CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Sistem_Kemasyarakatan_dalam_Budaya_Minangkabau
Langkan

Sistem Kemasyarakatan dalam Budaya Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar   

Masyarakat Minangkabau dalam mengatur kehidupan individu dan kehidupan sosial masyarakatnya mempunyai dua sistem. Pertama disebut sistem kemasyarakatan dan kedua sistem kekerabatan.

Sistem kemasyarakatan adalah sistem, cara atau pola dipakai dan diterapkan dalam hubungan sosial antara sesama masyarakat Minangkabau. Sistem kemasyarakatan atau yang disebut sistem kelarasan mempunyai dua macam bentuk dan corak tersendiri. Pertama, sistem kemasyarakatan (sistem kelarasan) Koto Piliang dan yang kedua sistem kemasyarakatan (sistem kelarasan) Bodi Caniago. Perbedaan yang utama antara kedua sistem kelarasan tersebut adalah pada cara pengambilan keputusan dalam musyawarah.

Kelarasan Koto Piliang mempunyai sifat yang otokrasi-bajanjang naiak batanggo turun. Artinya, dalam tatanan sosial masing-masing punya tingkat-tingkat tertentu dan jelas. Ada hirarki, ada yang di atas dan ada di bawah. Terutama dalam sistem pengambilan keputusan dalam tatanan adatnya, kelarasan Koto Piliang dicirikan dengan aturan-aturannya sendiri seperti yang disebut di dalam adat; barajo tigo selo, babasa ampek balai, balanggam nan tujuah, bapangulu andiko, bamedan nan bapaneh.

Kelarasan ini juga mempunyai bentuk rumah gadang sendiri seperti dikenal dengan rumah gadang sitinjau lauik. Dalam pemilihan dan pengangkatan pimpinan kaum atau penghulu dikenal dengan sistem patah tumbuah. Menobatkan dan sekaligus mengumumkan penghulu pengganti dilakukan langsung di atas pekuburan penghulu yang meninggal yang baru saja dikuburkan. Disebut dengan malewakan gala di tanah nan tasirah. 

Sedangkan kelarasan Bodi Caniago mempunyai sifat demokrasi-duduak samo randah tagak samo tinggi. Artinya, kedudukan setiap ninik mamak atau penghulu berada dalam kedudukan yang sama. Dalam tatanan adatnya dicirikan dengan aturan-aturannya sendiri pula yang di dalam adat disebut; kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka pangulu, pangulu barajo ka mupakaik, nan bana badiri sandirinyo. Rumah gadangnya mempunyai bentuk tersendiri pula yang disebut rumah gadang gajah maharam.

Dalam pemilihan dan pengangkatan pimpinan kaum atau penghulu dikenal dengan sistem ilang baganti. Pimpinan dipilih dan dipergilirkan berdasar kesepakatan anggota kaum di dalam kaum atau pesukuan. Sedangkan pakaian penghulunya sama antara kedua kelarasan tersebut: warna celana dan baju hitam, destar bakarik juga berwarna hitam. Dibedakan hanya oleh pemasangan kain sesamping. Koto Piliang sesampiang di dalam/ di bawah baju, sedangkan Bodi Caniago kain sesamping di luar/di atas baju. Kedua-dua sistem kemasyarakatan tersebut sama-sama dijalankan oleh masyarakat Minangkabau.

Dalam sejarah ketatanegaraan di dunia dapat dikatakan bahwa apabila sistem otokratisnya kuat maka sistem demokrasinya lemah, begitu sebaliknya. Namun dalam masyarakat Minangkabau kedua sistem itu berjalan serentak, saling bahu membahu. Hal ini disebabkan karena mereka diikat oleh basis kekeluargaan yang sama yang disebut sistem matrilineal yang berpuncak dari garis ibu. (*)

Konsultasi

Insomnia dalam Kehamilan

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum dokter Dovy. Akhir-akhir ini saya susah tidur dan  saat ini saya se

Hiburan

Agnez Mo: Luncurkan Aplikasi Mobile Bersama EscapeX

Penulis : JPNN

Penyanyi multitalenta, Agnes Monica atau yang akrab disapa dengan Agnez Mo tetap berkibar. Agnes

Anggun

Berani Mainkan Warna

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Warna salah satu yang  ”dimainkan” dalam dunia fashion. Pilihan warna terang bak

Cagak Utama

Sinema Sumatera Barat Dalam Layar Terkembang: Film Week

Penulis : *Adi Osman

Kehadiran program Layar Terkembang: Film Week dalam memperingati Hari Film Nasional tahun ini buk

Remaja

Yang Berakhir di 17 Agustus

Penulis : Tiara Sari

Aku tengah berada di kabin sebuah kapal besar -entah apa namanya- dengan satu jendela kaca m

Paco - Paco

‘Bandit’ Pauh Si Ganjia Tertangkap (1927)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

Djoedin jang serta memboenoeh kepala kampoeng Rantjak di Goenoeng Sarik (Padang) telah tertangkap

Remaja

Kegundahan

Penulis : Eggy A. R

Ingin mendekap di ruangan gelap tanpa cahaya satupun
Tempat itu mencerminkan suasana hati u