Cagak Utama

Pujangga di Antara Kejeniusan dan Kegilaan

Aku orang sakit .... Aku orang terkutuk. Aku laki-laki yang tak menarik. Aku percaya hatiku sakit. –Fyodor Dostoyevsky, Catatan dari Bawah Tanah.

Salah satu pendekatan pada kritik sastra modern adalah psikologi sastra. Pendekatan ini mencoba memahami sastra melalui aspek-aspek kejiwaan yang menjadi bagian dari sastra sebagai dunia kreatif yang kompleks. Pada umumnya, psikologi sastra berusaha menjelaskan tiga macamfokus kejiwaan pada sastra, yaitu (1) psikologi pengarang, (2) psikologi tokoh fiktif yang dikarang, dan (3) psikologi pembaca. Pada tulisan ini, dibahas psikologi sastra dari sudut pengarang alias pujangga yang memiliki fenomena menarik dalam proses kreatif.

Pada kitab kanon kritik sastra, Theory of Literature, yang ditulis oleh Rene Wellek dan Austin Warren, dijelaskan bahwa pujangga adalah orang-orang jenius yang selalu mengundang kontroversi dari waktu ke waktu. Sejak zaman Yunani Kuno, kejeniusan pujangga telah dianggap sebagai hasil “kegilaan” (madness)–dari tingkat neurotik sampai psikosis.

Sejumlah filsuf menjelaskan bahwa fenomena ini bisa terjadi karena proses kreatif yang dilalui pujangga mesti melibatkan regresi atau kemunduran proses mental, yakni upaya melampaui dan mendobrak batas antara pikiran rasional dan pikiran irasional. Socrates menyatakan bahwa seorang pujangga tidak akan bisa mencipta, kecuali dia kehilangan akal dan mendapat ilham. Murid Socrates, Plato, menyatakan bahwa dalam mencipta pujangga mendapat inspirasi hebat yang mengakibatkan fakultas kesadarannya menyerah pada kegilaan. Sementara itu, murid Plato, Aristoteles, berpendapat bahwa tak ada seorang jenius besar yang tak tersentuh oleh kegilaan. Pada dasarnya, mereka menghubungkan masalah kegilaan seorang pujanggadengan “berkah” dari Muses–dewi-dewi kesenian.

Pada zaman modern, sejumlah filsuf yang menekuni ilmu jiwa mulai bersikap ilmiah terhadap hubungan pujangga dan kelainan jiwa alias kegilaan. Salah seorang pakar terdepan dalam perkara ini,Sigmund Freud, yang juga terkenal berkat risalah psikoanalisis, menyimpulkan bahwapujangga adalah seorang neurotik yang keras kepala. Pujangga berkarya agar dirinya tidak menjadi gila, tetapi sekaligus juga agar tidak dapat disembuhkan. Pujangga adalah pelamun yang diterima masyarakat.

Selanjutnya, salah seorang mantan murid Sigmund Freud yang terkenal, Carl Gustav Jung,melanjutkan penelaahan masalah kejiwaan pujangga dengan menciptakan tipologi psikologi yang cukup rumit. Jung membedakan pujangga dalam empat tipe kejiwaan yang dibaginya berdasarkan tingkat kekuatan pikiran, perasaan, intuisi, dan sensasi yang ada padadiri seorangpujangga. Pembagian ini kemudian dipilah lagi menjadi dua kategori, yaitu kategori ekstrovert–kepribadian yang terbuka/periang–dan kategori introvert–kepribadian yang tertutup/pemurung. Jung mengatakan bahwa pada kenyataannya ada pujangga yang menunjukkan tipe aslinya melalui karya-karyanya dan ada pula yang justru menampilkan antitipenya alias tipe yang bertentangan dengan kepribadiannya.

Dalam sejarah sastra dunia, ada banyak pujangga yang memiliki masalah kejiwaan (yang fenomenal). Beberapa di antaranya tercatat pernah dirawat di rumah sakit jiwa, seperti Friedrich Nietzsche (penulis ThusSpokeZarathustra), Antonin Artaud (penggagas “Teater Kekejaman”), F. Scott Fitzgerald (penulis TheGreatGatsby), Hermann Hesse (peraih Nobel Sastra 1946), T. S. Elliot (peraih Nobel Sastra 1948), William Faulkner (peraih Nobel Sastra 1949), Boris Pasternak (peraih Nobel Sastra 1958), Yasunari Kawabata (peraih Nobel Sastra 1968), Yukio Mishima (penulis The Temple of the Golden Pavilion), dan Paulo Coelho (penulis TheAlchemist). Sebagian besar pujangga lainnya mengalami depresi berat, seperti Dante Alighieri yang menghadapi kematian kekasihnya, Beatrice Portinari, lalu menulis TheDivineComedy; Fyodor Dostoyevsky yang dililit utang, lalu menulis CrimeandPunishment; dan Pramoedya Ananta Toer yang menjadi tahanan Buru, lalu menulis Tetralogi Buru–BumiManusia, AnakSemuaBangsa, JejakLangkah, dan RumahKaca. Bahkan, beberapa kasus deperesi berat yang dialami pujangga tak jarang berujung pada aksi bunuh diri, seperti Virginia Woolf (pelopor sastra feminisme) yang menenggelamkan diri ke sungai, Sergei Esenin(penulis Land of Scoundrels) yang gantung diri, Sylvia Path(penulis Ariel) yang juga gantung diri, dan Ernest Hemingway (peraih Nobel Sastra 1954) yang menembakkan senapan ke kepala sendiri.

