CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Pameran_Bakaba
Cagak Utama

Pameran Bakaba#6 di Jogja Gallery Yogyakarta

Penulis : Muharyadi - Pendidik, Pengamat Seni Rupa dan Kurator   

Membaca Indonesia dalam Ranah Estetis Kekinian

Indonesia dalam kondisi kekinian ternyata menarik perhatian para perupa “urang awak” yang tergabung dalam Sakato Art Community Yogyakarta untuk diangkat kepermukaan karya menjadi “bahasa utama” melalui ranah visual estetis. Puluhan perupa yang tampil pada pameran bakaba#6 di Jogja Gallery jalan Pekapalan 7, Alun-alun Utara Yogyakarta, mengusung dan mengangkat tema besar “Indonesia” dalam beragam fenomena kekinian yang direpresentasikan melalui bungkusan karya dua dan tiga dimensi. 

Yang hadir kemudian karya-karya tanpa kehilangan “roh” sebagai karya seni melalui eksplorasi hasil pergulatan kreativitas para perupa yang tampil memukau bahkan mengejutkan publik seni. Betapa jeli dan sensitifnya para perupa menangkap berbagai isu-isu persoalan kekinian yang tengah terjadi di tanah air tercinta ini. 

Ditelisik dari tema-tema bakaba sebelumnya yang mengeksplorasi berbagai filosofi budaya Minangkabau, Pada bakaba#4 tahun 2015 mengangkat tema “Randang dan Rendang” dan “Cadiak Indak Mambuang Pandai” pada bakaba#5 tahun 2016 yang dirujuk dari petatah masyarakat Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari yang bersentuhan dengan sastra Minang, baik lisan maupun tulisan seperti ; (1). Menggunakan bahasa Minangkabau, (2) Berlatar budaya Minangkabau, (3).Berbicara tentang manusia dan kemanusiaan (4) Berbicara tentang hidup dan kehidupan masyarakat dan (5).Warna kesenian Minangkabau.

Pada pameran bakaba#6 ini kita mengamati kondisi obyektif visual karya para perupa yang secara kasat mata dapat dilihat dan dicerna sebagai hasil ekspresi maupun refleksi atas realitas yang diimajinasikan bahkan sebaliknya imajinasi yang direalisasikan, sebagaimana dapat kita sidik melalui karya-karya Bakaba#6. Kemudian tema Indonesia sengaja dipilih dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana perupa juga mampu berperan aktif dalam menyerukan perdamaian di antara berbagai perbedaan yang muncul di tengah-tengah bangsa.

Lihat dua karya Rudi Mantofani (44 th) salah seorang penggagas munculnya tema Indonesia pada sesi bakaba#6 ini yang tampil ditempat berbeda diantaranya berjudul Lambang Garuda Pancasila di iven ArtJog kemudian Dasar / aluminium and broze plating / 280 x 50 x 300 cm/ 2017 dalam cetak molding dan Merah dan Putih/300 x 180 cm/akrilik + plating emas, 2017 di museum OHD Magelang, ketiga karya secara konseptual menginterpretasikan persoalan kebhinekaan yang harus dipertahankan secara utuh demi NKRI.

Ketiga karya Rudi Mantofani menghipnotis dan merayakan mata pengunjung pameran dan publik seni baik dari tanah air maupun pengunjung sejumlah negara Asean bahkan Eropa yang menghadiri pameran bakaba#6. Pada ketiga karya Rudi secara simbolik terlihat menggambarkan kadar pemahamannya terhadap peristiwa di tanah air sebagai bentuk narasi visual menjadi salah satu contoh betapa pentingnya menjaga kebersamaan dan perdamaian dalam perbedaan dengan mengedepankan nilai-nilai Pancasila sebadai dasar Negara.

