Cagak Utama

Potret Kekerasan Terhadap Perempuan

Catatan Atas Kumpulan Cerpen Jejak Luka dan Kisah-kisah Lainnya Karya Azwar Sutan Malaka

Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap tindakan kekerasan berdasarkan gender yang menyebabkan kerugian, penderitaan, baik fisik maupun seksual dan psikologis terhadap perempuan, termasuk ancaman untuk melaksanakan tindakan tersebut dalam kehidupan masyarakat dan pribadi. Kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu masalah sosial yang sering terjadi di Indonesia. Hasil penelitian Rifka Annisa menunjukkan bahwa satu dari empat perempuan pernah mengalami kekerasan, baik fisik maupun seksual dalam hidupnya dan 14% perempuan pernah mengalami kekerasan fisik setidaknya satu kali dalam setahun. 

Data Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) menunjukkan, sepanjang 2015 kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah domestik, tetapi juga telah meluas di berbagai ranah termasuk wilayah publik. Berdasarkan jumlah kasus yang didapat dari 232 lembaga mitra Komnas Perempuan di 34 provinsi,  tercatat 16.217  kasus kekerasan terhadap perempuan. Di ranah komunitas, terdapat 5002 kasus kekerasan terhadap perempuan. Sebanyak 1.657 kasus di antaranya jenis kekerasan seksual, seperti pekerja seks online, mucikari, pekerja seks selebritas, cyber crime, biro jodoh berkedok syariah, dan penyedia layanan perkawinan siri. Di ranah negara, Komnas Perempuan mencatat ada 8 kasus yang melibatkan negara, 2 kasus pemalsuan akta nikah di Jawa Barat, dan 6 kasus terjadi di Nusa Tenggara Timur terkait perdagangan manusia atau  human trafficking.

Kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu masalah sosial yang menjadi perhatian semua kalangan, baik itu pemerintah maupun lembaga perlindungan perempuan, tak terkecuali dunia sastra. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya sastra yang mengusung tema mengenai kekerasan terhadap perempuan. Sejak dekade 1970-an permasalahan perempuan mulai digambarkan secara fenomenal di dalam karya sastra. Tineke Hellwig dalam disertasi yang berjudul “Kodrat Wanita; Vroowbeelden In Indonesiche Romans” menyimpulkan bahwa dalam novel-novel Indonesia yang dikarang oleh pengarang wanita, wanita digambarkan sebagai tokoh yang hidup di bawah tekanan kontrol sosial lingkungannya. Akibatnya, mereka menemukan kesulitan ketika mereka ingin menentukan pilihannya sendiri. Gambaran ini terlihat pada novel Kembang Padang Kelabu, karya Ike Supomo (1979), dan Relung-relung Gelap Hati Sisi karya Mira W (1983). 

Selain itu, juga tidak kalah banyaknya pengarang laki-laki yang menciptakan tokoh perempuan sebagai tokoh sentral cerita. Sangidu mengatakan sejak dekade 1970-an penulis pria sudah tentu ikut melengkapi penggambaran mengenai perempuan dari sudut pandang pria. Sri Sumarah karya Umar Kayam misalnya, memaparkan novel yang menggambarkan wanita dari sudut pandang pria. Karya yang dikarang oleh pengarang pria menggambarkan betapa menderitanya dunia perempuan berhadapan dengan dunia laki-laki. Segala ketidakbahagiaan perempuan disebabkan oleh laki-laki. Hal ini terlihat dalam karya-karya Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Ali Audah.

Azwar Sutan Malaka juga termasuk salah seorang pengarang laki-laki yang memberikan gambaran mengenai kekerasan terhadap perempuan melalui kumpulan cerpennya berjudul Jejak Luka dan Kisah-kisah lainnya. Buku kumpulan cerpen yang memuat 13 cerpen ini, sebagian besar memuat tokoh perempuan sebagai tokoh sentral yang mengalami kekerasan. Cerpen tersebut Jejak luka, Mahaluka, Jantung Batu, Bulan, Luka, dan Senja, serta Luka Kayla 
Pada cerpen “Jejak Luka”, tokoh Mur mengalami kekerasan fisik, kekerasan seksual, serta kekerasan psikologi. Kekerasan ini terjadi di area publik, Mur dianiaya dan diperkosa oleh para demonstran dalam kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998 karena kebetulan ia bekerja di Jakarta sebagai pembantu di ruko orang Tionghoa. Mur juga mengalami kekerasan psikologi berupa ancaman dari orang-orang berdasi di Jakarta agar tidak membeberkan peristiwa yang dia alami. Kekerasan tersebut berdampak pada kehidupan Mur selanjutnya, ia trauma untuk menikah.

