CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Nostalgia_tentang_Kampung_dari_Rantau
PADEK NETWORK : PADANGTV.ID POSMETROPADANG.CO.ID CAGAK.CO
Cagak Utama

Nostalgia tentang Kampung dari Rantau

Penulis : Bella Dofinsa   

Cerpenis Damhuri Muhammad kembali meluncurkan antologi cerpen terbarunya pertengahan tahun ini. Dalam  antalogi berjudul Anak-Anak Masa Lalu itu, Damhuri  bicara mengenai kampung. Dengan ide pokok seperti itu, cerpenis kelahiran Taram, Kabupaten 50 Kota ini seakan berjalan mundur untuk mengingat kembali kenangan-kenangan yang tak akan pergi dari ingatannya.

Seperti dijelaskan pada epilog antalogi ini, kecenderungan membahas kampung halaman membuat Damhuri merasa terbelakang, semakin ndeso, dalam pergaulan di antara sejawatnya yang lebih senang membahas masalah perkotaan. Tetapi pilihan Damhuri untuk berkisah tentang kampung justru menjadikan karyanya menjadi unik dan memiliki kekuatan tersendiri. Damhuri kini menetap dan bekerja di Jakarta. Melalui antologi yang diterbitkan Marjin Kiri ini ia bernostalgia tentang kampung, dari rantau. Aspek inilah yang dibahas tulisan ini. 

Mitos dan Perubahan Sosial

Sebagai penulis yang berasal dari Minang, karya Damhuri sangat kentara warna etniknya, terlebih terkait  mitosnya. Mitos menjadi benang merah cerita yang disusun dengan sistematis, dengan teknik penceritaan yang kronologis, serta menggunakan perspektif orang pertama atau ketiga yang serba tahu. Dengan cara itu ia menjadikan mitos-mitos itu menjadi makin kuat, yang berfungsi mengukuhkan –dalam istilah Junus pada Mitos dan Komunikasi.

Damhuri tidak mengubah atau membelokkan alur cerita, tetapi justru ia memanfaatkan kisah mitos untuk peristiwa yang terjadi hari ini. Sebagaimana dunia mitologis, kisah mitos Damhuri  tak secara jelas menunjukkan latar waktu dan ruang tertentu. Kita mengenali hal itu dari perilaku dan tradisi yang dilakukan tokoh. 

Dengan cara seperti demikian ia berkisah tentang pemanfaatan ilmu mistis untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dalam cerpen “Tembiluk”. Cerpen itu menunjukkan bagaiman masyarakat modern masih mempercayai serta mempergunakan mitos tersebut untuk kepentingan pribadi. Mitos lainnya adalah tentang pembuatan jembatan menggunakan tengkorak kepala manusia, agar menjadi kuat. Mitos yang dimaksudkan untuk menakuti anak-anak ini, dalam cerpen “Anak-Anak Masa Lalu” menjadi bagian dari kisah penculikan anak yang kini mencemaskan banyak orang tua. 

Selain tentang mitos, karya Damhuri dalam antologi ini juga didominasi oleh masalah sosial. Masalah sosial yang diangkat adalah masalah keluarga, kehidupan sosial, kehidupan bertetangga, dan kebiasaan masyarakat kampung. Cerpen dengan kisah tentang itu di antaranya adalah “Ambai-Ambai” dan “Rumah Amplop”.

Dalam kedua cerpen itu, Damhuri memanfaatkan perspektif seorang anak melihat masalah keluarga. Alur kisah kedua cerpen ini berujung dengan ironi, kematian dan perceraian. Tokoh yang mengalamai nasib ironis itu adalah warga kampung yang bertolak dan mencari hidup di kota. Lemahnya kontrol sosial di kota menjadikan mereka lupa pada aturan sosial dan agama sehingga mengalami nasib yang ironis.

Alur cerita ini menunjukkan pemihakkan pengarang pada kampung yang damai dengan ikatan dan kontrol sosial yang kuat. Meskipun serba terikat, namun  kehidupan di kampung jauh lebih baik daripada di kota.

Sebuah catatan pendek layak dituliskan untuk cerpen “Rumah Amplop”. Dalam cerpen ini amplop yang dimaksudkan adalah uang sogokan yang ditaruh dalam amplop untuk diberikan kepada seseorang. Sesungguhnya kisah demikian amat umum. Dia menjadi unik ketika Damhuri mengangkatnya menjadi simbol dari sikap korupsi dan nasib malang yang menimpa keluarga itu ketika rumah itu tak lagi didatangi para pemberi amplop. Rumah amplop itu runtuh secara tragis. 

