CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Menyimak_Sisi_Lain_Wiji_Thukul_dengan_”Kelambatan”
Cerpen

Menyimak Sisi Lain Wiji Thukul dengan Kelambatan

Penulis :    

(Makalah Paska Layar Terkembang: Istirahatlah Kata-Kata)
Oleh: Adi Osman


Dalam program Layar Terkembang 20 Oktober lalu, memutarkan film Istirahatlah Kata-Kata (2016) sutradara Yosep Anggie Noen, saya berkesempatan menyampaikan analisa saya atas film tersebut. Di ruangan Flas, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang, Sumatra Barat, berkapasitas penonton 50 orang itu, film diputar melalui proyektor yang menembak ke dinding. Meskipun suara di ruangan tersebut agak menggema, untung saja audio film ini tidak terlalu masif, sehingga tidak banyak gema-gema yang mengaburkan suara selanjutnya.

Setelah 97 menit film itu diputar hingga kredit titel berakhir, pintu ruangan dibuka dan lampu dihidupkan sehingga nampak lah wajah penonton yang masih datar dan kaku. Tidak heran, karena itulah kekuatan media audio visual; mampu menculik penonton masuk dan merasuk ke dalam roh film. Kekuatan besar tersebut pun tertumpu pada model sinematografinya. Saya berasumsi, film ini dalam mendukung topik utama yang menyorot kondisi Wiji Thukul dalam pelariannya di Pontianak, menggunakan model sinematografi yang mendukung kondisi Wiji Thukul tersebut. Model sinematografi yang cenderung dikategorikan dalam jenis Slow Cinema.

Dari 138 bidikan yang menyusun 97 menit film ini, terdapat jenis bidikan yang mayoritas. Yaitu,  32 Medium Shot (MS, bingkaian dari kepala ke pinggang), 29 Full Shot (FS, bingkaian seluruh badan), 31 Long Shot (LS, bingkaian subjek dan sekitarnya dari jauh, kerap subjek terlihat kecil). Sedangkan untuk durasi per bidikannya, mayoritas adalah 34 kali durasi 11 sampai 20 detik, 21 kali 6 sampai 10 detik, dan 24 kali 1 sampai 7 menit. Dengan rata-rata pengambilan gambar still dan beberapa pan (bidikan kiri-kanan dan sebaliknya tanpa merubah posisi kamera). Bagi para kritikus dan teoritis seperti, Jonathan Ramney, Ira Jaffe, dan Nadin Mai, penggunaan estetika seperti ini disebut sebagai Slow Sinema.

Tetapi, apa yang dicapai oleh bidikan-bidikan jauh dari subjek, durasi lama, dan tenang (still) Slow Sinema dalam IKK?
IKK yang sempat tersedia di bioskop di pulau Jawa ini, memperlihatkan aktivitas Wiji Thukul ketika lari dari agen Orba ke Pontianak, hingga kembali ke Solo menemui istri dan anaknya. Dari beberapa spektakel bisa dilihat bagaimana Wiji ditekan oleh kondisi sekitar sehingga terganggu psikologinya. Seperti dihambat oleh tentara gila, tentara mencukur rambut, kabar aktivis tertangkap, dan seorang anak menangis karena takut gelap.
Selain tekanan yang timbul dari “luar” diri Wiji Thukul, tekanan internal yang dilihatkan dalam banyak bidikan adalah kesendiriannya dalam pelarian tersebut. Kesendirian dan kesunyian ini pun juga dilesapkan melalui bentuk sinematografi Slow ini.

Nadin Mai dalam makalahnya An Eastern Approach to Slow Cinema (2004) mendefinisikan Slow Sinema sebagai fenomena meningkatnya “kelambatan” (slowness) dan bingkaian minimalis. “Kelambatan” ini oleh Mai merujuk pada efek dari stillnya bidikan-bidikan kamera, pan kamera yang juga pelan, dan pergerakan subjek yang pelan di dalam bingkaian. Sedangkan bingkaian minimalis merujuk pada bingkaian-bingkaian subjek dengan latar sederhana. Dalam IKK pun terdapat banyak bidikan yang cukup minimalis, seperti pada bidikan Sipon di dapur, di rumah pertama yang disinggahi Wiji, Wiji di kamar Thomas, dll.
Dalam tesisnya The Aesthetic of Absence and Duration in the Post-Trauma Cinema of Lav Diaz (2015), Mai melanjutkan dalam menganalisa Slow sinemanya Lav Diaz Death In The Land of Encantos (2007). Kelambatan dan minimalis ini menciptakan imaji kekosongan (emptiness) oleh bidikan tersebut, kekosongan ini pun bisa berdiri untuk mewakili psikologi tokoh atas trauma yang dialaminya (Mai, 2015:189). Hal ini pun bisa diaplikasikan dalam IKK yang juga mempunyai kesamaan dalam bentuk bidikan, still, long-takes, long-shot, dan menyajikan kehidupan keseharian “waiting, walking, drinking coffee, more waiting” (Mai, 2015:13). Sehingga, bingkaian-bingkaian IKK ini pun menciptakan imaji “kekosongan” yang serta mewakili psikologi Wiji yang kesepian dan sunyi.

