CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Antara_Idul_Fitri_dan_Maaf_Lahir_Bathin
Cagak Utama

Antara Idul Fitri dan Maaf Lahir Bathin

Penulis : Yona Primadesi   

Berbagai ucapan dikirimkan dan dihaturkan bagi kerabat dan tetangga sekaitan Hari Raya Idul Fitri. Kalimat “mohon maaf lahir dan bathin” kemudian menjadi topik utama di masa-masa tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang berasumsi, belum afdal ibadah puasa seorang umat jika menjelang Syawal tidak mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin pada sesama. 

Tidak cukup sampai di situ, berbagai spanduk, baliho, papan reklame, hingga iklan-iklan di media massa pun berlomba-lomba memampang kalimat tersebut. Seakan tidak lengkap kehadiran bulan Syawal tanpa kalimat, “mohon maaf lahir dan batin”. Akan tetapi kemudian menjadi sebuah pertanyaan yang barangkali remeh di antara tradisi masyarakat yang demikian, sudah tepatkah penggunaan kata lahir dan batin dalam sebuah permohonan maaf?

Pikir saya, barangkali kalimat “maaf lahir dan batin” tersebut, salah satunya, sebagai akibat dari khotbah di setiap salat Idul Fitri yang disampaikan khatib: kabar bahagia bagi umat muslim yang telah selesai menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, dan bahwa Idul Fitri dimaknai sebagai hari penghapusan dan pengampunan segala dosa dan kesalahan, bahwa manusia kembali kepada fitrahnya, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Idul Fitri secara berjemaah dan bebas disepakati mengandung pengertian, “kembali suci”, yang imbasnya, permohonan maaf secara besar-besaran lahir dan batin pada sesama manusia.

Secara etimologis, Idul Fitri berasal dari bahasa Arab, id dan al-fitri. Id itu sendiri mengandung pengertian sebagai sesuatu yang dilakukan secara berulang atau dilakukan pada waktu yang sama. Memang betul, perayaan Ramadan selalu dilakukan pada tanggal 1 Syawal setiap tahunnya. Sementara fitri, seperti yang selama ini dipahami dan diyakini oleh masyarakat, tidaklah sama artinya dengan fitrah. Fitri sesungguhnya berarti berbuka, tidak lagi berpuasa, atau lugasnya “sarapan pagi”.

Jelas terlihat bahwa Idul fitri bukanlah sesuatu yang dimaksud untuk menyatakan sesuatu yang kembali suci, yang terhapus dari dosa, yang fitrah, melainkan “selamat hari sarapan pagi” semata. Artinya, ucapan idul fitri sebagai penanda bahwa umat muslim sudah usai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan selayaknya berbuka pada tanggal 1 Syawal.

Pemaknaan yang keliru ini kemudian menarik masyarakat pada sebuah tradisi pengucapan kalimat “mohon maaf lahir dan bathin”.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lahir bermakna yang tampak dari luar atau kelihatan keduniaan; jasmani. Sedangkan, batin adalah sesuatu yang terdapat di dalam hati; sesuatu yang menyangkut jiwa (perasaan hati dan sebagainya). Ketika permintaan maaf menyangkut kesalahan lahir dan kesalahan batin, secara semantik menjadi samar. Barangkali, kesalahan yang sifatnya lahir atau terlihat, bisa dimaklumi. Akan tetapi bagaimana dengan kesalahan yang sifatnya “batin”? Kesalahan yang bagaimanakah itu? Apakah manusia bisa menerka dan menakar hati atau batin manusia lainnya? Apakah manusia keseluruhan sudah memiliki kemampuan sebagai ahli nujum atau paranormal?

Akan lebih logis, ketika permintaan maaf diucapkan,“mohon maaf atas segala kesalahan yang disengaja maupun yang tidak” ketimbang kesalahan yang sifatnya batin dan tak kasat  mata tersebut. Tetapi bukankah bahasa bersifat abriter, manasuka? Jadi, mohon maaf jika penulisan saya ini secara sengaja maupun tidak sudah menggelitik tradisi yang bertahun diyakini dan diamini belaka. (*)

*Yona Primadesi, alumnus Ilmu Perpustakaan Universitas Indonesia. Penggagas dan penggiat Rumah Kreatif Naya. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Saat ini menetap di Yogyakarta.

Langkan

Adat dan Budaya Minangkabau di Tengah Pergulatan Budaya Global (1)

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Globalisasi atau apapun jugalah definisi, batasan atau teori yang mendukungnya dan dengan berbaga

Cerpen

Qadam

Penulis :

Oleh: Budi Hatees

1

AKU mulai kisah ini dari dirimu. Semua ini memang tentang dir

Cagak Utama

Meniliak Bulan untuk Memulai Ramadan

Penulis : Pramono

Dari hasil sidang isbat pekan lalu (25 Mei 2017), pemerintah telah menetapkan awal Ramadan tahun

Kampus

HMJ Tadris Gelar Creophy

Penulis : Cis - Suara Kampus

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tadris Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam N

Remaja

Malam Konyol

Penulis : Fetri Ramadhani

Malam Konyol

Malam nan bising
Malam penuh peluh
Malam bender

Kampus

Lagi, Mahasiswa Teknik Kimia UBH Dikirim ke Jepang

Penulis : Hijrah Adi Sukrial - Padang Ekspres

Wakil Rektor III Universitas Bung Hatta Dr. Diana Kartika, M.Hum bersama Dekan Fakultas Teknologi

Hiburan

Nindy Ayunda: Siap Come Back

Penulis : JPNN

Masa cuti Anindia Yandirest Ayunda atau yang lebih dikenal dengan sapaan Nindy Ayunda setelah mel