CAGAK - Lembaran Budaya Padang Ekspres - Operasi_Penyelamatan_si_Cicak
Ceria

Operasi Penyelamatan si Cicak

Penulis : Ferry Fansuri   

Di sebuah atap rumah hiduplah seorang Cicak sering menyombongkan kemampuan yang bisa merayap dari tembok ke tembok lainnya. Selain tangkas berpindah tempat, si Cicak mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan diri cepat. Suatu ketika ekornya terpotong gara-gara terjepit pintu, besoknya tumbuh kembali.

“Aku paling kuat dan cepat di tempat ini, tidak ada yang mampu menyaingi kemampuanku,” seru Cicak dengan sombong dihadapan penghuni atap rumah itu.
Suatu saat ada gerombolan Laron yang suka mengitari bohlam lampu sebagai aktivitas sehari-hari para Laron. Sewaktu Laron-laron mengitari lampu yang nyala itu, datanglah si Cicak.

“Kalian ngapain memutari lampu itu seperti tidak ada kerjaan aja?” tanya heran Cicak.

“Kami suka karena cahayanya bikin hangat ditubuh kami,” jawab para Laron berbarengan.

“Ha..ha kalian memang aneh, lampu kok dikerubuti. Tidak seperti aku bisa bergerak ke sana kemari dengan bebas dan cepat. Payah kalian!” ejek Cicak kepada para Laron sambil mencibirkan bibirnya.

Cicak begitu sombong dan tidak selalu menghargai teman-teman, mengganggap rendah dan sering menertawai mereka. Tidak sekali dan berkali Cicak sering menghina seperti menjadi hobinya, ini juga terjadi pada Laba-laba dengan sarangnya.

“Hei Laba-laba ngapain kau bikin jaring di pojok itu. Nggak bosan di sana terus?” hina Cicak ke Laba-laba yang membangun sarangnya dan tidak pernah ke mana-mana.

“Aku merasa aman di sini dan tidak ada menggangu aku saat tidur,” balas si Laba-laba.

“Ah alasan kamu aja yang malas. Tidak seperti aku sering bergerak dan sehat. Kemampuan yah gitu-gitu aja dari dulu..Ha..ha,” kekeh Cicak sambil menjulurkan lidahnya tanda mengejek.

Kesombongan Cicak menjadi-jadi karena tidak ada yang menasehati sama sekali. Suatu hari muncul kumpulan Semut melintas dihadapan Cicak. Kumpulan Semut sedang berbaris lurus di atas punggung mereka ada makanan yang dipikul untuk dibawa ke sarang mereka. Cicak merasa heran, tubuh sekecil semut itu mampu mengangkat beban berat tapi tetap saja si Cicak menghina mereka.

“Hei Semut, kalian kenapa tiap hari wira-wiri hanya mengambil makanan dan dibawa ke rumah kalian. Apa tidak lelah? Tubuh kalian loh kecil kok mau-maunya mengangkat beban berat. Kalian terlalu penurut dan tidak bisa bebas seperti aku” seru Cicak mengejek pekerjaan semut yang itu-itu saja tiap hari.

“Kami mengabdi pada ratu jadi harus menurut sesuai aturan agar menjaga kesejahteraan keluarga semua Semut” jawab para Semut bersamaan.

“Ah kalian itu nggak asyik dan menoton hidupnya ha..ha” si Cicak tertawa meninggalkan para Semut di sana.

Cicak selalu merayap gesit ke sana-ke mari, kaki-kaki begitu melekat di tembok tapi kemarin malam terjadi hujan deras. Ada rembesan air di tembok rumah itu dan itu tidak disadari si Cicak. Saat Cicak bergerak cepat, kakinya menyentuh rembesan air tersebut dan tiba-tiba terpeleset jatuh. Tubuh Cicak meluncur deras ke bawah lantai dan tidak bergerak sama sekali, berjam-jam Cicak pingsan, tanpa disadari oleh dia. Gerombolan semut mendatangi si Cicak yang pingsan itu, mereka menggotong tubuh Cicak untuk diselamatkan ke tempat aman. Sewaktu Cicak siuman, ia merasa heran kenapa ada di sarang Semut.

“Kami yang membawa kamu ke sini karena tadi tubuhmu pingsan di lantai bawah. Kami khawatir kamu terinjak kaki-kaki manusia jadi kami mengangkat beramai-ramai ke sini” terang sang Ratu Semut pemimpin.

Si Cicak merasa kikuk dan malu atas perbuatan para semut ini, sebelumnya ia hina para Semut dikarenakan tubuhnya yang kecil itu. Tapi sekarang mereka menyelamatkan dia dari kematian, tak terasa air mata meleleh dimata si Cicak karena merasa terharu.

“Terima kasih kawan-kawan begitu baik biarpun kemarin-kemarin aku hina kalian,” ucap Cicak terisak-isak menyesali kebodohannya. Para semut hanya tersenyum menandakan sudah memaafkan si Cicak. (*)

Mutia Rahmi,Penyanyi dari Bakat Alam

Penulis : Mutia Rahmi, namanya. Panggil dia dengan sebutan Tya, aja. Talenta gadis kelahiran Padang, 20 Mei 19
Cagak Utama

Ternoda

Penulis : Andri Rizki

Ternoda

Takkah kau melihat debu
Mereka menutup mata
Membuat

Atur Waktu Bermain Anak

Penulis : Namanya anak-anak, salah satu kesuan mereka adalah bermain. Tak jarang, ketika bermian bisa lupa wak
Paco - Paco

Pemasangan Perdana Kabel Lori PT Semen Padang (1910)

Penulis : Suryadi Leiden University, Belanda

“Transport-kabels. Aan de te Amsterdam gevestigde naamloze vennotschap Nederlandsch Indisch

Cagak Utama

Bahaya Kelaparan di daerah Sakai

Penulis :

Menjamboeng kabar dalam Kroniek P. P. No. 52, dari hal kekoerangan makanan didaérah Sakai,

Hiburan

Indah Kalalo: Demi Anak, pun Mengalah

Penulis : JPNN

Model dan artis Indah Kalalo memutuskan menetap di Denpasar, Bali. DKI Jakarta menurutnya sudah t

Carito Niniek Reno

Urang Minangkabau Nan Ba Budi Baiek Baso Katuju

Penulis : Puti Reno Raudha Thaib - Ketua Umum Bundo Kanduang Sumbar

Lingga Manar, Aisyah, Puti jo Mirzah sadang baraja batatah patitiah, asyik juo mandanganyo dek ka