CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Membangun_Coreo_dramaturgy
Cagak Utama

Membangun Coreo-dramaturgy

Penulis : Sahrul N - Dosen Teater ISI Padangpanjang   

Catatan Festival Langgam Tari II

Koreo-dramaturgi merupakan komposisi dramatik atau seni dramatik yang berkaitan dengan unsur-unsur teknikal yang digunakan dalam pertunjukan tari. Unsur bunyi dan unsur lakuan atau gerak merupakan dua unsur penting di antara unsur-unsur penting lainnya dalam tari. Dan inilah yang membedakan antara teknik tari zaman dulu dengan teknik tari masa sekarang. Koreo-dramaturgi bertujuan untuk menjelaskan bagaimana seorang koreografer menggunakan kerangka bentuk tertentu serta prosedur tertentu dalam mencipta peristiwa tari.

Fenomena koreo-dramaturgi terlihat secara utuh pada Festival Langgam Tari II yang dilaksanakan oleh program studi seni tari ISI Padangpanjang selama tiga hari yaitu pada tanggal 27, 28, dan 29 April 2017. Festival ini diikuti oleh 18 koreografer yang datang dari Australia, Singapura, Thailand, Malaysia, Jambi, Pekanbaru, Bandung, Solo, Aceh, Jakarta, Bengkulu, Yogyakarta, dan Padangpanjang.

Hari pertama tampil enam koreografer yaitu pertama Denny Maiyosta dari Jambi dengan judul karya “Halom Helang”. Tampil kedua adalah “Bisik Pada Bayang” karya Syafmanefi Alamanda dari Pekanbaru. Ketiga adalah “Podo” karya Wahida Wahyuni dari Padangpanjang. Keempat adalah “Resonance” karya Dinie Dasuki Bin Osman dari Singapura. Kelima adalah “Uleh Mauleh” karya Nurmalena dari Padangpanjang. Keenam adalah “Melawan Arus: Senandung Tubuh” karya Alfiyanto dari Bandung.

Hari kedua tampil enam koreografer yaitu pertama Astri Kusuma Wardani dan Wirastuti Susilaningtyas dari Solo dengan judul karya “Rendezvous”. Tampil kedua adalah “Sia Awak Ko. Sira Titiyang Niki” karya A.A. Istri Agung  Citrawati dari Padangpanjang. Ketiga adalah “Relationship” karya Rosdi Bin Abdullah dari Malaysia. Keempat adalah “Aku Galau” karya Eva Riyanti dari Padangpanjang. Kelima adalah “Min-Min” karya Fitra Ariansyah dari Aceh. Keenam adalah “Me” karya Ronnarong Khampha dari Thailand.

Hari ketiga tampil enam koreografer yaitu pertama Jefriandi Usman dari Jakarta dengan judul karya “Tanah Merah”. Tampil kedua adalah “Geometri” karya Venny Rosalina dari Bengkulu. Ketiga adalah “SOS” karya Ayu Permata Sari dari Yogyakarta. Keempat adalah “Nadi Sastra” karya Syahril Alek dari Padangpanjang. Kelima adalah “Hyper Movement” karya Hadi Yusra dari Padangpanjang. Keenam adalah “Black Words In Golden Speech” karya Joshua Lowe dari Australia.

Secara umum semua karya mementingkan peristiwa dramatik dibanding mencipta gerak. Gerak akan mengikuti peristiwa, bukan sebaliknya peristiwa terbangun akibat gerak yang diciptakan. Peristiwa dibangun berdasarkan pandangan dunia koreografer. Pandangan dunia itu sendiri terikat pada masa tertentu dan ruang tertentu. Keterlambatannya kepada masa tertentu menyebabkan ia mesti bersifat sejarah. Pandangan dunia yang ditampilkan koreografer lewat tokoh problematik (problematic hero) merupakan suatu struktur global yang bermakna. Pandangan dunia ini bukan semata-mata fakta empiris yang bersifat langsung, tetapi merupakan suatu gagasan, aspirasi dan perasaan yang dapat mempersatukan suatu kelompok sosial masyarakat. 

Seperti yang ditampilkan oleh Astri Kusuma Wardani dan Wirastuti Susilaningtyas dari Solo dengan judul karya “Rendezvous”. Karya ini mengangkat peristiwa lika liku persahabatan dua anak manusia. Keduanya bercerita secara verbal, menyanyi, dan membangun dramaturgi tertentu, sehingga gerak menjadi minimalis. Begitu juga pada karya “Podo” oleh Wahida Wahyuni dari Padangpanjang yang membangun dramaturgi atas pemaknaan kata “podo” oleh orang Jawa dan orang Minang. Ternyata kedua budaya tersebut memiliki pemahaman yang sama terhadap kata tersebut. Dua penari berdialog dan bergerak sesuai dengan kebudayaan mereka sendiri. 

