CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Teringat_Kartu_Lebaran_Berperangko
Cagak Utama

Teringat Kartu Lebaran Berperangko

Dalam seminggu belakangan ini, postingan WhatsApp (WA) yang Anda terima di HP Anda, juga saya, pastilah dipenuhi oleh ucapan Selamat Idul Fitri 1438H/2017M yang dikirimkan dalam bentuk kartu Lebaran elektronik. Selain kartu Lebaran elektronik, tentu masih ada pula kiriman Selamat Hari Raya berupa tulisan biasa lewat SMS (plus untaian pantun). Malah ada juga  kiriman ucapan Selamat Lebaran dalam bentuk video.
 
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, jumlah kartu Lebaran elektronik pada tahun ini kelihatannya makin banyak dan kian ngetrend. Kartu Lebaran elektronik makin menyaingi, kalaulah tidak mengalahkan, jumlah ucapan Selamat Hari Raya yang dikirimkan dengan tulisan biasa.
 
Kartu-kartu Lebaran elektronik itu memadati memori HP Anda, yang membuat ponsel Anda semakin sesak oleh berbagai macam file kiriman. Dan sebagaimana biasa, si pemilik ponsel akan segera menyeleksi file-file (tulisan, video dan foto) untuk segera dibuang (dihapus) sehingga dapat mengurangi beban memori ponselnya. Kartu-kartu Lebaran elektronik itu akan bernasib sama: si penerima akan segera menghapusnya dari ponselnya setelah dibaca selintas. 
 
Banyak kartu Lebaran elektronik itu hanya berupa copy-paste saja. Kartu-kartu seperti itu dikirimkan kepada sesiapa saja. Seorang kawan di laman facebooknya berkomentar: kiriman kartu Lebaran elektronik itu sepertinya kering dari basa basi. Ia tidak didahului oleh pengantar, misalnya sekedar menuliskan nama orang yang dikirimi atau ucapan salam. Itulah realitas virtual yang dialami oleh umat Islam (Indonesia) hari ini terkait dengan perayaan Idul Fitri.
 
Silaturahmi elektronis itu terasa mengeringkan jiwa, hambar, dan terkesan kamuflase saja. Revolusi teknologi komunikasi telah mengubah banyak hal, bahkan yang paling prinsipil pun, dalam kehidupan manusia: hubungan silaturahmi sesama insan. Hubungan antar manusia terdistorsi hingga tingkat yang paling rendah: yang dekat secara fisikal terasa jauh; yang virtual dan bersifat bayangan terasa dekat. Umat Islam pun terkena imbasnya: ada yang hilang dalam kehidupan (keagamaan) kita yang makin serba elektronis di zaman kini: terkikisnya kehangatan hubungan personal dan sifat komunal yang menjaga respek satu sama lain.
 
Tentu kita masih ingat masa-masa ketika kartu Lebaran konvensional masih menjadi bagian dari kehidupan kaum Muslim. Seminggu sebelum takbir 1 Syawal berkumandang, orang-orang telah pergi ke emperan, toko-toko buku dan kantor-kantor pos untuk memilih kartu Lebaran yang memiliki berbagai ragam hiasan yang indah-indah, untuk dikirimkan kepada sanak famili, kerabat, dan handai taulan. Ini adalah masa-masa yang menyenangkan, yang menambah semarak suasana menjelang 1 Syawal.
 
Para penjual kartu Lebaran berjejer di depan kantor pos atau di pinggir-pinggir jalan raya, menawarkan kartu-kartu Lebaran beraneka warna dan sketsa. Mereka menyemarakkan suasana Hari Raya. Setelah ditulisi dengan kata-kata yang manis, yang keluar dari sukma yang putih, kartu-kartu Lebaran itu dimasukkan ke dalam amplopnya, ditempeli dengan perangko di sudut kanan  atas, lalu dengan perasaan riang dimasukkan ke dalam bis surat di kantor pos atau di bis-bis surat yang tersedia di lingkungan tempat tinggal. Ada perasaan: semoga kartu Lebaran itu segera diantar oleh tukang pos ke alamat tujuan, dan segera diterima dan dibaca oleh si penerima. Sebaliknya, juga ada rasa berdegup di hati menunggu kartu Lebaran dari sanak saudara, teman, dan…kekasih.
Menerawang perasaan si pengirim kartu, berbunga-bunga bercampur rindu beriak hati si penerima. Masih ingat saya, dan mungkin juga Anda yang pernah mengalaminya, betapa gembira menerima kartu Lebaran berperangko itu. Pun ketika mengirimkannya kepada seseorang. Merobek amplopnya mengulaskan senyum, terkadang mendesirkan darah. Kartu-kartu itu membenarkan apa yang dikatakan oleh seuntai pantun Minang lama: “Dipanggang kekek dikariangkan / Makanan anak Rajo Jao / Dikarang surek dikirimkan / Kaganti badan dengan nyao.” Kartu-kartu Lebaran yang diterima akan disusun di atas meja di kamar tidur, atau disimpan dalam arsip keluarga.
 
