CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Menuju_Timur
Puisi

Menuju Timur

Penulis :    

Oleh Muhaimin Nurrizqy

Menuju Timur

Sudah kubangun kapal dari kayu hutan Bassein
susah lapuk dihantam badai dan ombak gadang
payah retak ditikam karang laut dangkal.

Macam orang Afrika tak bakal terantuk di deknya
haluannya menjulang serupa moncong naga tua
tiang utama sekuat tiga ratus orang berbadan kekar.

Sudah kubangun kapal yang bakal membawaku ke sana
ke arah timur jauh aku menuju
mencari pohon dengan akar menembus tanah bumi
yang buahnya bisa jadi penangkal demam tinggi dan batuk basah tak henti-henti
juga jimat bagi resep dapur mudah basi.

Sudah kusiapkan layar dengan lapir paling kuat
dengan tambang paling ketat
agar segala angin mampu kujinakan
termasuk murka dari hantu-hantu laut dalam.

Padang, 2017


Di Perjalanan Menuju Rumah

Masa depan adalah kafe-kafe yang memutarkan lagu
tentang cinta menangis di hari hujan,
aroma parfum dari diskon akhir tahun,
sepatu kets dipesan online.

Jalanan serupa ular meliuk-liuk di pagar
klakson-klakson sebelum lampu merah berubah hijau
lampu jalan hidup-mati tiap sebentar
atau lampu sen ibu-ibu pulang dari pasar.

Masa depan adalah perempuan dengan wajah terbakar
menjulurkan lidah untuk mematahkan huruf l, n, r, d, dan t
sehingga merasalah ia seperti bayi baru pandai bicara
digemas-gemaskan orang yang melihatnya.

Laki-laki bersolek
mengenakan pakaian yang menyembulkan puntingnya
lalu bercermin tiap kali orang melihat, dan berkata,
“Betapa hidup begitu menggairahkan!”

Tak ada blues. Tak ada wine.
Mabuk hanya menjadi dari pada tidak.

Maka hanya ada pilihan: meneguknya atau menyeruputnya.

Padang, 2017

 

Merayakan Ulang Tahun di Kafe

Kau memesan meja paling ujung
balon-balon dan pita warna-warni menggantung di atasnya.

Kemudian aku datang
membawa kebahagiaan yang hanya ada di masa lalu.

Lilin berbentuk angka seratus itu minta ditiup
tapi aku lupa cara menghirup oksigen.

Lalu balon-balon meletus
menerbangkan aku yang menjelma harap dalam doa-doamu.
 
Padang, 2017


Di Lobi Bioskop

Di lobi aku menunggu loket buka
dinding-dinding berumur seratus tahun
kursi-kursi patah kaki
tukang parkir dengan topi bergambar kuda terbang.

Jam tayang pukul 14.00, sekarang pukul 13.00
sedangkan loket buka pukul 13.30.

Orang-orang datang berpasangan
menanti sambil memikirkan siasat bercumbu
di antara kursi dan gelap pandang.
mereka saling menatap,
seolah-olah semua telah terucap dengan kedipan mata:
aroma pandan
miliaran bakteri di sofa bikin pantat kurapan
suara desah entah dari mana
 juga tisu basah berserak di tepi tangga.

Tinggal satu jam lagi
lalu kita akan bertemu dalam pandang dan suara
menyatu dalam gelap dan cahaya

Ada kau di putaran seluloid itu
menjelma gambar, menjadi adegan
 
Padang, 2017
Senja tidak Ada Lagi
-Seno Gumira Ajidarma

Tidak lagi kulihat senja magenta
sebab senja sudah dipotong-potong
­kamera-kamera yang menyala
lalu disimpan di saku celana.

Tidak lagi kulihat senja oren agak merah
sebab orang berlomba-lomba mengirim senja
kepada pacarnya.

Tidak lagi kulihat senja merah lebih ke ping-pingan
sebab senja hanya cerita yang telah dilupakan.

Padang, 2017


Ketika Angin Berhembus

Orang-orang pun ikut berhembus
menuju hembusan lain.

Padang, 2017

 

Penyair yang Tertidur
dengan Dahi Mengernyit

Malam mendekap sampai sesak
seorang Penyair duduk di hadapan puisi
yang menolak disebut puisi

Mereka berdebat:
tentang betis berulangkali naik
tentang pinggang tiap sebantar ngilu
tentang rusuk selalu terbenam
tentang ubun hangus terpanggang

Malam semakin sempit
aroma buah dada beradu buah-buah
menyusup dari apartemen sebelah
salak dari anjing kerdil
menggema di pintu rumah

Penyair itu masih bersitegang dengan puisi
yang masih menolak dirinya disebut puisi
di sebelah mereka buku sajak-sajak menjelang tidur Wendoko
sudah memburam

Dalam dimensi lain
sebuah mimpi telah dipersiapkan
pada waktu yang tepat nanti,
sebentuk mimpi yang terbuat dari rendang,
Gulai Ikan Padang, Dendeng Batokok Kerinci,
Gulai Tambunsu, Sampadeh, Pangek Masin,
Ikan Bilih, dan Jariang Lado Hijau itu,
akan ditembakkan tepat di jantung itu penyair
sehingga lelaplah ia dalam dengkur yang terputus-putus

Mahali, 2017

 

Muhaimin Nurrizqy lahir dan besar di Padang. Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Bergiat di Relair Cinema, LPK, dan Komunitas Cermin.

 

Puisi

Nenek Melilit Sabuk Saje

Penulis : Mohamad Baihaqi Alkawy

nenek genggam ujung sabuk 
bersama lafal basmallah
bagi neneq kaji sang penguasa

Remaja

Fisika Hari Ini

Penulis : Sandra Prima Ngesti

Pagi ini aku terburu-buru masuk kelas. Karena dari gerbang sekolah guru Fisika ku tampak ber

Cerpen

Kunang-kunang pun Bermigrasi ke Ibukota

Penulis : Niken Hergaristi

Barangkali kunang-kunang melakukan perjalanan bersama-sama menuju kota metro politan. Aku membaya

Hiburan

Shireen Sungkar: Berburu Gelar Magister

Penulis : JPNN

Belakangan ini wajah Shireen Sungkar nyaris tak terlihat didepan kamera. Selain disibukkan dengan

Ibu

Penulis : Oleh: Rivandi Juliadi Malaikat adalah kata yang tepat Untuk sosok manusia tanpa sayap
Cagak Utama

Komunitas Seni Rupa Sakato Paling Eksis di Indonesia

Penulis : Muharyadi

Helat besar pameran seni rupa melalui bakaba 5 yang digelar Sakato Art

Paco - Paco

Pajak Kolonial yang Mencekik (1932)

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

“Di Taroesan orang jang beloem meloenasi padjagnja, dibawa kekantor poelisi dan diperiksa b