Masa Lalu Yang Ironis

Tema berikutnya yang dibahas adalah tentang kenangan masa lalu. Alur cerpen dalam tema ini berwujud flashback, dari masa sekarang ke masa lalu.  Namun, hal paling menarik dari kisah pada tema ini adalah pada gaya penceritaan yang berbeda dan sangat unik. Kisah dibangun dari sudut pandang dua tokoh berbeda, tetapi tentang peristiwa yang sama. Kedua tokoh mnemaknai peristiwa dengan cara berbeda, seperti dalam “Reuni Dua Sejoli”.

Berkisah tentang hubungan masa lalu, kedua tokoh sama-sama meratapi kisah cinta yang gagal. Namun, pada diri mereka sendiri sesungguhnya telah saling memaafkan, tetapi tidak bermaafan secara terus terang.

Pada cerpen tersebut tersirat pengukuhan terhadap mitos yang berkembang di Payakumbuh, bahwa jika seseorang menikah bukan dengan pacarnya, maka sebelum menikah harus meminta izin terlebih dahulu kepada mantan pacarnya. Apabila tidak dilakukan, ia tak akan memperoleh keturunan dari pernikahan itu.  
Keunikan kedua adalah pemaknaan pengarang tentang makanan lemang dan tapai  dalam “Lelaki Ragi Dan Perempuan Santan”. Hubungan sepasang kekasih diibaratkan hubungan rasa legit dan manis antara dua jenis makanan itu. “Akulah lemang, dan engkaulah tapai. Cintaku basi tanpamu”, ungkap tokoh perempuan dalam cerpen itu.

Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah lelaki itu “jatuh tapai” karena wanita yang dicintainya memilih lelaki lain! Ironisnya lagi, ketika wanita itu menikah dengan lelaki lain, ia mengirim sepucuk undangan pada mantan kekasihnya dengan tambahan keterangan bertulis tangan seperti ini,

“… datanglah, kan kusuguhkan lemang tapai kesukaanmu..”. Cerpen tentang makanan ini jadi unik karena tak banyak yang mengeksplorasi makna di balik makanan. Apalagi untuk Minangkabau yang merupakan surga kuliner yang telah dikenal baik di dalam dan luar negeri. 

Antalogi ini dijalin secara  menarik dengan tema yang unik. Damhuri cenderung melawan arus ke masa lalu yang sederhana dengan segala mitosnya. Namun justru itulah yang membuatnya layak untuk dibaca siapa saja. Selain menyenangkan untuk dibaca, terbitan ini juga memberi kita pengayaan intelektual dan psikologis. (*)

*Bella Dofinsa, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Essai ini diolah dari makalah yang telah dipresentasikan dalam Pekan Kritik Sastra 3 yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia pada 30 Agustus hingga 1 September 2016 di Kampus Unand Limau Manih, Padang.

Kampus

Ayo Cerdas Memilih UKM

Penulis : Suara Kampus

Mahasiswa baru harus cerdas memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan paham akan fungsi serta tuj

Cagak Utama

Tertambat Mikrokosmos

Penulis : Beni Setia

Pada lakon “Dewa Ruci” Bima, Werkudara, menjalani petualang

Puisi

Puisi Setelah Bahagia

Penulis : Tjak S. Parlan

Setelah bahagia, 
aku takut tak mengalami apa-apa
selain rasa bosan
dan ke

Kampus

Jaket Almamater IAIN Dibagikan Lebih Cepat

Penulis : Suara Kampus

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Koperasi Mahasiswa (Kopma) bekerjasama dengan sebelas UKM selingkup

Cagak Utama

Soewardi Idris (1930-2004): Antara Karya Sastra dan Moral Historiografi

Penulis : Esha Tegar Putra - Mahasiswa Pascasarjana Departemen Susastra Universitas Indonesia

Nasionalisme kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities, seharusnya akan lebih mudah bila

Kampus

Axvel Gion Revo Pimpin Aspem Sumbar

Penulis : Wawasan Proklamator

Axvel Gion Revo dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suara Kampus IAIN Imam Bonjol Padang dipercaya

Khasanah

Teks Maulid Nabi dalam Naskah-Naskah Karya Ulama Minangkabau

Penulis : Pramono - Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas

Empat dari Empat Tulisan

Pada masa awal perdebatan tentang “berdir