CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Puisi
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Puisi

Puisi

Penulis :    

Padang
di bundar air mancur
ku lempar mata pikun
pandangan  haru  
balaikota dan lapang bola
nyaris punah

ia  bangunan purba  tempat  batang sejarah
mula ditanam
ditinggal pejuang
ladang  seluas padang

di sini mula kenangan lampau itu
angin bukit, angin pesisir, angin darat
berkumpul di bawah pohon rindang
percakapan kami  terasa  sejuk  dan riang  
tentang  perantau meluap di teluk bayur
melepas kapal yang  mengangkut cerita
:di kampung, kami belum berguna
biarlah buah ranum di ladang

elus angin itu  telah tiada
tinggal hawa laut  dan keringat dingin

di bundar air mancur
batang-batang sejarah
tumbuh di  luar halaman  
mirip rumah susun

habis, satu, satu
warisan musuh

2017
 

Ingin

aku ingin  tak seperti bangau
pulang  dengan sayap  patah

atau
aku tak ingin
tanah seperti  petak papan catur
diantara kotak putih
ada  otak hitam

aku ingin
seperti langkah  benteng
lurus dan lurus

tak sepertimu
hari-hari menabung iri

atau
inginku  seperti tupai merantau
melompat  dari kota ke kota  
dan jatuh serupa  asap
pulang merahasiakan wakaf

2017

Kota Ini

kota  ini mati warna
 orang-orang kemalaman
menyeduh kopi  di sudut ragu

ada  rambu  buram dan bunyi riak    
tiang lampu memantul lemah
mirip  cahaya aspal
aku mengunci kantuk
dalam angkutan  tamasya

2017


Di Kuranji

di kuranji aku putar mata
tanah bukit serupa kulit harimau
batang cengkih memucat
rumah  tumbuh berbaris-baris
di tepi jalan di tepi simpang

mengaum orang  sekaum
bangau tak pulang-pulang
hujan  ruah  di luar batang
beriak  ke tengah padang
ada pialang

buku tanah
menyusut  dalam buku deposito

sekapal ,
anak- kemenakan berlabuh  di  kuranji
menelusuri ragu

di kuranji aku putar mata
satu-satu, engku demang berpulang
tanah lapang
aku pasang segala jurus
seperti   kayu bersilang  di tengah padang
ini gelanggang

pialang hilang


2017


Bukit Tinggi

di bukit tinggi
jalan mendaki  dan jalan menyempit
seperti aku berjalan mundur

dingin pernah merebus gigilku
di desember  90

kota  ini  
dibesarkan  oleh ilmu padi
seperti hatta dan hamka
pikirannya  tinggi
dapat dijangkau akal
kini dingin telah pergi
keteduhan juga pergi

kota ini seperti kehilangan  orang cerdik    
dibiarkan  ngarai, lobang jepang dan  jam gadang
memeram kemarau
langit merah bata
ruang nafas terkunkung
ruang gerak menyempit
mata  dikurung dinding-dinding kamar yang menjulang
udara  serupa  daging sate terpanggang
dingin  dan angin berkeringat

apakah kau bisu?
pelancong memutar haluan
khawatir kapal membentur  karang
ada
bukit tinggi

2017

 

Remaja

Angan dalam Cahaya Petromax

Penulis : R Sophia Lestari

”Apa kabar?” Suara seseorang yang sangat familiar terasa sangat dekat di telingaku. &

Huru-haraKomunis di PulauTello (1926)

Penulis : Padang, 20 Mei (Aneta): Barangkali karena dihasoetoléh kaoem kominis, beberapa orang poelauBatoe di
Paco - Paco

Prof. B.J.O. Schrieke Melakukan Penelitian di Sumatera Barat (1927)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

P. t. [Paduka tuan] Prof. B. [J.O.] Schrieke jang dioetoes ke Soematera Barat oentoek menjelidiki

Remaja

Ambigu

Penulis : Bayu Andama Putra

Ambigu
Memasuki lorong pandangmu
bagiku serupa menjelajah tempat ter

Remaja

Pembawa Gergaji

Penulis : Hidayatul Fadhillah

Pelayan negeri berduri
Tapi tak pernah mau mencuci
Hanya menandatangani
Di atas

Remaja

Teka Teki Rasa

Penulis : Riyan Prasetio

“Kok nggak masuk?” suara cempreng Vanya membuyarkan lamunan Ara.

Gadis yang m

Puisi

Anak yang Pergi

Penulis : Nermi Silaban

Aku tinggalkan rumahmu
sebuah pelukan yang tua.

Air mata yang meluap, sebab kata