CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Lesapnya_Tragedi_dalam_Cerita_Kontemporer
Cagak Utama

Lesapnya Tragedi dalam Cerita Kontemporer

Penulis : Andesta Herli   

Dalam khazanah cerita lama, tragedi merupakan unsur menonjol nyaris dalam semua cerita. Tragedi seolah penjelasan tunggal atas beragam nasib manusia. Bahwa selalu ada kesedihan, selalu ada perjuangan, selalu ada musuh-musuh yang siap mencabik-cabik kehidupan. Dalam kenyataan begitu, hanya orang-orang terpilih yang mungkin selamat melewati tragedi. Citra orang-orang terpilih pun hadir, lengkap dengan pancaran nilai-nilai ideal yang diembannya. Dengan begitu, khazanah cerita lama berusaha mengingatkan manusia agar lebih waspada. Petuah-petuah diselipkan agar masyarakat (pembaca) merapat ke jalur nilai-nilai ideal, agar manusia selamat dari tragedi-tragedi kehidupan.

Hari ini perhatian para pengarang terhadap cerita-cerita masa lalu tampak menguat. Berbagai cerita dari beragam kebudayaan diangkat kembali, namun dengan sentuhan yang berbeda. Berbagai modifikasi dilakukan hingga memunculkan sudut pandang baru. Secara umum, kita bisa menandai bahwa dalam karya-karya tersebut terdapat gerakan baru berupa kecendrungan meniadakan petuah-petuah kehidupan di dalam karya. Salah-satu karya yang mewakili semangat ini yaitu, novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, karangan Yusi Avianto Pareanom (Banana 2016, pemenang pertama kategori prosa Kusala Sastra Khatulistiwa 2016).

Selayang Pandang Cerita

Raden Mandasia Si Pencuri  Daging Sapi adalah kisah petualangan seorang pemuda bernama Sungu Lembu bersama seorang pangeran bernama Raden Mandasia, pangeran kerajaan Gilingwesi. Gilingwesi adalah kerajaan besar yang suka melakukan invansi, tak terkecuali ke kampung kelahiran Sungu Lembu.

Sungu Lembu yang menaruh dendam terhadap Gilingwesi dan berniat membunuh sang raja, Watugunung, ternyata bisa bersahabat dengan putra raja, bahkan berpetualang bersama. Mereka mengembara mengarungi berbagai dataran, mencecap berbagai pengalaman, bertemu berbagai musuh juga teman, hingga berlayar ke negeri yang jauh. Sebuah perjalanan yang mengemban misi patriot Mandasia: mencegah perang antara Gilingwesi dengan kerajaan ujung benua, yakni Gerbang Agung. Sesungguhnya misi itu tidak berhasil, dan mereka berdua terjebak dalam perang yang tidak mereka inginkan.

Dalam masa-masa perang itu, Sungu Lembu, mendapat beberapa kesempatan berhadap-hadapan dengan Watugunung, objek dendamnya. Namun berkali-kali itu pula ia tidak bisa melakukan aksi balas-dendam. Tanpa disadari, ia  dikuasai perasaan ragu atas tindakannya sendiri. Pikiran-pikiran rumit begitu saja muncul setiap kali ia memikirkan akan menuntaskan dendam. Berbulan-bulan lamanya peperangan itu berlangsung, dan persolan balas-dendam seolah menguap saja. Sementara satu-persatu prajurit pilihan terus gugur, panglima perang menemui ajal, termasuk Raden Mandasia. Hingga tiba masanya Gilingwesi disapu kekalahan dan Watugunung terbunuh. Maka berakhirlah perang. Prajurit kalah yang tersisa berlayar kembali ke Gilingwesi, termasuk Sungu Lembu, narator kita.

Tranformasi Tragedi ke Komedi

Adakah yang lucu dari cerita tentang peperangan, hasrat balas-dendam, atau kemalangan-kemalangan, sebagaimana  gambaran cerita di atas? Jika berpikiran lurus, maka jawabannya adalah tidak. Namun bagaimana bila sederet kisah-kisah tragis itu diceritakan oleh seorang tokoh berkarakter ganjil, tokoh yang bahkan saking ganjilnya, ia bisa saja berpesta tuak bersama orang yang telah lama ingin dibunuhnya, tepat ketika ia telah bersiap-siap untuk membunuh.

Novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging menawarkan kemungkinan tidak biasa dalam melihat tragedi. Tragedi dihadirkan dalam perspektif wajar, manusiawi, sehingga tidak lagi menimbulkan kesan tragis yang dalam. Seiring berkurangnya tendensi tragedi, secara halus, jalinan peristiwa menjelma kisah serba biasa, dengan tokoh-tokoh yang biasa, sehingga setiap peristiwa atau tindakan berpeluang menjelma kekonyolan-kekonyolan khas manusia.

Pilihan Yusi menjalin cerita lewat tokoh narator yang tidak memiliki kepentingan langsung terhadap petualangan dan perang (tragedi terkuat dalam cerita) itu, barangkali langkah yang jeli. Karena tidak memiliki kepentingan langsung inilah, tokoh Sungu sekaligus hadir sebagai seorang asing dalam laju ceritanya sendiri. Kemudian karena keasingan itu, banyak hal yang tidak dipahami, banyak semangat zaman tidak diserap betul oleh tokoh ini, yang kemudian memberi corak tersendiri bagi narasi tragedi.