Selain minimalis di atas, Mai (dalam Slow Cinema, trauma, and therapy) berargumen bahwa faktanya Slow film cenderung menceritakan narasi yang minimalis, yaitu narasi kejadiaan sehari-hari pada kehidupan nyata tanpa melebih-lebihkan dan membuat penonton percaya hal itu masuk akal. Dengan cara pelan dan minimalis ini Slow sinema mengizinkan penonton  menikmati waktunya untuk merekam dan memahami segalanya (Mai, 2015). Dalam konteks IKK, hal serupa ditemukan misalnya ketika menikmati adegan intel meinterogasi keluarga Wiji sambil memakan Lemper, yang bagi Manshur Zikri Lemper dianggap sebagai pertanda bahasa sinema lokal, disamping bidikan yang tidak mendikte penonton dengan makna yang seolah telah ditetapkan oleh sutradara (Zikri, 2017).

Model seperti ini juga menjadi alternatif eskapis secara estetis, mengingat kondisi kehidupan dengan teknologi yang serba cepat, bising, dan memusingkan. Memberi penonton ruang yang lebih luas untuk mengalami atau menganalisa bidikan-bidikan yang “objektif”.   Sedikit berbeda dengan film mainstream Amerika yang juga eskapis, tetapi eskapis secara cerita bukan estetika.

Bagi Ira Jaffe, dalam Slow Cinema: Resistance to Motion & Emotion perbedaan mendasar Slow sinema dengan film Hollywood adalah pada pergerakannya (motion), yang pertama lebih tenang dan kedua lebih cepat. Jaffe juga menambahkan kutipan Hence Richard Porton yang mengatakan ketenangan adalah karakter Slow sinema yang menahan emosi dan melakukan sedikit tindakan. Karena kamera dideskripsikan sebagai yang mempunyai sifat manusia, yaitu terbatas. Dalam konteks IKK sendiri, keterbatas penonton ataupun lesapan dari tokoh diwakili oleh ketenangan (stillness) bidikan-bidikan ini.
Bukan hanya sebagai eskapis, tetapi menjadi sebuh pernyataan etis pula jika kita melihat kontruksi citra masa lalu dihadirkan ole Yosep dalam IKK. Seperti film Lav Diaz yang dianalisa Nadin Mai, banyak berurusan dengan sejarah kelam negara berupa kolonialisme, dan kediktatoran, Lav tidak menghadirkan kekejaman sejarah secara jelas, visual, demi meminimalisir potensi untuk mentraumasasi kembali penonton. Begitu juga dengan Orba dalam IKK yang tidak terlihat mengganasnya secara literal. Berharap penonton tidak kembali merasakan “terror” (trauma) Orba.

Selaras dengan Koepnick (2014) yang mengatakan slowness dalam seni visual adalah cara kuat untuk mengingat dan mengolah residu traumatis dan menghidupkan kembali sejarah menyakitkan yang terkesan membeku (Koepnick, 2014:46), supaya bisa memperluas ruang hari ini untuk mengalami hari ini sebagai penyampaian kekompleksitasan atas melawan ingatan dan antisipasi atas kisah-untuk-diingat dan kisah-yang-belum-dikatakan (Koepnick, 2014:36). Untuk itu IKK diharapkan bisa membuat penonton yang ingin mengalami “kesendirian” Wiji Thukul untuk lari dari kenyataan demi menyadari kenyataan hari ini. Tanpa membuat trauma kembali penonton. Sambil menyimak dan memahami secara santai.

Penulis lahir di Padang. Mahasiswa Sastra Inggris FIB UA. Alumni Akademi Arkipel 2017 dan Partisipan Kelas Apresiasi Film Sewon Screening 2016. Beberapa filmnya pernah mendapatkan penghargaan di tingkat nasional.

 

Carito Niniek Reno

Randang Masakan Mande Awak nan Mandunia

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Niek Reno sadang mancaritoan bahaso di nagari awak Minangkabau ko mampunyoi banyak ragam makanan

Remaja

Di Sebuah Desa di Perbukitan Kecil di Sore Hari

Penulis : Ratih Sophia L.

Teriakan seorang perempuan meronta-ronta terdengar jelas. Ia memaki dengan gamblang. Jelas

Langkan

Meninjau Pola Asuh Bersama Menurut Kekerabatan Matrilineal Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Sistem kekerabatan matrilineal Minangkabau memiliki modal sosial dengan sistem dalam menguatkan k

Khasanah

Naskah-Naskah Koleksi Surau Parak Pisang

Penulis : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Unand

Kali pertama saya—yang tergabung dalam Kelompok Kajian Poetika Fakultas Sastra Universitas

Cagak Utama

Sertifikasi Sastrawan, Perlukah?

Penulis : Joni Syahputra - Balai Bahasa Sumatra Barat

Belum lama ini  kita dihebohkan dengan wacana sertifikasi khatib untuk salat Jumat. Wacana i

Konsultasi

Posisi Rahim Mempengaruhi Kehamilan?

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum, dok. Saya Devi. Saya dapat email dokter dari internet. Kebetulan saya i

Hiburan

Ayushita: Termotivasi karena Peran

Penulis : JPNN

Perjalanan asmara Ayu Shita tak semulus karirnya. Sampai saat ini, penyanyi dan artis kelahiran J