CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Suamiku_Ingin_Mati_di_Wawonii
Cerpen

Suamiku Ingin Mati di Wawonii

Penulis :    

Oleh: Arsyad Salam

1/
Jam satu siang.
Duduk menyandar pada tumpukan dus mi instan, perempuan itu tampaknya sedang asyik dengan dirinya sendiri. Pandangannya tak pernah lepas dari layar ponsel yang terkoneksi dengan headset yang terpasang di kupingnya. Tapi saya yakin ia tidak bisa fokus mendengarkan lagu. Meskipun ia duduk di bagian paling  atas kapal Fajar Fadilah, ia pasti terganggu oleh suara mesin yang mulai dinaikkan gasnya. Sebentar lagi kapal akan berangkat. Kembali mengarungi lautan Kendari-Wawonii. Suara percakapan para penumpang, hilang tertelan oleh suara mesin. Begitulah memang setiap kali  kapal akan berangkat.  
Rasanya saya kenal perempuan ini. Entah di mana tapi sepertinya saya pernah tahu siapa dirinya. Atau paling tidak pernah berbicara dengannya. Sayang ingatan kita memang tak selamanya panjang.  

Pasti di antara kalian ada yang bertanya, cantikkah perempuan itu? Berapa usianya? Bagaimana postur tubuhnya? Langsing? Kurus? Gemuk? Yang bertanya begini bisanya laki-laki. Entah kenapa laki-laki di manapun lebih mengutamakan detail fisik perempuan dari pada soal lainnya. Apakah ia cerdas? Apa kelebihannya? Ini yang jarang ditanyakan.  

Terus terang saya tak bisa menjawab pertanyaan kalian. Seperti sudah saya singgung di atas, saya tak kenal dekat perempuan ini. Apakah ia cantik? Mungkin. Tapi bukankah definisi cantik dan tampan sangat relatif? Artinya berbeda untuk setiap orang?

Ketika Pulau Hari di kanan dan Pulau Saponda di kiri telah terlewati, saya perhatikan tidak terjadi perubahan pada wajah perempuan itu. Biasa-biasa saja dan terus mengawasi laut dengan ekspresi yang sangat  wajar. Mungkin kedua pulau itu sudah terlalu biasa baginya, tak lagi membawa kesan yang mendalam.  Mungkin ia seperti saya juga, yang melewati pulau itu hampir tiap pekan. Bolak-balik Kendari-Wawonii. Rutinitas yang membosankan sebenarnya. Tapi mau apa lagi. Saya memang harus menempuhnya demi tugas dan tanggungjawab sebagai aparat negara.  

Perempuan itu masih juga memandang laut. Tiba-tiba ia berdiri, melangkah hati-hati mendekati tempat saya duduk di samping tumpukan jerigen solar. Saya berdebar oleh tingkahnya yang mendadak itu. Bajunya tersibak angin. Jilbabnya juga.

“Bapak masih ingat saya?”
Saya memandangnya cukup lama seraya mengumpulkan ingatan yang berserakan tentang sosok perempuan yang sekarang berdiri di hadapan saya.
“Saya Nining pak,”
“Nining?” saya membalas ragu. Dan ia tahu kalau saya ragu. Ia meneruskan.
“Dulu kita sama-sama naik kapal Wawonia ke Kendari.”
Ah, kenapa sekarang sulit sekali mengingat orang? bisik saya dalam hati.  Tapi yang keluar dari mulut saya hanya sahutan pendek, “Oh ya? Saya memang tidak dikaruniai kefasihan untuk bisa mengingat segala kejadian yang saya alami. Saya nyaris lupa dengan semua kejadian yang telah lewat meskipun baru sepekan yang lalu. Mungkin memang  benar ia pernah satu kapal dengan saya. Entahlah. Tapi mungkin juga ia cuma mengarang-ngarang, mencari alasan untuk bisa mengobrol dengan saya. Saya tak tahu.  

