CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sumbar_Film_Festival_Butuh_Rekreasi
Cerpen

Sumbar Film Festival Butuh Rekreasi

Penulis : Adi Osman   

Seperti Usmar Ismail yang juga sering studi terhadap sistem perfilman di luar negeri dan membandingkannya dengan negara sendiri. Sungguh berbahagia saya dapat menjumpai sebuah ruang apresiasi terhadap film di Sumatera Barat; Sumbar Film Festival 2017, yang digelar pada 28 September 2017 di Hotel Bumi Minang, Padang. Kagum sekaligus terasa aneh jika mengingat dan membandingkan dengan festival film lain yang pernah saya kunjungi di pulau seberang sana, yang lebih terasa ‘festival’nya.

Pada awal kedatangan, saya terkagum ketika masuk ke dalam ruangan penyelenggaraan acara ini yang ditata serupa acara baralek. Saya berpikir, penyelenggara selain mengadopsi makna “baralek” ke festival dalam artian perayaan, juga mengadaptasi elemen-elemen lain dalam acara nikahan di Minangkabau ini. Meja bundar dan kursi yang diselimuti kain merah disusun bertebaran di sepanjang ballroom hotel, makan prasmanan, pertunjukan musik dan tari tradisi. Selain itu juga ada fashion show!

Bahkan hadirin pun terbawa suasana baralek (nikahan) yang biasanya sangat memekak. Seperti ketika Ketua Dinas Pariwisata memberikan kata sambutan nan panjang, para hadirin juga heboh di meja bundar mereka masing-masing. Ada yang menghebohkan tidak dapat makanan karna habis, atau minuman; kopi dan teh belum juga tersedia. Saya jadi saikua capang saikua capeh, memilih antara mendengarkan kata sambutan atau menegur sesopan mungkin hadirin yang heboh. Dan akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan.

Sumbar Film Festival 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Sumatera Barat ini menerima sebanyak 24 film dokumenter dan animasi dengan tema “Pariwisata Halal.” Kemudian semua film yang diproduksi sineas Sumbar tersebut masuk dalam nominasi kategori tingkat Umum/Mahasiswa, Pelajar, dan Animasi.

Film nominasi tersebut diputar sekian detik saja sedangkan film yang difasilitasi Dinas Pariwisata yang berjudul Kampung Ramadhan produksi Studio Merah diputar sampai kredit titel muncul sedikit lalu dihentikan, sehingga saya tidak dapat melihat siapa nama sutradaranya. Padahal saya ingin sekali mengetahui, mencari, dan berbicara dengan sutradara film tersebut untuk menyampaikan impresi saya akan film yang mengangkat wisata halal di Sumatera Barat itu. Mengenai banyaknya kerancuan logika montase, seperti pada adegan yang ingin menunjukan sholat magrib di Mesjid Ganting Padang.

Susunan bidikannya begini; cakrawala sore berwarna magenta menandakan akan masuk waktu magrib, dua tokoh perempuan di dalam mobil sekembali dari Indropuro dengan latar cahaya langit yang over (mengindikasikan siang hari), kemudian sambung ke bidikan seorang yang sedang azan di Masjid Ganting, disertakan voice over mengenai mesjid tertua di Sumbar. Begitu juga pada scene yang memperlihatkan sholat magrib di pantai pariaman. Serta bidikan close up yang memotong bagian bawah atau atas wajah subjek, suara yang distorsi, pengulangan gambar yang klise, dan masih banyak lagi. Saya harap bisa berdiskusi dengan beliau.  

Perihal keputusan penyelenggara untuk hanya memutarkan cuplikan film-film nominasi ini, cukup aneh. Tiba-tiba saja ada pemenangnya. Memang terdapat juri yang mengkurasi dan mempertimbangkan film mana yang pantas menerima penghargaan. Tetapi apakah para penonton yang notabene para sineas tidak patut mengetahui secara penuh bagaimana bentuk film-film lain secara estetika dan narasinya? Apalagi untuk yang bukan sineas, tentu disini mereka berkesempatan menonton film-film yang diproduksi kawan sekampungnya.

Barangkali film hanya dipandang sebatas hiburan dan komersil saja, sehingga hanya patut diapresiasi dengan hadiah piagam dan uang. Bukan apresiasi berupa ditonton, direspon oleh penonton, dan terjadilah dialektika antara penonton dengan si pengkarya, sehingga melekat dalam benak penonton yang terkagum-kagum dengan karya tersebut. Inilah karya yang patut nantinya diapresiasi dengan piagam dan uang.

Seperti festival film lain yang mengapresiasi sebuah film dengan layak, salah satunya Arkipel Documentary And Experimental Film Festival pada Agustus 2017 lalu. Memutarkan seluruh film yang telah dikurasi, sehingga terjadi dialog nantinya setelah pemutaran, antara kurator yang mempertanggungjawabkan hasil kurasinya dengan penonton, guna memahami lebih dalam dan memproduksi pengetahuan sinema. Atau festival yang diselenggarakan oleh mahasiswa, Sewon Screening akhir 2016 lalu, serupa dengan apa yang dilakukan oleh Arkipel dalam segi pemutaran film yang telah melalui tahap kurasi.

