CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Realita_dan_Kata_dalam_Realisme_Yayan_
Cagak Utama

Realita dan Kata dalam Realisme Yayan

Penulis : Yusrizal KW - Wartawan Padang Ekspres   

Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, sejak tanggal 10 – 20 Mei, menggelar pameran lukis karya Syahrial (Yayan). Menikmati karya-karya Yayan, kita melihat orisinalitas— kebaruan gagasan dan konsep pikiran, setidaknya untuk ranah seni rupa Sumatera Barat. Karena itu, karyanya menarik dinikmati, sembari membaca “penanda makna” dari sapuan dan goresan kuasnya. Seluruh karya yang dipamerkan, lukisan akrilik di atas kanvas. 

Bagai lepas dari dinding pajangannya, kanvas itu “telentang” di lantai. Tekstur coklat keputihan, berbingkai hitam, pada lantai berkotak putih, ada enam helai daun kering bagai tergeletak dalam aturan komposisi empat satu satu. Menatap pada dinding, hanya tinggal garis segi empat yang kosong. Demikian deskripsi sederhana lukisan berjudul “Proses”, karya Yayan, pelukis kelahiran 28 Agustus 1973, yang telah puluhan kali ikut pameran bersama di berbagai kota. Bisa dinarasikan, ujung proses adalah bagai daun lepas dari tangkai. 

Pada beberapa lukisan Yayan, kita bagai menemukan dinding tembok yang seakan menua, menguning kecoklatan dan sapuan putih tipis. Lalu secara alami, ada kesan debu yang mengubah warna karena kelembaban, serta beberapa memunculkan warna baru karena terkelupas oleh waktu. Kita membayangkan, seseorang entah siapa, menulis pikiran, ide, curhatan kecil, serta serupa gambar-gambar kanak-kanak yang lugu namun menarik dipandang.  

Pada lukisan berjudul Artefak (#1-#5), akrilik di atas kanvas, Yayan bagai menawarkan sebuah jejak, peninggalan dari sebuah proses berpikir dan berimajinasi yang telah menjelma warna, garis dan kesan serta dinding (kanvas) menjadi medianya. Teks yang tertera pada kanvas Yayan, tidak lagi hadir sebagai kalimat yang harus dipahami perkata atau sebagai frasa, melainkan ia telah menjelma “bentuk” visual dua dimensi, yang tidak lagi harus memisah diri sebagai ungkapan. Inilah proses berpikir, yang secara estetika, ia menjadi utuh dilihat dan direnung, bukan untuk dibaca dan kemudian diartikan secara linguitik dalam wujud teks. 

Teks yang telah tertuang, sesungguhnya, bukan menjadikan dirinya sebagai latar depan atau pesan yang berdiri sendiri, melainkan ia bisa dipahami sebagai lukisan itu sendiri, selaku realita itu sendiri. Di sinilah, Yayan ingin (barangkali) menegaskan, wujud lukisannya, adalah realita dari konsep kekinian realismenya. 
Pada lukisan Artefak #2 dan #3, ada kesinambungan ide dan pikiran, bagai vas dan bunga yang bertumbuh, dari satu fase ke fase berikutnya. Kemudian, realita dimana kehidupan mengalami proses pematangan, penuaan dari fase sebelumnya. Pada Artefak #2, warna cenderung lebih muda—”belia”, kemudian menoleh ke Artefak #3, kita bisa diseret oleh proses berimajinasi, dimana telah terjadi pematangan warna (coklat kemerahan), dengan vas dan bunga pada komposisi yang beda. Namun, Artefak #1, #2, #3, #4 dan #5, adalah jejak alam raya yang berproses ke alam diri, sehingga menjelma ruang-ruang baru, yang menjadikan penikmat sebagai pewaris dalam dimensi ambiguitas yang berbeban “mempertanyakan” realitas yang telah terekspresikan. 

Kebaruan dan Karaketer Yayan

Lukisan-lukisan Yayan, dalam pencermatan saya, menawarkan kebaruan serta memunculkan karakter individunya sebagai pelukis. Mengamati karya-karyanya tidak bisa sambil lalu, karena kita dibawa terdiam sejenak, mengamati, mencoba menafsir, lalu bagai (bisa saja) menemukan kesimpulan-kesimpulan tersendiri, sesuai pengalaman yang didapat dalam menikmati.

Lukisan Yayan ibarat puisi kamar, memiliki deskripsi puitik, yang lahir akibat kontemplatif. Akibat sesuatu yang dipikirkannya. Lukisan Yayan, sesungguhnya tidak berangkat dari kata, melainkan dari perenungannya terhadap gagasan dan pencarian kreatifnya, yang menjadikan kata sebagai ruang baru penampakan estetikanya. Jika kita mendapatkan kalimat, kata atau frasa tertentu dalam lukisan Yayan, disadari atau tidak, guna memenuhi kebutuhan serta konsep pikirannya terhadap karaketer yang dibutuhkan pada sebagian besar lukisannya.