Anthony Storr, seorang psikiater asal Inggris, pada suatu kesempatan di Royal College of Psychiatrists mengatakan, “Kreativitas berhubungan dengan ketidakstabilan mental. Kebahagiaan hati tidak kondusif untuk menghasilkan daya cipta. Jika kita sudah merasa puas dan nyaman di dunia ini, mungkinkah kita akan tergerak untuk menulis novel besar?” Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebuah karya sastra besar selalu lahir akibat suatu gejolak yang menggelisahkan seorang pujangga. Suatu perasaan yang mendorong hati untuk menulis dan tidak bisa tidak diungkapkan. Suatu masalah yang mengganggu pikiran.

Pada perkembangan penelitian lebih lanjut, sebagian psikolog lebih tegas dalam menyikapi hubungan antara kegilaan dan kreativitas. Dengan kata lain, kreativitas kemudian dijadikan bentuk khusus dari kegilaan. Kreativitas adalah strategi sublimasi atau untuk mengurangi tekanan kegilaan atau modifikasi bentuk kegilaan. Konon, Charles Dickens (penulis David Copperfield) dan Balzac (penulis The Human Comedy) terus-menerus menulis untuk mengurangi tekanan depresinya–jika mereka berhenti menulis, mereka benar-benar bisa menjadi gila.

Dalam kaitannya dengan masalah kejiwaan seorangpujangga, psikologi sastra menyandarkan kajiannya pada pendekatan ekspresif. Pendekatan ini memberikan perhatian terhadap bagaimana suatu karya sastra diciptakan dan bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Wilayah pendekatan ekspresif meliputi diri pujangga–pikiran dan perasaan yang tercermin pada hasil-hasil ciptaannya. Pendekatan ekspresif lebih banyak memanfaatkan data sekunder, yaitu data yang diangkat melalui aktivitas pujangga sebagai subjek pencipta.

Pada dasarnya, pujangga adalah individu-individu yang sangat kreatif (dan tak jarang melampaui batas). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kreatif berarti memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan. Definisi ini sangat relevan dengan pengertian jenius, yakni memiliki kemampuan atau bakat luar biasa dalam berpikir dan mencipta. 

Akhirnya, sebagai penutup, pada tulisan ini dikutip sepotong diktum yang kondang hasil pemikiran salah seorang novelis abad ke-19, George Sand:batas antara kejeniusan dan kegilaan tak lebih besar dari sehelai rambut. (*)

Remaja

Grup Tari Deslenda: Berani Keluar Dari Pakem Tradisional

Tarian memukau ditampilkan tujuh pelajar SMK N 7 Padang di Taman Budaya Sumbar beberapa waktu lal

Carito Niniek Reno

Pamakaian Tikuluak Jo Baju Kuruang Basiba

Alun juo sudah-sudahnyo pabincangan Niek Reno jo cucunyo nan gadih ketek nan suko batanyo tu lai.

Kampus

Amik Daparnas Peduli dengan Alumni

Bahagia sekali rasanya bisa berada di tengah masyarakat Kota Padang untuk menghadirkan sekemulit

Konsultasi

Kekuatan Hukum Supporting Letter

Bapak/Ibu pengasuh rubrik konsultasi hukum yang saya hormati. Saya Teguh, salah seorang pemil

Kampus

Kompak

Mahasiswa UNP asal Kabupaten Tanahdatar dan Padangpanjang yang tergabung dalam Imatar UNP berfoto

Carito Minang Kini

Tan Kereang Manulak Kanaik An Arago

“E, Tan Kereang, apo nan ang karajoan ko. Tangahari tagak ko tonggak listrik nan ang panjek

Hari Kartini, Emansipasi dan Kodrat Wanita

Siapa yang tidak mengenal Raden Ajeng Kartini. Ketika menyebut nama Kartini, muncul di dalam pikiran