Hal menarik lainnya, melalui bahasa simbolik dituturkan Dwita Anja Asmara (53 th) urang awak yang juga dosen ISI Yogyakarta melalui karya tiga dimensi berjudul “Tanah, Laut, Udara”/stone ware berglasir/100x100x25 cm/2017. Dwita mengajak penikmat agar lebih terbuka serta arif dan bijaksana dalam melihat permasalahan yang muncul kepermukaan. Kekhawaitran Dwita Anja Asmara terhadap kekayaan alam Indonesia berupa tanah, laut dan udara yang sebagian telah dikuasai pihak asing digambarkan melalui tiga obyek menyerupai telur retak, dua diantaranya berwarna putih dan satu berwarna merah dan masing-masingnya berhiaskan peta Indonesia beralaskan bendera asing. Dari perspektif perekonomian bangsa saat ini yang belum stabil dalam beberapa tahun terakhir divisualisasikan dengan syarat makna.

Lain lagi karya lukis Erizal AS (38 th) dalam kemasan abstrak ekspresionis berjudul “Identity Politick”/ Akrilik/180x250cm/2017 juga tak kalah menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan lebih dalam. Dalam ranah teks sebagai visualisasi karya lumuran tube cat ke kanvas yang menghasilkan goresan garis, warna, tekstur bahkan komposisi hasil ekspresi maupun refleksi atas realitas yang direalisasikan. Persoalan substansi atas teks sebagai unsur psikologis karya berangkat dari gagasan yang menggambarkan narasi visual yang berangkat dari nilai-nilai dalam ranah politik yang tengah berkembang di dunia perpolitikan saat ini.

Pesan-pesan simbolik segera dapat disidik melalui lukisan Besrizal Besta, Membagi, charcoal on canvas/ 200 x 200 cm / 2017, Dodi Irwandi, Seteguh Batu Cadas/ acrylic on canvas/ 90 x 140 cm/ 2017, Gusmen Heriadi, Claim/ mixed media on canvas/ 220 x 200 cm/ 2017, karya Hamdan/ Titanium White/ akrylik on canvas/ 180 x 150 cm/ 2017. Keempat karya memiliki kekuatan struktur lukisan yang esensial dan multi makna.

Pegabtraksian bentuk pada nilai penampilan berupa wujud, nilai isi, rasa, intuisi atau ide dan nilai pengungkapan yang menjadi wahana “bakaba” pada sejumlah karya yang tampil seakan tidak bisa di determinasi oleh apa dan siapa. Namun aspek penilaian dari sisi estetika semisal lukisan-lukisan abstrak dengan ragam variasinya ternyata lebih menilai karya pada kualitas instrisik yang secara sengaja maupun tidak berhubungan dengan dunia luar merujuk kepada orininalitas, otensitas dan otonomi. 

Lihat karya Herisman Tojes, Imaji, acrylic on canvas, 250 x 180 cm, Iabadiou Piko, Sunday Morning Blue, aerosol spray paint & acrylic on linen blend, 200 x 200 cm, Iqrar Dinata, Nyawiji, acrylic on canvas, 180 x 160 cm, Jhoni Waldi, Introspeksi, acrylic on canvas, 150 x 120 cm, Khairul El Kamal, Sunrise, acrylic, pencil on canvas, 150 x 160 cm, MA. Hasby (Boi), Post Card, mixed media, 170 x 140 cm, Masriel, Life in Five Bottles, acrylic on canvas, 150 x 200 cm, Riri Suheri, Bhineka, acrylic, rubber on canvas, 140 x 180 cm (2 panels), Ronald Effendi, Poise, acrylic on canvas, 150 x 170 cm, Syahrial Yayan, Batas (Melihat Lebih Dekat Series), acrylic on canvas, 145 x 145 cm, Deskhairi, Padi Menguning, acrylic, pencil on canvas, 170 x 165 cm, Zulfa Hendra, Ber-andai, acrylic on canvas, 130 x 200 cm, Zirwen Hazry, Personal, Melihat ke Dalam #4, acrylic on canvas, 180 x 180 cm, Yunizar, 5920, acrylic on canvas, 200 x 200 cm, 2017.
Karya Tiga  Dimensi dan Lanscap Mooi Indie

