CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sersan_Pindo
Puisi

Sersan Pindo

Penulis : Ramoun Apta   

Sersan Pindo si Polisi Asmara dari negeri kami.
Pangkatnya Sersan Dua, golongannya Bintara,
Dengan menahkodai sampan kenangan yang panjang,
Ke laut ujung pandang berlayar ia mencari kekasihnya 
Yang melarikan diri dari kejaran hari depan
Seusai meletuskan peluru kecemburuan pertama.
Angin ribut menepikan pencariannya di pantai Padang.
Patung buku tinju dari zaman bergolak menyambutnya 
Dengan ujung kuku yang berjatuhan dari tampuknya.

Udara berkarat campur debu membawanya 
Singgah di kedai minuman aneka saji 
Dengan suasana ruang seperti garis-garis 
Cahaya kehilangan di relung matanya.

Meski gadis berbaju kurung di sebelahnya
Tercium bagai aroma perkawinan buah sirsak dan naga
Sedegup pun jantungnya tiada mendenyutkan 
Sajak-sajak ketertarikan padanya.

Ia pesan kelapa hijau paling hampa
Dengan warna tampuk separuh merah muda
Sebagaimana daging kebekuan di tumbung dadanya.

Ia larutkan gula kesedihannya ke udara
Mencampurkannya bersama asap tembakau Jamaika
Dan menghirupnya kembali secara seksama
Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Sebagaimana orang Palembang yang menghirup 
Cuka pempek kapal selam di pagi hari 
Dalam uap panggang biji kopi.

Ia rasakan kegetiran yang mencandu setelahnya.

Di ujung sepasang burung laut menumpahkan 
Sejuta kemesraan beraroma garam di atas meja.

Seorang Tukang Kabar
Dengan sungut gelap menjulai ke pinggang 
Datang menghampirinya.

“Aku sampaikan kabar dari sekalian alam
Kabar yang sangat ingin kau dengar.
Kabar yang, tentu saja, diperoleh dari burung-burung camar
Yang bermain udara pirang di langit bercadar
Asap pabrik dan hutan terbakar.
Boleh percaya boleh juga tidak
Tapi sebaiknya disimak saja.”

Tukang Kabar itu menggesek senar biolanya
Dan memainkan irama kesedihan yang panjang.

Pagi itu tampuk kacang hijau baru basah
Seorang perempuan berpipi bengkuang siap dikubak
Yang pada ketiaknya aromamu tercium keras
Muncul dalam kilatan cahaya.

Bersama seorang lelaki yang di keningnya sejuta kelinci 
Berlompatan mengukur bayang-bayang saban 
Arah matanya tertuju kepada 
Simpang tiga di bawah lipatan pahanya,
Lelaki yang entah dari mana datangnya,
Ia kembang tikar di atas pecahan daun-daun kelapa.

Percakapan mereka seperti tawar-menawar harga di pasar pagi.
Angka dan peribahasa mereka nikahkan.
Bahasa-bahasa penuh bunga bermekaran.
Asmara terkembang pada sebaris 
Kalimat majemuk bertingkat.

Di atas batu berukir sejarah kota mereka kemudian melenggang,
Kekayuan yang bersusun bagai deretan bangku taman
Ditingkahi seperti jemari-jemari nakal komposer 
Yang menari di atas tuts-tuts payudara seorang pelayan,
Kata-kata buram kuku-kuku lumut hitam 
Ditelisik sebagaimana ahli filologi mencari jejak 
Sepasang kekasih yang hilang di dalam naskah.

Satu rol film panjang berakhir di bibir air.
Film terkembang bagai asmara pohon pinang 
Yang bergesek dengan batang kelapa.
Bayang-bayang sendiri di atas lipan ombak ditertawakan 
Layaknya beruk menggunakan telepon genggam.
Putik-putik sari yang diam-diam 
Bersemi di bilik mata masing-masing
Dengan kalimat bertanda seru
Yang menyerukan agar peluk segera dipulunkan.

Tawa menjadi seasin paruh elang bersua ikan.
Di atas pasir mereka menggali,
Nama-nama ditulis dalam aksara kapital,
Panah-panah cinta ditembakkan,
Garam baru mekar ditabur bagai menebar 
Batu-batu putih di atas papan hitam
Hingga membenam puisi itu ke pasir terdalam.
Hasrat gembur semisal bunga rampai di atas kuburan tua.

Setangkai bunga baru tumbuh di atas timbunan itu.
Bunga itu lekas menebar aroma bagai
Surga dari tingkat pertama.
Ambai-ambai dengan hasrat kuda
Membangun tenda di atasnya.

