CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Praktik_Imperialisme__dalam_Buku_Anak
Puisi

Praktik Imperialisme dalam Buku Anak

Penulis :    

Buku anak yang diberi label ‘baik’ senantiasa memberi kenikmatan dan kesenangan dalam membaca, karakter yang mudah diingat, dan situasi serta cerita-cerita yang mengandung nilai kemanusiaan atau hal-hal yang bernilai kehidupan. Secara tampilan, buku anak yang dilabeli ‘baik’ haruslah genuine, imajinatif, memiliki gaya bahasa yang indah, cerita dengan dinamika serta alur cepat, menawarkan petualangan, juga tampilan yang menarik dan disukai oleh kanak-kanak. Simpulan sederhana tersebut saya rumuskan usai membaca beberapa buku dummies seputar literatur anak.

Buku anak atau bisa juga disebut dengan literatur anak (beberapa kalangan membantah, tidak semua buku anak bisa dikategorikan sebagai literatur. Hal ini dikarenakan merujuk pada pengertian literatur  yang kemudian dipersempit jadi sebatas buku-buku sastra) merupakan topik yang masih saja jadi bahan perdebatan. Perdebatan tersebut mengacu pada pengertian dan batasan-batasan sebuah kelayakan karya dikategorikan sebagai literatur anak, dengan indikator yang tentu saja ditentukan oleh orang dewasa, bukan anak-anak.

Jika ditinjau secara historis, diyakini bahwa semua literatur, baik orang dewasa maupun anak-anak, dimulai dengan cerita-cerita yang diceritakan secara lisan oleh para seniman dari berbagai peradaban. Cerita-cerita tersebut memiliki elemen mitologis dan ideologis, yang disampaikan dalam bentuk dongeng dan epik. Akan tetapi dalam praktik literatur anak, anak-anak tidak benar-benar diperlakukan sebagai anak-anak, melainkan meniatur orang dewasa. Persepsi seperti ini terus berjalan di benak setiap lapisan masyarakat hingga akhir 1600-an awal 1700-an. Misal dengan minimnya jumlah literatur yang ditawarkan untuk anak-anak.
Praktik Imperialisme dalam Buku Anak

Meskipun Gutenbergprinting sebagai keberlanjutan dari penemuan mesin cetak modern oleh Guttenberg telah dikembangkan pada tahun 1440, buku masih merupakan komoditas langka dan mahal. Sehingga tidak ada pengklasifikasian buku berdasarkan usia atau perkembangan psikologi. Buku dewasa dan buku anak-anak sama. Anak-anak membaca buku orang dewasa, dan orang dewasa membaca buku yang memang tujuan diterbitkan untuk mereka. Sedikit sekali buku anak-anak yang beredar masa itu. Itu pun diawasi praktek penerbitannya secara ketat. Bacaan bagi anak-anak hanyalah yang mengandung unsur-unsur moralistik dan keagamaan. Materi bacaan masyarakat yang terdapat dalam buku, terlebih lagi buku yang ditujukan untuk anak-anak merupakan penyaduran dari pesan dan nilai-nilai di dalam alkitab.

The Hornbook dan New England Primer, merupakan dua buku bacaan anak paling awal. Buku pertama merupakan sebuah teks sederhana dari sebuah doa, sedangkan buku kedua berisi gambar dan teks tentang hukuman bagi ketidaktaatan masyarakat terhadap ajaran agama. Kedua buku tersebut bertujuan untuk memberikan pendidikan secara religius melalui penggunaan logos dan etos.

Beberapa masa setelahnya, Locke menyarankan agar setiap anak memiliki taraf pendidikan yang relatif sama dan hal tersebut salah satuya bisa dilakukan dengan pemerataan dan penggunaan literatur bagi anak-anak. Rousseau melanjutkan paradigma keberadaan literatur anak dalam pendidikan tersebut dalam bukunya yang berjudul Emile. Rousseau dalam tulisannya sangat menekankan pentingnya menginventaris dan mengembangkan unsur moral development dalam setiap literatur anak.

