CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sastra_dan_Kerangka_Berpikir_dalam_Penelitian
Cagak Utama

Sastra dan Kerangka Berpikir dalam Penelitian

Penulis : Rio Rinaldi - Dosen FKIP Universitas Bung Hatta   

Ibarat kacang goreng, objek (wisata) sastra semakin laris manis dikunjungi, gurih, dan digemari oleh para mahasiswa yang sedang memenuhi syarat memeroleh gelar sarjana, baik pendidikan maupun humaniora. Objek sastra, seperti prosa, puisi, dan drama, telah mendapat tempat tersendiri dengan kajian dan pendekatannya masing-masing. Mahasiswa diberi kebebasan menjelajahi persoalan-persoalan yang dimuat dalam karya sastra.

Kita patut berbangga. Artinya, sastra semakin akrab dan digemari oleh para pencari ilmu (bukan pencuri ilmu). Dan artinya lagi, sastra di dalam pendidikan tinggi, tetap tidak termarginalkan. Dengan tersedianya berbagai bahan bacaan sastra di perpustakaan, di toko-toko buku, atau koleksi pribadi, buku-buku sastra menjadi alasan komersil yang patut untuk dapat ditelusuri permasalahannya, baik dari segi bentuk maupun isi.

Bila ada yang menyatakan bahwa permasalahan dalam teks sastra itu menarik dan penting untuk diteliti, sejauh mana menarik dan pentingnya karya sastra itu untuk diteliti? Untuk kepentingan apa? Dan  bagaimana tahapan kerjanya? Apa mata pisau yang dipakai untuk membedah karya sastra itu secara ilmiah? Lalu bagaimana implementasi dari hasil penelitian yang dilakukan untuk bidang sastra?

Sekambut pertanyaan di atas penting untuk dicermati dan dijawab oleh para mahasiswa yang sedang merancang, atau “galau” dalam menyikapi judul skripsinya. 

Untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas, dibutuhkan modal dasar tentang teori, pendekatan, dan tahapan analisis yang disertai dengan pemahaman tentang isi dan bentuk teks-teks sastra yang dibaca. 

Sebenarnya, penting juga bagi mahasiswa dibekali pengetahuan dan kerangka berpikir, kiat-kiat, strategi, pemahaman konsep masalah agar ketika merancang sebuah proposal penelitian tidak “sasek aia”. Bisa membedakan mana yang data, mana yang sumber data. Mana yang teori mana yang pendekatan. Mana yang jenis mana yang metode. 

Mahasiswa tidak cukup dengan diberikan tugas-tugas tanpa “kompas”. Dan ini berbahaya, apabila dosen yang mengajarkan mata kuliah metodologi penelitian sastra (yang pada dasarnya untuk menyiapkan mahasiswa mampu merancang proposal penelitian dengan matang), jarang dan bahkan tidak memiliki track record atau semacam road map penelitian. Atau cenderung menganjurkan mahasiswa meneliti persoalan yang itu ke itu saja. Alhasil, penelitian mahasiswa jadi kurang menggigit.

Jika pada praktiknya, setelah dijelaskan kulit-kulitnya saja, lantas mahasiswa dipaksa secara intens mencari sendiri masalah, alat pemecahan masalah, model atau pendekatan penganalisisan dengan dalih desakan kurikulum, apa ini tidak keliru? 

Adalah suatu dosa yang sangat besar jika di dalam seminar proposal mahasiswa kita menyidang mahasiswa habis-habisan dan cuci tangan atas dosa mahasiswa ketika merancang proposal. 

Pembimbing idealnya sebagai mediator, memfasilitasi mahasiswa bimbingannya untuk mampu berpikir kritis dengan memberi jalan keluar atau alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan diteliti. Sebab, campur tangan pembimbing boleh dikata cukup besar dalam penyelesaian skripsi, tesis, atau disertasi. 

Mereka—para mahasiswa itu—betul diajak untuk mandiri, tetapi jangan lupa bahwa mereka wajib dibekali dengan kerangka berpikir yang matang. Pembimbing memunyai tanggung jawab yang penuh atas apa yang akan dan telah dilakukan mahasiswa bimbingannya. Oleh sebab itu, sebelum mahasiswa datang menemui pembimbing untuk mendiskusikan soal judul dan kerangka berpikir, mereka wajib memiliki modal pemahaman atas buku yang dibaca. 

Ketika membaca sebuah karya sastra secara simultan, peneliti dapat menimbang-nimbang, lalu menetapkan permasalahan utama yang dipilih sebagai latar belakang masalah dalam proposal. Misalnya, pasca membaca sebuah kumpulan cerpen, peneliti dapat mengidentifikasi masalah-masalah. Masalah-masalah tersebut kemudian dicarikan teori dan pendekatannya sebagai alat mata membedah atas masalah yang ditentukan. 

