CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Narasi_Abu_abu_dari_Gadis_Berusia_Seratus_Tahun
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

Narasi Abu-abu dari Gadis Berusia Seratus Tahun

Penulis : Fariq Alfaruqi - Alumnus Sastra Indonesia UNAND   

Layar televisi kita senantiasa dihiasi oleh selebritas dengan kulit cerah, hidung mancung, serta tubuh semampai, hasil kawin silang antara orang Eropa dengan Indonesia. Ketika muncul istilah indo, mau tidak mau akan langsung merujuk pada wajah pengisi dunia hiburan Indonesia tersebut. Memang, kesan cantik kerap melekat dalam diri orang-orang indo, seperti yang diungkapkan Minke dalam novel Bumi Manusia dengan sebutan “kecantikan kreol tiada tara”. Namun, identitas kaum indo jauh lebih kompleks dari pada sekadar ciri fisik berupa kulit “kopi susu” hasil pencampuran antara ras Barat dan Timur belaka.  

Jika dirunut ke masa silam, kita mengenal beberapa nama indo yang memberikan sumbangsih terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika sebagian besar tidak terlalu akrab dengan nama Edy du Perron, setidaknya nama Eduard Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal dengan nama samaran Multatuli, tentu pernah terngiang-ngiang di telinga masyarakat Indonesia sampai hari ini. Pengarang novel Max Havelar tersebut merupakan orang indo yang hidup dan berpengaruh pada masa Hindia Belanda.

Namun, posisi dan peran kaum peranakan tersebut kalah pamor dibandingkan kisah tentang ketertindasan pribumi Indonesia selama kolonialisme Belanda berlangsung. Sangat jarang kita mengetahui bagaimana sikap mereka terhadap praktik-praktik kolonial pada masa itu, di mana posisi mereka ketika kemerdekaan bangsa Indonesia diproklamasikan, atau seperti apa nasib mereka yang terkatung-katung antara “belanda tidak pribumi bukan”. Padahal sensus penduduk pada 1930 menyatakan bahwa sekitar 75% dari orang-orang yang “dianggap” Eropa pada masa itu adalah para mestizo atau juga dikenal dengan ras eurasia. 

Akan tetapi, kita tak perlu cemas, catatan sejarah memiliki saudara selapik-seketiduran bernama karya sastra, yang telah terbukti mampu mengungkapkan sisi-sisi lain dari masa lalu. Melalui novel-novel Rudyard Kipling, misalnya, kita akan melihat hibriditas India pada masa kolonialisme Inggris. Atau kita bisa membaca sejarah panjang bangsa Cina mulai dari kekuasaan dinasti-dinasti sampai pada masa pemerintahan komunis melalui karya Mo Yan.

Sementara di Indonesia, kita punya Pramoedya Ananta Toer yang mengisahkan dengan cermat penderitaan dan perlawanan pribumi Indonesia di bawah rezim rasisme pemerintah Hindia Belanda, yang banyak luput dari catatan-catatan sejarah.  

Berbeda dengan Pram yang melihat penjajahan Belanda dari perspektif pribumi Indonesia. Marion Bloem, pengarang kelahiran Arnhem, Belanda (1952), melihat periode kolonialisme tersebut dari sudut pandang orang indo. Perempuan berdarah campuran Indo-Belanda ini telah banyak menghasilkan karya yang berkisah tentang identitas dan budaya kaum indo. Berbagai penghargaan di bidang sastra, seperti Ibby Prize, Tiger Award, dan E. du Perron Prize, telah diperolehnya atas eksplorasi artistik seputar tema tersebut, sebagaimana tertera di biografinya.

Pada tahun 2016, novel terbaru Bloem berjudul Een meisje van hondred (2012) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun (KPG, 2016). Novel tersebut berkisah tentang keluarga indo lintas generasi, yang hidup dalam periode kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan Indonesia, jatuhnya Orde Baru, dan berujung pada peristiwa bom Bali yang menewaskan banyak wisatawan asing di tahun 2004 lalu. Sebagaimana karya-karya Bloem sebelumnya, berbagai peristiwa dalam novel tersebut dilihat dari perspektif orang indo.

Satu tokoh yang menjadi kunci untuk masuk dalam setiap peristiwa dan berbagai persoalan yang dihadapi oleh tokoh-tokoh lain, bernama Moemie. Perempuan pribumi Bali yang memiliki kemampuan supranatural khas pedanda (pendeta hindu di Bali), yakni mampu meramal masa depan, mengetahui masa lalu, dan berkomunikasi dengan arwah orang-orang yang telah mati. Melalui kemampuannya tersebut, Moemie menanggung setiap persoalan yang dihadapi oleh keturunan Van Maldegem, seorang janda beranak tujuh. Sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup menggadis selama lebih kurang 100 tahun demi melayani keluarga indo yang telah mengadopsinya tersebut.

Cerita dalam novel ini dibangun dengan dua alur yang bergerak berlawanan. Alur pertama dimulai dari pencarian identitas seorang perempuan kosmopolitan bernama Beila. Generasi ke empat dari silsilah sebuah keluarga indo yang berakar di Hindia Belanda. Ia tinggal di Belanda dan bekerja sebagai filmmaker.

