangkabau (yang diterbitkan  menjadi Tijdschrift v/h Koninklijk Bataviaasch Genoot sehap van Kunsten en Wetenschappen deel 56 oleh Prof. Dr. Ph. S. van Ronkel, yang diterbitkan oleh M. Rasjid Manggis, dan naskah yang dikarang oleh A. St. Pamuntjak N.S), kemudian diperkonkret dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Dari pertunjukan di Jakarta itulah Sutan Sati termotivasi untuk menuliskan kembali cerita abai Nan Aluih ke dalam bahasa Indonesia. Dalam sebuah pengantarnya pada naskah Sabai Nan Aluih, Sutan Sati (1960:2) mengatakan bahwa bahasa Minangkabau dapat juga diindonesiakan dengan tidak mengubah jalan bahasanya. Sementara itu, bagi orang yang tidak tahu berbahasa Minangkabaupun tidak hilang artinya. Artinya, pembaca yang bukan dari etnis Minangkabau dapat pula memahami bahasa dan isi cerita yang ditulis dengan bahasa lokalitas Minangkabau tersebut.

Pendayagunaan retorik dan majas lokalitas Minangkabau dalam naskah Sabai Nan Aluih menunjukkan bahwa Sutan Sati relatif menggunakan gaya bahasa bermakna tidak langsung (majas). Melalui gaya bahasa perbandingan sebagai gaya bahasa yang dominan dan mengikuti gaya penceritaan bahasa klasik yang memasukkan unsur tradisi (pantun misalnya), Sutan Sati memberikan kesan estetik terhadap bahasa yang terdapat dalam naskah Sabai Nan Aluih. Pendayagunaan gaya bahasa bermakna langsung maupun tidak langsung dimanfaatkan untuk menggambarkan corak pandang, menjelaskan, memperkuat, menghidupkan objek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak ketawa, atau sekadar untuk hiasan yang khas terhadap Minangkabau dalam sastra Indonesia berwarna lokal, di samping untuk mempertahankan identitas lokal dari segi bahasa.  

Dengan berbasis gaya bahasa lokalitas Minangkabau, Sutan Sati telah berupaya membantu pembaca untuk memahami isi cerita dengan menghadirkan naskah Sabai Nan Aluih yang menggunakan bahasa Indonesia. Tidak hanya itu, upaya pengarang dalam memindahkan ke dalam bahasa Indonesia tersebut tidak mengurangi nilai keindahan dari segi bentuk. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasanuddin WS (dalam Banua, 2007:171) yang mengatakan bahwa cara pandang dan sikap pengarang menentukan kegagalan atau tidaknya seorang pengarang dalam memanfaatkan unsur bahasa sebagai aspek menentukan makna pada karya sastra yang dihasilkannya. Oleh sebab itu, kekuatan gaya bahasa Sutan Sati ditunjukan oleh keunikan pilihan kata (diksi) dan gaya bahasa yang ditemukan dan ketepatan dalam pilihan kata atau bahasa. Pendayagunaan bahasa lokalitas digunakan untuk mencirikan kekhususan atas bagaimana cara bertutur atau mengungkapkan masyarakat setempat (Minangkabau) dengan tidak mengurangi nilai estetika bahasa.

Gaya bahasa perbandingan yang digunakan dimanfaatkan umumnya berasal dari kesemestaan. Alam (cosmos) dijadikan sebagai motivasi oleh pengarang untuk melahirkan sebuah perbandingan-perbandingan. Perbandingan-perbandingan tersebut dimaksudkan untuk memberi kesan atau sugesti terhadap hal-hal yang bersifat metafisik, seperti sikap atau perangai manusia. Manusia-manusia yang dimaksudkan tentu tokoh-tokoh yang terdapat dalam naskah Sabai Nan Aluih, yaitu Sabai Nan Aluih, Mangkutak Alam, Raja Berbanding, Sadun Seribai, Raja Nan Panjang, dan tokoh-tokoh lainnya.

Berikut diuraikan dan dideskripsikan satu contoh analisis gaya bahasa perbandingan lokalitas Minangkabau sebagai gaya bahasa yang dominan, di antaranya gaya bahasa M (metafora).

