CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Percakapan_di_Meja_Makan_dan_Rahasia_Kecil_yang_tak_Bisa_Diceritakan_pada_Siapa_pun_selain_Kamu
Cerpen

Percakapan di Meja Makan dan Rahasia Kecil yang tak Bisa Diceritakan pada Siapa pun selain Kamu

Penulis :    

TANGANMU sedikit gemetar saat menggenggam jemarinya, mata kalian bertemu. Kau berusaha tersenyum, terasa kaku. Kau memang pembohong yang payah. Dulu, saat kalian masih pacaran, dia sudah berkali-kali mengatakan itu; kau sangat payah dalam bersandiwara! Pun sekarang, semua masih terasa sama, hanya saja waktu tak bisa ditipu. Banyak hal sudah tergilas, termasuk otot-otot yang dulu begitu kencang di tubuh kalian, juga warna rambut yang legam.

“Kau ingat,” ucapmu saat menyendokkan sup untuknya. “Kau pernah mengidam sup buntut Babah Aci di simpang lima saat hamil anak sulung kita.” Lalu kau terkekeh, lucu sendiri akan kenangan yang tiba-tiba hinggap.

“Aku mengayuh sepeda malam-malam. Hampir tengah malam. Hujan tak menyurutkanku.” Kau menghela napas, seakan mendorong sesuatu yang berat di dada. “Aku beruntung, masih ada sisa seporsi. Mungkin karena hujan, biasanya sebelum pukul sembilan, sup buntut itu sudah ludes.”
Matamu berkaca-kaca, pun matanya.

“Sayangnya kau hanya memakannya sesendok. Alasanmu mendadak tidak kepengin lagi.” Kau terkekeh lagi. “Aku sangat kesal malam itu. Sudah susah payah mencarinya, hujan-hujanan, tapi ternyata hanya kau makan sesendok. Namun marahku hanya sebentar, langsung luluh karena senyum dan godaanmu.”
Dia berusaha tersenyum, stroke membuat senyumnya tak secantik dulu. Namun kau terus meyakinkannya, jika senyumnya tetap jelita, seperti waktu pertama kalian bertemu. Lalu jatuh cinta dan memutuskan menikah. Senyum itu tetap cantik. Tak berubah oleh apa pun, “termasuk waktu,” katamu.

“Kamu jangan egois, Bang!” terdengar teriakan dari ruang tengah.
Kau menoleh, dia yang duduk di kursi roda pun berusaha memutar lehernya, tapi sia-sia. Dia tak bisa melihat apa yang terjadi di balik tirai merah marun itu. Namun kau justru bersyukur dia tak bisa melihat apa yang ada di sana. Jika bisa, kau pun ingin menyumpal lubang telinganya, juga telingamu.
“Pokoknya aku nggak bisa. Sori. Keputusanku sudah bulat,” terdengar suara laki-laki menjawab. Lalu suara sesuatu dihantam. Mungkin permukaan meja. Mungkin.

“Kau gila, Bang!” suara perempuan lagi. “Kau anak laki-laki. Anak sulung. Sudah kewajibanmu mengurus mereka. Dan juga hampir seluruh warisan Papa jatuh padamu. Jadi, nggak salah kalau kami menuntut kau yang mengurus mereka!”
“Albar juga anak laki-laki Papa. Bukan aku sendiri dong,” suara laki-laki pertama tadi kembali terdengar.
“Hei, Papa dan Mama gak pernah betah tinggal bersamaku. Manado terlalu jauh, kata mereka. Jadi jangan salahkan aku.” Seorang laki-laki menimpali, mungkin dia bernama Albar, yang disebut laki-laki pertama.
“Tapi belum pernah dicoba, kan? Coba sekali-kali dibawa ke Manado. Mungkin saja mereka betah.” Suara perempuan kembali terdengar, lebih berapi-api.
“Kalau mereka cuma betah seminggu, bagaimana? Aku harus cuti lagi? Ke Jakarta lagi? Jangan berharap banyak pada istriku, dia juga sibuk di kantor. Sama saja dengan Mbak Ira.”

Hening. Tak ada suara lagi.
Kau kembali berusaha tersenyum padanya. Perlahan kau suapkan sup –yang telah dingin itu—ke mulutnya, dia menggeleng. Matanya telah basah.
“Biasa,” kau berbisik, mesra. “Anak-anak. Memang suka begitu, kan?” kau meletakkan kembali sendok ke dalam mangkuk sup. Mengusap air mata di pipinya, lalu kau kecup satu per satu kelopak matanya. Dia memejam. Kau jadi teringat hari-hari awal penikahan kalian, begitu hangat, begitu menyenangkan, seolah-olah kalian akan abadi di sana. Tak menua.