Sepasang kumbang melesat ke pohon kelapa
Dan kemudian berpindah 
Ke pokok-pokok pohon yang lain
Sebagaimana tungkai-tungkai kaki kesepian.

Mata kaki mereka saling berciuman.
Gelak-tawa bertemu di antara 
Pekik burung-burung camar
Bagai menghidupkan kembali hasrat
Bertumbuh bagi tempurung 
Kelapa tua yang berlubang.

Magrib tandang,
Mereka pulang
Menuju arah matahari terbenam.
Pinggul mereka saling beradu.
Seperti persetubuhan ubur-ubur
Yang direstui laut pasang.
Getarnya menggema ke relung dada.
Seekor bintang jatuh menghapus
Bayang-bayang bekas punggung mereka.

Hingga kabar ini diciptakan,
Tak ada jejak baru mengguris kenangan. 
Selain lesung-lesung batu, ceruk-ceruk bekas perahu nelayan,
Dan botol-botol sisa minuman alkohol 
Yang perlahan-lahan disusupi air berpasir.

“Dan menurut kerbau-kerbau yang berlepasan dari kandangnya,”
Lanjut Tukang Kabar itu sembari menajamkan gesekan biola,
“Sebanyak-banyaknya buah pinang sebatang
Lebih banyak pula orang yang datang ke pantai ini
Berharap agar cinta mereka menumbuhkan api 
Di antara gesekan batu basah.”

Tapi setiap kali mereka berpuisi 
Setiap itu pula gelembung dari perut laut 
Mengubah maknanya menjadi sendawa sapi menjelang 
Pisau tajam menyelesaikan tugasnya.

Seharusnya ada papan peringatan,
‘Cinta sejati dilarang menumbuhkan bunga di sini!’,
Di antara tenda yang bersusun 
Dan tempurung kelapa tengadah ke arah langit.
Namun setiapkali tiang baru berdiri 
Setiap itu pula ia rebah sendiri
Dengan alasan yang bahkan 
Tak dimengerti oleh angin lalu.

“Dan pada akhirnya 
Gulungan awan di udara pun batal mengkristal jadi intan. 
Dan pohon-pohon yang terpanggang di kaki gunung 
Gagal berdaun kembali 
Menggelembungkan buah 
Bagi sekawanan simpai yang berkejaran 
Dengan ekor yang hangus.”
Tukang kabar itu memelankan senandung biola.
Angin kemudian berembus lain
Seperti hendak menyambut kedatangan 
Seorang Tan tualang dari negeri seberang.

“Namun jika cinta itu datang 
Dari perselingkuhan
Persoalan menjadi lain.”
Kata Tukang Kabar itu 
Melapisi ceritanya.
“Ia akan menumbuhkan akar panjang
Seperti tumbuhan rambat di sekeliling pagar,
Berpasak pada tiangnya
Bertudung pada atapnya.
Sebagaimana kisah cinta terlarang 
Dalam satu rumah panggung 
Di kampung halaman yang direstui 
Oleh penghulu bermata 
Kue bolu.”

Tukang Kabar itu mengakhiri kabarnya.
Seekor beruk kemudian menarik tali lehernya
Dan membawanya ke bawah batang kelapa.

Sersan Pindo mengalihkan pandangannya ke arah
Perahu-perahu yang bersandar di dermaga.
Sepasang umang-umang bercinta di antaranya.
Sepasang nelayan menguntai pantun dan seloka.
Langit menetaskan cacing-cacing air dari cangkangnya.

Orang-orang dengan cinta perselingkuhan 
Berhamburan ke bawah pohon bercabang.
Lengan mereka huruf ‘U’ kapital
Saat bibir merah jambu 
Saling membuat angka delapan.

Pindo jadi batu di meja pelanggan.

Sepasang merpati yang singgah
Mengencingi kepalanya.

Pindo jadi batu di meja pelanggan.

Cacing-cacing air di atas tempurung tanah
Membentuk ular sawah.
Seekor katak melompatinya.

Pindo jadi batu di meja pelanggan. 

Ia bayangkan dirinya menjadi
Tokoh utama pada sebuah 
Legenda cinta gagal
Berjalan ke tengah laut
Membelah dada
Mengambil tali jantung
Dan menambatkannya pada 
Pohon bakau yang rebah dalam gulungan ombak,
Pada guguran kelapa tembuk yang terhempas di batu,
Pada puing-puing kapal lapuk yang berserakan.