Pertunjukan dalam ivent ini cenderung meramu beberapa unsur seni dan unsur budaya, hal ini menekankan pada unsur kolaboratif atau menggabungkan beberapa unsur budaya dalam satu pertunjukan. Hal ini kelihatannya tepat dalam usaha mencapai pertukaran dialektis antar budaya. Istilah ini tidak dengan sendirinya menunjukan bahwa ia mengandung dua budaya yang saling bersentuhan di dalamnya, tetapi ia dapat memiliki lebih dua budaya yang berbeda yang berinteraksi, merangsang dan menjawab pertanyaan seseorang terhadap orang lain. Persentuhan antar budaya, tidak saja melampaui batas-batas geografis, tetapi juga bersilangan dalam dimensi waktu yaitu bergerak ke masa lampau dan masa depan. Pemadatan ruang dan waktu dalam proses silang budaya, membongkar kelaziman transmisi nilai yang biasanya diwariskan generasi ke generasi.

Membangun coreo-dramaturgy akan memunculkan kreativitas dramatik. Pertunjukan tari memiliki unsur kreativitas dalam pengertiannya mencakup antara lain sifat-sifat keaslian (originality), kelancaran (fluency), kelenturan atau fleksibilitas (flexibility), dan elaborasi (elaboration), yaitu kemampuan untuk melengkapi detil atau bagian-bagian pada suatu konsep atau pengertian. Koreografer harus kreatif agar memiliki kelenturan atau fleksibilitas dalam menanggapi banyak perubahan yang terjadi pada realitas kehidupan. Kreativitas dalam tari juga memiliki fungsi sebagai merumuskan kembali (redefinition) dan sensitivitas (sensitivity), karena kedua istilah ini merupakan dua kualitas yang sangat berharga. Pada hakekatnya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru dalam bentuk gagasan atau karya, atau bahkan tanggapan, secara lancar, luwes dan lengkap serta rinci.

Dari segi bentuk karya, sebagian besar karya tari yang ditampilkan berbentuk modern dan kontemporer. Modern dan kontemporer yang mengambil idiom tradisi. Namun ada juga yang menghadirkan karya yang terlepas dari tradisinya. Struktur karya umumnya dimulai dengan menceritakan peristiwa dari realitas sosial yang ada di sekeliling pencipta tari. Ada yang mengangkat adat dan budaya, ada yang mengangkat peristiwa sehari-hari atau peristiwa kekinian. Karya tari berjalan secara linier, dimulai dengan menciptakan masalah dan diakhiri dengan sebuah kesimpulan. Hal inilah yang menjadi alat komunikasi bagi pertunjukan tari dalam ivent ini.

Komunikasi dalam tari berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan pikiran dan perasaan manusia tersebut dengan apa yang mereka saksikan. Masyarakat penonton tari atau pencinta tari sebelum datang menonton pementasan tari akan membawa horison harapan terhadap apa yang akan ditonton. Pikiran dan perasaan telah membentuk frame tersendiri, sehingga ketika apa yang mereka tonton tidak sesuai dengan horison harapannya, maka akan timbul respon baik negatif maupun positif.

Hadirnya tari tradisi baru membuka peluang untuk merevisi definisi tari yang selama ini ada. Tidak untuk menyalahkan konsep yang telah ada hanya menambah dan memperbaharui. Perubahan dimensi waktu dan jarak bukan saja mempertinggi tingkat keseringan dalam perkunjungan tetapi lebih penting lagi mengecilkan rasa keasingan. Artinya perbedaan antara mana yang kita dan mana yang mereka makin mengabur. Dalam suasana seperti ini, ketika komunikasi telah berjalan lebih lancar bukanlah hal yang terlalu aneh, dan ini merupakan keberagaman. 

Padangpanjang 2017

*Sahrul N - Dosen Teater ISI Padangpanjang

Hiburan

Ratu Anandita: Yoga hingga Bersepeda

Penulis :

Ratu Anandita selama ini memang karib dengan dunia olahraga. Meski hanya dari balik layar

Hiburan

Headshot Tayang: Dibilang Film Terbrutal 2016

Penulis : JPNN

Sudah nonton Headshot yang tayang mulai kemarin? Jika iya, pasti tahu betapa film berdurasi

Prinsip Terwujudnya Hak Cipta

Penulis : Bapak/Ibu pengasuh rubrik Konsultasi Hukum yang saya hormati. Saya ingin menanyakan perihal Hak
Remaja

Suasana Hati

Penulis : Ahmad Zul Hilmi

Masih ingatkah kau kebakaran hebat dahulu
Saat membakar hebat seluruh perasaan
Ketika

Carito Minang Kini

Sangsako Onoris Kausa

Penulis : Ilham Yusardi

Tan Kereang, balakangan ko sibuk. Balega kaniak-kanin. Sibuk manamui tokoh-tokoh pentin

Kampus

UNP Targetkan Akreditasi Internasional

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Setelah resmi mengantongi akreditasi A, Universitas Negeri Padang (UNP) tengah merintis jalan unt

Remaja

Rona Tenggelam

Penulis : Nawangsih

Di tepian pulau 
Semburat jingga merona dipipimu 
Mengguratkan warna senja<