“Tedi dan Albar sering berkelahi gara-gara rebutan mobil-mobilan. Ira suka ngambek kalau kau lupa membelikannya martabak Carlie kesukaannya.” Kau menggenggam jemarinya. Mulutnya bergerak-gerak, seolah akan mengucapkan sesuatu, tapi stroke telah membuatnya demikian sulit bicara.
“Ohya, aku jadi ingat pertama kali mengganti popok Tedi, setelah kita pulang dari rumah bersalin.” Kau tiba-tiba terkekeh, matamu sampai berair karena tertawa. “Lucu sekali. Aku muntah-muntah karena nggak tahan baunya. Kau meledekku saat itu. Kau bilang apa ya? Aku lupa.”
Kalian saling tatap, mulutnya seperti hendak berkata, tetapi demikian sulit.
“Oh ya, aku ingat. Kau bilang aku ayah yang payah.”

Dan kau tergelak, tak mampu menahan tawa, tak peduli pada keributan di balik tirai merah marun yang memisahkan kalian.
“Setelah aku susah payah membersihkan pantatnya, saat aku hendak memakaikannya popok lagi, Tedi mengencingiku. Pistolnya tepat mengenai wajahku. Aku bahkan yakin sekali terminum air kencing itu,” kau terpingkal-pingkal, tubuhmu terguncang-guncang, geli sekali. “Anak sulung kita itu tertawa melihatku kelabakan dan meludah sembari mengusap mulut. Kau juga tertawa geli. Kalian berdua seperti dua orang yang berkonspirasi mengerjaiku.”
Tawamu reda. Itu kenangan lucu sekali. Ingatan yang acap kali membuat kalian tertawa dan merasa begitu bahagia, begitu sempurna sebagai orangtua. Dulu, saat kau sibuk bekerja di kantor, saat kau suntuk dan penat di antara banyaknya pekerjaan, kau kerap mengingat-ingat senyum anak-anakmu di rumah. Tingkah laku mereka yang nakal sekaligus polos, juga senyum istrimu. Bila sudah demikian, keletihan yang menderamu perlahan sirna, seakan-akan ingatan tentang mereka adalah obat mujarab untuk capek.

“Hei, kau ingat tidak saat Ira berak di sofa barunya Bu Joko?” kau tersenyum lebar. “Aku masih bisa merekam dengan jelas saat Bu Joko ngamuk di rumah kita. Dia terus mengoceh tentang sofanya yang baru berumur seminggu itu. Tentang betapa mahalnya dia membeli sofa itu. Tentang alasan dia membelinya karena akan ada tamu dari jauh. Dan kita berdua terpaksa mencuci sofa itu berdua, menggosoknya berkali-kali, memastikan baunya tak menempel. Kau menjemurnya hampir seminggu. Kalau ingat itu, aku nggak menyangka anak perempuan kita bisa tumbuh begitu cantik dan pintar.”
Kau menerawang, seakan-akan bertanya pada langit-langit ruang makan. Lampu gantung di atas meja makan bergeming. Entahlah, apa yang memaku matamu pada plafon itu. Mungkin kau ingin mencari jawaban di sana; kenapa akhir drama kalian seperti ini? Setelah masa muda yang begitu hangat dan manis, kenapa bisa akhir ceritanya seperti ini. Sayangnya, tak ada jawaban di sana. Tak ada apa-apa selain seekor cicak yang mengejar kehampaan.

“KALIAN yang egois. Papa dan Mama hampir enam bulan di rumahku. Dan gara-gara itu, Mbak kalian hampir menuntut cerai lantaran tak tahan dengan tingkah laku mereka.”
“Istrimu saja yang egois!” perempuan di balik tirai merah marun kembali menjawab.
“Lah, kau sendiri baru tiga bulan sudah gak tahan dengan mereka. Berak sembarangan, kencing di sofa. Harus dimandikan. Kau pikir kau tahan?!” suara laki-laki pertama kembali berdengung. “Kau bahkan menelponku yang sedang meeting dengan klien penting gara-gara Mama berak di sofa. Kau menjerit histeris karena katamu itu sofa mahal. Asli dari Jepara. Baru seminggu datang. Apa-apaan itu!”
“Siapa juga yang gak histeris pas pulang kerja lihat taik di sofanya? Dan nggak ada satu pun pembantu yang mau membersihkannya. Semua muntah! Gara-gara Papa dan Mama aku sudah tiga kali ganti pembantu. Bayangkan saja, dalam tiga bulan tiga kali ganti pembantu!”
“Lebay!” Albar menyahut.
“Lebay taikmu!”
“Sudah! Kepalamu mau pecah dengar ocehan kalian,” suara laki-laki pertama terdengar lagi. “Kalau begini terus, kita nggak akan selesai-selesai berdebat. Kerjaanku masih banyak, bukan ngurusin Papa dan Mama saja.”
“Kau pikir cuma dirimu yang sibuk?” suara perempuan itu terdengar sinis. “Aku juga.”
“Intinya Papa dan Mama akan tinggal di mana?” si laki-laki pertama tak ingin menggubris lagi, dia sepertinya sadar, mereka akan berdebat terus sepanjang malam tanpa penyelesaian. “Nggak mungkin kan Papa dan Mama tinggal berdua di rumah ini? Nggak ada lagi yang mau jadi pembantu di sini, suster yang terakhir kita bayar sudah berhenti sebulan lalu.”
“Aku nggak bisa kalau di rumahku. Anak-anakku juga gak mau.” Perempuan itu menyahut cepat.
“Seperti kataku tadi, Manado terlalu jauh,” Tedi menyambar.
“Hah?” laki-laki pertama melongo, “edan!” dengusnya. “Kalian mau aku bercerai gara-gara Papa dan Mama bikin kekacauan di rumahku?”
“Pertanyaan yang sama untukmu, Bang,” serangan yang telak. Laki-laki itu terdiam mendengar ucapan adik perempuannya. Di antara kesunyian yang tiba-tiba menyergap, mereka mendengar tawa tergelak dari dapur. Ketiganya saling pandang, adik perempuannya mengangkat sedikit pundak.
“Intinya apa?” dia bersedekap, menumpuh kaki kanannya di atas lutut kiri, rambut hitamnya tergerai. Matanya lurus memandang kakak sulungnya, sesekali dia melirik adik laki-lakinya yang segera melengos saat sadar dipandang.
“Bagaimana kalau Papa dan Mama kita titipkan di panti jompo saja?” laki-laki pertama mengajukan pertanyaan, kedua adiknya langsung tersenyum, semringah.