Perkembangan buku yang sifatnya fiksi dan fantasi bagi anak-anak baru mulai berkembang pesat pada periode Victoria. Buku anak-anak tidak hanya diciptakan dan dikembangkan untuk tujuan pendidikan, melainkan juga sebagai salah satu media hiburan. Buku-buku fantasi, dongeng, cerita rakyat mulai digabungkan dengan teknik ilustrasi yang indah. Beberapa genre baru dalam buku anak juga mulai dikembangkan. Misalnya mitos eskatologis laki-laki dan perempuan. Cerita anak dengan tokoh anak laki-laki kemudian mengedepankan unsur mitos eskatologis dan identitas tentang usaha, kerja keras, serta prestasi tinggi. Sementara cerita dengan tokoh anak perempuan memperkenalkan mitos eskatologis dan identitas yang menggambarkan kehidupan yang nyaman dan aman di rumah yang bersesuaian dengan pasangan hidupnya.

Akan tetapi seiring perkembangan buku anak tersebut, mengemuka pertanyaan-pertanyaan mengenai keberadaan buku anak. Apa yang menjadi indikator dan orientasi dalam memilih buku yang dianggap paling sesuai dalam pengembangan intelektual dan emosional anak tersebut?

Banyak fenomena menunjukkan bahwa deskripsi orang dewasa tentang masa kanak-kanak dikondisikan cenderung sama dengan masa kanak-kanak yang mereka alami. Hal demikian juga terjadi dalam parktik buku anak-anak. Penulis buku anak (yang memang didominasi oleh orang dewasa) menganggap bahwa anak-anak belum mampu berbicara untuk diri mereka sendiri. Orang dewasa selalu berusaha untuk mencoba berbicara melalui buku anak-anak mewakili anak-anak dengan sudut pandang anak yang dimiliki oleh orang dewasa. Anak-anak bukan orang yang menulis sehingga orang dewasa mencoba berbicara tentang anak-anak dengan cara orang dewasa, demikian kalimat sederhananya.

Orang dewasa dalam banyak buku anak seringkali menggambarkan hubungan mereka dengan anak-anak dalam bahasa yang merasa paling tahu tentang masa kanak-kanak. Penulis buku anak-anak mencurahkan perhatiannya terhadap apa yang dianggap oleh anak-anak sebagai sesuatu yang menarik dan bermanfaat.

Misalnya saja, orang dewasa sering kali berbicara tentang betapa menawannya anak-anak dalam kesediaan pasif anak-anak, semata sebagai materi penulisan, bahan untuk ditonton, dinilai; betapa lucu anak-anak yang berusaha tampil menawan. Dan kemudian, orang dewasa memiliki opini yang mereka yakini benar, bahwa anak-anak melakukan hal tersebut sebagai usaha merayu orang dewasa agar memberikan penilain. Kemudian muncul pernyataan dari orang dewasa, bahwa kebahagian sejati mereka adalah ketika anak-anak menjadi lucu dan  menarik dalam nilai-nilai yang mereka anut. Ketika anak-anak tunduk pada kehendak mereka, melakukan apa yang mereka inginkan. Dengan demikian, perilaku anak-anak dalam banyak buku anak selalu terkontaminasi oleh asumsi yang diprakarsai oleh pengalaman empirik orang-orang dewasa tentang masa kanak-kanak mereka, bukan masa anak-anak target pembacanya.

Seorang penulis berkebangsaan Amerika, Roose, menyatakan bahwa ia menulis buku anak-anak untuk memberikan sebuah nilai bagi anak-anak dan sebuah citra diri agar anak-anak bisa merasa aman dan nyaman dalam kehidupannya. Oleh karena itu, buku-buku anak mendorong anak-anak untuk menghargai nilai dan perilaku yang membuat anak jadi lebih mudah ditangani, tidak agresif, lebih pasif dan jinak, dan bersedia menerima nilai-nilai baru yang kemudian ditawarkan oleh orang dewasa.

