CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Mencari_Pembeli_Buku_Puisi
Puisi

Mencari Pembeli Buku Puisi

Penulis : Muhammad Husein Heikal   

Barangkali sebagian dari kita sepakat jika saya berpendapat bahwa sangat langka kini sebuah buku puisi mengalami cetak berulang kali, baik itu buku puisi karya penyair baru menetas maupun penyair tingkat atas. Singkatnya, saya mengasumsikan begini: jika buku puisi tersebut berhasil melakukan cetakan kedua, buku puisi tersebut pasti cukup laris. Lantas setelah cetakan kedua, akankah terus mengalir cetakan ketiga, dan seterusnya?

Saya kira peristiwa cetak ulang seperti itu sangat langka bagi sebuah buku puisi. Apabila itu terjadi, bisalah dianggap sebagai mukjizat atau setidaknya anugerah yang penuh berkah. Setidaknya, marilah menelisik toko-toko buku di kota masing-masing. Buku puisi Sapardi Djoko Damono mungkin masih bisa bertengger dirak-rak yang tak terlalu terbelakang. Diapit beberapa buku puisi karya penyair yang telah “punya nama”. Sementara itu, novel-novel yang tak asing setia mengisi rak best-seller. Didampingi beberapa buku lainnya dengan label penerbit mayor.

Masih dapat kita ingat, ketika beberapa waktu lalu, film Ada Apa Dengan Cinta(AADC) 2 diliris. Kala itu buku puisi karya M. Aan Mansyur Tidak Ada New York Hari Inisontak laris. Ini merupakan anugrah bagi Aan, selaku penyair yang puisinya dibacakan oleh seorang pemain dalam film tersebut. Maka, secara otomatis dan alami nama Aan melonjak. Buku puisi yang terbit sebelumnya Melihat Api Bekerjapun turut laris dipasaran.

Perjuangan seorang penyair menjual buku puisi karyanya memang sungguh suatu perjuangan yang berat. Padahal, beberapa penyair tersebut menerbitkan karyanya itu dengan biaya sendiri melalui penerbit indie. Tidak terlalu mahal memang. Namun, tentu saja setiap penjual ingin mendapatkan keuntungan, setidakny, sedikit apapun itu.

Pasar buku puisi dapat dikatakan adalah pasar yang suram. Pasar yang sama-sekali tidak ideal dalam skema ekonomi. Di satu sisi, para penyair terus-menerus menerbitkan buku-buku puisi untuk dijual. Namun disisi lain, kita bertanya: siapa yang (akan) membeli buku-buku puisi tersebut? Jawabnya bisa jadi sederhana, yakni teman-teman sesama penyair.

Harga buku puisi yang dicetak indie oleh para penyair itu terbilang relatif murah. Berkisar antara Rp 30—50 ribu. Saya kira, itu suatu harga yang pantas. Sesuai dengan ukuran sebuah buku dengan ketebalan kurang-lebih 100 halaman.

Untuk saat ini, dunia puisi menjadi teramat menyedihkan –dengan lirih saya menuliskan ini. Dunia puisi adalah dunia yang sama-sekali tidak menjanjikan, baik secara finansial dan material. Kita saksikan saat ini puisi bertebaran entah di mana-mana. Mulai dari yang berkesempatan tampil di media massa, sampai yang bergentayangan di ruang-ruang maya.

Siapakah pembacanya? Tak usahlah dulu kita bertanya, siapa yang mengkritisi atau sekadar mengapresiasinya. Akan tetapi, mari kita kedepankan pertanyaan, siapakah pembaca puisi-puisi itu?

Tak lain dan tak bukan adalah sesama penyair, atau parahnya lagi cuma sang penyair itu sendiri. Barangkali ada juga beberapa orang yang kebetulan saat membaca koran, melihat ada halaman yang memuat puisi. Bisa jadi orang ini cukup tertarik melihat judul atau nama penyairnya, lantas ia sempatkan membacanya. Namun, saya kira kebanyakan orang-orang bakal langsung membalik koran ke halaman berikutnya.

Iseng-iseng kala saya membuka internet, saya melihat berita “Buku Puisi 1.550 MDPL Naik Cetak Kedua”. Wah! Awalnya saya cukup terkejut. Namun, saya teringat pada seorang teman yang bercerita bahwa sekarang ini untuk mencetak buku puisi sangat mudah. Cukup dengan modal beberapa ratus ribu, kita sudah bisa mendapatkan beberapa eksemplar hasil cetak buku tersebut. Lantas dari situ saya simpulkan pertanyaannya: berapa eksemplarkah buku puisi 1.550 MDPL itu dicetak pada cetakan perdana?

