Puisi

Asal Mula

siul sepi merayap ke setiap celah
patahan tanah dan kayu
mengeja doa kesendirian,

sepanjang musim mengigir pasir
sepanjang angin bertiup mencari kasih
di lipatan daun-daun dan lilit benang ulat,

kembang hilang ucap
tak kehendak menjadi buah
menjaga tapa di kuncup tangkai
yang dipinang kering dan hening,

bulan dalam pelukan pering
duri kecil di bawah asuh langit
bercerita perihal kedatangan Adam dan Hawa
yang sebentar lagi.

batu sedu menghidu lapuk arku
tanah sendu dibelit suhu
semua menanggung berat rindu,

sebentar lagi, sebentar lagi.

di tempat lain Adam mulai 
mengunyah buah khuldi
sejak itulah kesenyapan bumi terlumati
dua pasang kaki 
melangkah mencari kasih
menatang tikam matahari.

Gaptim, 08.06.17

Jalan Ulat

semasih ranting bertekuk mengelus sepi
senandika cucur getah akan terhenti
dan jalan lapang bagi tubuh ini
terbentang bagai terhubung ke dalam mimpi,

sekali tubuh ini bergerak
meliuk turuti jejak pawana mengelana
mengantar surat-surat musim yang ditulis masa,

ke pucuk segala ranting
ke dahan berpuluh akar
jejak ini meneruskan kabar 
tentang tagih hujan ke rahim awan
juga sekeci layar beratus bandar
yang bakal menyuarakan hidup
agar hijrah dari yang redup.

liuk gerak tak berkaki ini
juga akan melewati garis nestapa
secabang dahan yang dicangkok
akar berserabut di tanah berbungkus plastik
mencari kehidupan dalam cekaman
aku berguru kepadanya
tentang hidup yang bakal terpisah dari induknya
sebelum kelak aku bertapa rupa kepompong
menunggu kupu-kupu
ujung hidup yang kurindu dengan sungguh.

Gapura, 06.17

Ratap Pohon Siwalan

aku cemburu menatap tiang
dimanja suhu
tuding langit dengan jari runcing.

ia abai ziarah burung
kecuali dengan lilitan kawat
bercumbu menghabiskan waktu
hingga angin tersihir menjadi batu.

semula takikku jalan purba penyedap lahang
siasat sekawanan lebah
sejenak berumah sebelum menjamah timba,
tapi kini siapa peduli
sunyi sekali
sebatas mengeringkan matanya
di antara tepuk tangan tiang
dan kincir baling garam yang karatan.
mungkin sebentar lagi
ketika lebah cikar nuju kampung lain
dan kupu-kupu mengikutinya dengan sayap rekat bendalu
aku akan ditebang
untuk melengkapi cerita pembangunan

yang kadang dibesar-besarkan
kadang dijadikan alasan.

Gapura, 2017

Sore Yang Dijamu Gerimis

amat lembut ia membelai
mirip sentuh kelingking gadis gapura
menempel di kulit,

kakinya turuni pancuran
tiktok terdengar melembah yang samar,

mengalir segaris ke badan tempayan
mengalir seperti kata rayuan,

turuti cekung kecil batu umpak
tertampung bening membasuh hening,

setitik jatuh ke tanah berganti yang lain
berjuta titik dikirim mata langit berlapis albumin,

diteguk halaman lenyaplah dahaga
bayang sore lenyap di kuncup bunga,

semua ligih dengan dingin yang sama.

Bungduwak, 21.06.17

Jalan Setapak di Lereng Bukit Rongkorong

abadi sembahyang pohonan
memuja langit dengan putik kembang
barangkali pada akarnya
masih lekat harum jejakku
tersarung di lempeng batu.

di tepi, masih rima rumputan
berkawin lengang, memamer kembang
capung kecil sekutu angin
menggoyang ujung dengan sebaris kidung
barangkali pada batangnya
sisa lalu perjalananku
disimpan getah berbalut rindu.

dan di sebuah tikungan
yang ditumbuhi rumpun pandan
masa laluku berguru duri menjaga tajam.

Gapura, 2017

Semut

kami buat jalan sederhana di kota kayu
antara pangkal paku ke akar berdebu,

sepanjang jalan kami berangkul
mengusung makanan lewati lengang,

cahaya bulan pernik di punggung kami
lidah embun menjilat-jilat sambil menuntun,

lubang yang satu rumah kami yang utuh
di sela cakar akar dan rumput liar,

kami bersumpah untuk lubang yang satu iti
makanan ini akan jadi penawar segala rindu,

begitulah kami berusaha
menjadikan cinta sebagai tenaga.

Dikkodik, 2017

Banjeru

sungaimu mengarus buih putih
membedaki wajah bebatuan,

hanyutlah penatku terbuang ke perutmu
disunggi air menuju laut biru,

sawah berpetak-petak dalam peluk embun
tumbuh rinduku di tepi, menyendiri,

denganmu aku berdiri
membanding diri dan sore hari.

Banjeru, 2017

Sehabis Subuh

dingin tertakar gaun kembang 
berjejak di halaman
mengusap wajah rumputan,

kuterima segala apa dengan telapak tangan
di dalam sebuah kamar
pada sajadah yang terhampar,

rakit doa sunting tasbih yang berputar.

Dikkodok, 2017

*A. Warits Rovi - lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Menulis puisi, cerpen, esai, artikel dan nnaskah drama. Tulisan-tulisannya tersebar di media lokal dan nasional, antara lain di Jawa Pos, Republika, Media Indonesia, Seputar Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Majalah Femina, Indo Pos, Solopos,Tabloid Nova, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bali Pos, Tribun Jabar, Lampung Pos, Banjarmasin Pos, Basabasi.co, Radar Surabaya, Riau Pos, Suara NTB, Haluan, dll. Karya-karyanya juga teranantologi dalam “Bersepeda ke Bulan” puisi pilihan Indo Pos 2014,Ayat-Ayat Selat Zakat (puisi pilihan Riau Pos, 2014), Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016), dll. 

Remaja

Lintasan Kita

Lintasan Kita
Oleh Heru Usman

Marilah terbang bersamaku,

Konsultasi

Pemeriksaan Analisa Kromosom

Assalamualaikum dokter Dovy. Saya ingin konsultasi sama dokter. Nama saya Silvia, umur 28 tah

Konsultasi

Jangan Asal Gunakan Obat Misoprostol

Assalamualaikum dr Dovy Djanas. Kemarin selama 2 hari saya minum misoprostol dikasih dokter k

Khasanah

Naskah-Naskah Tarekat Samaniyah

Artikel Apria Putra (2010) yang berjudul “Tarekat Samaniyah di Minangkabau: Seput

Kampus

Sema dan Dema Fakultas Ushuluddin Dilantik

Wakil Dekan III  Fakultas Ushuluddin melantik Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa terpilih p

Puisi

Kepada Penyair Hepi

Kalian membangun rumah 
Untuk diri kalian sendiri. 
Kalian tidak pernah ber

Remaja

Shafina Rafifah, Pelajar Multitalenta SMPN 1 Padang

Tiada Hari tanpa Latihan

Remaja putri yang satu ini punya multitalenta.