Termasuk pada lukisan “Tulisan”, ada kelompok-kelompok kata bagai bait puisi, tapi kehadirannya lebih kepada corak dua dimensi yang mengejar pesan estetiknya. Jika kata harus diberi kekuatan, maka ia semacam lompatan pikiran, hasrat dan emosi yang singgah dari alam bawah sadarnya pada kanvas karena dorongan pikiran dan kontemplasinya.

Pada lukisan berjudul “Untitled”, Yayan menghadirkan bunga dan rama-rama, serta tulisan dalam huruf capital: Berpikir rumit tentang sesuatu yang sederhana, bergerak membentuk terbentuk. Setidaknya, Yayan menyiratkan, seliweran kata dan konsep atau pikiran, kadang bagai rama-rama hingga di kupu-kupu, ia menjadi rumit, ketika memahami kata-kata latin dari rama-rama itu.

Yayan menulis Polyurethane  atau Trodes hypolitus. Pencantuman nama latin, setidaknya, sebuah kegamblangan, yang oleh kalangan ramai, itu tidak penting namun bagi masyarakat ilmiah, yang sederhana bagi mereka mungkin rumit bagi kita. 

Hampir sebagian besar dari 25 lukisan Yayan yang dipamerkan, menerakan tulisan atau teks. Teks-teks yang dihadirkan, mengesankan tidak menuntut penikmat untuk fasih dan mudah membacanya, kecuali yang sengaja berniat mencoba membaca. Dari sinilah, kita sekali lagi bisa menegaskan, tulisan pada kanvas Yayan, merupakan sebagai elemen penting lukisan itu sendiri. Walau pada lukisan “Pandangan”, sosok perempuan, namun pada kanvasnya tetap ada kata.

Kehadiran lukisan Yayan, bagi saya lebih terasa penguatan pada realitas “imajiner”, yang wujudnya menjadi realitas, yang ismenya menjadi realis lantaran pernah diungkapkan Yayan sendiri, asal berwujud, bisa dilihat, itu adalah raelisme. 

Sebagai pelukis, Yayan telah melalui proses kreatif, yang menurut pengamataan saya, sejalan dalam proses berpikir dan membaca fenomena artistik, sebagai unsur yang perlu dipertimbangkanya dalam karya seni. Dari karya-karyanya sepanjang 2013 sampai 2017 ini, sebenarnya Yayan telah menemukan karakter karyanya, stylenya sendiri, yang tentu kelak akan ditentukan oleh keteguhan hatinya untuk memperkuat pilihannya sebagai pelukis dengan corak dan gagasan yang selalu orisinil dan merayakan proses sebagai pencarian bentuk-bentuk baru dengan karakter yang telah kuat dipahaminya.

Bagi saya, sebagai penikmat, kehadiran karya-karya Yayan adalah kehadiran dengan kecerdasan kreatif, cenderung intelk— seniman yang berpikir dan mempertaruhkan keyakinan artistiknya. Yayan dalam usia yang relatif muda, yang baru pertama kalinya pameran tunggal,  sesungguhnya, telah menemukan bentuk dirinya, yang tentu waktu akan menguji. Ia punya kebaruan, punya sesuatu yang ditawarkan untuk dinikmati dan dipahami. Selamat, Yan! (*)

Hiburan

Terus Berkarya Gaungkan Dangdut

Penulis : JPNN

Eksistensi Penyanyi Senior Hamdan ATT di Musik Dangdut 

Usia tak me

Remaja

Rona Tenggelam

Penulis : Nawangsih

Di tepian pulau 
Semburat jingga merona dipipimu 
Mengguratkan warna senja<

Bersaing Menjadi Ranking Satu

Penulis : HUT ke-30, STKIP YDB Lubukalung Gelar Cerdas Cermat Himpunan Mahasiswa Fisika (H
Kampus

Apa Kabar Pertanian Negaraku?

Penulis : Ananda Muhammad Hidayah Harahap -Mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Unand

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada

Kampus

WR II: FEBI, Resmi Pindah ke Sungai Bangek

Penulis : Suara Kampus

Komisariat Mahasiswa (Kosma) dan Organisasi Internal Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) men

Yusril, Sutradara Teater Komunitas Hitam Putih

Penulis : Mencipta ruang Imajiner Lewat Tubuh dan Benda Minangkabau memiliki dua pamenan.
Ceria

Tinggal Kenangan

Penulis : Mubarakatin Aulya

Pohon-pohon adalah prasasti sebagai penanda buatku dalam berjalan. Mereka akan menjadi pengingat