Kini, dengan kartu Lebaran elektronik, semua menjadi seragam. Seseorang akan mengirimkan kepada teman-teman dan handai taulannya satu kartu Lebaran yang sama motif dan warnanya, yang diperbanyak dengan cara copy-paste. Kartu-kartu Lebaran elektronik itu seperti bayangan saja, berseliweran dalam kabut. Ia mampir di layar HP Anda, lalu dalam hitungan menit, bahkan detik, akan ‘ditimbun’ oleh lusinan postingan lain yang masuk ke HP Anda. Kartu-kartu Lebaran elektronik itu akan dilihat sekilas sebelum dihapus dari HP Anda.
 
Dunia vertual telah mengubah perilaku manusia. Semua itu dimungkinann oleh revolusi teknologi komunikasi modern, yang makin mendorong manusia berasyik masyuk dengan dirinya sendiri. Teknologi facebook, WhatsApp, twitter, instagram, dll., telah mengubah perilaku manusia secara signifikan. Yang paling terasa adalah tergerusnya rasa respek. Ini disebabkan oleh hilangnya hal yang bersifat fisikal dalam komunikasi virtual itu. Maka berkembanglah satu model komunikasi yang sepintas terkesan demokratis, tapi sebenarnya telah menghilangkan nilai-nilai ketimuran kita. Oleh karena itulah muncul tensi yang cenderung mengarah ke konflik dalam komunikasi virtual itu. Kepraktisan hubungan antar manusia yang dimungkinkan oleh teknologi komunikasi modern itu dibayar mahal dengan hilangnya kehangatan hakiki dalam komunikasi antar insan, tidak seperti yang kita rasakan ketika berkomunikasi langsung secara fisik.
 
Kita adalah bangsa pemakai dan pemuja teknologi maju. Apa-apa yang diciptakan oleh bangsa asing dengan cepat akan kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Dalam kenyataan sehari-hari betapa kita lihat eforia yang bahkan sudah kelewat batas dalam menggunakan teknologi fotoshop untuk berbagai hal, tidak hanya untuk memuja, tapi juga untuk menghina; tidak hanya untuk menipu orang, tapi juga untuk menipu diri sendiri. Kini kita menerima kartu Lebaran elektronik dengan lebih banyak menampilkan foto diri dan keluarga, bukan gambar ketupat Lebaran berhiaskan huruf Arab dan Latin sebagaimana biasa ditemukan pada kartu Lebaran konvensional.

Zaman kartu Lebaran konvensional sudah tinggal cerita masa lampau. Ia tidak mungkin akan kembali lagi. Mungkin sekarang masih ada segelintir orang yang melakukannya (saya menerimanya dari seorang politikus ternama Malaysia dua hari sebelum 1 Syawal 1438H), tapi itu pasti dianggap sudah ketinggalan zaman. 

Bagaimana perasaan Anda ketika menerima kartu-kartu Lebaran elektronik itu? Sudahkah Anda menghitung berapa banyak kartu Lebaran elektronik yang masuk ke dalam ponsel Anda? Apakah Anda sempat membaca semuanya? Apakah Anda sempat pula membalas setiap kiriman kartu Lebaran elektronik yang Anda terima? Adakah setiap kartu Lebaran elektronik yang Anda kirimkan dibalas oleh di penerima dengan kartu Lebaran elektronik pula atau dengan ucapan SMS biasa? Adakah Anda menyimpan seluruh kartu Lebaran elektronik yang Anda terima dari sanak famili dan teman-kerabat Anda? 

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin lebih bersifat refleksi untuk mencari makna kartu Lebaran elektronik dalam kehidupan umat Islam di zaman ini. Sebab saya merasa ada yang hilang. Karena itu saya ingin berkata kepada para sahabat saya: Idul Fitri tahun depan, kirimilah saya kartu Lebaran lewat pos. Saya telah mengalami kejumudan dengan ratusan foto/video/sms yang membombardir layar HP saya setiap hari, yang hampir-hampir membuat saya mati rasa. (*)

Langkan

Bundo Kanduang Menurut Sistem Kekerabatan Matrilineal Minangkabau

Bundo kanduang disebut sebagai penerus keturunan, pewaris harta pusaka, penjaga kesejahteraan dal

Kampus

Tingkatkan Kreativitas, Unand Gelar Sosialisasi PKM

Bertempat di Ruang Seminar Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM), kemahasiswaan Unand mengadakan sosiali

Kampus

Teman jadi Salah Satu Kunci Bisnis

Pesta Rakyat Ekonomi (PRE) Fakultas Ekonomi (FE) Unand melaksanakan acara Sharing Session dengan

Langkan

Dasar-dasar Filsafat Adat dan Budaya Minangkabau

Ketentuan-ketentuan dari alam semesta. Semua fatwa adat berdasarkan ketentuan- ketentuan yang ter

Konsultasi

Keterlambatan Pembayaran Klaim Asuransi

Bapak/Ibu pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati. Satu bulan yang lalu saya menga

Malu Aku Jadi Orang (Bahasa) Indonesia

Kalau orang Islam marah jika simbol agama mereka dilecehkan oleh agama lain, itu wajar saja. Kalau
Kampus

Basindoda UNP Buat Dua Film

Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (Basindoda) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Univers