CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Tari_Teater_”The_Margin_of_Our_Land”_Alpa_pada_Aspek_Transformabilitas
Cagak Utama

Tari-Teater The Margin of Our Land Alpa pada Aspek Transformabilitas

Penulis :    

Panggung ditembak cahaya warna kekuningan membentuk motif petak seluas satu kali dua meter di kiri pentas. Di ujung petak itu, seorang lelaki berdiri tanpa gerak. Sekitar dua menit. Hening. Lalu, lelaki itu menghempaskan tubuhnya ke dalam petak cahaya. Dalam sorotan cahaya yang berganti-ganti,sosok tubuh-tari muncul merepresentasikan simbol-simbol kekalutan sosial. Ada 9 tubuh yang tak nyaman dan gelisah di sana, bersamaan muncul 9 buah pancang yang biasa digunakan pembatas tanah. Pancang itu simbol tanah ulayat yang sudah di bagi-bagi. Dan kelak, pancang itu mereka jadikan senjata melawan investor atau penguasa yang merampas tanah ulayat mereka.

Sekelompok kaum (suku) pemilik tanah ulayat pusaka tinggi (ganggam bauntuak) tersingkir dari lahan yang sudah mereka huni sejak beratus tahun silam secara turun-temurun. Tanah ulayat kaum itu dikuasa paksa dengan dalih hukum formal  untuk pembangunan, yang membuat mereka tak berkutik saat tanah yang memberi mereka kehidupan itu, dikapling dengan garis polisi dan dijaga ketat militer.  

Konflik pun tak terelakkan. Semua kaum itu, dari tua-muda, ninik mamak, hingga bundo kanduang, melakukan perlawanan mempertahankan hak milik mereka. Puncak perlawanan itu, bundo kanduang membuang harga dirinya.

Demikian cerita pertunjukan tari-teater “The Margin of Our Land” dipentaskan di Anjungan Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau, Sabtu (28/10/2017) lalu. “The Margin of Our Land”, yang hingga kini belum jelas alasan para kreatornya menggunakan bahasa Inggris ini, berhulu dari tubuh satu sosok lelaki yang memamg terlihat menonjol dalam memproduksi gerak di atas panggung daripada 10 penari lainnya.  Garak-gariknya tubuhnya terus berhilir sebagai plot menuju klimaks cerita tentang tanah ulayat, yang dalam kultur Minangkabau disebut dengan ganggam bauntuak.

Tari-teater “The Margin of Our Land”, kolaborasi lima kreator seni dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang berdurasi 60 menit itu, digarap secara penuh lima kreator yang terdiri dari Ali Sukri (untuk koreografi), Kurniasih Zaitun (teater), Sahrul N (dramaturg), Elizar (musik), dan Yusril Katil (skenografi), dan diperkuat dengan 11 penari-aktor serta elemen pendukung lainnya.

Karya tari-teater ini memang tak jauh berbeda dengan garapan-garapan seni pertunjukan yang dilakukan Komunitas Seni Hitam-Putih selama ini, kendati mereka tidak membawa bendera komunitas walau kreatornya sama.

Tari-teater “The Margin of Our Land” merupakan bagian pertama dari tiga proyek garapan (trologi) seni yang berbasis pada riset atau penelitian, penciptaan, dan penyajian seni.

Bagian pertama (“The Margin of Our Land”)soal tanah ulayat, kedua mengangkat perkara reklamasi, dan ketiga garis batas (terluar) Indonesia. Proyek besar ini didukung penuh Dirjen Dikti, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Menurut Sahrul N, Ketua Tim Program Hibah Penelitian, Penciptaan, dan Penyajian Seni ini, penciptaan seni yang berbentuk dance theatre berangkat dari kondisi sosial budaya Minangkabau tentang tanah ulayat atau ganggam bauntuak yang kerap bermasalah.

“Kami menyajikannya dalam bentuk pertunjukan seni di atas panggung dengan mengelaborasikan tari-teater-musik. Karya ini berangkat dari riset dan penelitian,” kata Sahrul N.

Menurutnya, dasar penciptaan seni yang berbentuk dance theatre atau tari-teater ini mencoba memaksimalkan potensi seni tradisi Minangkabau yang diolah menjadi bentuk kekinian (modern dan kontemporer).

Ali Sukri, koreografer untuk tari-teater “The Margin of Our Land” mengatakan, karya ini mereflesikan seni kontemporer dengan basis idiom garak-garik dan simbol dalam seni tradisi dan musik Minang dengan tafsir dan pemahaman dalam konteks kekinian.

“Titik inspirasi “The Margin of Our Land” ialah tradisi silek tuo Minang dan seni ulu ambek yang hidup di Padang Pariaman hingga kini,” kata Ali Sukri.
“Pun musik tradisi Minang, sebagai pendukung utama “The Margin of Our Land” diberi makna baru dengan memadukan teknologi saat ini,” tambah Elizar yang akrab disapa Aku ini. Dia dibantu Indra Arifin menggarap musik dan bunyi untuk memperkuat suasana cerita dalam “The Margin of Our Land” ini.
Menurutnya, dalam “The Margin of Our Land” ini musik yang dimunculkan bukan nada-nada yang manis dan tertata, tapi penekanannya lebih kepada musik eksperimentatif.

Terkait dengan teater dan keaktoran laku pemain, menurut Kurniasih Zaitun atau Tintun, karya “The Margin of Our Land” mengangkat konflik klasik yang kerap terjadi di ranah Minang, yaitu soal tanah ulayat (ganggam bauntuak).