Kelangkaan freksewnsi pameran patung dan minimnya jumlah pematung di Indonesia saat ini tak menyurutkan semangat dan kreativitas lahirnya karya-karya terbaik setiap saat dan waktu. Lihat diantaranya karya tiga dimensi Akmal Jaya, Topeng, fosil, 82 x 32 x 22 cm, Arlan Kamil, Kemesraan/fiberglas/40x40x80cm, Basrizal Al-Bara, Nyayian Hutan/fosil kayu, granit/245 x 80 x 70cm, Handiwirman Saputra, Pemangkasan, 180x210x420cm, Rispul, Cahaya Ilahi, 30x75x110cm, Rudi Hendriatno, Mabuk Cinta#2,/teak wood, suren/ 48x70x160, Syahrizal Koto, Manfaat, fiberglass, 60x190x210, Yul Hendri, Penyambung Hidup, fiber, resin, car paint, 150 x 250 x 75 cm, dan Yusman, Perahu#2/Fiberglass, 160x120cm/2017 terlihat liukan dan getaran bentukan garis tiga dimensionalnya yang dinamis, berirama hasil penjelajahan kreativitas tak pernah berhenti mengalir di tangan pematung urang awak yang mengusung beragam pesan dan makna yang disampaikan.

Beberapa lukisan merujuk landscap “Mooi Indie” pada pameran ini, tidak saja menyempurnakan isi dan kontens pameran, tetapi juga makin menyempurnakan lahir, tumbuh dan berkembangnya seni rupa urang awak Sumatera Barat. Lihat karya M. Ridwan, Landscape Moi Indie #4, acrylic on canvas, 150 x 250 cm, Jumaldi Alfi, Melting Memories-Rereading Landscape Mooi Indies #07, acrylic on canvas, 175 x 250 cm dan Darvies Rasjidin, Ngarai Takuruang, acrylic on canvas, 140 x 140 cm, 2017.

Dalam catatan sejarah kecendrungan lansdcap lukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya berupa pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Tetapi ketiga lukisan perupa pameran bakaba#6 tentulah tidak lantas menjadi bayang-bayang Wakidi dari sisi tampilan lukisan, melainkan lebih melihat alam sebagai obyek menarik dan tak pernah kering untuk digali dan disiasati kepermukaan dalam ranah estetis. Demikian sebuah catatan apresiatif atas acara yang digelar pada 18 sampai 31 Mei lalu itu. (*)

Cagak Utama

Naskah Kuno dan Dunia Industri

Penulis : M Redho Illahi - Mahasiswa Sastra Indonesia Unand

Indonesia memiliki beragam kekayaan dalam bidang kesusastraannya yang dapat dijadikan penunjang p

Remaja

Barisan Pelanjut Perjuangan

Penulis : Benny Dzarr Al Ghifari

Mereka yang terpanggil jiwa nasionalismenya
Mereka yang datang karena bentuk cinta dan bakt

Remaja

Gouldy & Rexy: Dua Bersaudara Peraih Emas

Penulis : Taufik Hidayat - Padang Ekspres

Di usia mereka yang masih muda, dua kakak beradik Gouldy Alvalery, 16 siswa SMA N 5 Padang dan Re

Cagak Utama

In The Penal Colony: Adaptasi Sastra ke Film

Penulis : Adi Osman

Sinema sebagai media-baru menjadi populer di ranah perkembangan budaya naratif. Perkembengan sine

Konsultasi

Kebutuhan Nutrisi Pada 3 Bulan Kehamilan

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum Dokter Dovy….. Boleh saya konsul sama dokter? Saat ini saya hamil anak per

Hiburan

Raisa-Isyana: Proyek Berdua

Penulis : JPNN

Apa jadinya jika Raisa Andriana dan Isyana Sarasvati berkolaborasi? Dua penyanyi cantik itu punya

Konsultasi

Kewajiban Menghadiri Mediasi sebelum Pemeriksaan Pokok Perkara

Penulis : Miko Kamal, SH, LL.M, PhD

Assalamualaikum wr.wb Bapak/Ibu pengasuh Rubrik Hukum yang saya hormati. Saat ini saya sedang