Akhir-akhir ini memang dapat kita saksikan, antologi buku puisi semakin menjadi tren yang kian sering. Tentu kita menyambut gembira hal ini. Memaraknya antologi buku puisi memang menambah kesemarakan jagat perpuisian Indonesia. Di beberapa acara yang mengusung tajuk kesusastraan atau khusus perpuisian ada semacam kesepakatan, yakni menerbitkan sebagai kenang-kenangan karya para peserta yang diundang dalam acara tersebut.

Antologi buku puisi adalah wujud kenang-kenangan tersebut. Di dalamnya termuat karya-karya  yang telah diseleksi oleh kurator yang dianggap berkompeten. Di beberapa acara yang saya ikuti, seperti Temu Penyair Nusantara tahun 2016 diterbitkan antologi Pasie Karam. Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2017 di Riau baru-baru ini menerbitkan dua antologi sekaligus, Menderas Sampai Siakdan Mufakat Air. Bahkan tahun lalu, Yayasan Hari Puisi Indonesia (bekerja sama dengan Yayasan Sagang) berhasil mencatatkan rekor antologi buku puisi tertebal di dunia yang berjudul Matahari Cinta Samudra Kata. Buku ini setebal 2016 halaman yang diisi oleh 216 penyair Indonesia dalam rangkaian perayaan HPI 2016.

Selain itu, setiap tahun gelaran Ubud Writers and Readers Festival(UWRF) juga sama,yaitu menerbitkan buku dwibahasa karya penulis emergingyang terpilih. Selain itu pula, di tahun ini Makassar International Writers Festival(MIWF) yang digelar sejak tahun 2011, telah bekerja sama dengan sebuah penerbit mayor untuk menerbitkan antologi Dari Timur.

Dari kesemarakan perhelatan-perhelatan ini, buku antologi biasanya dibagikan secara gratis kepada para kontributor yang berkesempatan datang. Para penyair yang berdatangan ini tentu juga berniat memasarkan buku puisinya yang telah terbit. Beberapa teman sesama penyair ada juga yang membeli. Namun, yang saya lihat lebih sering terjadi diperhelatan seperti ini, adalah ajang “saling tukar buku puisi”.

Meski saat ini masih bisa kita anggapkan, toh pasti ada orang-orang yang secara diam-diam membaca puisi. Namun, belum pernah saya menyaksikan dalam suatu suasana publik (dalam kereta api atau bus, misalnya) ada seseorang yang membaca buku puisi, meski pembaca diam-diam ini terkadang ingin juga membeli buku puisi karya penyair yang ia favoritkan. Namun, atas dasar skala prioritas kebutuhan untuk hidup, buku puisi jauh dari kategori urgen, sekalipun dalam urgensi aspek hiburan.

Maka, jadilah buku-buku puisi teronggok di lemari-lemari karya penyairnya sendiri. Beberapa penyair ada juga yang optimistis terus memasarkannya. Akan tetapi, lama-kelamaan, buku-buku puisi yang lebih baru bermunculan dan otomatis menyingkirkan buku-buku puisi lama. Jadilah buku puisi karya sendiri menumpuk, dengan susunan puitis itu, menjadi semacam monumen bagi kepenyairannya. (*)


Muhammad Husein Heikal, penulis muda kelahiran Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di FEB-USU. Menulis esai, cerpen dan puisi untuk The Jakarta Post, Kompas, Horison, Utusan Malaysia, Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat, dll.

 

Ceria

Ketika Melisa Buka Puasa

Penulis :

Oleh Asra Hayati Syahrul Nova

Melisa sangat kesal. Karena saat buka puasa d

Khasanah

Prasasti Kuburajo

Penulis : Harry Iskandar Wijaya

Kabupaten Tanah Datar merupakan daerah yang paling kaya dengan tinggalan prasasti dari

Remaja

Nelayan Tua

Penulis : Mutia Pramadani

Dari sudut pantai terlihat dirimu berdiri di depan lautan
yang bergoyak menghempas
Bu

Puisi

Di manakah?

Penulis : Ilham Yusardi

Di manakah?

—lalu adakah sebuah tempat atau arah untuk menyebut ka

Langkan

Temani Anak Bermain, Minimal 2 Jam Sehari

Penulis : Debi Virnando - Padang Ekspres

Orangtua harus menemani anak-anaknya bermain minimal 2 jam sehari. Konsep bermain anak yang baik,

Hiburan

Maudy Koesnaedi: Kembali ke Teater

Penulis : JPNN

Maudy Koesnaedi ternyata merindukan panggung teater. Menurutnya panggung teater merupakan tempat

Hiburan

Eva Celia: Tak Malu Gunakan Ojek

Penulis : JPNN

Kehidupan selebriti identik dengan hal yang berbau glamor. Tak banyak di antara mereka kerap meng