Bahkan sudah banyak festival film maupun festival seni media akhir-akhir ini mengadakan program simposium dalam rangkaian festival. Guna menjadi ruang pembicaraan mengenai perkembangan seni media dan film mutakhir, dan hampir menyangkut segala aspek dalam ekosistem film. Alangkah bahagianya terdapat ruang seperti itu di Sumatera Barat, sehingga kita dapat menyimak dan memahami sejauh mana sinema telah menjajah (expanded cinema), hingga menimbulkan kesadaran dalam bermedia, khususnya film.

Rasanya mungkin saja, mengingat Sumbar mempunyai cendikiawan-cendikiawan sinema serta kebudayaannya, seperti di Padang Panjang maupun di Padang. Bisa jadi terdapat kemungkinan jajahan sinema hari ini sangat efektif untuk membangun pariwisata Sumatera Barat. Bukan hanya sekadar-kadarnya saja tanpa mengetahui potensi sinema hari ini.

Sedikit lagi mengenai Sumbar Film Festival, yang menyampaikan pemenang secara meriah oleh duta-duta Sumbar tanpa pertanggungjawaban. Tentu pertanggungjawaban ini kewajiban dari para juri. Pertanggungjawaban yang menyampaikan kenapa film tersebut mendapat penghargaan? Atas landasan apa? Bagaimana pertimbangannya? Pastinya para hadirin berharap mendengar hal tersebut guna menjadi bekal menghadapi atau memproduksi karya selanjutnya.

Mengingat kekuatannya, bagi saya, film tidak sebatas hiburan. Begitu juga dengan festival film, bukan hanya sekedar perayaan atau baralek semata. Tetapi adalah ruang dimana film-film yang diputar patut diapresiasi dan dibicarakan sebagai produk kultural. Ruang yang membebaskan pendatang untuk membangun jaringan dan saling berbagi dengan seniman, kritikus, hingga sinemagoes-nya. Ruang pembacaan terhadap kondisi ekosistem film hari ini. Ruang yang membicarakan kemungkinan-kemungkinan dalam ber-sinema untuk kemudian harinya.

Itulah yang saya dapat dari kunjungan atau studi saya terhadap festival-festival lain. Saya juga berkeinginan jika mendapat kesempatan untuk menyelenggarakan sebuah festival film, diharapkan bisa menerapkan hasil studi saya, dan bisa menjadi rujukan atau pertimbangan terhadap model festival film kita di sini. Jika dibandingkan dengan institusi pemerintahaan yang mempunyai kuasa lebih daripada saya, seharusnya bisa melakukan rekreasi (recreation, menata ulang ulang) setalah studi pada festival diluar dan mengadaptasi apa yang sesuai dengan kondisi kita di Sumatera Barat, yang sinemanya sangat ironis ini.(*)

Penulis lahir di Padang. Sedang menyelesaikan studinya di Sastra Inggris FIB UA. Alumni Akademi Arkipel 2017 dan Partisipan Kelas Apresiasi Film Sewon Screening 2016. Beberapa filmnya pernah mendapatkan penghargaan di tingkat nasional.

 

Sastra dan Literasi dan Kurator

Penulis : Untuk memperkuat argumen saya dalam sebuah tulisan, saya bertandang ke beberapa toko buku. Bukan, bu
Paco - Paco

‘Sarekat Hitam’: Pengaruh Moscow di Minangkabau (1928)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

“Moscow Ter Westkust. Een geheimen vergadering. Uit Padang werd aan de Loc.[omotief] gesein

Kampus

Komunitas Literasi Wadahi Aspirasi Mahasiswa

Penulis : Nite

Komunitas Literasi Unand (MiLITAND) resmi dibuka, di Perpustakaan Unand lantai 3, Kamis, (1/9). K

Cerpen

Depati Kincung

Penulis :

Oleh: Adam Yudhistira

Petir berdenyar membelah langit, ketika sesosok lelaki tua bertongk

Hiburan

Krisis Kini Menerpa YG Entertainment

Penulis : JPNN

Satu per Satu Artis Andalan Mereka Keluar

YG Entertainment merupakan sat

Paco - Paco

Jika kembali ke Hindia, Tan Malaka akan diasingkan (1925)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

Doeloe telah kami rentjanakan dalam P.P. [Pandji Poestaka] bahwa toean Tan Malaka memadjoekan rek

Khasanah

Naskah-Naskah Tarekat Samaniyah

Penulis : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Unand

Artikel Apria Putra (2010) yang berjudul “Tarekat Samaniyah di Minangkabau: Seput