Metafora Lokalitas Minangkabau
RADJA BERBANDING: Mangkutak anak kandungku—anak kandung sibiran tulang—obat djerih pelerai demam—djerat semata bapak kandung—si dingin tampal di kepala!
(TSS, Halaman 18)

Kata-kata yang dicetak miring pada kutipan di atas merupakan metafora lokalitas Minangkabau berupa frasa sibiran tulang—obat djerih pelerai demam. Frasa tersebut merupakan perbandingan dua hal yang sama sifatnya, berbeda bentuknya, tanpa menggunakan kata pembanding, dan sekaligus merupakan khas dari Minangkabau (yang bersifat setempat). Di dalam bahasa Indonesia, kata-kata yang dicetak miring tersebut bermakna sama dengan frasa anak kesayangan; anak (jantung hati, kekasih). Frasa sibiran tulang dalam ungkapan Minangkabau berfungsi untuk mengungkapkan perbandingan secara langsung tentang anak yang disayangi, yang dianggap bagian penting dari hidup orangtua. Hal yang diperbandingkan secara langsung adalah sekerat tulang (sibir) atau bagian penting dari tubuh manusia (dalam hal ini yang dimaksudkan adalah Raja Berbanding) dengan anak yang disayangi, yaitu Mangkutak Alam yang selalu dimanja dan dibedakan perlakuannya dari Sabai nan Aluih (kakak Mangkutak Alam). Untuk menyatakan perbandingan antara sekerat tulang (sibir) atau bagian penting dari tubuh dengan anak yang disayangi, yaitu Mangkutak Alam yang selalu dimanja dan dibedakan perlakuannya dari Sabai nan Aluih (kakak Mangkutak Alam) dan bersifat khas Minangkabau, dinyatakan dengan frasa sibiran tulang.

Berdasarkan paparan di atas, jelas bahwa naskah Sabai Nan Aluih yang diindonesiakan oleh Tulis Sutan Sati memiliki kekhususan dari segi pendayagunaan bahasa. Jika Wisran Hadi sebagai pengarang beretnis Minang yang juga memiliki corak lokalitas terhadap bahasa dalam karya-karyanya, Sutan Sati sebagai pengarang yang jauh lebih eksis di tahun sebelumnya telah membuktikan bahwa kekuatan sastra Indonesia berwarna lokal sudah sejak lama dimanfaatkan oleh pengarang beretnis Minang. Jika Wisran Hadi dalam novel-novelnya lebih cenderung memberi kesan yang bersifat memberi perbandingan atau sugesti terhadap nama tokoh, pelaku, dan latar tempat, pengarang yang hidup pada masa kolonialisme ini justru cenderung memberi kesan melalui penggambaran terhadap hal-hal yang bersifat metafisik, seperti perangai manusia sebagai cerminan dari masyarakat.

Sutan Sati sebagai pengarang yang berasal dari etnis Minangkabau dan menuliskan naskah Sabai nan Aluih ke dalam bahasa Indonesia pada masa kolonial ini, disamping mampu menciptakan fungsi estetis melalui pendayagunaan bahasa lokalitas, juga berhasil mempertahankan keutuhan dan keindahan bahasa Minangkabau yang diindonesiakan. Hal ini tentu dengan mencermati pilihan kata dan kekuatan gaya bahasa yang dimanfaatkannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hasanuddin WS (2016:131) yang mengatakan bahwa masyarakat Minangkabau merupakan salah satu etnik yang kukuh dan eksis di Nusantara. Identitas keetnikan Minangkabau telah ikut memberikan sumbangan kepada bentuk kebudayaan nasional, antara lain melalui bahasa, kesenian, dan berbagai aspek tradisi lainnya. Artinya, Minangkabau dengan subjek kreatornya dalam teks sastra Indonesia warna lokal telah memanifestasikan eksistensi lokalitasnya melalui upaya memanipulasi bahasa (gaya bahasa).
Penulis, dosen FKIP Universitas Bung Hatta

 

Langkan

Meninjau Pola Asuh Bersama Menurut Kekerabatan Matrilineal Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau memiliki modal sosial dengan sistem dalam menguatkan k

Bintang Biru

Penulis : Masih tentang bintang gemintang Yang bertahta elok di langit kelam Cahayanya menembus galaksi rasa
Hiburan

Alyssa Soebandono: Hamil 5 Bulan, Ngaku Kebobolan

Penulis : JPNN

Alyssa Soebandono kini tengah hamil anak kedua. Perasaan bahagia dan terkejut bercampur menjadi s

Langkan

Ajarkan Anak Berpuasa Setengah Hari, Namun Jangan Dipaksakan

Penulis : Oktaria Tirta - Padang Ekspres

Bulan Ramadhan tinggal hitungan hari. Selain bagi umat Islam yang telah balig berakal, bulan keme

Kampus

Lima Pejabat Baru Unand Dilantik

Penulis : Endrik

Rektor Universitas Andalas (Unand), Tafdil Husni resmi melantik Dekan Fakultas Pertanian, Dekan F

Langkan

Jaga Gizi, Olah Makanan Sendiri

Penulis : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Termasuk urusan makanan. Saat anak

Carito Niniek Reno

Nan Baiak Budi Nan Endah Baso

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Cucu-cucu Niek Reno nan gadih-gadih jo nan bujang-bujang duduak barapak di ruang tangah Rumah Gad