Puisi

Reruntuhan

Di langit langit kuda-kuda berpacu 

Meruntuhkan hujan dan salju
Ditambah badai cinta amukku
Ditambah putih ombak rinduku
Sewaktu waktu menggebu 

Cianjur, 2016

Kandang Hujan 

Hujan di kandang sapi 
Menjadi nama kampung abadi 
Sawah-sawah menyerupai danau katumbiri 
Selepas gerimis memicu sinaran matari 
Jangan kausesali musim yang terjadi 
Begitu rimbun, daun-daun segar menahun 
Pohon-pohon sebaris jalan menuju rumahmu 
Melekat dengan aspal rinduku 
Kutemui kembali sepulang dari rumahmu 
Dan di titian hujan yang dikandangi angin 
Kusebut pula namaMu untuk mengekalkan 
Cintaku bersamamu 

Cianjur, 2016 

Menemani Bapak Ibu 

Menemani Bapak ibu berkunjung ke kuburan Kakek
Di tengah-tengah langkah  
Ada kamboja dan kembang tujuh rupa
Bertaburan di kepala, tanpa permisi 
Tanpa kusadari, inilah doaku yang berjalan 
Dari rumah dan sepanjang perjalanan 
Kasihku berkabung 
Setahun sekali terkurung 
Padahal arloji lebih mahal dari sebuah janji
Padahal mengikat di selingkar lengan kiri 
Tapi kenapa mesti pergi hanya di waktu idul fitri 
Kakekku tinggal di atas lagit, di bawah tanah sengit 
Kami menaburi yasin dan ayat-ayat suci lainnya
Berdzikir dan berdoa dalam huruf Al-quran 
Bertawasul penuh khusuk 
Menghadirkan bundaran-bundaran sinaran 
Menembus ke lapisan ruang lain yang entah
Semoga doa-doa kami sampai kepada Kakek Muhidin  
Hingga kututup segala puisi dengan amin

Cianjur, 2016 

Sajak Jejaka 

Jejak kita, jejak jejaka 
Sempat nakal dan Bengal
Perempuan dalam buaian
Ia memberikan segala cinta dengan kata-kata
Merasa menjadi penyair kelas dunia
Membaca sajak di pementasan hatinya 
Menulis syair di lembar dadanya 

Jejak kita, jejak jejaka
Pernah melukis perempuan di kanvas pipinya
Atau di dinding-dinding kamarnya 
Merasa menjadi pelukis sekuat Picaso 
Lalu menelisik warna-warni hatinya 
Menggambar wangi-wangi bunga
Menghamparkan kembang-kembang di pekarangan jiwanya

Jejak kita, jejak jejaka
Hanya sewaktu-waktu mencuri pandangan 
Bersenggema dengan kecantikan tubuhnya 
Dari jauh mengelus-elus rambutnya
Namun juntai terbaring bersama bantal – guling 
Merasa seperti pemain drama 
Menjadi lakon paling sempurna 
Berlatih gerakan dan ucapan bersama meja cermin 
Sampai berhasil memerankan pangeran lahir – bathin 

Cianjur, 2016 

Mata Pantai 

Mataku mengetuk laut, menelanjangi langit 
Hingga senja terpenjara
Waktu ke waktu bersama karang dan bebatu 
Belajar menyusun rindu, beribu-ribu angin terhambur
Menghinggapi pesisir lalu menulisi puisi dan nama kekasih 
Di mataku, pantai membacakan cinta 
Bercerita tentang cara istirah
Menyelamatkan jarak yang sempat terpisah 

Cianjur, 2016

Telinga Sakti
Kepada : Iwa Pranawa 
 
Telinga sakti milik negeri 
Datang dari lubang-lubang seruling 
Atau denting-denting kacapi 
Menyebrangi udara sepi 
Ke pertapaan bukitnya bunyi 
Mendekap secepat kilat 
Tangan dan mulut 
Menjadi saksi 
Sebuah sentuhan seksi 
Memeluk dua gendang mirip hati 
Ya, telingamu adalah sebentuk hati 

Degup jantungmu rima puisi 
Merdu dibaca dan dinyanyikan 
Sudah menyatu mudah berkenalan
Bersyukurlah atas nama Tuhan 

Cianjur, 2016 

Di Pucuk Sunyi 

Kepada: Iwan B Setiawan 

Jalan usiamu 
Berderet angka-angka beku 
Dalam kalender 
Dalam bulan-bulanan waktu 
Dikejar sunyi dari arah pintu 
Dan jendela berekor rindu 
Kepada sesiapa yang sempat menyatu

Jalan puisimu 
Berjajar huruf-huruf pada bangku 
Pada bingkai-bingkai lukisan 
Pada selantai ruangan 
Yang atapnya angin taufan 
Dan beranak sajak-sajak kesunyian 

Jalan usiamu 
Menanggalkan kota
Berkudung sunyi, seperti sendiri dalam peti
Sewaktu-waktu membaca mantra 
Mengulang malam duduk dan bersila
di pucuk sepi, di sudut lampu mati 
namun bersembunyi dalam terang sinar bumi 

Cianjur, 2016

*Ihsan Subhan - Lahir di Cianjur 02 Desember 1987. Menggiati Komite Sastra Dewan Kesenian Cianjur (DKC), Komunitas ArusLangit. Puisi-puisinya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online; Pikiran Rakyat, Indopos, Bali Post, Radar Surabaya, Suara NTB, Banjarmasin Post, Rakyat Sumbar, Jurnal Bogor, Metro Andalas, Majalah Story, Horison online, dll. Beberapa puisinya diabadikan dalam buku antologi bersama; Antologi Penyair Sastra Senja “Selalu Ada Rindu” Dewan Kesenian Jakarta (2006), Munajat Sesayat Doa (2011), Indonesia Memahami Kahlil Gibran, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (2011), Jaket Kuning Sukrinanto (2014).

 

Langkan

Mari Ajak Anak Peduli Lingkungan

Banjir dan longsor yang terjadi dibeberapa wilayah di Sumbar, tak terlepas dari pengaruh kerusaka

Remaja

Takdir-Mu

Di sini aku berdiri              
Di antara birunya samu

Remaja

Jika Aku Punya Sayap

Kupu-kupu berterbangan kian kemari Burung-burung menari indah mengibaskan sayapnya

Terbit

Konsultasi

Perlindungan Konsumen Berbelanja Online

Bapak/Ibu pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati. Saya membeli sebuah produk kese

Langkan

Yang Dipertuan Gadih Pagaruyuang (1)

Gelar Yang Dipertuan Gadih (Tuwan Gadih) adalah gelar yang diberikan kepada perempuan k

Hiburan

Ashanty: Dibully Gara-gara Status

Ashanty di-bully netizen. Penyebabnya karena caption foto yang dia unggah dalam akun Instagram-ny

Songsong KKN, Mahasiswa UBH Dibekali

Demi mempersiapkan dan membekali mahasiswa Universitas Bung Hatta melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja