Cerpen

Perempuan Pengusung Keranda

”Apa kau tidak ingin ikut mengusungnya? Sebentar lagi jenazah akan diberangkatkan. Keluarlah!” setelah terdengar derik pintu. Suara perempuan tua itu mengusik kesendirianmu.

Riuh di luar menerobos masuk. Suara orang-orang membaca salawat, teriakan memerintah, obrolan nyaring hingga tangisan anak kecil. Aroma dupa ikut menyeruduk penciumanmu. Berbaur dengan wangi pandan dan aneka kembang.

Kau tidak menoleh atau menyahut. Kepalamu yang mulai ditumbuhi helai-helai rambut perak melongo keluar jendela. Matahari tergelincir dari ubun-ubun langit. Cahayanya beriak-riak di sela helai-helai janur yang menari tertiup angin seperti kilau bintang mengintip pada malam tanggal belia.

Tatapan matamu yang mendung melesat, menukik pada sebatang jalan di depan sana. Kau melihat sepuluh pengusung keranda berarak pelan di batang jalan itu, menuju area pekuburan yang berjarak separuh kilometer dari rumahmu. Di belakang para pengusung keranda yang berambut digelung dengan sampir separuh betis itu, anak-anak dan ibu-ibu sepuh menyusul lamban seraya tak henti melafalkan kalimat tauhid. Dzikir-dzikir terucap senada seirama. Lirih namun riuh. Beberapa ibu muda sibuk mendiamkan bayinya yang rewel dengan menepuk-tepuk pantatnya. Ada yang sambil menyusui. Di antara iring-iringan itu, tidak satu pun terlihat yang namanya lelaki kecuali anak-anak dibawah umur 12 tahun. Bahkan, kau melihat dirimu sendiri di antara para pengusung keranda itu.

Gorden bermotif bunga dengan rumbai-rumbai cantik bertepi renda segera kautarik hingga menutupi lubang jendela. Tubuhmu berbalik. Pelan kelopak matamu yang sembab menyembunyikan manik mata yang berselaput kelabu.

“Aku selalu berharap dia nanti yang mengusungku, bukan sebaliknya,” lirih dan parau suaramu sedikit bergetar. Mendung di matamu pecah menjadi butiran-butiran bening yang berlompatan perlahan. Perempuan sepuh yang berdiri di depanmu membisu.

***

Entah sejak kapan kampung itu dinamai Kampong Bini’, kampung perempuan. Sepanjang hidup, kampung tempatmu menyusun hari dan menatanya dalam ingatan, sudah demikian namanya; kampong bini’. Sebuah kampung, di mana lahan-lahan tandus berbatu seolah menggoreskan kutukan pada setiap kening lelaki; menjadi perantau ke negeri orang. Sebuah kampung yang hanya dihuni anak-anak dan kaum perempuan yang sudah menapak usia paruhbaya hingga lanjut usia.

Rumah-rumah besar dihuni nenek-nenek yang mengurus cucu-cucu bandelnya dengan payah serta segelintir ibu hamil tua dan yang baru melahirkan.
Kampong Bini’. Tidak terdengar suara azan berkumandang meskipun sudah masuk waktu salat. Masjid menua dan mulai doyong terpagut usia. Tidak ada Jamiyah tahlil yang lumrah digelar setiap malam jumat. Buah-buah kelapa berjatuhan kering tanpa ada yang memetiknya.

Pemuda yang sudah merasa memiliki cukup tenaga memilih jadi pengais ringgit di negeri seberang daripada menggarap lahan tandus penumpul harapan. Ladang mandul terdiam kaku, membiarkan musim-musim hinggap silih berganti di rahimnya.

Di salah satu rumah besar berlantai keramik hijau daun, kau membatik sepi dengan goresan-goresan kegundahan yang tak pernah menemukan tepi. Kau takut hidupmu akan habis digerogoti sunyi. Ketakuan yang merajai. Bagimu, tidak ada kematian yang lebih mengerikan daripada kematian yang disebabkan oleh kesepian itu sendiri.

“Sepi itu seperti lintah,” lirihmu, tiap kali matamu sulit dikatupkan, dan gesekan pelepah janur di luar sana seperti bunyi langkah anak lelakimu yang datang diam-diam.

Sepanjang malam kau menunggu ketukan pintu. Suara anakmu menguluk salam. Namun kokok ayam membuyarkan bunyi langkah itu, pada pertengahan malam. Kokok ayam saling sahut. Nyaring dari kandang tetangga sebelah dan yang terdengar samar, di kejauhan sana. Sesekali diselingi bunyi kelepak sayapnya. Memang tidak berapa lama. Kokok ayam menghilang. Gesekan pelepah janur terdengar lagi seperti bunyi langkah anak lelakimu yang datang diam-diam. Kaupun menunggu ketukan pintu lagi. Suara anakmu menguluk salam. Hingga di penghujung malam.

“Sepi itu memang seperti lintah,” lirihmu, ketika lagi-lagi, kokok ayam menindih harapan.

Kaupun beranjak bangun sebelum sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela. Akan tetapi, tidak seperti harapan-harapan sebelumnya, ketukan pintu tiba-tiba sungguh terdengar nyata. Menusuk gendang telinga. Langkahmu terpaku di ambang pintu. Kepalamu ditelengkan hingga sebelah telingamu sedikit terangkat. Tidak salah. Ketukan pintu berulang beradu dengan cericit burung dan kokok ayam. Bukan hayalan.

“Sebentar,” tanganmu gugup saat memutar anak kunci.

Seorang perempuan dengan gelung rambut berantakan dan napas sengal berdiri cemas di ambang pintu.

“Ada telepon dari Malasia! Anakmu…”

***

Sudah lama kau ingin berhenti jadi pengusung keranda. Mengusung keranda hanya semakin membuatmu merasa dikerubungi lintah. Pada malam setelah ada orang meninggal dan kau ikut mengusung keranda jenazahnya ke pekuburan, lintah-lintah itu semakin kuat menghisap darahmu. Membuatmu sulit memejam mata. Hingga begitu matahari rekah, dan mendapati wajahmu di cermin tampak mengapas, kau tahu, lintah-lintah itu telah banyak menghisap darahmu semalam.

Kau selalu berharap peran perempuan pangusung keranda diganti oleh para lelaki. Paling tidak, lelaki dan anakmu menggantikan peran dirimu. Kau berharap mereka segera pulang. Mengabdi di kampung halaman. Akan tetapi, harapanmu seperti selembar tapis diempas angin ketika pagi itu kau menerima kabar bahwa anakmu terjatuh dari lantai tujuh hingga tubuhnya remuk tanpa nyawa.

“Sudah kubilang, kau jangan membawanya pergi. Tapi kau tetap membawanya. Kalau sudah begini, bagaimana?” jerit tangismu tak tertahan saat menerima telepon dari lelakimu di seberang sana.

Semula, lelakimu bersiteguh memakamkan sang anak di sana. Namun kau tetap menuntut jazadnya dipulangkan ke Indonesia, ke Madura, ke Kampong Bini’, ke rumahmu. Selain bisa diziarahi tiap waktu jika dikuburkan di sini, kau juga ingin meleburkan rindu yang sudah menggumpal di dada selama tujuh tahun.

Yah! Sudah tujuh tahun lamanya anak itu tidak pulang. Tidak pernah menjenguk kampung halaman sejak pergi saat baru berusia empatbelas tahun. Iya, ia pergi saat kau baru mulai mengajarinya memegang gagang cangkul dan linggis. Saat itu, tiba-tiba lelakimu pulang dari tanah seberang, tak sekadar melepas rindu setelah merantau selama lima tahun. Dia pulang untuk merenggut sang anak dari pelukan kampung halaman. Dari pelukanmu.

“Bekerja apa dia kalau tetap tinggal di kampung ini?” kedua mata lelakimu membulat lebar saat kau mengajukan keberatan.

“Akan kuajari menggarap ladang,”

“Apa yang bisa diharapkan dari ladang kita? Kau pikir rumah sebesar ini dibangun dari hasil ladang tandus itu?”

Kau menunduk, memilin ujung kebaya.

“Memangnya kau mau anak dan cucu kita nanti makan batu?” lelakimu bertanya sengit.

Cuping hidungmu berubah merah jambu dan bergerak-gerak. Bibirmu bergetar halus.

“Akan jadi apa dia kalau tetap tinggal di sini? Aku mengajaknya bukan untuk bersenang-senang. Tapi kerja! Cari uang, supaya ia jadi orang!”

Bahumu ikut berguncang halus. Setitik air jatuh ke punggung tanganmu.

“Puah!” tangan lelakimu memukul bahu kursi keras. “Apa untungnya kau menangis seperti ini? Malasia tidak jauh. Saat lebaran ia  bisa pulang!”

Kau menggigit bibir hingga mengapas. Kau tidak ingin harta, rumah besar. Kau hanya ingin anakmu selalu ada di sisimu. Kau akan mengajarinya azan, menggali kuburan, mengusung keranda, me-nalqin orang meninggal. Kau tidak ingin anakmu ikut-ikutan mengais ringgit di negeri orang. Untuk apa membangun rumah besar kalau setiap dindingnya berlapis kesunyian yang begitu tebal, dan lintah-lintah kesepian beranak-pinak di dalamnya?

Akan tetapi, lelakimu tetap bersikukuh membawanya pergi. Sejak itu, lintah kesepian semakin berpesta di rumahmu. Menghisap darah. Apalagi sejak terdengar kabar anakmu mengalami kecelakaan, penungguan jazad bagimu adalah dera yang tiada jera.

Lintah-lintah itu seolah meliuk-liuk girang begitu jazad anakmu tiba di kampung halaman, di rumahmu, dengan diringi raungan ambulans yang seperti jerit tangis kesakitan. Yang lebih membuat dadamu terasa terpanggang, lelakimu tidak bisa ikut pulang karena harus menunggui istri mudanya yang sebentar lagi tiba waktunya melahirkan.

***

Burung-burung berseliweran mencari sarang. Bayang-bayang pohon kelapa yang tadi rebah-buram di batang jalan kian mengabur. Anak-anak dan ibu-ibu sepuh mengiringi para pangusung keranda, berjalan lamban seraya tak henti melafalkan kalimat tauhid. Dzikir-dzikir terucap senada seirama. Lirih namun riuh, seperti kidung duka yang ditabuh dari kedalaman palung hati yang begitu nganga dan curam.

Di antara para pengusung keranda, kau berjalan paling depan di sayap kanan. Sejak baru mengangkat gagang keranda tadi, lututmu terasa bergetar. Keranda terasa lebih berat dari biasanya. Telapak kakimu terasa lengket di tanah. Namun kau tetap menegangkan urat demi menghimpun kekuatan agar mampu mengusung keranda anakmu ke pekuburan. (*)

Khasanah

Naskah-Naskah di Pariangan

Terlepas dari kajian dialektologi yang dilakukan oleh Nadra (1997) yang telah menyimpulkan bahwa

Langkan

Jaga Gizi, Olah Makanan Sendiri

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Termasuk urusan makanan. Saat anak

Konsultasi

Buka Warung Makanan di Siang Ramadhan

Bolehkah kita buka warung untuk melayani orang yang tidak puasa? Mohon pencerahannya ustad.

Khasanah

Ngalau Bundo Kanduang: Jejak Seni Gores di Luhak Nan Tuo

Lintas peradaban di Tanah Datar hingga saat ini masih perdebatan dikalangan pada ahli sejarah dan

Konsultasi

Peran Kedua Pasangan Penting dalam Keberhasilan Program Hamil

Assalamualaikum dr Dovy. Saya mau konsultasi, April tahun depan 3 tahun usia pernikahan saya

Remaja

Sesal

Berbalik benalu di dalam pagar
Melingkari tetes kehijauan
Dimana tinggal menghitung h

Puisi

Anak yang Pergi

Aku tinggalkan rumahmu
sebuah pelukan yang tua.

Air mata yang meluap, sebab kata