Setelah cintanya gagal dengan seorang pria dan pernikahannya kandas dengan sesama wanita, Beila teringat akan ramalan-ramalan jitu seorang keluarga jauh yang tinggal di Amerika bernama Moemie. Alur ini bergerak mundur mengikuti kenangan-kenangan yang dimiliki oleh keluarganya terkait dengan masa lalu mereka dan hubungan masing-masing dengan Moemie.

Sementara alur kedua bergerak secara kronologis. Di mulai dari kelahiran Moemie ketika peristiwa Puputan di Bali tengah berlangsung, masa kecil Moemie yang menderita di panti asuhan, bagaimana ia diadopsi oleh sang janda dan hidup berpindah-pindah dari satu rumah angker ke rumah angker lain, porak-porandanya kebahagiaan keluarga akibat pendudukan Jepang, sampai mereka bermigrasi ke Belanda ketika revolusi kemerdekaan Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang dialami Moemie beserta keluarga angkatnya tersebut seiring sejalan dengan periode-periode penting dalam sejarah Indonesia.

Melalui dua belahan alur tersebut tergambar bagaimana posisi dan reaksi sebuah keluarga indo dalam dan terhadap berbagai peristiwa sejarah di Indonesia. Posisi mereka yang pada satu sisi tidak diterima secara penuh oleh kaum Belanda totok, pada sisi lain juga dimusuhi oleh pribumi, sehingga menempatkan meraka dalam “ruang antara”. Tempat yang menunjukkan kultur Belanda dan kultur pribumi Indonesia saling berinteraksi dan bernegosiasi. Implikasinya, reaksi mereka pun cendrung tidak bisa dikategorikan: apakah memihak penjajahan Belanda atau mendukung kebebasan pribumi Indonesia.

Sekali waktu, janda Van Maldegem menyatakan dengan tegas bahwa identitas rasial tidak menjamin seseorang bisa bersikap jahat atau baik, bertindak benar atau salah. Pernyataan tersebut menyimpang dari konstruksi sosial dan budaya yang dibentuk oleh otoritas kolonial yang memisahkan bahwa kebenaran dan kebaikan ada pada diri orang-orang kulit putih Eropa, sementara yang salah dan buruk ada pada orang-orang pribumi Indonesia. Namun di lain waktu, Paul Nigel, anak lelaki tertua sang janda, malah patuh pada nilai dan norma yang dibangun berdasarkan stratifikasi rasial tersebut.

Dualitas ini senantiasa menaungi seluruh keturunan keluarga tersebut. Bahkan, ketika telah keluar dari Indonesia dan berpencar di berbagai negara, mereka tetap mempertahankan identitas-identitas indo yang abu-abu tersebut, meskipun hidup di tengah orang-orang Eropa. Mereka masih memercayai hal-hal yang bersifat spiritual atau irasional di tengah masyarakat yang mengagungkan kebendaan dan rasionalitas.

Bagaimana Beila menyusun ulang silsilah keluarga, misalnya, ia menemukan bahwa terlalu banyak hal yang supranatural atau tak terjelaskan oleh ilmu pengetahuan yang melingkupi pendahulu-pendahulunya.

Apabila narasi umum yang kita pahami dan cenderung diterima begitu saja memperlihatkan bagaimana nilai dan norma Eropa sebagai penjajah telah mendominasi alam pikiran masyarakat Indonesia sampai hari ini, dalam novel ini kita juga akan melihat bahwa ternyata hubungan antara kedua bangsa dan kebudayaan tersebut justru saling memengaruhi. Sebagaimana tradisi-tradisi Indonesia berpengaruh sampai pada generasi ke tiga dan ke empat dari keluarga besar Van Maldegem tersebut. (*)

Cerpen

Nadi Waktu

Penulis :

Bungkuslah hari-harimu dengan cinta. Jinjitlah minggu-minggu dengan kasih. Lalu, jalanilah bulan-

Kampus

Awal Kuliah Pemilihan Presiden Mahasiswa

Penulis : Suara Kampus

Senat Mahasiswa Institut (Sema-I) IAIN Imam Bonjol (IB) Padang, mengadakan Rapat Dengar Pendapat

Remaja

Muhammad Afandi: Ketos Ponpes, Penghafal Al Quran

Penulis : Khairian Hafid - Padang Ekspres

Pagi bersahaja, awan redup menyejukkan suasana. Perlahan anak muda itu datang dengan pa

Cerpen

Anak Anjing

Penulis : R. Yulia

Aku memandang lelaki itu dari balik vitrase transparan putih susu yang menutup jendela. Dari temp

Mahasiswa Unand Ciptakan E-Water

Penulis : Alat Pendeteksi Kebocoran Pipa Tiga orang Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi
Paco - Paco

Bom-bom Simpanan ‘Pemberontak’ Kominis (1927)

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

“Pada tanggal 19 Mrt. [Maret] jl. polisi di Padang mendapat 2 boeah bom dibawah kamar t. Mr

Remaja

Nikita Amanda, siswi MAN Insan Cendekia Padangpariaman

Penulis : Ade Nidya Zodittia - Padang Ekspres

Cinta Alam dan Suka Tantangan 

Baru saja menamatkan pendidikan di&n