CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Nenek_Rohana
Ceria

Nenek Rohana

Penulis : Amika An   

Ibu guru Yumi menugaskan siswa-siswinya untuk bercerita. Bahan cerita adalah tentang pahlawan nasional, boleh pahlawan yang berasal dari daerah sendiri maupun berasal dari luar daerah. Tugas harus dikerjakan secara jujur. Bu Yumi selalu membiasakan siswa-siswinya untuk bersikap jujur dalam hal apapun.

Anak-anak diberi waktu selama satu minggu untuk menyelesaikannya. Tugas ini akan dikumpulkan minggu depan, pada jam pelajaran pertama. Suasana kelas yang nyaman dan hijau membuat siswa dan guru betah berada di kelas, sampai-sampai mereka lupa bahwa bel istirahat sudah berbunyi. Bu Yumi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah lewat lima menit. Segera Bu Yumi menutup pembelajaran dan kembali mengingatkan anak-anak tentang tugas untuk minggu depan. Lalu satu persatu muridnya menyalami Bu Yumi dan keluar kelas dengan teratur.

“Ibu, apa saya boleh bertanya kepada nenek tentang cerita pahlawan?” tanya Najwa. Ia murid paling cerewet di kelas dan suka bertanya.

“Tentu saja boleh,” jawab Bu Yumi dengan senyum lesung pipinya.

“Tapi kalau nenek tidak tahu, bagaimana bu?” tanyanya.

“Nenek pasti tahu, cucunya saja pintar begini,” sambung Bu Yumi seraya memegang pipi Najwa.

“Tapi kan nenek pelupa bu, mana mungkin nenek ingat,” sungutnya.

“Nenek bisa saja lupa dimana nenek menaruh kaca mata, tapi tidak untuk sejarah bangsanya, coba nanti Najwa tanya nenek, pasti nenek akan menceritakan semuanya.” Bu Yumi menatap mata Najwa yang bersih, meyakinkan. Najwa mengangguk. Ia membayangkan nenek yang setiap hari masih bisa merawat bunga-bunga di rumah. Neneknya masih sehat, masih kuat, ia yakin bisa menyelesaikan tugas yang diberikan Bu Yumi dengan baik, ada nenek yang akan membantunya.

***

Nenek baru saja menutup Al Quran dan meletakkannya di atas lemari. Najwa melipat mukenah dan mengikuti nenek dari belakang. Setelah melaksanakan shalat Isya, biasanya nenek punya waktu luang, nenek akan menonton televisi. Namun tadi sepulang sekolah, Najwa dan nenek sudah berjanji untuk bercerita tentang pahlawan, di ruang tengah.

“Nek, cerita ya?” Najwa memegangi tangan nenek, mengajak nenek duduk. Nenek mengangguk.

“Kita punya pahlawan perempuan yang hebat,” nenek membuka cerita.

“Siapa nek, namanya?” tanya Najwa. 

“Rohana Kudus,” Najwa mencatat nama tersebut di buku catatan. Nama itu sama dengan nama nenek

“Rohana adalah anak yang cerdas, ia belajar menulis dan membaca dari buku-buku yang dibawa ayahnya. Dulu tidak ada sekolah. Rohana belajar sendiri. Ia tekun sekali. Rohana pernah punya tetangga orang Belanda, dari tetangganya itu Rohana juga belajar menenun, merenda, merajut. Rohana kemudian mengajarkan teman-teman seusinya untuk melakukan hal yang sama. Teman-temannya juga suka belajar dengan Rohana, kecil-kecil sudah jadi guru,” sebut nenek sambil membetulkan kaca mata.

“Lalu nek?” Najwa penasaran.

“Sampai dewasa Rohana terus belajar. Sampai akhirnya ia bisa mendirikan sekolah,” ujar nenek.

“Wah, itu hebat sekali ya nek?” selidik Najwa.

“Iya. Sangat hebat bahkan. Nah, jika Rohana Kudus yang tidak sekolah saja bisa mendirikan sekolah, bagaimana dengan cucu nenek yang sudah kelas empat ini?” ucap nenek sambil  melirik Najwa yang sedang serius mendengar ceritanya. Najwa terlihat berpikir, bola matanya bergerak-gerak. 

“Kita harus banyak belajar dari perjuangan pahlawan. Najwa tidak boleh malas, harus rajin belajar,” sambung nenek.

Najwa telah menuliskan apa yang diceritakan nenek ke dalam buku catatannya. Tugasnya tentang cerita pahlawan telah selesai. Nenek melanjutkan ceritanya tentang sejarah lobang Jepang.

***

Satu per satu siswa bercerita di depan kelas. Ada yang malu-malu ada juga yang berani. Ibu Yumi memberikan semangat. Mereka bercerita tentang Cut Nyak Dien, RA Kartini, Bung Tomo dan pahlawan-pahlawan lain. Najwa pun tampil di depan kelas. Ceritanya yang diberi judul ‘Nenek Rohana’ berhasil diceritakannya dengan penuh percaya diri.  Teman-temannya mendengarkan dengan baik, begitu juga Ibu Yumi.

”Jika nenek Rohana yang tidak pernah sekolah bisa mendirikan sekolah, kita yang sudah sekolah tidak boleh malas untuk sekolah,” begitu kesimpulan Najwa membuat seisi kelas bertepuk tangan. Kemudian Bu Yumi membubuhkan nilai terbaik dan tanda tangannya pada lembaran tugas Najwa. (*)

Ceria

Sepatu

Penulis : Amika An

Aku masih mengantuk ketika tadi pagi ayah membangunkanku. Sebenarnya aku ingin tidur lebih lama,

Remaja

Lilitan Doa

Penulis : Inoval Agesly

Selamat malam kerutan malam
Aku disapa kusutan benang
Dihantam rindu yang berbalik ar

Cerpen

Nadi Waktu

Penulis :

Bungkuslah hari-harimu dengan cinta. Jinjitlah minggu-minggu dengan kasih. Lalu, jalanilah bulan-

Cerpen

Rencana Kematian

Penulis : Zurnila Emhar Ch

Rat masih tak percaya bagaimana semua ini bisa terjadi. Tadi pagi Rudi masih sempat bercanda deng

Remaja

Tersenyumlah Barang Seulas

Penulis : Rian Raditya

Tersenyumlah Barang Seulas

sebab dalam kemurunganmu
kutemu semacam

Kampus

Bangun Etos Kerja Sejak Dini

Penulis : Ilham R - Genta Andalas

Festival Kebudayaan Jepang (Bunkasai) XIII Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand yang di

Maesenas Seni Budaya Sumatera Barat?

Penulis : Apapun profesi kita, tentulah ada peneroka, teladan, model, dan sistem yang dinilai sebagai sebuah c