Saya perhatikan perempuan ini dengan lebih cermat. Ada sesuatu yang menarik dalam dirinya. Sesuatu yang saya sendiri tak tahu. Dan saya bingung tak bisa menunjukkan hal yang menarik itu. Saya pernah membaca sebuah buku filsafat. Saya sudah lupa judulnya namun ada yang tidak bisa saya lupakan dalam buku itu. Bahwa pada saat kita melihat sebuah obyek, sudah akan berbeda bila kita melihatnya di waktu lain. Perbedaan waktu itulah yang membuat obyek tersebut berubah.  

Tanpa sadar, saya dan Nining sudah terlibat dalam percakapan. Ia bercerita kalau ia dulu pernah mengajar di sebuah sekolah dasar dekat Tumburano di Wawonii Utara. Namun sejak empat tahun lalu, ia menikah dan tinggal di Kendari.

“Baru hari ini saya kembali ke Wawonii setelah saya menikah dengan Rustam”
“Empat tahun?” Tanya saya agak heran. Ia mengangguk mantap.
“Terus suami kamu sekarang di mana?”
“Ada dalam kapal ini”
“Di kapal ini? Di mana?”
“Dalam kamar ABK.”
“Memangnya ada apa?”
“Ia sakit. Saya membawanya ke kampung untuk berobat.”
“Terus kenapa kamu berada di atas sini, kenapa kamu tidak menjaganya?”
“Ia sedang tidur sekarang. Biarlah ia istirahat.”
 Sebenarnya banyak yang saya ingin tanyakan kepadanya. Tapi entahlah, saya hanya mampu membisu seraya menatap ombak berkejaran.  

2/
Tiga jam sebelumnya
“Tahan sakitnya ya Rus, sebentar lagi kita ke pelabuhan,” bujuk Nining. Rustam diam, tak menyahut ataupun mengangguk. Di dalam taksi sepanjang perjalanan, Nining berusaha menghibur suaminya itu. Ia mengajak Rustam bicara dengan nada yang manis. Sesekali tangannya mengusap pelipis dan rambut Rustam yang acak-acakan. Sopir taksi yang mereka tumpangi, seorang lelaki gemuk yang tampak baik hati cuma sesekali melirik mereka lewat kaca spion.
“Dari dulu kan saya sudah bilang, kita berobat ke Makassar saja tapi kamu maunya ke kampung. Memangnya di kampung ada yang bisa mengobati penyakitmu? Nining terus bicara sendirian. Rustam tergolek tanpa daya di jok belakang. Di sampingnya.

Nining menyuruh sopir taksi mempercepat laju kendaraannya, khawatir ketinggalan kapal. Ia tahu kapal kayu ke Pulau Wawonii tak pernah tepat jadwal berangkatnya. Kadang lebih cepat kadang juga terlambat berjam-jam. Dalam hati ia  berdoa semoga kapal belum berangkat. Kalau ia ketinggalan pupuslah harapannya membawa pulang Rustam ke kampung.

Memasuki pintu gerbang pelabuhan, Nining sedikit lega ketika dari jauh ia melihat kapal Fajar Fadilah masih tertambat di dermaga. Orang ramai naik-turun kapal. Pedagang asongan di mana-mana, berteriak menjajakan nasi bungkus, jagung rebus dan air mineral.

Nining minta tolong pada sopir taksi untuk membantunya membopong Rustam ke kapal. Dalam hati ia berharap semoga tidak ada yang tahu apa yang sesungguhnya ia lakukan. Sengaja ia menutup kepala Rustam dengan kain panjang supaya tidak terkena matahari. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu ramai membicarakan keadaan Rustam yang telah lama diketahui sakit dan tidak sembuh-sembuh sampai sekarang. Orang-orang di pelabuhan siang itu dan hari-hari lainnya kebanyakan orang Wawonii juga. Mereka kenal Nining. Juga Rustam tentu saja.