Sementara pada cerpen “Mahaluka”, kekerasan yang dialami oleh Maya disebabkan oleh kuasa adat terhadap perempuan. Maya menikah karena perjodohan demi melunasi utang keluarga, sementara ia tengah menanti Sardi, kekasihnya yang sedang berjuang di rantau. Namun, dalam hal ini Maya tidak punya hak untuk menentukan pilihannya karena mamak dan kerabat laki-laki Mayalah yang berhak menentukan masa depannya. Akibatnya, Maya mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Bahkan, ketika Sardi kembali, malah menambah daftar penderitaan Maya dengan melakukan pelecehan seksual terhadap Maya. Hal ini menyebabkan Maya harus mati karena hukuman rajam dari orang kampung yang menuduhnya telah berzina.

“Jantung Batu” merupakan cerita mengenai Alia yang mengalami kekerasan dari dosennya sendiri. Alia harus merelakan kesuciannya demi memperbaiki nilai kuliah yang tidak tuntas. Hal ini berdampak pada kehidupan Alia selanjutnya, seorang perempuan yang ketika di kampung lebih memilih menjadi kuli pemecah batu daripada menjual diri seperti teman-temannya, pada akhirnya memilih untuk menjadi pelacur.

Lebih miris lagi kekerasan di dalam “Bulan, Luka, dan Senja”. Tokoh Bulan mengalami kekerasan yang dilakukan oleh bapaknya sendiri. Figur bapak yang seharusnya melindunginya, malah memperkosa dan memukulinya. Akibatnya, Bulan tumbuh dalam rasa kebencian dan dendam, ia membunuh kucing dengan harapan mitos membunuh kucing sama dengan membunuh bapak sendiri bisa berlaku untuknya.

“Luka Kayla” merupakan potret kekerasan terhadap perempuan yang disebabkan oleh tradisi. Tradisi menculik perempuan untuk dijadikan istri membawa Kayla pada pernikahan yang tidak pernah diharapkannya. Hal ini, membuat Kayla memilih menggantung dirinya ke loteng kamar pengantinnya daripada harus melewati malam pertama dengan Abigail yang telah menjadi suaminya.

Perempuan-perempuan di dalam cerpen ini mengalami beragam kekerasan, baik itu kekerasan fisik, kekerasan seksual, psikologi, maupun kekerasan ekonomi. Mereka bahkan ada yang mengalami lebih dari satu bentuk kekerasan. Penggambaran mengenai beragam kekerasan terhadap perempuan dalam kumpulan cerpen ini, bisa kita pandang sebagai upaya pengarang dalam menyuarakan bahwa persoalan tersebut adalah masalah sosial yang mesti mendapat perhatian serius oleh kita bersama. Lewat gaya satire, pengarang turut serta menyatakan penolakan atas fenomena kekerasan berbasis gender tersebut. (*)

*Muhammad Darisman adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas angkatan 2012. Aktif berkegiatan di Teater Langkah dan HMJ Sastra Indonesia.

Ibu

Oleh: Rivandi Juliadi Malaikat adalah kata yang tepat Untuk sosok manusia tanpa sayap
Khasanah

Memaknai Upaya Pemanfaatan Cagar Budaya

Paradigma lama kerap mengidentikkan objek Cagar Budaya dipandang sebagai sebentuk tinggalan berus

Ceria

Kerudung Milyana

Arfan melepaskan tas sekolah dan menyusunnya pada rak. Di sudut kamarnya ada rak kayu y

Paco - Paco

Wabah Ketumbuhan Menyerang Sumatera Barat (1923)

Toean Controleur Taloe, memberi tahoe kepada Pemerintah, bahwa di Oedjoeng Gading dalam onderafde

Kampus

Lulusan IAIN jangan Hanya Mengejar Titel

Civitas akademika IAIN Imam Bonjol Padang mengadakan kuliah umum bersama Prof. Dr. H. Said Aqil S

Cagak Utama

Hari Teater Dunia: Antara Kontribusi, Refleksi Atau Seremoni

Hari Teater Dunia (World Theatre Day) digagas oleh International Theatre Insti tute (ITI) pada ta

Remaja

Angela Dios: Ilustrator Muda Kota Padang

Inspirasi ditangkap setiap hari oleh ilustrator asal Padang, Angela Dios. Gadis kelahir