Ia tarik nafas panjang, dan kemudian berkata:

“Barangkali, kelak, pada suatu takdir yang telah ditentukan
Akan tiba seekor umang-umang yang takut terseret air pasang 
Singgah di sini, membaca buhul rindu ini,
Dan kemudian menyampaikannya 
Kepada kekasih hati yang kali ini, barangkali,
Tengah mengukur bayang-bayang di antara tiang panjang.
Tiang yang menopang kain-kain keinginan 
Dan harapan yang basah
Yang dulu kami ucapkan 
Di bawah langit terang.”

“Atau barangkali kelak ia sendiri.
Yang akan sampai ke sini.
Dibawa arus balik.
Dan membaca setiap riwayat kesedihan.
Yang terguris bersama getah kerinduan.”

“Kini biarlah ia mengguyuri dahaganya sendiri.
Dengan air garam di laut pencarian.”

“Mungkin ia hanya mencoba selancar 
Di atas gulungan ombak keberbagaikemungkinan.
Sebab ingin mendepa seberapa panjang 
Kumparan benang gelombang laut.
Yang kelak merentang di hamparan samudera
Masa depan kami berdua.”

Ia raih bilah rotan yang terjulur di sela atap tenda
Dan kemudian mengikatnya ke jari manis 
Dengan simpul paling pramuka.

Ia rapikan resleting celananya
Yang terlepas oleh jemari nakal angin laut.

Ia kenang kembali zaman romantik 
Yang beraroma limau manis dari kebun paling subur
Yang dahan-dahannya ditopang kayu paling kokoh
Ketika kekasih hati masih bersarang di ranting pelukannya.

Ia kenang kembali kalimat cinta yang pernah ia lekatkan 
Di pucuk-pucuknya yang berdaun muda. 

Ia kenang lagi 
Alu rayuan mesranya 
Yang pernah hampir patah tiga 
Saat seorang Perwira Asmara
Berdada batang kelapa 
Dengan cinta balsem Geliga
Menembakkan meriam putus asa
Di sela-sela pahanya.

 

 

 

CERMIN BERBAGI

Tak ada kujang
Sumpit pun jadi
Untuk menikam
Bakso besar sakit hati.

Jika perut yang lapar setahun
Sirna oleh nasi sepiring
Apalah arti kerja emas kalau
Sekali belanja uang pun habis.

Bersihkanlah noda
Pada setiap porselen kemurkaan
Sampai terdaging segala cerling
Agar setiap yang terusir
Oleh rasa takut dan khawatir
Sedia lagi kembali.

Kembalikan bening kepada kaca
Agar kencing yang dilepaskan 
Tidak membentur batu 
Dan kembali ke celana.

Jangan kembalikan 
Rupa buruk kepada buaya
Sebab padanya kita belajar 
Mengenal si umpat sangka.

Kejarlah burung di langit biru
Bila bulu-bulu rindu 
Sedia menumbuhkan bunga 
Di telapak kaki.

Jika berani sediakan ruang
Untuk setiap yang datang
Maka hatimu mestilah sebesar gunung
Sebab ujian dirimu bermuara di sana:

Apakah kau seorang petapa sunyi.
Atau hanya seorang pesilat lidah
Yang suka menanam tebu 
Di tepi bibir.

*Ramoun Apta, alumnus Jurusan Sastra Indonesia FIB Unand. Menulis cerpen, puisi dan artikel di berbagai media massa, seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Sinar Harapan, Haluan, Singgalang dan sebagainya. 

 

Cagak Utama

Gezel Gizli

Penulis : Kesederhanaan merupakan hal yang ditonjolkan dalam koleksi De Irma kali ini. Tak terlalu banyak warn
Carito Niniek Reno

Akhlak, Etika Jo Estetika Padusi Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Nampaknyo carito tantangan akhlak, moral jo etika sarato estetika ko manarik dek cucu-cucu Niek R

Puisi

Teruslah Menyanyi

Penulis : Sondri BS

I love you baby, teruslah menyanyi tentang obituari bulan dan matahari 
Tentang hari y

Hiburan

Agnez Mo: Luncurkan Aplikasi Mobile Bersama EscapeX

Penulis : JPNN

Penyanyi multitalenta, Agnes Monica atau yang akrab disapa dengan Agnez Mo tetap berkibar. Agnes

Anggun

Pilihan Busana untuk Anak

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Memperkenalkan fashion pada anak sejak dini tak ada salahnya. Seperti yang dilakukan Djuragan Mod

Langkan

Adat dan Budaya Minangkabau di Tengah Pergulatan Budaya Global (2)

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Budaya global yang dikatakan cenderung bebas nilai itu yang pada hakikatnya adalah penyamarataan

Cerpen

Membunuh Masa Depan

Penulis : Ken Hanggara

Seorang wanita dari masa lalu, mengetuk pintu rumah saya malam-malam. Ia ingin tahu di mana ia bi