“Kasihan ya” kata yang satu.
“Memangnya ia sakit apa?”
“Saya dengar ia sakit jantung.”
Rustam dimasukkan dalam kamar kosong, kamar seorang anak buah kapal. Nining merasa lega. Kembali ia mengusap kepala suaminya dengan penuh kasih sayang. Dalam hati ia berdoa kepada tuhan agar perbuatannya tidak diketahui penumpang lain di kapal itu. Apalagi sampai diketahui oleh juru mudi, bisa gawat urusannya nanti. Tadi ia sempat berdebar ketika salah seorang ABK berkata kepadanya bahwa tubuh Rustam sudah pucat, mirip mayat.

“Jangan-jangan ia sudah mati,” kata orang itu. Nining menyahut cepat bahwa Rustam cuma tak sadarkan diri. Penyakitnya memang gawat. “Ia pernah pingsan selama dua hari,” ucap Nining untuk menenangkan dirinya sendiri.

3/
Dermaga Langara sudah tampak. Kami berhenti bercakap-cakap. Nining lekas berdiri dan minta diri untuk ke bawah, ke kamar di mana suaminya ia baringkan. Ia menatap saya agak lama membuat saya agak heran seraya berpikir pasti ada sebuah rahasia yang ingin ia katakan. Saya memberanikan diri bertanya.
“Ada apa? Ia mendekat lagi, mendekatkan mulutnya ke kuping saya. Suaranya halus dan dalam meskipun agak sedikit gemetar.

“Suamiku ingin dikuburkan di Wawonii. Ia ingin mati di pulau ini.”
“Lantas, apa masalahnya? Kan kamu membawanya pulang untuk berobat?”
“Sebenarnya ia sudah meninggal, sudah mati sejak dari rumah di Kendari.”
“Hah?”
“Jangan  bilang-bilang ya,” bisiknya dengan wajah agak sedih. “Soalnya kapal-kapal di sini dilarang membawa mayat, pemali kata mereka. Saya pun terpaksa melakukan ini untuk melaksanakan wasiat suami saya yang ingin dikuburkan di Wawonii.”
Saya belum mampu mencerna apa yang sesungguhnya terjadi ketika dari bawah terdengar teriakan seorang anak buah kapal.
“Ada mayat dalam kapal ini! Siapa keluarganya? Dan siapa yang bertanggungjawab?”

Arsyad Salam, banyak menulis novel dan cerpen. Novelnya yang telah terbit Kidung dari Negeri Apung (Gramedia Pustaka Utama, 2015); Jejak Manusia Langit (Settung Publishing, 2016) dan Lintasan Menikung (Langgam Pustaka, 2017). Juga sebuah Kumpulan Cerpen berjudul  Pasung Jiwa Merpati Putih (Settung Publishing, 2016).  Kini ia tinggal di Kendari Sulawesi Tenggara.

 

Paco - Paco

Ir. Karsten ke Padang: Rencana Pembangunan Kantor Gubernur (1932)

Penulis : Suryadi – Leiden, Belanda

Maksoed memperloeaskan kota Padang. Ir. Karsten telah mengoendjoengi kota Padang oentoek memberi

Gejala Kaki Mati Rasa Saat Tidur

Penulis : Assalamualaikum. Saya seorang perempuan. Umur saya baru menginjak ke 18 tahun. Begini dokter, ka
Puisi

Seseorang Berbaju Putih

Penulis : Isbedy Stiawan ZS

Seseorang Berbaju Putih

engkau layaknya seseorang berbaju putih
da

Langkan

Pakaian Adat Laki-laki di Minangkabau

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Pakaian adat laki-laki para pemangku adat dapat dibedakan pada si pemakainya. Seperti pakaian Raj

Remaja

Alpa

Penulis : R. Winarta

Di antara kepulan asap
Aku mencoba lesap
hilang dan tenggelam
dalam-dalam

Puisi

Warna Putih di Sosial Indonesia

Penulis :

Indonesia memang tidak pernah mengalami sejarah yang berkaitan dengan warna kulit. Kita lebih ban

Anggun

Untaian Kesucian

Penulis : Redaksi

Dalam parade Ramadhan Fashion Delight tahun ini, sebagai rangkaian dari acara Jakarta Fashion Wee