Sungu Lembu digambarkan sebagai manusia biasa yang kadang cerdas, kadang tolol, kadang malang, kadang ditimpa keberuntungan cuma-cuma. Dalam menyikapi beragam gejolak batinnya, Sungu memuncratkan berbagai ekspresi khas pemuda tanggung yang sedang bergolak, misalnya dalam pemilihan kata-kata umpatan seperti “anjing”, “tapir bunting”, “setan”, “babi”, dan banyak lagi yang lainnya. Selain itu, Sungu Lembu juga memiliki cara pandang aneh untuk  ukuran orang pribumi semasa kerajaan begitu. Ia tampak tidak memiliki kebiasaan membungkuk-bungkuk layaknya kaum hamba, melainkan hidupnya berjalan seenaknya. Malah, Si Sungu ini termasuk jenis yang suka mengejek orang lain sekenanya, termasuk mengejek  Watugunung dan Pangeran Mandasia.

Di suatu kesempatan, Sungu  menertawai kelakuan sang raja. Katanya: Sedemikian degilnya Watugunung sampai-sampai ia harus membayar orang untuk menyanjungnya dalam syair-syair. Aku memang belum pernah mendengar atau membaca syair tentang Watugunung, tapi aku yakin isinya pasti murahan. Pada saat yang bersamaan, aku harus mengakui bahwa Gilingwesi memang makmur. Orang melamun saja dibayar mahal. Anjing betul. (hlm 112).

Sudut pandang tokoh narator yang serba manusiawi dan kadang konyol membuat peristiwa-peristiwa tragis berjalan tanpa tendensi tragis. Sungu Lembu dihadirkan dengan karakter paradoks, labil, sehingga pandangan-pandangannya tampak meragukan, nyaris serba guyon. Keberadaan tokoh yang semacam itu jadi mencolok, sebab biasanya, tragedi selalu berisi tokoh-tokoh berkarakter pasti: berani atau penakut, lemah atau patriot—dengan kata lain, hitam-putih. Tidak ada tempat bagi tokoh dengan karakteristik abu-abu.

Namun Yusi malah meletakkan kategori abu-abu ini sebagai tokoh utama sekaligus narator bagi “dongengnya”. Saking abu-abunya, tokoh Sungu malah tidak bisa memutuskan apakah ia benar-benar harus menuntaskan dendamnya terhadap Watugunung, saat kesempatan itu terbuka lebar. Seketika pikirannya berubah rumit. Renungnya: Haruskah aku membunuhnya sekarang? Tapi, kalau tidak sekarang, kapan aku bisa membalaskan sekian dendam dengan tanganku langsung? Anjing, anjing, anjing. Bagaimana ini? Tanpa kusadari, alih-alih menarik belati, aku melakukan gerak menyembah dan menunggu perintah. (hlm 416).

Akhir kata, dengan mengisahkan ulang berbagai khazanah cerita lama dari beragam masa, lantas menyatukannya dalam sebuah plot baru,  Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi menjelma dongeng yang layak dibaca hari ini. Kesegaran yang ditawarkan Yusi terletak pada upaya transformasi tragedi ke arah komedi yang dilakukannya. Karena tokoh sebegitu manusiawinya, kita jadi simpatik dan merasa bahwa Sungu adalah kita sendiri, memandang cerita masa lalu dengan segala keterbatasan cecapan dan kritisme masyarakat urban.

Sebagai pendongeng kontemporer, Yusi juga tidak berusaha menyelipkan nilai-nilai ideal dalam bangunan ceritanya. Narasi-narasi yang ringan dan rapi dalam Raden Mandasia Si Pencuri daging Sapi malah menyeret pembaca menyukai kelemahan-kelemahan, kekalahan-kekalahan, kekonyolan serta sikap nakal tokoh yang begitu mengggoda. Tidak ada pesan-pesan moral, tidak ada seruan kebaikan. Hanya gerak narasi, bangunan peristiwa serta interupsi-interupsi tokoh narator yang menggelitik hati. (*)

Padang, 2017

*Andesta Herli, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Menulis Puisi, Cerpen dan Esai. Kini menetap di Kota Padang.

Balada Seorang Petani

Penulis : Bak sorang pejuang tangguh Dedikasinya tetap terasa hingga kini Kesederhanaan yang memberi jawaban
Ceria

Tragis Riana

Penulis : Asmawati

Pagi yang cerah. Cahaya matahari menyiram seluruh jagat raya dengan indahnya. Suasana p

Paco - Paco

Penghargaan kepada Para Relawan Pembantu Korban Gempa Padang Panjang

Penulis : Suryadi – Leiden University, Belanda

“Menoeroet kawat Aneta dari Weltevreden, oléh Pemerintah dinjatakan kepoedjian kepad

Remaja

Mata Waktu

Penulis : Bayu Andama Putra

Burung-burung itu memilih kita
sebagai saksi perihal langit yang dibelahnya
(menuju a

Gejala Kaki Mati Rasa Saat Tidur

Penulis : Assalamualaikum. Saya seorang perempuan. Umur saya baru menginjak ke 18 tahun. Begini dokter, ka
Carito Minang Kini

Emansipasi Padusi

Penulis : Ilham Yusardi

Jimbrehe masuk lapau Cik Etek. Inyo urang nan partamo tibo di lapau Cik Etek pagi ko. Matoar

Konsultasi

Dampak dan Manfaat Alat Kontrasepsi IUD

Penulis : Dr. Dovy Djanas, Sp.OG (K-FM)

Assalamualaikum dokter Dovy. Enam bulan yang lalu, saya baru saja menjalani proses persalinan