Khusus untuk penelitian sastra, peneliti dapat menggunakan metode intuitif, hermeneutika, kualitatif, analisis isi, formal, dialektika, deskriptif analisis dengan menggunakan pendekatan dan problematika, seperti pendekatan biografis, sosiologis, psikologis, antropologis, historis, mitopoik, ekspresif, mimesis, pragmatik, dan objektif. Dengan memilih metode dan pendekatan yang tepat, tahapan penganalisisan dapat susun secara konkret.

Dalam metode eklektik, untuk menyelesaikan permasalahan dalam satu objek, dapat menggunakan beberapa teori, pendekatan, dan metode. Atau sebaliknya, dengan menggunakan satu teori, metode, dan pendekatan, beberapa objek sastra dapat dibedah secara ilmiah. Barangkali untuk menyibak persoalan dari segi era atau rentang waktu dan orang-orang yang terlibat di masanya. 

Penelitian sastra dari segi bentuk, dapat dikaitkan dengan teori multidisiplin, seperti ilmu komunikasi, ilmu jurnalistik, ilmu forensik, dan lain sebagainya. Dari segi isi, melalui unsur intrinsik, secara sederhana peneliti dapat memfokuskan kepada aspek sosiologis, psikologis, atau antropologis.

Objek penelitian dan ruang lingkup kajiannya tentu dipilih sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh. Tidak bisa pula, mahasiswa yang jenjang pendidikannya hanya strata satu, dipaksa-paksakan meneliti tentang objek dan kajian dengan skala makro. Jika memang, mahasiswa yang bersangkutan menyatakan dirinya mampu dan siap bertanggung jawab atas pemilihan objek dan kajian pada skala makro, pembimbing wajib memberi dukungan. Jika tidak, “jangan nekat dong!”

Sikap dan tanggung jawab seorang peneliti idealnya adalah untuk kebermanfaatan ilmu. Jika sebuah penelitian hanya sebatas produk yang tingkat kebermanfaatannya kurang terpakai, maka penelitian itu ibarat kata, minyak habis sambal tak enak.

Hasil penelitian atas pertimbangan yang matang itu diharapkan dapat bermanfaat untuk kepentingan apresiasi, memberikan motivasi yang bermanfaat untuk peneliti selanjutnya, atau untuk memperkaya khasanah pengetahuan tentang masalah yang akan diteliti. 

Sebagai penutup dari uraian ini, oleh sebab itu, dalam mengkaji objek sastra, diperlukan kerangka berpikir yang jelas, baik dari segi penentuan masalah-masalah, alat untuk pemecahan masalah, pendekatan dan metode, dan termasuk struktur formal tulisan ilmiah itu sendiri. 

Kita tentu mengharapkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia menjadi semakin meningkat dengan dibuktikan munculnya pemikiran-pemikiran yang kritis dari para lulusan. Para lulusan tersebut juga diharapkan memiliki bekal bidang ilmu yang dapat digunakannya untuk kelangsungan pendidikan selanjutnya. 

Pada ruang implementasi, khususnya dalam hal pendidikan, hasil pemikiran analitis dan kritis itu diharapkan dapat diterapkan pada pendidikan di sekolah. Dengan memanfaatkan hasil penelitian itu sebagai alat bantu bagi guru atau calon guru yang mengajarkan sastra. (*)

Paco - Paco

Lajau, Pembunuh Kepala Nagari Tilatang ditangkap (1927)

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

Beberapa hari jbl. di Sitjintjin, Soematera Barat, t. Ass. Demang Kota Tengah telah menangkap Lad

Hiburan

Gong Yoo: Awali Fan Meeting

Penulis : JPNN

Superstar Korea Gong Yoo, 37, mengadakan fan meeting live your dream, hear your dream, you are my

Cerpen

Rencana Kematian

Penulis : Zurnila Emhar Ch

Rat masih tak percaya bagaimana semua ini bisa terjadi. Tadi pagi Rudi masih sempat bercanda deng

Konsultasi

Infeksi Rubella pada Kehamilan

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum Dokter Dovy. Saya mau konsultasi kalau adik saya itu periksa IGg rubella posi

Khasanah

Medan Nan Bapaneh

Penulis : Nurmatias - Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat

Suku bangsa lain melihat dinamika berpikir berdemokrasi masyarakat Minangkabau sangat mengkedepan

Puisi

Di Antara Guyuran Hujan

Penulis : Subaidi Pratama

Di antara malam yang padam dan sepi 
Hujan menunaikan rindunya kepada bumi 

Laga-Laga

Balai Adat

Penulis :

Sasudah Sumbayang Isya, di barando rumah Gadang Niek Reno, rami urang ado Datuak Simarajo jo Datu