“The Margin of Our Land” mengisahkan orang Minang yang tak bisa dipisahkan dengan tanah ulayat, yang merupakan harga diri kaum (suku). Pemain dalam laku ini merepresentasikan setiap karakter dan konflik yang menelikungnya dengan pemahaman yang kuat,” jelas Kurniasih Zaitun yang memberikan penguatan pada laku keaktoran yang sekaligus juga penari.

Bundo kanduang sebagai benteng terakhir pemilik tanah ulayat di Minang, berada pada posisi dilematis.
“Konflik-konflik yang menelikung itu dinarasikan dalam garak-garik tubuh penari, diliriskan aktor teater dengan karakter yang kuat, dan musik yang dibangun sebagai penguat suasana pertunjukan,” tambah perempuan sutradara ini.

“Tari-teater “The Margin of Our Land” menawarkan garapan kreatif dengan basis riset dan studi lapagan ke wilayah konflik, dan tentu saja diperkuat dengan studi pustaka. Konstruksi di atas panggung divisualkan dengan mengedepankan roh dari tanah ulayat itu. Perspektifnya terintegrasi dengan tata kelola lampu, properti, dan audionya, serta komposisi tari,” kata Yusril Katil yang bertindak sebagai skenografinya.

Lemah pada Aspek transformabilitas
Garapan “The Margin Our Land” telah melampaui batas-batas konvensional yang selama ini dipahami bersama tentang teater, tari, musik, dan seni pertunjukan lainnya. Karya ini tidak lagi membatasi dirinya pakem yang berlaku, semisal soal ruang panggung. Tak ditemukan konsistensi para pemain masuk-keluar panggung pada satu arah. Semua sisi panggung adalah pintu.

Teks pertunjukan “The Margin of Our Land” dengan pangatur laku pemain ialah Ali Sukri untuk koreagrafi, sedangkan untuk teaterikal dengan segenap tanda-tandanya diolah Kurniasih Zaitun, bukan lagi dipandang sebagai pemaknaan yang tunggal. Sementara musik,tata lampu, dan skenografi cerita mempertegas serta mendorong pertunjukan menjadi yang utuh. “The Margin of Our Land” merupakan sesuatu yang terintegrasi memproduksi tanda-tanda di atas panggung. Peristiwa teater ialah memunculkan tanda-tanda sebagai peristiwa budaya. “The Margin of Our Land”mempertemukan peristiwa estetis panggung dengan realitas dalam kehidupan sosial masyarakat.  

Realitas “The Margin of Our Land” ialah konflik dan sengketa tanah ulayat yang kini masih berlangsung di Nagari Kapalo Hilalang, Kecamatan 2×11 Kayu Tanam, Padang Pariaman dengan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Kedua pihak saling klaim pemilik sah tanah seluas 669 hektare.
Menurut Benny Yohanes dalam bukunya “Kreativitas Teater: Dari Teks ke Pemanggungan”  (2016), yang mengutip Keir Elam, tanda-tanda dalam presentasi teaterikal memiliki kemampuan generatif yang ditandai tiga aspek tanda teaterikal, yaitu mobilitas, dinamisme, dan transformabilitas. Ketiganya disebut fleksibilitas denotasional.

Keseluruhan teks panggung pada “The Margin of Our Land” memang belum berhasil mempresentasikan ketiga aspek itu, terutama aspek transformabilitas. Aspek ini jika diberi penilaian, belum tergarap maksimal oleh lima kreator, terutama sisi membangun peristiwa di atas panggung. Kesulitan mengetransformasikan realitas sosial menjadi prestasi teaterikal, besar kemungkinan belum maksimal masuk ke objek yang diriset, termasuk pemain dan pendukung lainnya.

Keir Elam membatasi adanya semacam hukum transformasi dalam representasi pertunjukan yang tergantung pada unsur-unsur tanda yang dapat dipertukarkan, pergantian timbal-balik, dari kode atau sistem tanda yang melibatkan proses transkodifikasi antara unsur subjek aktif (aktor) dan unsur objek pasif (benda) di atas panggung.

Maka dengan demikian, “The Margin of Our Land”, yang dikesankan sebagai episode pertama, untuk episode kedua dan ketiga tidak bisa tidak harus mempertimbangkan aspek yang ketiga ini. ***

 

Paco - Paco

Perawat Rumah Sakit Tambang di Sawahlunto Mogok

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

“Dari Sawah Loento dikabarkan, baroe2 ini diroemah sakit tambang arang batoe di Ombilin ter

Remaja

Alpa

Penulis : R. Winarta

Alpa
Di antara kepulan asap
Aku mencoba lesap
hilang dan tengg

Kampus

Negara Goyah, Penerimaan Pajak Tidak Sesuai Target

Penulis : Rafika Surya Bono - Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Andalas

“Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian dan pajak,” begitu kata salah se

Cagak Utama

Apalah Arti Sebuah Nama

Penulis : Riki Fernando - Penulis mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Aktif menulis puisi dan cerpen untuk media massa lokal, seperti Padang Ekspres, Haluan, dan Singgalang.

“Apalah arti sebuah nama,” kata Juliet Capulet ketika cintanya pada Romeo Montague te

Iko Uwais: Pangling Lihat Anak

Penulis : Aktor dan pesilat Iko Uwais, 33, sering jauh dari keluarga. Kepadatan jadwal kerja yang menjadi alas
Kampus

Memaknai Buku di Era Teknologi Digital

Penulis : Rizka Desri Yusfita - Mahasiswi Sastra Indonesia Unand

Penentuan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional merupakan ide Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong

Remaja

Pencerah Di Kelasku

Penulis : Bella Mila Santika

Ada yang bisa dikenang
dan selalu dikenang
Bagai lilin-lilin kecil benderang
in