KAU dapat mendengar segala percakapan, pertengkaran dan mufakat yang ada di balik tirai merah marun itu. Sesekali kau tersenyum, mengerjap, mendinginkan mata yang acapkali menghangat tiba-tiba.
“Aku tahu, kau tak ingin pergi dari sini. Juga tak ingin merepotkan anak-anak lagi,” kau menggenggam tangannya erat sekali. “Seperti janji kita dulu. Kita akan tetap bersama sampai kapan pun. Mencintai di saat sakit atau pun sehat.”
Mulutnya bergerak-gerak lagi seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Ya, ya, ya... kau benar, sebaiknya kita memang tak merepotkan anak-anak lagi. Mereka sudah besar dan sudah punya keluarga masing-masing. Tentu saja sangat menyulitkan jika ditambah kita. Kau benar. Kau benar,” kau mengusap-usap telapak tangan itu.
Perlahan kau mengangkat gelas minum itu, kau dekatkan ke bibirnya. Dia meneguk perlahan. Kau terus menuangnya. Hampir setengah gelas.
Aku menahan napas, air matamu turun perlahan. Di ruang depan, anak-anakmu masih saja berdebat tentang siapa yang bertanggung jawab mengurus kalian berdua. Sesekali suara mereka meninggi, berlomba satu sama lain. Seakan tak ingin kalah. Sungguh, aku tak tahan mendengar suara-suara bising itu, juga tawa getirmu dan lelehan air mata istrimu.
Aku melompat di hadapan kalian. Kau tak terperanjat, justru tersenyum, “kau malaikat maut, bukan?” kau bertanya. Aku menelan ludah, kuanggukan kepala. Senyummu semakin lebar, tanpa berkata, aku menarik jempol kaki kalian berdua.
“Tolong katakan padaNya, ini bukan dosa anak-anak kami. Kami yang tak bisa mendidik mereka. Kumohon...”
Aku tak tahu harus menjawab apa atas permintaannya. Sementara di ruang depan, yang hanya terpisah sehelai tirai berwarna merah marun yang telah digerus musim, ketiga kakak-adik itu masih bermufakat atas biaya panti jompo untuk kalian yang tengah menghadapi maut di samping meja makan. Aku tahu, inilah keinginan kalian berdua. Akhir cerita yang membahagiakan, setidaknya untuk anak-anak kalian.
Pali, Teras Coffe, 2017.
Guntur Alam, buku kumpulan cerita pendeknya yang bertema gotik Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2015.

 

Kampus

The Power of Believe

Penulis : Rahmi Yati

Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang baik dan sukses, apalagi mereka yang diberi tang

Keindahan Negeriku

Penulis : ”Liburan di luar negeri itu sangat menyenangkan. Semester lalu aku juga berlibur ke luar negeri.” Ma
Konsultasi

Mekanisme Penyelesaian Sengketa Tanah Ulayat

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Assalamualaikum, pengasuh rubrik hukum yang saya hormati. Kaum kami mempunyai tanah ulayat ya

Khasanah

Semiotika pada Nisan Bermotif Keris di Minangkabau

Penulis : Harry Iskandar Wijaya - BPCB Sumatera Barat

Keris Minangkabau memiliki arti penting di dalam masyarakatnya.Keris memiliki simbol yang menggam

Khasanah

Naskah-Naskah di Pariangan

Penulis : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas

Terlepas dari kajian dialektologi yang dilakukan oleh Nadra (1997) yang telah menyimpulkan bahwa

Carito Minang Kini

Tan Kereang Manulak Kanaik An Arago

Penulis : Ilham Yusardi

“E, Tan Kereang, apo nan ang karajoan ko. Tangahari tagak ko tonggak listrik nan ang panjek

Khasanah

Naskah Minangkabau dan Industri Kreatif

Penulis : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas

Selama ini, hasil kajian filologi—ilmu yang menggunakan naskah sebagai objek penelitiannya&