Misalnya saja, penulis buku anak-anak menghasilkan literatur anak yang hampir tidak pernah membicarakan materi mengenai seksualitas. Barangkali untuk membiarkan penulis dewasa dan pembaca dewasa percaya bahwa anak seperti yang kita klaim-hidup mereka tidak memiliki seksualitas. Sehingga dalam praktiknya, sangat sulit bagi anak-anak untuk berkomunikasi dengan orang dewasa tentang masalah seksual mereka: kesunyian kita pada subjek tersebut dengan jelas menegaskan bahwa kita harus segera mendengarkan mereka. Anak-anak dengan persoalan semacam ini bukan berarti mereka tidak normal. Padahal representasi masa kanak-kanak oleh pandangan semacam ini sangat menyimpang.

Jika kita mengasumsikan anak-anak memiliki rentang kekurangan dan karenanya tidak pernah membiarkan mereka mencoba membaca buku-buku dengan teks yang panjang dan tanpa visual, mereka tidak akan pernah membaca buku-buku berkualitas untuk meningkatkan taraf intelektual dan emosional mereka. Barangkali, kita sebagai orang dewasa yang tidak memiliki kompetensi dan kemamuan untuk membaca buku-buku yang dikategorikan ‘berat’ dan kita kita kemudian ingin melihat orang-orang dikuasai oleh pengaruh. Sehingga anak-anak yang membaca buku-buku panjang sebagai tipikal aneh. Aneh sehingga lebih mirip kita daripada orang lain.

Literatur anak-anak pada dasarnya merupakan usaha untuk mencegah anak-anak bertolak belakang dengan diri kita sendiri dan usaha untuk menciptakan anak-anak yang identik dengan kita. Jika memang hal tersebut yang terkandung dalam banyak praktik literatur anak, saya meyakinkan diri saya bahwa literatur anak-anak semata kegiatan imperialis.

Buku anak yang baik dengan tepat menggambarkan apa yang sering diidentifikasi sebagai keajaiban atau eksperimentalitas atau kreativitas masa kecil. Dengan kata lain, mereka baik karena mereka mengajar anak-anak bagaimana menjadi seperti anak kecil dengan memberi mereka gambaran yang sesuai tentang masa kanak-kanak. Anne of Green Gables adalah satu dari tidak banyak buku anak yang dipandang sebagai buku bagus. Pertama, karena mereka menangkap kegembiraan masa kanak-kanak. Dan kedua, karena hal itu berakhir dengan mengonfirmasikan perhatian orang dewasa. Lantas, apa buku yang akan anda tawarkan untuk anda tulis atau mungkin dibaca anak-anak?

Yona Primadesi, lahr di Padang, Sumatera Barat. Merupakan kandidat doktor dengan konsentrasi literasi anak. Selain menulis, juga aktif dalam kegiatan literasi anak dan kegiatan perbukuan.

 

Langkan

Bersekolah, Anak mesti Mandiri

Penulis : Eka Rianto - Padang Ekspres

Senin (18/7) lalu, hari pertama anak –anak masuk sekolah. Orangtua banyak yang menga

Carito Niniek Reno

Sumbang Bajalan

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Bundo Kanduang Sumatera Barat

(1)

Niek Reno sadang asyik bacarito jo cucu-cucunyo dihalaman dibalakang Rumah Gadangnyo.

Puisi

Katak di Bawah Tempurung 1

Penulis : Ramoun Apta

Katak di Bawah Tempurung 1

Seperti umang-umang di balik cangkang
K

Nasi Padeh

Penulis : Pagiko sasudah sumbayang Subuah cucu-cucu Niek Reno duduak di lankan dapua jo Oncu Mayang sarato mak
Kampus

Ayo Cerdas Memilih UKM

Penulis : Suara Kampus

Mahasiswa baru harus cerdas memilih Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan paham akan fungsi serta tuj

Carito Minang Kini

Urang Lah Mati Jan Dikana-Kana Juo Lai!

Penulis : Ilham Yusardi

Tan Kereang sadang manulih pakai sipidol gadang di karaton. ULURKAN BANTUAN ANDA UNTUK

Obat Demam Berdarah Tradisional

Penulis : 1. Jus Kulit Manggis Pada bagian kulit manggis terdapat zat antioksidan bernama Xanthone yang dap