CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Lafadz_Cemburu
Puisi

Lafadz Cemburu

Penulis :    

Oleh: Zainul Muttaqin

Lafadz Cemburu

langit di atas senantiasa biru# mataku menatap hatiku luruh
seorang lelaki memasuki matamu# membawa mantra yang sedang diramu
hati-hati ia akan memikat# bila begitu jiwaku bakal sekarat
ingatkah kau pada pesan yang kubisikkan dahulu# agar kau mengelak dari sebuah tipu

aku mencintaimu melebihi sinar purnama# kelak akan kubangun seribu istana
tempat menata hati# menata rindu dan kasih
kau kira ini sekedar lafadz cemburu# dari kedalaman hati yang pilu
atau puisi-puisi untuk merayu# malam-malammu yang kian bisu

aku tidak sedang menulis lafadz-lafadz# bagai kisah di berbagai kitab
melainkan cemburuku  diungkap# semoga kau menangkap
diluar langit biru dilintasi burung# doaku agar lelaki itu urung
menenun cinta ke jiwamu yang kerontang# lalu kelak kau tahu hatiku tempat pulang

Laut Madura 2014

Lafadz Rindu
; Kamalia Ulfa

sepanjang hujan yang luruh# hatiku kian menggaduh
wajahmu melintas dalam gerimis#  memasung rindu di hatiku yang tangis
atas jarak yang membentang# antara kita tanpa ruang
kau hendak kudekap sayang# tetapi tubuhmu itu semacam bayang

dimana kini musim berganti#tanggal di almanak terus berlari
aku mencarimu di antara hujan dan kemarau#  sebab laksa rindu semakin parau
pada siang dan malam ku bayang sebuah senyum# dulu kau peragakan dengan sangat ranum
sebelum waktu mengatur# kau ke barat aku ke timur

lalu, pada siapa kubacakan puisi-puisi ini# yang kutulis dari kisah kita sejak dini
tentang matamu yang purnama# atau parfummu dengan lekat aroma
barangkali kerinduan ini bakal memanjang# sampai kelak kau akan pulang
menemuiku melepas gundah# setelah sekian waktu memeram resah

Laut Madura 2014


Lafadz  Luka

Tiba-tiba bulan jatuh di pangkuan# langit gelap ditutup hitam awan
Hatiku berkabut#  linang air mata terbalut
Kekasih hati memudar# biarkan aku terkapar dalam kamar
Daunan jatuh pasrah ke tanah# luka hati kian bernanah

Kini, masihkah kau ingat sebuah pinangan# dimana segalanya berubah kenangan
Kalender melaju menanggalkan kisah# ada yang bergetar di hati dengan resah
Senyum terakhir di bibirmu tanggal# mengingat itu bagai aku meninggal
Musim menyulam kemarau# luka hati kian parau

Kapan darah berhenti mengalir# barangkali hanya pasrah pada takdir
Sementara  wajahmu membayang# melintas serupa layang-layang
Di atas langit gelap hujan yang urung#  menyulam rindu yang telah murung
Kau dan aku terpisah# sepanjang waktu hatiku luka mendesah

Laut Madura 2014

Zainul Muttaqin, lahir di Batang-Batang, Sumenep Madura 18 Nopember 1991. Alumni Ponpes Annuqayah Sumenep. Puisi dan cerpennya dimuat pelbagai media nasional dan lokal. Puisinya terkumpul di; Wanita yang Membawa Kupu-kupu (2008) Bingkai Kata Sajak September (2012) Tinggal di Madura.

 

Puisi

Catatan Silaturahmi Mande Bapuisi Antarkomunitas Bahana Puisi di Benteng Portugis Pulau Cingkuak

Penulis :

Bebatuan bata sebagian masih tersusun relatif rapi, kendati tak utuh. Inilah sisa sebuah kawasan

Carito Niniek Reno

Acuan Nan Baik Budi Nan Endah Baso

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Makan siang di pondok mak Katik jo ikan Puyu nan di cakau mak Katik di sawah dilakuak nan digoren

Langkan

Sapiah Balahan, Kuduang Karatan, Kapak Radai Timbang Pacahan

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Sapiah balahan, Kuduang karatan, Kapak radai, Timbang pacahan adalah adagium adat dalam Ranji Lim

Remaja

Cinta Telolet

Penulis : Ahmad Zul Hilmi

Datang saat keramaian
Sekejap menghilang    
Tak tau di mana hilangnya

Cerpen

Membunuh Masa Depan

Penulis : Ken Hanggara

Seorang wanita dari masa lalu, mengetuk pintu rumah saya malam-malam. Ia ingin tahu di mana ia bi

Bintang Biru

Penulis : Masih tentang bintang gemintang Yang bertahta elok di langit kelam Cahayanya menembus galaksi rasa
Kampus

Apa Kabar Pertanian Negaraku?

Penulis : Ananda Muhammad Hidayah Harahap -Mahasiswa Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Unand

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada